Tuesday, February 14, 2017

Happy or Ready?

0 comments
"Di dunia ini ada dua tipe orang: yang mencari dan mencari tahu"

Dalam sebuah percakapan santai sambil ngopi-ngopi, seorang teman mencoba berteori. Kalau tipe yang pertama, orang yang mencari pasangan. Minta dijodohin. Penuh intensi saat bertemu orang baru.

Sementara tipe yang kedua, lihat-lihat dulu. Memperluas pergaulan sambil mencari tahu siapa yang paling cocok buat dirinya.

Menurutnya, saya yang sekian tahun anteng menjomblo ini masuk tipe yang kedua.

Kening saya berkerut-kerut mendengar penjelasannya. Rasanya kok ya masih kurang pas teorinya. Saya hanya belum ketemu aja. Lagipula, tak ada yang salah dengan sendiri dan mandiri, kan?

Maksud teman saya itu baik. Ia mau saya happy ketemu jodoh. Lebih tepatnya, dia penasaran, jodoh saya nantinya seperti apa? Haha.

Saya jadi ingat sesi Razi Thalib --CEO Setipe.com, sebuah start up online dating-- saat acara Idea Fest. Di sesi yang isinya cinta melulu itu, dia bilang gini:
"Find someone who can make you happier, not happy. Karena kalau cari pasangan tujuannya supaya bahagia, kalau pisah, kebahagiaan lo dibawa sama dia."

Ini juga bikin berkerut-kerut. Lama-lama saya keriput lah kalau keseringan denger teori cinta berbagai versi. If I'm already happy, should I risk it? How if that person actually make me less happy rather that happier?

Di hari Valentine ini, saya yang belakangan super skeptis dan lebih suka bahas Pilkada #eh, jadi pengen mendefinisikan ulang. Tanya lagi ke diri sendiri, jujur-jujuran maunya apa.

Maybe it's not that I'm not happy. Or I'm seeking for the right person who can make me happier. Maybe well... I'm just not ready yet to take the risk, that relationship might work but it also might fail.

Maybe, I'm just not ready for commitment yet.

Reframe Worklife

0 comments
"Bersetialah pada nilai, bukan figur" -diingatkan oleh seorang teman yang mengutip dari teman lainnya.

Buat saya, figur itu penting. Dari awal bekerja, yang saya cari tau dulu itu siapa bosnya. Saya baru sadar pola itu sekarang, setelah saya berganti pekerjaan 7 kali dalam 5 tahun.

Mungkin kesannya kutu loncat, tapi saya punya alasan kuat di tiap pergantian kerja. Kalau interview kerja dan saya ditanya kenapa resign, saya bisa bercerita dengan ringan hati tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.

Dan yang terpenting, semua bos saya selalu mendukung apa pun keputusan karir saya. Dari sini, saya bisa bilang saya super beruntung. Walaupun selayaknya semua hal di dunia, nggak selamanya kerja itu enak. Kadang kesel, capek, bosen, dsb.

Tapi kalau dipikir-pikir, punya bos-bos yang suportif gini, gimana bisa nggak bersyukur? Saya ingat betul semua memori ketika saya mengajukan resign.

Pertama, saya resign karena lolos seleksi kedua jadi Pengajar Muda. Saat itu, bos saya malah mengucapkan selamat dengan super antusias. Walaupun setelah itu gagal sih di seleksi ketiga. Haha. Dan udah kadung resign. Nasib :))

Kedua, lagi-lagi, saya resign karena keterima jadi Pengajar Muda setelah mencoba daftar lagi untuk kedua kalinya. Waktu itu bos saya dua. Dan dua-duanya merespon secara menakjubkan. Yang satu cuma tersenyum teduh dan mengangguk sambil bilang "I know". Yang satunya lagi malah terharu dan semangat banget dukung saya jadi Pengajar Muda.

Lalu pekerjaan ketiga, jadi Pengajar Muda. Kalau ini, emang jatahnya setahun aja.

Keempat, di kantor Indonesia Mengajar. Baru sebentar, karena saya dapat tawaran untuk kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya sebetulnya super nggak enak bilangnya, bahkan menawarkan akan segera membantu mencari pengganti dan menyiapkan semua materi transisi.

Tapi bos saya geleng-geleng dan menenangkan "nggak usah terbebani dengan cari pengganti. Kamu fokus aja buat kerjaan di Kemdikbud. Semoga sukses ya" Speechless.

