Thursday, September 1, 2016

Connecting the Dots, Understanding the Odds

0 comments
Di suatu sore, saya berbincang santai-serius dengan Pak Hikmat Hardono. Berangkat dari satu pertanyaan yang menggantung sejak Mei lalu terkait sejauh apa peran pelibatan publik dalam membantu negara, saya beberapa kali kontak Pak HH untuk ajak diskusi.

Tapi barangkali karena tengah berenang-renang di lautan kesibukan, baru sempat ngobrol paska reshuffle. Telat? Well........ better than nothing, yes?

Pak HH menggambar sebuah skema dan menjelaskan pada saya. "Sederhananya kira-kira begini. Kita punya pemerintah, kita punya society. Untuk mencapai sebuah tujuan, publik membantu pemerintah agar kebijakan bisa efektif. Sementara dalam society, mereka mengorganisir diri sendiri."

Saya mulai mencerna dan mencatat.

"Kemarin, kita bekerja di dalam pemerintahan, memang sudah seharusnya melibatkan publik. Karena ada kebijakan dan anggarannya. Sekarang, kita ada di luar, mari kembali bekerja sesuai porsi masing-masing. Memang berbeda caranya."

Pikiran saya melompat acak pada berbagai 'momen gemes' di mana banyak pihak keren yang kerja sendiri-sendiri. Padahal pasti ada cara buat saling terhubung.

"Pak, mungkin nggak ya, kita terlalu sibuk bekerja, lupa bahwa kita bisa bekerja sama? Interaksi? Padahal, tujuannya sama. Tapi entah kenapa kayak nggak ketemu celah kolaborasinya. Padahal kan bisa duduk bareng, diskusi cari solusi."

"Permasalahannya, kita butuh lebih banyak orang yang bekerja. Kita nggak bisa memaksakan semua seragam. Kalau terus-terusan diskusi, kapan kerjanya? Kredibilitas seseorang akan terlihat ketika seseorang bekerja. Jadi, biarkan interaksi itu terbangun dari hasil kerja."

Saya diam dengan dahi berkerut-kerut. Masih gagal paham. Pak HH yang sepertinya bisa membaca kebingungan saya pun menutup diskusi sore itu dengan kalimat singkat, "kalau kamu jalani, nanti pelan-pelan pasti akan ngerti."

Dear Sir, what actually really bothers me is that most of times, we're too busy making dots that we forget to connect the dots. That most of times, we're too busy avoiding the odds that we forget to understand the odds. Why we pretend we're fine with this status quo?

How to not only adjust and adapt, but also connect the dots and understand the odds? How to play what role? How to awaken people that the whole is greater than the sum of its parts?

Well, should I remain those questions unanswered or like Pak HH said 'just do things you do and later on, you'll find out'? Man oh maaan!

Thursday, August 11, 2016

(Masih) Hal Konkrit Sederhana

0 comments
Dari hari Minggu (07/08) lalu, jagad media mulai membicarakan wacana Mendikbud soal Full Day School (FDS). Kian ramai sampai Rabu (10/08). Sekarang? Belum tau, masih menunggu perkembangan.

Saat mendengar berita itu, reaksi pertama saya rasanya mau ngamuk. Tapi saya tahan-tahan. Tanya sana-sini, minta klarifikasi, cek berbagai media, cek opini para pegiat pendidikan, dan ikut diskusi dalam grup.

Tetap saja, saya tak bisa menipu diri sendiri. Wacana ini tidak masuk akal kalau betul akan diterapkan dalam skala nasional. Seperti postingan sebelumnya, saya bukan dalam kapasitas mengkritisi apalagi mengkaji wacana FDS.

Justru, yang mau saya kaji itu diri sendiri.

Apa saya sama reaktifnya dengan yang lainnya? Bagaimana cara saya bertanya pada orang-orang yang bisa saya minta klarifikasinya? Apakah saya benar-benar mendengar penjelasan mereka? Atau saya cuma ingin dengar pembenaran?

Bagaimana agar segera kembali berpikir jernih? Bagaimana mencoba berempati dengan teman-teman di internal Kemdikbud yang terus bekerja di tengah keriuhan? Bagaimana cara untuk terus menyemangati mereka?

Satu hal yang sebetulnya paling mengganjal: mengapa saya begitu kesal ketika saya tak bisa melakukan apa-apa?

Membayangkan di desa saya, kalau kebijakan FDS ini sudah ketok palu, anak-anak yang tiap sore berjualan wade' (kue basah khas Bugis) tak akan sempat keliling.

