Posts

Santai Saja :)

Kalau seseorang hobinya marah-marah, mungkin memang dunianya kurang ramah.Kalau seseorang hobinya cari-cari kesalahan, mungkin sebetulnya dia sedang menutupi kelemahan.Kalau seseorang hobinya menyombongkan diri, mungkin dia takut tidak diakui.Menghadapi orang-orang seperti ini tak perlu terlalu diambil hati. Sebetulnya dia yang paling sakit hati karena perlakuannya pada dirinya sendiri.

Free Will

Last night, I couldn't sleep. Then I put on Thirty Days of Lunch, Gery Vee episode.This 70minutes-ish podcast got me contemplated. I asked myself "how was life going so far, Del?" and as the self awareness arised, I had to write down this train of thoughts.Lately, I had a looot~ of questions about life itself. People called it quarter life crisis. Some called it Saturn Return. Whatever. You named it.Then since last September 2018, I decided to experiment "if I surrendered to what life gave me and just fucking did my best, what would happen?" until my birthday on May 3rd.I usually got pretty slow, picky, and calculated when it came to decision. I took some time to thoughtfully consider pros and cons before saying go or no go. I planned out the worst case, even spared 'space for surprises'.But often times, I also got miscalculated. Things happened beyond my control. 'Surprises' came outside the 'space'.Remembered Rene said "overplanni…

Mencoba Sekali Lagi

"Kenapa kamu masih mau coba lagi tahun ini?"
Awalnya saya pikir akan mudah jawab pertanyaan ini. Tapi nyatanya, saya sempat diam sejenak waktu wawancara dan ditanya ini. Mikir.

Akhirnya saya cerita kalau saya dan teman-teman komunitas yang berasal dari Kelas Inspirasi Tangerang Selatan sedang merumuskan program untuk LPKA Tangerang, dengan nama baru komunitas INSPIRASA. Jadi, pengalaman di SSEAYP akan sangat membantu untuk proses perumusan ini nantinya.

Mundur sedikit, 3 tahun lalu saya mencoba ikut seleksi SSEAYP dan gagal. Saya masuk peringkat kedua. So close yet so far, karena kuotanya hanya satu orang. Apa itu SSEAYP dan bagaimana proses seleksinya? Saya pernah menulis ceritanya di sini.

Lalu seperti yang sudah diduga, keluar juga pertanyaan ini saat wawancara dengan alumni:
"Menurut kamu, kenapa kamu nggak terpilih waktu itu?"
Saya pun bertanya-tanya pada diri sendiri. Harus diakui, 3 besar yang jadi kandidat untuk SSEAYP betul-betul punya 'warna' yan…

Question?

1. How do you know whether someone deserves a second chance?
2. How do you know whether you have to stop giving someone another chance?
3. How do you whether there will never be any chance?Answer: you'll never know. Why do you want to know?

Avoidant vs Anxious (part 2)

Melanjutkan postingan sebelumnya, hari Sabtu (09/02) lalu, akhirnya Mendadak Kelas #2 sukses dilaksanakan.Yang nggak sukses adalah jumlah peserta yang jauh dari target 20 orang. Tapiii.. peserta yang sedikit ternyata bikin sesinya lebih intim dan intens.Blessing in disguise.Pertanyaan "apa yang harus dilakukan untuk menjadi lebih secure, baik bagi yang cenderung avoidant maupun anxious?" juga terjawab, walaupun belum benar-benar diresapi dan diinternalisasi.Apa aja tuh langkah-langkah dan tipsnya? Menurut penjelasan Tian:1. Learn your behavioral patterns.
2. Overcome withdrawals symptoms.
3. Value small wins.
4. Embrace yourself.Supaya gampang inget, disingkat jadi LOVE. Eaaa..Kalau contoh yang gw tulis di postingan lalu adalah Della dan tipikal respon "yaudalah ya".Ini peer banget sih. Karena agak nyaru antara menghindari konflik sama ikhlas ketika ada hal-hal yang terjadi di luar kendali.Tapi dengan mempelajari "pola 'yaudalah ya' gw nih biasanya yan…

Avoidant vs Anxious (part 1)

Jadi ceritanya, beberapa waktu terakhir, gw 'dihantui' masa lalu karena mimpi bersambung yang entah gimana frekuensinya intens sampai gw suka takut tidur. Takut mimpi lagi, karena bangunnya nggak enak.Akhirnya coba cari tahu sendiri akar masalahnya, merumuskan solusi, dan kayaknyaaa.. mulai ketemu. Masih menerka-nerka sih, cuma lumayan lah. Seenggaknya nggak ngeblur.Salah satu yang cukup membantu adalah skripsi temen gw tentang kaitan love style dengan adult attachment.Seperti halnya dulu gw mencari jawaban sampai bikin artikel psikologi pop berbasis jurnal tentang kenapa susah move on dari mantan, si temen ini (mari sebut saja Tian --memang nama sebenarnya--) pun demikian. Dia bikin skripsi untuk terapi (kalau dia menyebutnya 'berobat jalan').Tian dari dulu pengen banget bikin workshop tentang skripsinya itu, tapi ketunda terus. Setelah gw dorong-dorong buat cus eksekusi, meyakinkan bahwa sesinya akan bermanfaat buat banyak orang, akhirnyaaa~ kejadian juga rencana wor…

Ekskul

"Mungkin lo butuh ekskul"Gw ingat dulu seorang teman curhat, dia merasa datar-datar aja bekerja. Kayak nggak punya semangat hidup.Salahnya gw, saran ini diberikan tanpa mencoba berempati sama keadaan dia.Waktu itu, alih-alih menjadi pendengar yang baik, dengan nggak sensitifnya gw malah cerita keseruan hidup sendiri.Tapi sekarang temen gw itu udah mulai menikmati rutinitasnya. Lega sih dengernya, apalagi solusinya bukan ngikutin saran sesat gw waktu itu, tapi dengan mengubah sudut pandangnya.Dia mencoba berteman dengan konsekuensi. Kerjaan mah nggak ada yang enak doang. Pasti sepaket sama nggak enaknya, termasuk merasa "gitu-gitu doang".Ya nggak sesat-sesat amat sih. Cuma kurang bijak aja. Apa yang baik buat kita belum tentu cocok buat orang lain kan?Tapi kalau sekarang, boleh dong gw cerita? Dengan penuh kesadaran bahwa emosi nggak mutlak, gw nggak bisa bohong bahwa gw saat ini ngerasa 'hidup' dengan keberadaan 'ekskul' yang diselipkan di gunungan …