Kelima, karena re-shuffle. Apa boleh buat. Haha.

Keenam dan ketujuh, mengurus kampanye Pilkada DKI dan Limitless Campus sekaligus. Bos saya yang notabene juga teman dekat Anies Baswedan sangat maklum. Sempet dikerjain, tapi ujung-ujungnya dia bilang "see you on February!"

Sampai sini, walaupun jenjang karir saya agak absurd untuk ditulis di CV, saya jadi ngeh kalau saya mengorbit pada figur. Saya mengorbit pada orang-orang yang bekerja sepenuh hati, dari hati.

Ternyata, pun ketika bersetia pada figur, saya sesungguhnya sekaligus bersetia pada nilai yang dianut figur tersebut.

Mungkin suatu saat, saya akan punya orbit sendiri, dengan warisan nilai yang dibawa dari para figur pemimpin yang saya pernah ikuti. Semoga. Aamiin.

More Than Votes (part 2)

0 comments
Tapi satu hal yang saya pelajari: kadang, kita hanya perlu mencoba memahami dari berbagai sudut pandang. Berempati.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang anaknya putus sekolah karena KJP hanya bisa meng-cover kebutuhan sekolah. Padahal, mereka juga butuh ongkos transportasi, butuh uang jajan, dsb.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang tinggal di pinggir pantai yang jadi korban reklamasi. Yang makin sulit cari ikan.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang kena gusur. Yang puluhan tahun tinggal tapi dalam sekejap rumahnya rata dengan tanah. Mereka terpaksa tinggal di rusun, jauh dari mata pencaharian, harus bayar sewa pula!

"Mbak, Jakarta itu bagus aja dipandang. Di hati ngga" -seorang warga penghuni rusun.
Pilkada ini mengajarkan saya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh suara, tapi juga tentang memandang ibukota dari sisi lain.

Kalau awalnya saya hanya berpikir sederhana bahwa saya ingin berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman, pada perjalanannya, saya sadar ini bukan tentang saya.

Mendukung Anies-Sandi menang berarti mendukung pemimpin yang dititipkan amanahnya untuk membereskan 'patah hati' mereka yang digusur, sulitnya mendapat pekerjaan, dan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, dan segala bentuk ketidakadilan lainnya
.
Menyadari ini, sekedar 'patah hati' karena bersebrangan pendapat dengan teman atau dinyinyirin rasanya jadi tak penting lagi.

For me, this election is very special. It's more than votes.

Yes I might know nothing about this city and society, but I know one thing: I'm supporting candidates who can speak on behalf of them.



Good luck, Sir!

More Than Votes (part 1)

0 comments

"Lo pilih nggak penting tapi lo suka atau penting walaupun lo nggak suka?"

Di sebuah kesempatan, saya pernah mengajukan pertanyaan ini pada kurang lebih 500 orang dan menyeleksi jawaban mereka. Nggak ada jawaban benar-salah. Saya hanya ingin tahu alasan pilihan mereka, tanpa menduga bahwa saya dihadapkan oleh pertanyaan saya sendiri.

Terjun membantu kampanye dalam Pilkada DKI, saya memilih melakukan hal yang penting walaupun saya nggak suka. Iya, saya ngaku saya nggak suka politik.

Saat itu, saya sebetulnya masih mengerjakan sebuah proyek Limitless Campus (LC), sebuah wadah yang kalau istilah Rene Suhardono "reimagine education". Kalau diminta menjelaskan apa itu LC, saya juga sebetulnya masih bingung, haha.

Tapi kira-kira gambarannya gini:

"Kalau lo dikasih kesempatan untuk melakukan hal yang penting dan lo suka, apa yang akan lo lakukan?" Buat saya, LC adalah jawabannya.

Makanya, mengiyakan terlibat kampanye itu sebetulnya resiko yang agak gila. Tapi ya mungkin saya memang perlu cek kewarasan :))

Saya hanya berpikir sederhana. Sebagai komuter, saya mau berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman. Dan sebagai warga luar DKI, suara saya mungkin bisa diwakilkan oleh mereka yang punya hak pilih, tapi kontribusi saya nggak.