Atau anak-anak yang tiap sore berenang di laut, main layangan, kelereng, naik sepeda keliling desa, kapan mereka punya waktu main kalau sore-sore harus terus di sekolah?

Atau anak-anak lainnya yang harus jalan kaki naik-turun gunung. Pulang siang pun bisa sore baru sampai rumah. Apalagi sore baru pulang. Mau sampai rumah jam berapa?

Bagaimana dengan guru-guru honorer? Yang gajiannya 3 bulan sekali, dan punya pekerjaan sampingan selain mengajar. Kalau waktunya habis di sekolah, gimana cara mereka ngakalin gaji yang suka telat turun itu?

Bagaimana dengan guru-guru yang punya kebun? Punya ladang? Yang pulang sekolah masih cari ikan? Bagaimana dengan guru yang juga petani?

Lalu ruang kelas yang rusak, pengaturan kelas pagi-siang, minimnya fasilitas sekolah, daaan berbagai aspek lain yang harus dipikirkan. Saya kesal sekali mentok, clueless apa yang bisa dilakukan.

Tambah jengkel saat anak murid saya telfon, mereka bilang kegiatan-kegiatan ekskul tidak jalan.

Bayangkan, kalau FDS berlaku nasional, mau-gamau anak-anak terjebak di sekolah dengan kegiatan ekskul yang nggak jelas. Guru-guru juga terpaksa menjalani dan merasa terbebani. Masih berharap waktu ekstra di sekolah jadi solusi untuk pembentukan karakter?

Udah sih dijalani dulu yang sedang berjalan. Kalau tujuannya pembentukan karakter, kan ada pembiasaan baca buku 15 menit, nyanyi lagu patriotik, dsb. Dari semua pilihan implementasi, kenapa yang dipilih wacana FDS? Kenapa terjemahannya nonsense gitu?

Katanya mau fokus urus KIP dan vokasi? Mana bisa kerja tenang kalau 'direcokin' publik mulu kan? Kalau mau fokus dua hal itu, ya alokasikan energi dengan bijak.

Nggak usah bikin geger semua orang dengan kebijakan yang masih dalam tahap wacana dan menghabiskan energi tim untuk jadi 'pemadam kebakaran'. Hih.

Ternyata, satu posting sebagai outlet kegelisahan belum cukup. Saya yang jarang sekali telfon-telfonan (lebih suka via texting), Selasa malam akhirnya kontak Fajri, berbicara cukup lama. Hampir 2 jam. Saya 'nyampah' se-nyampah-nyampahnya.

Kalau pakai analogi "merutuk kegelapan" vs "menyalakan lilin", malam itu, saya yang sedang 'kehabisan korek' akhirnya habis-habisan merutuk kegelapan sampai puas.

Dalam kegelapan, punya teman bicara yang sama-sama 'kehabisan korek' ternyata menenangkan. Melegakan. Menyenangkan. Ternyata supporting system saya masih jadi andalan. Makasih ya, Jri!

Setelah puas numpang nyampah, tercetus lagi bahasan soal 'hal konkrit sederhana' dan kami mulai nostalgia.

Tahun lalu (saya lupa persisnya kapan), Fajri main ke desa saya. Dia mampir untuk mengisi waktu sambil menunggu dapat tumpangan kapal. Dari pagi, baru sorenya dia dapat kapal. Karena saya juga lagi malas ke mana-mana, jadilah kami berbincang panjang di teras rumah.

Dari perbincangan pagi sampai petang itu, lahirlah istilah 'hal konkrit sederhana'. Tindakan nyata apa yang bisa dilakukan untuk sumbang kontribusi?

Di situ, kami sama-sama sepakat bahwa melatih mindset untuk melakukan 'hal konkrit sederhana' ternyata sangaaattt berguna dan relevan di berbagai konteks hingga sekarang.

Optimisme bisa naik turun. Mood swing, frustrasi, marah, kecewa, itu sangat manusiawi. Kalau yang begini dibilang baperan nan sensi, menurut saya malah lebih bahaya yang denial. Menolak emosi.

Tapi kalau mau lihat sisi positifnya, segala kegelisahan ternyata efektif juga sebagai bahan bakar untuk tetap berorientasi pada hal konkrit sederhana.

Berkat telfon-telfonan Selasa malam itu, esok harinya, saya bisa lebih santai menyikapi berita walaupun masih numpang nyampah ke beberapa teman lainnya. Makasih ya, lagi-lagi, saya hutang telinga :)

Saya belum yakin saya sudah naik level, tapi senang rasanya bisa banyak belajar lagi untuk mengasah kecerdasan intra dan interpersonal. Saya akhirnya punya jawaban atas pertanyaan hal konkrit sederhana apa yang bisa dilakukan. Kata kuncinya: belajar.

