punggung pertama

"pegangan saja padaku"
"tak mau"
"masih saja malu-malu"
"siapa yang malu-malu?"

aku dan gengsiku. terlalu tinggi, aku tahu. akupun yakin kau tahu, aku tidak mudah turun dari langit gengsiku sendiri. lalu tepat saat gigiku bergemeletuk, kau menyeletuk, "kedinginan kan? pegangan saja padaku" dua kali kau menawarkan diri.

akhirnya aku mengalah pada dinginnya malam yang menusuk. persetan gengsi. dengan canggung, kulingkarkan lenganku padamu. hangat dan wangi. aku bisa menebak, jaketmu baru kau cuci, dan kau menyemprotkan parfum banyak sekali.

"jangan tertidur, bahaya"
"siapa yang tertidur?"

sudah hampir subuh. mataku berkali-kali hampir terpejam, dan kamu berkali-kali mengajakku bicara, berusaha membuatku tetap terjaga. ah, boleh tidak, diam sebentar saja? aku ingin menikmati punggungmu yang hangat, tertidur lelap barang sejenak.

barangkali aku benar-benar terlelap. karna tiba-tiba aku merasakan sentuhan di bahuku. kamu. aku tidak bisa membaca nada suaramu. setengah sadar, samar-samar, antara ingin tertawa geli atau cemas, aku mendengarmu berkata "siapa yang tidak tertidur? kupanggil namamu berkali-kali, kau sudah di alam mimpi"

malu sekali. refleks, kulepas lingkaran lenganku yang merengkuhmu. namun aku kembali mengalah pada dinginnya malam, yang seolah-olah berkomplotan denganmu untuk meledekku "sudah ketahuan begini, masih saja gensi?"

kali ini, malam itu muncul kembali, aromamu muncul kembali, dalam sebentuk kenangan, yang seperti angin malam, menusuk sampai ke tulang. kali ini, benar-benar kulepas peganganku padamu. kubiarkan aroma parfummu menguap dan menghilang. kubiarkan punggungmu bergerak menjauh, menuju rengkuhan lengannya.

tak apa, senyum getir ini tak seberapa. ada yang lebih berharga. saat ini punggungmu mungkin menjadi miliknya, tetapi kenangan ini, milikku selamanya. tak akan kubiarkan siapapun merebutnya, karna akan selalu kurangkul erat dalam ingatan.

ingatan akan punggung pertamaku, kamu.

"ngejutin terus" 22 agustus, 2010

Comments