Well, win or lose, I can say proudly:
"At least I've done something"

Perjalanan Pilkada Jakarta ini ibarat naik roller coater tanpa safety belt. Adrenalin plus plus. Harus selalu siap menghadapi hal-hal tak terduga.

Termasuk patah hati.

Mungkin buat orang-orang yang 'T banget' (T = thinking, salah satu dimensi kepribadian menurut tes MBTI), saya bisa dibilang super lebay.

Saya patah hati saat tau bahwa ternyata orang bisa balik kanan begitu saja.

Saya patah hati saat tau bahwa berseberangan pilihan tak bisa selesai lewat diskusi.

Saya patah hati saat orang yang saya pikir berpikiran terbuka, ternyata memilih untuk nggak mau tau.
Intinya, saya patah hati karena merasa tidak dipercaya.

Honestly, distrust issue really breaks my heart. Lebay kan? Emang -_-

(bersambung)

Thursday, September 1, 2016

Connecting the Dots, Understanding the Odds

0 comments
Di suatu sore, saya berbincang santai-serius dengan Pak Hikmat Hardono. Berangkat dari satu pertanyaan yang menggantung sejak Mei lalu terkait sejauh apa peran pelibatan publik dalam membantu negara, saya beberapa kali kontak Pak HH untuk ajak diskusi.

Tapi barangkali karena tengah berenang-renang di lautan kesibukan, baru sempat ngobrol paska reshuffle. Telat? Well........ better than nothing, yes?

Pak HH menggambar sebuah skema dan menjelaskan pada saya. "Sederhananya kira-kira begini. Kita punya pemerintah, kita punya society. Untuk mencapai sebuah tujuan, publik membantu pemerintah agar kebijakan bisa efektif. Sementara dalam society, mereka mengorganisir diri sendiri."

Saya mulai mencerna dan mencatat.

"Kemarin, kita bekerja di dalam pemerintahan, memang sudah seharusnya melibatkan publik. Karena ada kebijakan dan anggarannya. Sekarang, kita ada di luar, mari kembali bekerja sesuai porsi masing-masing. Memang berbeda caranya."

Pikiran saya melompat acak pada berbagai 'momen gemes' di mana banyak pihak keren yang kerja sendiri-sendiri. Padahal pasti ada cara buat saling terhubung.

"Pak, mungkin nggak ya, kita terlalu sibuk bekerja, lupa bahwa kita bisa bekerja sama? Interaksi? Padahal, tujuannya sama. Tapi entah kenapa kayak nggak ketemu celah kolaborasinya. Padahal kan bisa duduk bareng, diskusi cari solusi."

"Permasalahannya, kita butuh lebih banyak orang yang bekerja. Kita nggak bisa memaksakan semua seragam. Kalau terus-terusan diskusi, kapan kerjanya? Kredibilitas seseorang akan terlihat ketika seseorang bekerja. Jadi, biarkan interaksi itu terbangun dari hasil kerja."

Saya diam dengan dahi berkerut-kerut. Masih gagal paham. Pak HH yang sepertinya bisa membaca kebingungan saya pun menutup diskusi sore itu dengan kalimat singkat, "kalau kamu jalani, nanti pelan-pelan pasti akan ngerti."

Dear Sir, what actually really bothers me is that most of times, we're too busy making dots that we forget to connect the dots. That most of times, we're too busy avoiding the odds that we forget to understand the odds. Why we pretend we're fine with this status quo?

How to not only adjust and adapt, but also connect the dots and understand the odds? How to play what role? How to awaken people that the whole is greater than the sum of its parts?

Well, should I remain those questions unanswered or like Pak HH said 'just do things you do and later on, you'll find out'?

Thursday, August 11, 2016

(Masih) Hal Konkrit Sederhana

0 comments
Dari hari Minggu (07/08) lalu, jagad media mulai membicarakan wacana Mendikbud soal Full Day School (FDS). Kian ramai sampai Rabu (10/08). Sekarang? Belum tau, masih menunggu perkembangan.

Saat mendengar berita itu, reaksi pertama saya rasanya mau ngamuk. Tapi saya tahan-tahan. Tanya sana-sini, minta klarifikasi, cek berbagai media, cek opini para pegiat pendidikan, dan ikut diskusi dalam grup.

Tetap saja, saya tak bisa menipu diri sendiri. Wacana ini tidak masuk akal kalau betul akan diterapkan dalam skala nasional. Seperti postingan sebelumnya, saya bukan dalam kapasitas mengkritisi apalagi mengkaji wacana FDS.