Belajar mengenali emosi. Belajar mengakui bahwa memang sedang emosi. Belajar mengontrol emosi. Belajar berempati. Belajar mencoba melihat dari berbagai sisi. Belajar dan tak hentinya belajar. See? Belajar bukan cuma sekolah. Tepatnya, bukan cuma DI sekolah.

Dear Pak Muhadjir, semoga bapak juga belajar ya. Untuk berhati-hati membuat pernyataan ke publik. Untuk memikirkan dampak dari ucapan orang nomer 1 yang mewakili pendidikan negeri. Mulutmu harimaumu.

Mari sama-sama belajar. Hal konkrit sederhana yang siapapun bisa melakukannya.

Tuesday, August 9, 2016

Hal Konkrit Sederhana

0 comments
Masih soal reshuffle. Iya, belum move on. Saya lagi gelisah, tapi nggak mau umbar galau yang yang sepotong-sepotong di media sosial. Sekalian aja dituntaskan dalam satu tulisan ini, lalu bergegas tidur. Sudah pukul setengah empat.

Jadi begini. Mau cerita sedikit, flashback masa-masa di penempatan yang situasinya mirip. Saya ingat betul, di awal April tahun lalu, ada pergantian pimpinan di SD tempat saya mengajar.

Kabar tersebut jelas mengejutkan, apalagi kepala sekolah yang ada merupakan favorit semua orang. Beliau dikenal sebagai sosok kepala sekolah yang ramah dan concern akan perbaikan fasilitas sekolah, juga mengutamakan kesejahteraan guru.

Beliau juga sangat mendukung kegiatan lomba-lomba, bahkan nombok dari uang pribadi. Selain itu, beliau merombak habis-habisan manajemen sekolah dengan menambah jumlah guru honorer dan membagi kelas menjadi 2 rombel, serta mengakali kekurangan ruangan dengan kelas pagi-siang.

Bagi kami, Pengajar Muda, beliau masuk dalam kriteria local champion ideal. Sayangnya, mungkin tidak cukup ideal untuk terus memimpin SD di tempat saya mengajar menurut kacamata Camat.

Respon guru-guru saat itu sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan turun semangat mengajarnya. Wajar, perubahan ini amat mendadak. Saya pun cukup syok, apalagi mendengar banyak asumsi, dugaan ini-itu kenapa Pak Kepsek dimutasi.

Beberapa hari, saya sibuk curhat pada PM pendahulu saya. Merasa tidak adil. Kenapa harus diganti sekarang? Kenapa Pak Kepsek? Kenapa di saat sudah ketemu ritme yang menyenangkan bekerjasama dengan pemimpin yang baik di sekolah? Kenapa? Kenapa? Kenapa???!

Tapi kata-kata PM pendahulu saya cukup menenangkan hati. Namanya Vany. Dia seumur dengan saya, tapi saya panggil dia Kak dan dia panggil saya Dek. Dia bilang begini:

"Dek, kita justru harus bersyukur. Beruntung bisa ketemu orang kayak Pak X yang satu frekuensi sama kita. Beliau dimutasi, yang dibangun bukan Tanjung Aru, bukan juga Pasir Belengkong. Yang dibangun itu Paser. Itu yang penting".

Sejak itu, saya mencoba mengubah cara pandang saya menjadi lebih optimis-realistis. Apa yang bisa saya lakukan? Hal konkrit sederhananya apa? Saya dekati guru-guru, ajak bicara, dan kasih semangat. Siapa pun pemimpinnya, yang penting harus tetap kompak.

Saya juga dekati Pak Kepsek yang baru. Biar bagaimana pun, beliau sekarang pemimpinnya. Sebagai bagian dari tim, 'hal konkrit sederhana' yang bisa dilakukan adalah mendukung dan mendorong pemimpin tim untuk terus bergerak maju.

Tiap mentok, saya ingat lagi kata-kata Kak Vany: "yang dibangun itu Paser".

Saat reshuffle pada 27 Juli lalu, saya seperti De Javu. Bisa-bisanya situasi serupa terulang lagi dalam skala yang lebih besar: negara. Walaupun tidak persis sama, Pak Anies berbicara hal yang senada dengan Kak Vany.

"Yang dibangun itu Indonesia".

