Posts

Kangen

Kangen nulis. Kangen ngobrol. Kangen ngobrol lewat tulisan. Kangen nulis apa yang diobrolin. Kangen kamu pokoknya.
Tapi kamu yang dulu bukan kamu yang sekarang. Ya namanya juga hidup kan. Kadang tumbuh beriringan, kadang bercabang dan menjauh.
Aku pikir, aku hanya butuh sedikit usaha cari waktu bertemu. Tapi semesta memang suka bercanda. Semakin keras usahaku, semakin jauh kamu.
Biar begitu, namamu terus mengorbit di keseharianku. Kenapa sih dari semilyar nama di dunia, harus kamu? Mungkin memang pasaran, tapi pasarku kan harusnya bukan namamu.
Rindu, obatnya bertemu, bukan? Apa jangan? Jangan. Kenapa? Biar semesta yang bekerja. Kalau memang saatnya, akan tepat waktunya.
Semoga segera. Ralat. Semoga saat siap.

Drama Cuci Piring

Dari kemarin saya urung menulis ini karena kurang bijak rasanya menulis saat masih emosi. Pasti akan ada banyak kata yang nggak lulus sensor ketika dibaca ulang. Jadi, saya tunggu sampai reda dulu baru tulis, supaya jelas isi pesannya apa, bukan meracau saja.Jadi begini ceritanya. Dua hari yang lalu, papa saya ada buka puasa bersama di rumah belakang. Kami sebetulnya sudah terbiasa repot kedatangan banyak tamu karena memang papa mendesain rumah belakang sebagai saung tempat kumpul-kumpul. Tapi kali ini, kerepotannya terasa sangat menyebalkan karena ART udah pulang kampung, jadi nggak ada yang bantuin.Berhubung tamunya banyak, jadi tentu saja cucian piringnya juga banyak. Sialnya, saya yang disuruh cuci piring.Mengeluh? Ya menurut ngana?! Yang saya garisbawahi ada beberapa. Pertama, kenapa tamu-tamunya papa nggak ada yang inisiatif bawa piring-piring kotor ke dapur?Kedua, oke. Anggaplah mereka nggak inisiatif karena nggak tau. Kenapa papa nggak minta tolong mereka untuk bantu bawa piri…

Santai Saja :)

Kalau seseorang hobinya marah-marah, mungkin memang dunianya kurang ramah.Kalau seseorang hobinya cari-cari kesalahan, mungkin sebetulnya dia sedang menutupi kelemahan.Kalau seseorang hobinya menyombongkan diri, mungkin dia takut tidak diakui.Menghadapi orang-orang seperti ini tak perlu terlalu diambil hati. Sebetulnya dia yang paling sakit hati karena perlakuannya pada dirinya sendiri.

Free Will

Last night, I couldn't sleep. Then I put on Thirty Days of Lunch, Gery Vee episode.This 70minutes-ish podcast got me contemplated. I asked myself "how was life going so far, Del?" and as the self awareness arised, I had to write down this train of thoughts.Lately, I had a looot~ of questions about life itself. People called it quarter life crisis. Some called it Saturn Return. Whatever. You named it.Then since last September 2018, I decided to experiment "if I surrendered to what life gave me and just fucking did my best, what would happen?" until my birthday on May 3rd.I usually got pretty slow, picky, and calculated when it came to decision. I took some time to thoughtfully consider pros and cons before saying go or no go. I planned out the worst case, even spared 'space for surprises'.But often times, I also got miscalculated. Things happened beyond my control. 'Surprises' came outside the 'space'.Remembered Rene said "overplanni…

Mencoba Sekali Lagi

"Kenapa kamu masih mau coba lagi tahun ini?"
Awalnya saya pikir akan mudah jawab pertanyaan ini. Tapi nyatanya, saya sempat diam sejenak waktu wawancara dan ditanya ini. Mikir.

Akhirnya saya cerita kalau saya dan teman-teman komunitas yang berasal dari Kelas Inspirasi Tangerang Selatan sedang merumuskan program untuk LPKA Tangerang, dengan nama baru komunitas INSPIRASA. Jadi, pengalaman di SSEAYP akan sangat membantu untuk proses perumusan ini nantinya.

Mundur sedikit, 3 tahun lalu saya mencoba ikut seleksi SSEAYP dan gagal. Saya masuk peringkat kedua. So close yet so far, karena kuotanya hanya satu orang. Apa itu SSEAYP dan bagaimana proses seleksinya? Saya pernah menulis ceritanya di sini.

Lalu seperti yang sudah diduga, keluar juga pertanyaan ini saat wawancara dengan alumni:
"Menurut kamu, kenapa kamu nggak terpilih waktu itu?"
Saya pun bertanya-tanya pada diri sendiri. Harus diakui, 3 besar yang jadi kandidat untuk SSEAYP betul-betul punya 'warna' yan…

Question?

1. How do you know whether someone deserves a second chance?
2. How do you know whether you have to stop giving someone another chance?
3. How do you whether there will never be any chance?Answer: you'll never know. Why do you want to know?

Avoidant vs Anxious (part 2)

Melanjutkan postingan sebelumnya, hari Sabtu (09/02) lalu, akhirnya Mendadak Kelas #2 sukses dilaksanakan.Yang nggak sukses adalah jumlah peserta yang jauh dari target 20 orang. Tapiii.. peserta yang sedikit ternyata bikin sesinya lebih intim dan intens.Blessing in disguise.Pertanyaan "apa yang harus dilakukan untuk menjadi lebih secure, baik bagi yang cenderung avoidant maupun anxious?" juga terjawab, walaupun belum benar-benar diresapi dan diinternalisasi.Apa aja tuh langkah-langkah dan tipsnya? Menurut penjelasan Tian:1. Learn your behavioral patterns.
2. Overcome withdrawals symptoms.
3. Value small wins.
4. Embrace yourself.Supaya gampang inget, disingkat jadi LOVE. Eaaa..Kalau contoh yang gw tulis di postingan lalu adalah Della dan tipikal respon "yaudalah ya".Ini peer banget sih. Karena agak nyaru antara menghindari konflik sama ikhlas ketika ada hal-hal yang terjadi di luar kendali.Tapi dengan mempelajari "pola 'yaudalah ya' gw nih biasanya yan…