Justru, yang mau saya kaji itu diri sendiri.

Apa saya sama reaktifnya dengan yang lainnya? Bagaimana cara saya bertanya pada orang-orang yang bisa saya minta klarifikasinya? Apakah saya benar-benar mendengar penjelasan mereka? Atau saya cuma ingin dengar pembenaran?

Bagaimana agar segera kembali berpikir jernih? Bagaimana mencoba berempati dengan teman-teman di internal Kemdikbud yang terus bekerja di tengah keriuhan? Bagaimana cara untuk terus menyemangati mereka?

Satu hal yang sebetulnya paling mengganjal: mengapa saya begitu kesal ketika saya tak bisa melakukan apa-apa?

Membayangkan di desa saya, kalau kebijakan FDS ini sudah ketok palu, anak-anak yang tiap sore berjualan wade' (kue basah khas Bugis) tak akan sempat keliling.

Atau anak-anak yang tiap sore berenang di laut, main layangan, kelereng, naik sepeda keliling desa, kapan mereka punya waktu main kalau sore-sore harus terus di sekolah?

Atau anak-anak lainnya yang harus jalan kaki naik-turun gunung. Pulang siang pun bisa sore baru sampai rumah. Apalagi sore baru pulang. Mau sampai rumah jam berapa?

Bagaimana dengan guru-guru honorer? Yang gajiannya 3 bulan sekali, dan punya pekerjaan sampingan selain mengajar. Kalau waktunya habis di sekolah, gimana cara mereka ngakalin gaji yang suka telat turun itu?

Bagaimana dengan guru-guru yang punya kebun? Punya ladang? Yang pulang sekolah masih cari ikan? Bagaimana dengan guru yang juga petani?

Lalu ruang kelas yang rusak, pengaturan kelas pagi-siang, minimnya fasilitas sekolah, daaan berbagai aspek lain yang harus dipikirkan. Saya kesal sekali mentok, clueless apa yang bisa dilakukan.

Tambah jengkel saat anak murid saya telfon, mereka bilang kegiatan-kegiatan ekskul tidak jalan.

Bayangkan, kalau FDS berlaku nasional, mau-gamau anak-anak terjebak di sekolah dengan kegiatan ekskul yang nggak jelas. Guru-guru juga terpaksa menjalani dan merasa terbebani. Masih berharap waktu ekstra di sekolah jadi solusi untuk pembentukan karakter?

Udah sih dijalani dulu yang sedang berjalan. Kalau tujuannya pembentukan karakter, kan ada pembiasaan baca buku 15 menit, nyanyi lagu patriotik, dsb. Dari semua pilihan implementasi, kenapa yang dipilih wacana FDS? Kenapa terjemahannya nonsense gitu?

Katanya mau fokus urus KIP dan vokasi? Mana bisa kerja tenang kalau 'direcokin' publik mulu kan? Kalau mau fokus dua hal itu, ya alokasikan energi dengan bijak.

Nggak usah bikin geger semua orang dengan kebijakan yang masih dalam tahap wacana dan menghabiskan energi tim untuk jadi 'pemadam kebakaran'. Hih.

Ternyata, satu posting sebagai outlet kegelisahan belum cukup. Saya yang jarang sekali telfon-telfonan (lebih suka via texting), Selasa malam akhirnya kontak Fajri, berbicara cukup lama. Hampir 2 jam. Saya 'nyampah' se-nyampah-nyampahnya.

Kalau pakai analogi "merutuk kegelapan" vs "menyalakan lilin", malam itu, saya yang sedang 'kehabisan korek' akhirnya habis-habisan merutuk kegelapan sampai puas.

Dalam kegelapan, punya teman bicara yang sama-sama 'kehabisan korek' ternyata menenangkan. Melegakan. Menyenangkan. Ternyata supporting system saya masih jadi andalan. Makasih ya, Jri!

Setelah puas numpang nyampah, tercetus lagi bahasan soal 'hal konkrit sederhana' dan kami mulai nostalgia.

Tahun lalu (saya lupa persisnya kapan), Fajri main ke desa saya. Dia mampir untuk mengisi waktu sambil menunggu dapat tumpangan kapal. Dari pagi, baru sorenya dia dapat kapal. Karena saya juga lagi malas ke mana-mana, jadilah kami berbincang panjang di teras rumah.