Saat itu, saya merasa sangat beruntung pernah diberi kesempatan menghadapi 'miniatur reshuffle' di penempatan. Saya memang bertugas seorang diri di desa selama satu tahun. Tapi saya tidak sendirian. Saya punya supporting system dengan perannya masing-masing. Tim Paserangers. Tim guru di sekolah. PM-PM sebelum saya. Juga Pak Kepsek baru.

Saya juga bersyukur latihan pembiasaan memandang sesuatu sebagai lahan kontribusi. Apa yang bisa dibantu? Apa hal konkrit sederhana yang bisa dilakukan? Setidaknya, saya nggak ikut-ikutan protes doang tanpa tindakan.

Tapi sepertinya kalau di game, saya sedang masuk level baru. Atau malah ulang check point? Entah.

Baca berita tentang pendidikan yang isinya pernyataan-pernyataan 'ajaib' Mendikbud baru, telusuri komentar netizen dan meme-meme yang tak kalah 'ajaib' nya, dan terlibat dalam bahasan yang ramai terus di grup Whatsapp membuat saya bolak-balik menghela napas.

Semua orang menyayangkan Pak Anies di-reshuffle. Bertanya kenapa. Menganalisa praduga. Mendadak jadi detektif. Puncaknya, soal wacana Full Day School.

Dari berbagai sisi, apabila wacana ini betul dijalankan, jelas akan merugikan. Baik dari sisi siswa, guru, maupun orang tua. Bahkan sudah ada petisinya segala. Tapi yasudahlah, saya tidak punya kapasitas menyoroti hal ini. Biarlah porsi kajian serahkan pada ahlinya.

Yang membuat saya menghela napas dan gelisah uring-uringan sendiri adalah saya jadi tidak yakin. Memang, beberapa hal konkrit sederhana yang saya rasa bisa lakukan sedang dalam proses.

Saya juga berusaha tetap berpikir besar, bahwa yang sedang dibangun adalah Indonesia, tak peduli siapa menterinya bahkan presidennya. Tak peduli perannya sebagai sipil, militer, swasta, ataupun aparatur negara.

Tapi belakangan, saya jadi bertanya-tanya. Apakah menjalankan hal konkrit sederhana itu cukup? Apakah butuh lebih banyak hal abstrak rumit yang harus dilakukan? Bagaimana kalau bukan dalam kapasitas untuk mengerjakan hal-hal rumit? Apa yang bisa dilakukan?

Saya juga mulai lelah dengan 'kalau nggak ada yang inisiatif, ngga gerak'. Sama. Saya juga bosan menunggu dan maunya partisipasi aktif. Kalau istilahnya Pak Anies "daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin".

Tapi kalau terus-terusan 'cari korek', saya jadi ragu. Apakah saya masih punya supporting system yang bisa diandalkan? Apakah menjadi optimis masih masuk akal? Apakah saya boleh sesekali ikut merutuk kegelapan? Mengeluh?

Apa mungkin saya butuh istirahat? Atau malah, cuma butuh sabar?

Friday, July 29, 2016

Anies Pamit (part 2)

0 comments
Seharusnya, H+1 reshuffle saya sudah nggak perlu datang ke kantor. Tapi barang-barang saya beberapa masih tertinggal. Lagipula, ada pertemuan dengan Production House yang akan presentasi video untuk tayang di bioskop (SOON! Hehe).

13.00 WIB

credit: @kawanakhdyan

Berhubung Rabu lalu Pak Anies selesai menjabat, jadi beliau sudah nggak bisa pakai lagi ruang menteri. Makanya, beliau pindah 'markas' sementara di ruang Stafsus.

Mumpung seruangan sama Pak Anies, tercetus ide spontan. Modal muka badak, saya buka percakapan. "Pak, berkenan nggak untuk tulis sedikit thank you notes buat relawan dan semua pihak yang udah bantu di HPS (Hari Pertama Sekolah) kemarin?"

Tanpa jeda berpikir, beliau mengangguk. "Ini ada pulpen warna hitam dan biru. Mau yang mana pak? Warna merah kuning hijau juga ada. Pokoknya siap semua warna" Masih kaget dengan Pak Anies yang begitu saja mengiyakan request, saya nyerocos sambil menyodorkan selembar kertas kosong dan dua buah pulpen.

Beliau nyengir. "Yang ini saja" lalu dikeluarkanlah pulpen andalannya sendiri.

Saya juga menaruh selembar kertas yang sudah ada wordingnya untuk memudahkan Pak Anies dalam menulis. Biar tinggal salin, pikir saya. Ini saja sudah merepotkan, minta tulis thank you notes di tengah kesibukannya urus berbagai dokumen di meja. Nggak usah tambah bikin repot beliau.

