sapi part 1

kmaren, karna sorenya gw tidur udah kaya orang mati, walhasil malemnya super ngga bisa tidur. akhirnya gw iseng bacain notes2 gw dari jaman dulu kala -yang bahkan gw sampe ngga inget pernah nulis apa- sampe notes yang terkini. baru sadar gw 2x nulis notes tentang sapi.

notes pertama judulnya "cerita ttg sapi". notes ini terinspirasi dari susu chimory basi yang ada di kulkas kosan dan ditulis pas lagi bengong di kuliah mpk 1, menjelang idul adha.

###

"cerita ttg sapi"

hai, aku seekor sapi. namaku asap. singkatan dari anak sapi. sebentar lagi idul adha dan aku sedang menghitung mundur hari kematianku. beberapa temanku ketakutan, tapi aku justru tidak sabar menunggu. itu seperti sebuah kebanggaan bagiku. aku bangga bisa berguna bagi manusia.

aah~ manusia. iri sekali aku dengan mereka. mereka pintar. tau sekali bagaimana memaksimalkan sesuatu yang mereka makan. seandainya aku bisa sepintar mereka, tentunya rumput-rumput ini sudah bsa kuolah tanpa perlu memuntahkan kembali makananku. memamahbiak itu merepotkan!

aku pernah mengeluh pada ibuku "masap (mama sapi -red), kenapa sih kaum kita tidak makan dengan sekali telan saja?"

masap tersenyum dan menjawab "asapku sayang, beruntunglah kita tak perlu alat bantu macam-macam seperti manusia itu mengolah makanan"

aku hanya manyun-manyun dengan moncongku yang sudah manyun dari sananya itu. yaah, rumput tetangga memang lebih hijau. eh tunggu dulu. memangnya manusia makan rumput?

okeh, cukup mengeluh soal betapa irinya aku dengan manusia. makhluk pintar berkaki dua itu. setidaknya aku menang! kakiku empat dan aku punya ekor, sementara mereka tidak. haha, iri kan kalian wahai manusia?!

hmm.. ngomong-ngomong aku penasaran, seperti apa ya rasa dagingku? jadi teringat kisahku dulu.

waktu itu, aku menyaksikan seekor kerabat masap dipotong. aku ketakutan sekali. masap kemudian menghiburku "asapku sayang, jangan takut. semua makhluk hidup pasti mati. dan kematian yang tidak sia-sia adalah yang berguna bagi yang lainnya. itulah yang dilakukan oleh kaum kita, juga kaum kambing. setidaknya kita memberi manfaat bagi manusia. seperti rumput memberi manfaat kepada kita. apa kamu tidak merasa senang apabila dibutuhkan?"

aku masih tidak habis pikir "masap, kalau... mm, kalau... kalau seperti itu caranya, aku tidak mau! aku... aku... aku... takut! pasti sakit sekali! dengar saja teriakan mereka, menyakitkan! kalau kita bisa memberi manfaat untuk mereka, seharusnya mereka juga! seperti kita memakan rumput namun kotoran kita bermanfaat untuk menyuburkan rumput-rumput ini. sementara manusia? kotoran mereka seperti apa saja, aku tidak tahu!"

masap tersenyum tenang "kamu memang tidak perlu tahu. ada hal-hal yang tidak perlu diketahui atau dicari tahu. cukup percaya. dengan percaya, kau akan paham nantinya dengan sendirinya. ngomong-ngomong, kamu percaya tidak kalau daging sapi itu enak sekali? masap pernah melihat manusia menyantap daging kaum kita dengan ekspresi yang terlihat sangat bahagia. seperti saat makan rumput segar dan menggiurkan"

aku kembali berkata dengan sedikit terisak "kalau masap mati... aku pasti... sediiih sekali... walaupun... aku percaya daging masap pasti rasanya paling enak sedunia seantariksa sekutubutara sealamsemesta sejagatraya sebumibesertaisinya. susu masap saja menurutku lebih enak dari rumput manapun yang ada di manapun. tapi tetap saja... aku... pasti... merasa kehilangan. sangaaat... kehilangan"

masap tertawa "haha, kamu lucu sekali asap. justru masap rasa, daging kamulah yang sepertinya lebih enak. daging asap. hmm, mendengarnya saja sudah terbayang pasti lezat sekali. begini anakku, saat masa itu tiba, itulah hari paling membahagiakan sepanjang hidup masap. well, paling membahagiakan kedua setelah kelahiranmu tentu saja"

aku ikut tertawa. merasa bodoh. dan diperparah dengan pertanyaan bodohku selanjutnya "ooh, begitu ya? kalau begitu, boleh tidak aku mencicipi daging masap nanti? atau mm.. dagingku?"

masap tertawa lagi, kali ini lebih keras. ia mengusap-usap badanku dengan moncongnya sambil berkata "hahaha, silakan saja kalau kamu bisa"

masap sudah mati dan tentu saja aku memang tidak bisa mencicipi daging masap. aku memang sedih. sangaaat sedih sebetulnya. tapi aku tahu, itulah yang diinginkan masap seumur hidupnya. menjadi berguna. hidup dan mati.

sekarang akan tiba waktuku. sekarang pula aku benar-benar mengerti betapa bahagianya rasa ini. rasa dibutuhkan dan menjadi berguna. aah~ cepat datanglah idul adha!

###

bersambung...

No comments:

Powered by Blogger.