Dari perbincangan pagi sampai petang itu, lahirlah istilah 'hal konkrit sederhana'. Tindakan nyata apa yang bisa dilakukan untuk sumbang kontribusi?

Di situ, kami sama-sama sepakat bahwa melatih mindset untuk melakukan 'hal konkrit sederhana' ternyata sangaaattt berguna dan relevan di berbagai konteks hingga sekarang.

Optimisme bisa naik turun. Mood swing, frustrasi, marah, kecewa, itu sangat manusiawi. Kalau yang begini dibilang baperan nan sensi, menurut saya malah lebih bahaya yang denial. Menolak emosi.

Tapi kalau mau lihat sisi positifnya, segala kegelisahan ternyata efektif juga sebagai bahan bakar untuk tetap berorientasi pada hal konkrit sederhana.

Berkat telfon-telfonan Selasa malam itu, esok harinya, saya bisa lebih santai menyikapi berita walaupun masih numpang nyampah ke beberapa teman lainnya. Makasih ya, lagi-lagi, saya hutang telinga :)

Saya belum yakin saya sudah naik level, tapi senang rasanya bisa banyak belajar lagi untuk mengasah kecerdasan intra dan interpersonal. Saya akhirnya punya jawaban atas pertanyaan hal konkrit sederhana apa yang bisa dilakukan. Kata kuncinya: belajar.

Belajar mengenali emosi. Belajar mengakui bahwa memang sedang emosi. Belajar mengontrol emosi. Belajar berempati. Belajar mencoba melihat dari berbagai sisi. Belajar dan tak hentinya belajar. See? Belajar bukan cuma sekolah. Tepatnya, bukan cuma DI sekolah.

Dear Pak Muhadjir, semoga bapak juga belajar ya. Untuk berhati-hati membuat pernyataan ke publik. Untuk memikirkan dampak dari ucapan orang nomer 1 yang mewakili pendidikan negeri. Mulutmu harimaumu.

Mari sama-sama belajar. Hal konkrit sederhana yang siapapun bisa melakukannya.

Tuesday, August 9, 2016

Hal Konkrit Sederhana

0 comments
Masih soal reshuffle. Iya, belum move on. Saya lagi gelisah, tapi nggak mau umbar galau yang yang sepotong-sepotong di media sosial. Sekalian aja dituntaskan dalam satu tulisan ini, lalu bergegas tidur. Sudah pukul setengah empat.

Jadi begini. Mau cerita sedikit, flashback masa-masa di penempatan yang situasinya mirip. Saya ingat betul, di awal April tahun lalu, ada pergantian pimpinan di SD tempat saya mengajar.

Kabar tersebut jelas mengejutkan, apalagi kepala sekolah yang ada merupakan favorit semua orang. Beliau dikenal sebagai sosok kepala sekolah yang ramah dan concern akan perbaikan fasilitas sekolah, juga mengutamakan kesejahteraan guru.

Beliau juga sangat mendukung kegiatan lomba-lomba, bahkan nombok dari uang pribadi. Selain itu, beliau merombak habis-habisan manajemen sekolah dengan menambah jumlah guru honorer dan membagi kelas menjadi 2 rombel, serta mengakali kekurangan ruangan dengan kelas pagi-siang.

Bagi kami, Pengajar Muda, beliau masuk dalam kriteria local champion ideal. Sayangnya, mungkin tidak cukup ideal untuk terus memimpin SD di tempat saya mengajar menurut kacamata Camat.

Respon guru-guru saat itu sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan turun semangat mengajarnya. Wajar, perubahan ini amat mendadak. Saya pun cukup syok, apalagi mendengar banyak asumsi, dugaan ini-itu kenapa Pak Kepsek dimutasi.

Beberapa hari, saya sibuk curhat pada PM pendahulu saya. Merasa tidak adil. Kenapa harus diganti sekarang? Kenapa Pak Kepsek? Kenapa di saat sudah ketemu ritme yang menyenangkan bekerjasama dengan pemimpin yang baik di sekolah? Kenapa? Kenapa? Kenapa???!