"Bisa carikan kertas bergaris? Khawatir tulisan saya berombak-ombak. Tulisan saya jelek, nanti makin sulit teman-teman bacanya" Dalam hati: pak, bersedia direpotin begini aja udah sukur. Hahaha.

Singkat cerita, disambi pertemuan ini-itu, tandatangan dokumen ini-itu, request thank you notes akhirnya selesai juga. Saat saya baca, ternyata betul-betul beda dari wording yang sudah saya siapkan.

Respek saya untuk bapak satu ini. He's busy, yet still makes time to personalize his notes. Bahkan saya nggak bisa sebut itu notes karena lumayan panjang. Lebih cocok disebut sebagai surat. Ucapan terima kasih dan apresiasi yang beliau tunjukkan, itu sungguhan.


15.00 WIB


Dua jam ada di ruangan yang sama dengan (mantan) Menteri ternyata bikin mati gaya juga. Apalagi saya nggak bawa laptop karena niatnya cuma mau ketemu orang PH.

Untuk mengusir bosan, saya secara lekat mengamati cara beliau berinteraksi dengan orang-orang yang ada di ruangan. Sebetulnya kalau interaksi saja mah sudah sering lihat, tapi baru kali ini sambil duduk semeja. Santai, tak berjarak, dan bukan dalam rapat serius.

Orang-orang yang bertandang dilayani semua dengan hangat dan senyuman yang khas. Baik yang butuh tanda tangan dokumen, sekedar mengucap pamit, maupun diskusi intens. Melihat ini semua, nggak heran kalau Pak Anies jadi menteri favorit banyak orang.

16.00 WIB


"Maaf lama. Setelah sekian lama dibantu tim Patwal, baru sadar lagi, oh iya, Jakarta macet" kelakar Pak Anies sesampainya di kantor PH. Paska reshuffle, tak ada lagi fasilitas 4 riders yang mengawal beliau untuk buka jalan supaya cepat sampai tujuan.

Singkat cerita, presentasi pun dimulai. Pak Anies kembali melempar kelakar, "seharusnya saya buat kata-kata di videonya kemarin. Tapi kena reshuffle".

Jadi begini. Mau spoiler dikit. Di video bioskop ini, yang tulis copywritingnya Pak Anies. Beliau mau kata-katanya 'berotot' dan menjanjikan diserahkan saat itu. Tapi karena reshuffle, banyak hal yang harus diurus dan tidak sempat mengerjakan copywriting sesuai tenggat.

Selesai pertemuan dengan PH, foto-foto, kami pulang. Atasan saya mengajak ngopi-ngopi. Ternyata menyenangkan juga bisa santai sejenak seperti ini. Hikmah di balik reshuffle, hahaha.

19.00 WIB


Atasan saya pulang, sementara saya kembali ke kantor. Di ruangan, ternyata Pak Chozin dan tim lagi sibuk 'mainan' paper shredder. Dokumennya luar biasa banyak. Satu troli sendiri. Mungkin sebetulnya lebih :))

21.30 WIB

Setelah seru-seruan main paper shredder, waktunya pulang! Di perjalanan, saya buka link ini: https://madeandi.com/2016/07/28/anies/

"...kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar."

Aih. Pak Made, buka pendaftaran klub #cemenwithpride kah? Saya mau gabung :')

Thursday, July 28, 2016

Anies Pamit (part 1)

5 comments

"Terus berjuang ya pak"

Campur aduk, hanya sepatah kata itu yang bisa keluar dari mulut saya. Sambil tersenyum ramah seperti biasanya, dengan tenang beliau merespon, "ohya harus. Perjalanan kita masih panjang"

Anies Rasyid Baswedan. Sosok yang santun dan bersahaja ini kemarin baru saja selesai menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

07.30 WIB

Saya bangun kesiangan. Buka Whatsapp, banyak pesan yang masuk. Tapi kali ini, ada yang beda. Banyak yang bertanya isu reshuffle. 3 bulan yang lalu sebelum saya bergabung di Kementerian, isu reshuffle kencang berhembus, tapi tidak kejadian. Makanya, saya tenang saja.

Ah, isu lagi, pikir saya. Malah, saya sempat becanda, mungkin reshuffle ini pengalihan isu aturan plat nomer ganjil-genap di Jakarta.

Lalu pagi itu, saya mengirim pesan pada atasan saya "mas, ada isu reshuffle lagi?" Dan dijawab dengan emoticon senyum. "Nanti kita ngobrol di kantor"

Eh?!

