tentang agama, tentang kepercayaan

seharusnya, postingan setelah disney on ice adalah disney land. cuma topik ini lebih menggelitik dari itu.

ide tulisan ini berawal dari pandji pragiwaksono. dulu, gw pikir dia cuma 'sekedar artis'. ternyata, setelah gw baca2 tulisannya, dia lebih dari 'sekedar artis'. pandji adalah seorang artis yang 'berbobot'. metaphorically and... literally, haha. salah satu tulisan yang akhir2 ini menarik perhatian gw adalah tentang pemikirannya terhadap agama. tentang FPI. tentang JIL.

###

pertama2, gw mau cerita sedikit tentang budi.

budi, orang yang punya pemikiran yang beda dari kebanyakan orang tentang FPI. kamis lalu, dalam sebuah obrolan makan siang, gw tanya:

"kalo kamu disuruh pilih, FPI atau JIL?"

dia pilih FPI. menurut dia, kekerasan yang FPI lakuin itu emang salah, tapi 'keliatan'. maxudnya, obviously secara fisik terlihat. sedangkan  JIL lebih 'bermain' lewat pemikiran, ide. itu lebih berbahaya karna 'ngga keliatan'. dia adalah orang yang sangat anti dengan prinsip "urusan lo ya urusan lo. urusan gw ya urusan gw" karna menurutnya, itu adalah cikal bakal dari sikap apatis dan ngga peduli an. dan dari sikap ke ngga peduli an, akan berlanjut kepada kesesatan berpikir semacam "agama ya agama gw. suka2 gw" dan akan bermunculan agama2 baru yang meleceng jauh dari kitab suci aslinya. dari Al Quran. menurut budi, sebagai seorang muslim, itu bahaya.

budi adalah pecinta sesama tapi bukan gay. walaupun gw curiga dia juga cinta pria, HAHA. canda bud. dia terlalu care akan lingkungannya. makanya seperti yang gw tulis di atas, dia adalah orang yang sangat anti apatis. bagi dia, udah tugas manusia untuk saling mengingatkan, terlepas salah atau benar. kalo ternyata salah, boleh banget diingatkan juga. tapi bukan berarti memaksakan kehendak. lebih kepada 'sepakat untuk tidak sepakat' kalo ngga sependapat. tapi bukan berarti cuek. makanya prinsip "suka2 gw" gada banget dalam kamusnya.

intinya, dia 'ngga percaya' sama islam liberal.

###

...meanwhile, in other part of our country, there's a boy named pandji, who has different opinion about JIL. artikel lengkapnya bisa diliat di sini.

yang gw tangkep, pandji ini lebih 'ngga bermasalah' dengan keberadaan JIL. bukan, bukannya dia penganut islam liberal. dia ngga menganggap JIL sebagai sebuah ancaman. dia hanya menganggap JIL adalah bagian dari keberagaman. kepercayaan. sama halnya kaya agama lainnya yang ada di indonesia.

pandji menyebut dirinya 'muslim yang santai'. maxudnya, dia percaya sama agama yang dia anut simply atas dasar apa yang diajarkan selama ini. atas alasan: tidak keberatan untuk patuh. dia bilang "saya tidak berusaha menalarkan isi al quran lebih karena saya tidak percaya kepada penalaran diri saya sendiri... saya tidak keberatan akan perintah dan larangan agama, maka tidak ada keinginan untuk mempertanyakan atau menginterpretasikan beda"

###

...meanwhile, in other part of this world, there's a boy named daigo, the atheist. dia adalah pemilik rumah dimana gw tinggal selama beberapa hari di jepang. kira2 beginilah obrolan kami *dengan terjemahan bebas*:

daigo: lo muslim?
della: gw sama karina iya, tapi ihlen kristen
daigo: oke, brarti lo ngga minum dan makan babi kan? soalnya gw mau ngajak minum kalo kalian mau
della: iya sih, tapi nyobain sake sedikit gpp deh. japan experience exception, hehe. tapi udah, cuma untuk nyicipin aja, ngga untuk minum-minum. maaf ya
daigo: iya gpp kok. btw, boleh tanya ngga? kenapa lo jadi muslim?
della: mmm.. (jujur agak kaget ditanyain begini) karna yaaah.. itu ajaran yang gw dapet dari kecil dan yang selama ini gw percaya. dan gw juga ngga berusaha mencari keyakinan yang lain. kalo boleh tanya juga, agama lo apa?
daigo: gw ngga punya agama. gw ngga percaya agama. gw ngga percaya Tuhan. tapi gw percaya kalo semua agama pasti mengajarkan kita buat berbuat baik. that's what i believe: good deeds
della: terlepas dari itu, di ktp lo tertulis apa?
daigo: (giliran dia yang terlihat kaget) you guys have religion in your identity card? no such thing in here
della: (jadi ikutan kaget) loh? emang di jepang ngga?
daigo: ngga. di sini kita menghormati kepercayaan dalam bentuk apapun, salah satunya terlihat dari ngga dicantumkannya 'religion' dalam id card
della: emangnya waktu lo kecil lo diajarin apa sama orang tua lo? trus kalo nikah dan meninggal gmana?
daigo: my parents also don't have religion. mereka membebaskan gw dalam hal kepercayaan. soal nikah dan meninggal, walaupun emang biasanya itu adalah tata cara dari salah satu agama, tapi gw ngeliatnya sebagai bagian dari budaya, bukan bagian dari agama. so, do you guys pray? you can pray anywhere in this house
della: umm.. not really. but anyway, thanks daigo (salting harus jawab apa)