Tapi kata-kata PM pendahulu saya cukup menenangkan hati. Namanya Vany. Dia seumur dengan saya, tapi saya panggil dia Kak dan dia panggil saya Dek. Dia bilang begini:

"Dek, kita justru harus bersyukur. Beruntung bisa ketemu orang kayak Pak X yang satu frekuensi sama kita. Beliau dimutasi, yang dibangun bukan Tanjung Aru, bukan juga Pasir Belengkong. Yang dibangun itu Paser. Itu yang penting".

Sejak itu, saya mencoba mengubah cara pandang saya menjadi lebih optimis-realistis. Apa yang bisa saya lakukan? Hal konkrit sederhananya apa? Saya dekati guru-guru, ajak bicara, dan kasih semangat. Siapa pun pemimpinnya, yang penting harus tetap kompak.

Saya juga dekati Pak Kepsek yang baru. Biar bagaimana pun, beliau sekarang pemimpinnya. Sebagai bagian dari tim, 'hal konkrit sederhana' yang bisa dilakukan adalah mendukung dan mendorong pemimpin tim untuk terus bergerak maju.

Tiap mentok, saya ingat lagi kata-kata Kak Vany: "yang dibangun itu Paser".

Saat reshuffle pada 27 Juli lalu, saya seperti De Javu. Bisa-bisanya situasi serupa terulang lagi dalam skala yang lebih besar: negara. Walaupun tidak persis sama, Pak Anies berbicara hal yang senada dengan Kak Vany.

"Yang dibangun itu Indonesia".

Saat itu, saya merasa sangat beruntung pernah diberi kesempatan menghadapi 'miniatur reshuffle' di penempatan. Saya memang bertugas seorang diri di desa selama satu tahun. Tapi saya tidak sendirian. Saya punya supporting system dengan perannya masing-masing. Tim Paserangers. Tim guru di sekolah. PM-PM sebelum saya. Juga Pak Kepsek baru.

Saya juga bersyukur latihan pembiasaan memandang sesuatu sebagai lahan kontribusi. Apa yang bisa dibantu? Apa hal konkrit sederhana yang bisa dilakukan? Setidaknya, saya nggak ikut-ikutan protes doang tanpa tindakan.

Tapi sepertinya kalau di game, saya sedang masuk level baru. Atau malah ulang check point? Entah.

Baca berita tentang pendidikan yang isinya pernyataan-pernyataan 'ajaib' Mendikbud baru, telusuri komentar netizen dan meme-meme yang tak kalah 'ajaib' nya, dan terlibat dalam bahasan yang ramai terus di grup Whatsapp membuat saya bolak-balik menghela napas.

Semua orang menyayangkan Pak Anies di-reshuffle. Bertanya kenapa. Menganalisa praduga. Mendadak jadi detektif. Puncaknya, soal wacana Full Day School.

Dari berbagai sisi, apabila wacana ini betul dijalankan, jelas akan merugikan. Baik dari sisi siswa, guru, maupun orang tua. Bahkan sudah ada petisinya segala. Tapi yasudahlah, saya tidak punya kapasitas menyoroti hal ini. Biarlah porsi kajian serahkan pada ahlinya.

Yang membuat saya menghela napas dan gelisah uring-uringan sendiri adalah saya jadi tidak yakin. Memang, beberapa hal konkrit sederhana yang saya rasa bisa lakukan sedang dalam proses.

Saya juga berusaha tetap berpikir besar, bahwa yang sedang dibangun adalah Indonesia, tak peduli siapa menterinya bahkan presidennya. Tak peduli perannya sebagai sipil, militer, swasta, ataupun aparatur negara.

Tapi belakangan, saya jadi bertanya-tanya. Apakah menjalankan hal konkrit sederhana itu cukup? Apakah butuh lebih banyak hal abstrak rumit yang harus dilakukan? Bagaimana kalau bukan dalam kapasitas untuk mengerjakan hal-hal rumit? Apa yang bisa dilakukan?

Saya juga mulai lelah dengan 'kalau nggak ada yang inisiatif, ngga gerak'. Sama. Saya juga bosan menunggu dan maunya partisipasi aktif. Kalau istilahnya Pak Anies "daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin".

Tapi kalau terus-terusan 'cari korek', saya jadi ragu. Apakah saya masih punya supporting system yang bisa diandalkan? Apakah menjadi optimis masih masuk akal? Apakah saya boleh sesekali ikut merutuk kegelapan? Mengeluh?

Apa mungkin saya butuh istirahat? Atau malah, cuma butuh sabar?