09.30 WIB

Saya sampai kantor. Mata dan jempol tak lepas dari HP, melayani pertanyaan yang masuk dan sibuk berasumsi sendiri.

"Pucet banget mbak" tanya salah seorang anak magang. "Kepikiran reshuffle sampai lupa pakai lipstik" sahut saya sekenanya. Di benak saya, masih banyak peer yang harus dikerjakan. Masih banyak inisiatif yang mau dilakukan. Kalau betulan di-reshuffle, ini nasibnya gimanaaa???!

Barangkali, pun dengan pulasan lipstik, raut pucat saya kala itu tetap terlihat.

Padahal, 2 hari yang lalu saya sempat mengutarakan keinginan perpanjang kontrak pada atasan saya. Beliau hanya tersenyum maklum saat saya bilang penasaran mau bantu gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah lagi tahun depan. Tapi ternyata, hidup memang penuh kejutan.

11.00 WIB

Saya sedang berusaha menyelesaikan laporan bulanan saat Metro TV menyiarkan pengumuman reshuffle. Jadi fix nih ya? Setelah benar-benar sadar apa yang sedang terjadi, saya dan teman-teman satu tim bergegas menuju ruang rapat. Di sana sedang digelar pertemuan kecil antar pimpinan.

Saat Pak Anies mulai keliling dan berjabatan, segera saya sadar, ini akan jadi hari yang panjang dan emosional.

Sekembalinya dari ruang rapat, sudah hilang mood untuk membuat laporan. Staf Khusus Menteri mulai berkemas. Saya, yang notabene tergabung dalam tim, ikut juga bergegas. Aturannya memang seperti itu. Staf Khusus ditunjuk langsung. Ring 1 Menteri harus ikut undur diri ketika Menterinya selesai menjabat.

Hari yang panjang itu kemudian diisi diskusi dan pamitan sana-sini.

15.00 WIB




Pak Anies bersama keluarganya memberikan pidato perpisahan di aula gedung kementerian. Berbondong-bondong orang datang. Mereka menangis terharu, merasakan betul dampak hadirnya sosok pemimpin yang benar-benar memanusiakan manusia.

Setelah keluarga dan ibunda, yang pertama kali disebut Pak Anies adalah ajudan dan supirnya, lalu para stafnya. "Mereka ini bekerja lebih lama dari saya. Kalau saya bekerja 16 jam, mereka 20 jam. Saya berangkat jam 6, mereka jam 4. Saya pulang jam 10 malam, mereka jam 12 malam."

Singkat cerita, sesi pamitan itu ditutup dengan salam-salaman. Saya yang mulai pusing dengan keriuhan massa kemudian melipir, memilih acak teman bicara dan berkenalan dengan seorang wanita paruh baya berkerudung kuning.

Lirih ia berkata, "sepanjang saya bekerja di sini, baru kali ini saya ketemu menteri kayak gini. Bukan cuma dicintai, tapi juga dibutuhkan" Saya pun menghela napas dan menepuk pundaknya. Merasakan patah hati yang sama.

17.00 WIB


Sesi serah terima jabatan yang dihadiri oleh para eselon. Saat itu, pandangan saya menangkap sosok wanita paruh baya berkerudung kuning sedang berdiri sendiri di pojokan. Ibu itu lagi. Menyadari kehadiran saya, ia melambaikan tangan. Saya melangkah menghampiri.

"Ibu kok di sini? Maju aja, liat dari deket" Saya membuka percakapan. "Nggak enak. Itu eselon semua. Saya cuma pengen liat sampai Pak Anies nggak jadi menteri lagi"

Mencelos. Sedemikian membekasnya sosok mantan Mendikbud ini di hati para stafnya. Ah, memang ya. Kalau bekerja pakai hati, terbukti pasti sampai ke hati.

19.00 WIB


Malam ini terasa sangat spesial. Setelah hari yang sebagian besarnya dihabiskan dengan pamitan dan beberes, tim Staf Khusus Menteri Bidang Pemangku Kepentingan beserta anak-anak magang berkumpul. Kami merapat di satu meja besar dengan sejumlah kursi, bercanda dan bercerita.

Ada hangat yang menjalar ketika Pak Chozin selaku Staf Khusus berkisah soal politik baik, kejujuran, dan integritas.