###

oke, gw akui, gw jarang shalat. agak 'deg' juga sih sejujurnya dapet pertanyaan 'polos' dari daigo. gw juga ngga ngerti sama diri sendiri sih kenapa gw harus jarang shalat tapi tetep pantang batal puasa, selalu berdoa tiap waktu (makan, tidur, masuk kamar mandi, keluar rumah, naik kendaraan, dll), dan masih percaya kalo ngga shalat, makan babi, dan minum alkohol itu dosa. gw masih percaya Tuhan gw Allah, rasul gw Muhammad, dan kitab suci gw Al-Quran. mungkin ini simpel banget, tapi salah satu bentuk pengakuan gw kalo Allah itu Maha Besar adalah dari penggunaan huruf kapital 'A' dalam kata 'Allah'. intinya, well, di samping ke-ngga taat-an gw akan shalat, gw masih percaya hal2 esensial yang diajarkan pada gw.

beralih ke topik daigo. menurut gw, ini menarik banget. pertama, dia dibesarkan tanpa agama. kedua, lingkungannya mendukung dia untuk ngga beragama. ketiga, dia menganggap pernikahan dan kematian sebagai bagian dari budaya. keempat, meskipun begitu, dia sangat amat menghormati perbedaan dalam hal kepercayaan.

selama hidup, gw dikelilingi orang2 yang mayoritas muslim, mayoritas punya agama. pun ada yang ngga percaya agama, itu baru gw temuin semenjak masuk kuliah. pun ada yang ngga percaya agama, mereka masih percaya Tuhan. jadi intinya, selama ini gw blom pernah ketemu orang yang atheis. lebih2, orang atheis dari lahir.

that's why i found him interesting. though i'm still wondering to whom an atheist thanks for all the blessing. and to whom an atheist 'lay down' for their burden. nyesel deh ngga sempet nanya karna waktu itu ngga kepikiran. hiks.


bagi gw, ketemu daigo yang merupakan atheis dari lahir itu 'sesuatu banget'. ibarat gw sebagai seekor ikan dan dia sebagai seekor burung. gw dibesarkan di dalam air dan dia dibesarkan untuk terbang. saat gw ditanya "lo kenapa hidup dalam air?", gw sama terkejutnya dengan reaksi dia akan pertanyaan "lo kenapa terbang?". we both live in 'different' world. we both are raised with different type of environment. but we still can live in harmony.


tapi secara general, gw banyak baca dan denger cerita2 tentang orang atheis. tentang mereka butuh 'pembuktian' untuk meyakinkan mereka kalo Tuhan itu bener2 ada. tentang perbedaan agnostik dan atheis terletak pada 'kemungkinan' Tuhan itu ada. agnostik masih percaya kalo Tuhan (mungkin) ada.

###

beralih topik lagi ke budi, dia bilang ke gw:

"menurut aku, kita gatau nanti bakal kaya gmana. tapi dengan punya agama, kita punya pegangan. kalo nanti pas kiamat ternyata emang Tuhan gada, toh punya agama gada ruginya. jadi islam gada ruginya. kalo nanti pas kiamat ternyata Tuhan ada? lebih gada ruginya lagi"

gw setuju. tapi bukan berarti gw menganggap orang atheis 'merugi'. mungkin mereka punya 'sesuatu' yang lain sebagai pegangan. entah lah. bagi gw, sama kaya apa yang pandji bilang tentang JIL, gw menganggap atheis adalah sebuah kepercayaan dan bagian dari keberagaman. sama halnya mereka yang percaya kepada roh2 halus yang ada dari benda2 keramat. atau mereka yang percaya kepada dewa-dewi. atau budi dan siapapun yang percaya dan menganggap positif keberadaan FPI.

intinya, gw ngga pernah menganggap kepercayaan dalam bentuk apapun sebagai 'kepercayaan sesat' dan membahayakan. termasuk lady gaga yang diisukan iluminati, penganut agama setan, dan sebutan2 lain. termasuk JIL yang mendeklarasikan dirinya sebagai islam liberal. termasuk FPI yang sangat 'lurus' akan kepercayaan mereka. termasuk NU, muhammadiyah, kristen, katolik, hindu, buddha, konghucu, islam kejawen, dll.

well, kecuali kegiatan 'cuci otak' dari sebuah (atau banyak?) aliran ya. itu mah masuknya tindakan kriminal menurut gw. memanfatkan kekosongan iman untuk kepentingan kelompok. itu mah hidupnya dia dan kelompoknya yang sesat.

tapi ini yang gw sedih akan fenomena 'menganut kepercayaan' di indonesia: kurangnya toleransi akan perbedaan. yaah.. semoga kita semua sadar ya betapa indahnya dunia kalo kita bisa hidup dalam damai di tengah segala keberagaman.

Comments

Agustaf Ryadi said…
OOT sih ni komen gw, ngggg.. belom dapet oleh2 dari jepang nih :))
winas: pertanyaan random: kenapa ada 's' nya win?
agus: oleh2 cerita aja ya gus, ahaha