Posts

"Maybe"

D1: Hi there!
D2: Been long time, yes? How are you?
D1: How are we?
D2: What's bothering you?
D1: How do we know that we are real us?
D2: You just know.
D1: What if what we think is us, is not us?
D2: What doubts you?
D1: I don't think I'm that good. Or content. Or kind to myself. To us.
D2: Why?
D1: It's just my anxiety. Promise something I'm afraid I can't deliver. As usual, putting a lot pressure and expectation to myself. I know it's useless, but I just can't help it. I guess, this is the real me.
D2: Why is it bothering you so much when you're not real?
D1: Good question. Maybe I just want to embrace this uncomfortable feeling without feeling guilty that I can't be like what I expect myself. Sorry, me.
D2: Apology accepted. Anything else?
D1: I'm also afraid I can't be consistent in pursuing what I decide for me.
D2: Take your time. No rush.
D1: We're running out of time.
D2: At least we're not running from reality.
D1: Are …

Kangen

Kangen nulis. Kangen ngobrol. Kangen ngobrol lewat tulisan. Kangen nulis apa yang diobrolin. Kangen kamu pokoknya.
Tapi kamu yang dulu bukan kamu yang sekarang. Ya namanya juga hidup kan. Kadang tumbuh beriringan, kadang bercabang dan menjauh.
Aku pikir, aku hanya butuh sedikit usaha cari waktu bertemu. Tapi semesta memang suka bercanda. Semakin keras usahaku, semakin jauh kamu.
Biar begitu, namamu terus mengorbit di keseharianku. Kenapa sih dari semilyar nama di dunia, harus kamu? Mungkin memang pasaran, tapi pasarku kan harusnya bukan namamu.
Rindu, obatnya bertemu, bukan? Apa jangan? Jangan. Kenapa? Biar semesta yang bekerja. Kalau memang saatnya, akan tepat waktunya.
Semoga segera. Ralat. Semoga saat siap.

Drama Cuci Piring

Dari kemarin saya urung menulis ini karena kurang bijak rasanya menulis saat masih emosi. Pasti akan ada banyak kata yang nggak lulus sensor ketika dibaca ulang. Jadi, saya tunggu sampai reda dulu baru tulis, supaya jelas isi pesannya apa, bukan meracau saja.Jadi begini ceritanya. Dua hari yang lalu, papa saya ada buka puasa bersama di rumah belakang. Kami sebetulnya sudah terbiasa repot kedatangan banyak tamu karena memang papa mendesain rumah belakang sebagai saung tempat kumpul-kumpul. Tapi kali ini, kerepotannya terasa sangat menyebalkan karena ART udah pulang kampung, jadi nggak ada yang bantuin.Berhubung tamunya banyak, jadi tentu saja cucian piringnya juga banyak. Sialnya, saya yang disuruh cuci piring.Mengeluh? Ya menurut ngana?! Yang saya garisbawahi ada beberapa. Pertama, kenapa tamu-tamunya papa nggak ada yang inisiatif bawa piring-piring kotor ke dapur?Kedua, oke. Anggaplah mereka nggak inisiatif karena nggak tau. Kenapa papa nggak minta tolong mereka untuk bantu bawa piri…

Santai Saja :)

Kalau seseorang hobinya marah-marah, mungkin memang dunianya kurang ramah.Kalau seseorang hobinya cari-cari kesalahan, mungkin sebetulnya dia sedang menutupi kelemahan.Kalau seseorang hobinya menyombongkan diri, mungkin dia takut tidak diakui.Menghadapi orang-orang seperti ini tak perlu terlalu diambil hati. Sebetulnya dia yang paling sakit hati karena perlakuannya pada dirinya sendiri.

Free Will

Last night, I couldn't sleep. Then I put on Thirty Days of Lunch, Gery Vee episode.This 70minutes-ish podcast got me contemplated. I asked myself "how was life going so far, Del?" and as the self awareness arised, I had to write down this train of thoughts.Lately, I had a looot~ of questions about life itself. People called it quarter life crisis. Some called it Saturn Return. Whatever. You named it.Then since last September 2018, I decided to experiment "if I surrendered to what life gave me and just fucking did my best, what would happen?" until my birthday on May 3rd.I usually got pretty slow, picky, and calculated when it came to decision. I took some time to thoughtfully consider pros and cons before saying go or no go. I planned out the worst case, even spared 'space for surprises'.But often times, I also got miscalculated. Things happened beyond my control. 'Surprises' came outside the 'space'.Remembered Rene said "overplanni…

Mencoba Sekali Lagi

"Kenapa kamu masih mau coba lagi tahun ini?"
Awalnya saya pikir akan mudah jawab pertanyaan ini. Tapi nyatanya, saya sempat diam sejenak waktu wawancara dan ditanya ini. Mikir.

Akhirnya saya cerita kalau saya dan teman-teman komunitas yang berasal dari Kelas Inspirasi Tangerang Selatan sedang merumuskan program untuk LPKA Tangerang, dengan nama baru komunitas INSPIRASA. Jadi, pengalaman di SSEAYP akan sangat membantu untuk proses perumusan ini nantinya.

Mundur sedikit, 3 tahun lalu saya mencoba ikut seleksi SSEAYP dan gagal. Saya masuk peringkat kedua. So close yet so far, karena kuotanya hanya satu orang. Apa itu SSEAYP dan bagaimana proses seleksinya? Saya pernah menulis ceritanya di sini.

Lalu seperti yang sudah diduga, keluar juga pertanyaan ini saat wawancara dengan alumni:
"Menurut kamu, kenapa kamu nggak terpilih waktu itu?"
Saya pun bertanya-tanya pada diri sendiri. Harus diakui, 3 besar yang jadi kandidat untuk SSEAYP betul-betul punya 'warna' yan…

Question?

1. How do you know whether someone deserves a second chance?
2. How do you know whether you have to stop giving someone another chance?
3. How do you whether there will never be any chance?Answer: you'll never know. Why do you want to know?