"Dari dulu, semangatnya PM --Pak Menteri, sebutan orang-orang Kemdikbud untuk Pak Anies-- adalah orang baik jangan diam dan mendiamkan. Ilustrasinya begini. Ketika dalam satu tim ada 10 orang jahat dan yang baik diam, kejahatan akan merajalela. Tapi ketika orang-orang baik memilih turun tangan, setidaknya bisa mencegah mereka yang berniat jahat"

Beliau juga cerita alasan kenapa UN tidak dijadikan syarat kelulusan. Ketika titik berat kelulusan ditentukan oleh ujian, maka akan terjadi kecurangan yang sistemik. Itulah yang ingin dicegah.

Lalu beliau juga menjabarkan alasan ruangannya yang luas menjadi ruang publik dengan pintu yang tak pernah dikunci. Menurutnya, dengan banyaknya orang seliweran, orang yang punya niat memberi amplop 'uang pelicin' akan sungkan bertindak. Beliau menjaga dirinya sendiri dari peluang lunturnya integritas.

"Manusia itu kan kadang khilaf. Dan kita sukanya bikin pembenaran kalau kepepet. Bisa aja kita terima amplop sambil janji sama diri sendiri nanti-nanti nggak lagi. Tapi malah jadi yang kedua kali, ketiga kali, sampai akhirnya terbiasa. Itu yang berat. Makanya harus dijaga jangan sampai ada celah."

Mendengar penuturan beliau yang sungguh-sungguh menjaga integritas, saya makin percaya bahwa masih banyak orang baik di negeri ini. Walau menjadi baik saja belum cukup, setidaknya, obrolan spesial malam itu menjadi bukti bahwa kita masih punya sejuta alasan untuk terus optimis.

Sunday, July 10, 2016

Tentang "Kapan Kawin?"

2 comments
Lebaran ini saya 'disidang' 2 keluarga besar dengan pertanyaan "kapan kawin?" Yasudahlah, memang nggak bisa menghindar, kan?

Saya sebetulnya santai, tapi lama-lama lelah juga akan tatapan aneh orang-orang saat saya bilang "aduuuh ribet. Nanti aja". Saya pun susah menjelaskan bahwa saya 'nggak mau dicariin, males nyari, dan yakin nanti juga ketemu'.

Akhirnya, saya sekalian menjabarkan:

  1. Saya nggak mau pesta besar tapi undangannya banyak yang nggak saya kenal.
  2. Saya nggak mau keluar duit banyak cuma buat resepsi yang melelahkan di gedung.
  3. Saya nggak mau pakai adat.
  4. Saya malas meladeni permintaan gabungan 4 keluarga besar. Keluarga besar papa-mama aja udah pasti banyak maunya. Kalau harus meladeni juga permintaan camer........ :|
  5. Daripada ribet, saya mending sekalian nikah sama bule. Atau orang Indonesia yang keluarganya asik, punya pemikiran terbuka soal nikah itu tentang ikatan 2 manusia, bukan urusan beberapa kelompok besar keluarga.
  6. Saya mau pakai gaun. Kebaya gpp, tapi nggak mau paes-paesan dan cukur alis sampai botak terus bisa liat tuyul.
  7. Saya mau calonnya bisa memastikan anggaran buat ART selama setahun, aman. Gpp deh tinggal kontrak sepetak. Most important thing is someone has to help us doing house chores.

Saya bahkan menambahkan, untuk memastikan bahwa undangan yang datang adalah benar-benar orang terpilih, saya maunya di luar kota atau luar negeri sekalian. Nggak perlu juga pakai ada 'beban kolektif' piala-piala bergilir segala. Nggak penting.

Di pinggir pantai, bisa bebas berkeliaran nggak cuma duduk anteng di pelaminan. Itung-itungan duitnya nanti dipikirin kalau udah ada calonnya.

Adek saya sinis. Ngayal, katanya. Bodo amat. Apa salahnya berkhayal? Kalau semua orang kayaknya mau tau banget kapan saya nikah, sekalian saya kasih tau aja kenapa saya malas bahas nikah. Karena tau banget 7 poin di atas hampir mustahil. Khayal babu.

Ya tapi kalau ada yang mau lamar saya dan bisa meyakinkan saya bahwa 7 poin di atas bisa benar-benar terwujud, I'm all yours! Just pick a date. That's it. Puas?

So if anyone come to me and ask that 'when' question again, the answer is when there's someone that can assure me I'm happier together than being single. A leap of faith.

Satu catatan penting: saya nggak mudah diyakinkan. Just don't waste your time.

Friday, July 8, 2016

Sukses Itu Proses (part 2)

0 comments
5. Push

Teman saya --sebut saja Bayu-- pernah bilang, mungkin life traps saya adalah unrelenting standard. Hah? Apa itu life traps? Apa itu unrelenting standard?

Singkatnya, life traps merupakan 'jebakan' di masa kecil hasil didikan orang tua yang terbawa sampai dewasa. Life traps ini dipandang sebagai sebuah masalah, makanya harus diatasi.

Sementara itu, unrelenting standard adalah salah satu bentuk life traps di mana seseorang dituntut dengan standar tinggi di masa kecil, sehingga ia tumbuh menjadi orang dewasa yang nggak pernah puas.

Bayu bilang, saya yang workaholic, ambisius, dan perfeksionis ini masuk kategori unrelenting standard. Bukan tanpa alasan sebetulnya dia bilang gitu, soalnya saya memang sering banget ngomongin kerjaan. Suka aja bahas berjam-jam, bahkan dalam pertemuan kasual.

Saya sendiri sih nggak merasa saya workaholic. Cuma workafrolic. Hahaha. Makanya, saya bergidik nggak nyaman dengan judgement itu, lalu protes ke Bayu.

Dia bilang, selama kita nggak ngerasa itu masalah ya gpp. Buat dia, dengan mengetahui apa life traps nya, justru membantunya untuk keluar dari situ. Good for him then, but not for me.

Buat saya, dengan takaran yang pas, nggak pernah puas itu justru bisa jadi kekuatan. Yes true, I tend to push myself hard and never can really be satisfied. But then I realize, ain't life boring when you're easily satisfied?

6. Serve

Ini yang baru saya sadari belakangan. Kita boleh nggak puas dan terus mendorong diri sendiri untuk jadi lebih baik, tapi harus ingat juga, jangan melakukan sesuatu cuma untuk diri sendiri aja. Kalau 'mantra' yang bolak-balik ditekankan di IM:

"It's not about me. It's about them"

Saya memang nggak pernah puas, tapi ketika melakukan sesuatu dengan ikhlas, membuat orang lain tersenyum puas, rasanya semua kerja keras terbayar lunas.

'Puas' ketika berusaha dan 'puas' ketika berbuat baik sama orang lain itu rasanya bisa beda jauh. Karena susah jelasinnya, mari anggep aja apa pun yang kita lakukan, kita sebenarnya sedang melepaskan energi.

Pada prinsipnya, energi itu kekal. Energi nggak bisa musnah, hanya berpindah. Jadi ketika orientasinya hanya diri sendiri, energinya akan muter di situ-situ aja. Tapi ketika kita memberikan pelayanan, berbuat kebaikan, kita sedang melakukan 'donor energi'.

Walaupun saya takut disuntik dan nggak pernah donor darah, tapi saya dapat cerita dari teman-teman pendonor. Mereka bilang, donor darah itu nagih karena rasanya segar sehabis mendonor. Charging.

That's the exact same thing when you serve. You'll feel refreshed like your energy recharged. It feels good when deed is good. It feels.......... meaningful :)

7. Ideas


Persis! Balada badai otak yang selalu dipenuhi ide. Kadang suka frustrasi sih ketika sebuah ide yang diungkapkan sulit dieksekusi. Padahal, katanya kan sebaik-baiknya ide adalah yang dieksekusi. Tapi boro-boro, saya sendiri suka kebingungan menyampaikan ide saking banyaknya 'tab'.

Prosesnya gini: punya ide, merenung, diskusi, eksekusi, revisi, ketemu ide baru, kembali merenung, kembali diskusi, kembali eksekusi, kembali revisi, dan bingung sendiri. Hahaha.  Selalu begitu, dan ya mungkin prosesnya memang begitu.

Makanya, sebagai outletnya, menulis menjadi ajang latihan buat saya untuk menyampaikan gagasan secara jernih dan terstruktur. Tantangannya, gimana realisasinya? Balik lagi ke situ :))

8. Persist

Saya ingat, dulu saya suka tanya sama mantan saya --sebut saja Budi-- tiap kali insecure. Apa sih kelebihan saya? Si Budi selalu bilang saya ini anaknya persisten. Dulu, saya nggak puas dengan jawabannya. Nggak jelas juga sebenarnya jawaban apa yang saya harapkan.

Sekarang, saya jadi bersyukur punya 'modal' persisten. Pokoknya selama keinginan masih ada, motivasi masih kuat, hambatan belum mentok, hajar lah!

Dari 8 poin di atas, seperti tujuan saya nulis untuk diri sendiri di masa depan, saya cuma pengen ngingetin Della sekian tahun lagi:

"Hey dear, keep all of these secret ingredients in mind, and you're on your way! Don't ever worry about temporary failures. Success never lies in results. Success is actually process. Promise me to keep going no matter what"