#2 bowl of oranges - bright eyes



the rain had started tapping
on the window near my bed
there was a loophole in my dreaming
so i got out of it
and to my surprise my eyes were wide 
and already open
just my nightstand and my dresser 
where those nightmares had just been

kau berdiri disana, melamun, memandang hujan yang turun tanpa ampun. mendesak-desak jendela mimpi untuk bangun. perlahan, kau membuka mata. pilu menghadapi dunia. berharap ingin tidur selamanya saja. seperti putri di peti bertabur bunga.

so i dressed myself and left then
out into the gray streets
but everything seemed different
completely new to me
the sky, the trees, houses, buildings
even my own body
and each person i encountered
i couldn't wait to meet

sebuah cermin yang setia, jernih memantulkan air muka, seperti biasa. namun hari ini, kau melihat sesuatu yang lain dari biasanya. kelabu. semua kelabu. pohon, rumah, langit, bahkan tubuhmu, semua sewarna jalan itu. ada yang menggelitik kalbu, yang mendorong untuk langkahkan kakimu. di jalan abu-abu, kau tak sabar bertamu.

and i came upon a doctor
who appeared in quite poor health
i said, "there's nothing i can do for you
you can't do for yourself"
he said, "oh, yes you can, just hold my hand
i think that that would help"
so i sat with him a while 
and i asked him how he felt
he said, "i think i'm cured
no, in fact i'm sure of it
thank you stranger 
for your theraputic smile"

di sana, kau bertemu seorang dokter. sang penyembuh segala penyakit, kini berteriak dan menjerit, sakit. tubuhnya membiru serupa langit. "apa kabarmu? apa yang bisa kubantu?" naluri menolongmu terusik. "ulur, tanganmu, ulurkan" lirih, pria itu berbisik. "apa kabarmu? maaf tak bisa banyak membantu" kau membalas sambil berbisik, mengenggam tangannya yang berlendir dan bersisik. "senyum, bibirmu, tersenyumlah" ia kembali berbisik. "apa kabarmu? ada lagi yang bisa kubantu?" tanyamu sekali lagi. senyumnya tersungging. tubuh birunya menguning. "baik, membaik. terima kasih, orang asing"

so that's how i learned the lesson
that everyone's alone
and your eyes must do some raining
if you're ever gonna grow
when crying don't help, you can't compose yourself
it's best to compose a poem
an honest verse of longing
or a simple song of hope

menghilang. sang penyembuh segala penyakit menghilang. kau paham sekarang. semua orang sebatang kara, seperti raksasa di hutan terlarang. hujan tiba-tiba meleleh di sudut matamu, sebelum sempat kau kedipkan payungmu. lalu menderas, mengalir, membanjir, tanpa sanggup dibendung oleh mendung. tak apa, sayang. luapkan saja, luapkan sampai samudera menyerah untuk menampung.

that's why i'm singing, baby, don't worry
because now i've got your back
and every time you feel like crying
i'm gonna try to make you laugh
and if i can't, if it just hurts too bad
then we'll wait for it to pass
and i will keep you company
through those days so long and black

menangislah, seakan tak ada lagi petang. menangislah, seakan langit tak kunjung terang. menangislah, seakan bayangmu hilang. namun jangan khawatir, sayang. aku masih disini, menunggumu tenang. bila gelap terasa menghunus bagai pedang, izinkan aku menjadi cahaya kunang-kunang.

we'll keep working on the problem 
we know we'll never solve
of love's uneven remainders
our lives are fractions of a whole
but if the world could remain within a frame
like a painting on a wall
then i think we'd see the beauty then
and stand staring in awe

aku mengerti, sayang. gelombang emosi akan selalu menggulung tanpa toleransi. memakan jiwa-jiwa yang bingung mengejar solusi. namun berhentilah sejenak, sayang. rasakan, rasakan tekstur keping kehidupan. kepingan yang terbingkai dalam sebuah lukisan. lukisan berparas sendu, yang melantunkan lagu rindu. pahit, namun merdu. terasa menyesakkan, sekaligus membebaskan. nikmati, nikmati saja. tatap indahnya gradasi rasa dalam asa. berdiri dalam gemerlap pukau disana.

at our still lives posed
like a bowl of oranges
like a story told
by the fault lines and the soil

seperti semangkuk jeruk. manis masam bercampur dalam satu ceruk. telan saja, sayang. tak ada bedanya, semua jeruk adalah jeruk. tak ada bedanya, melambung maupun terpuruk. tak ada bedanya, baik ataupun buruk. garis tipis pembedanya hanya ekspektasi yang muluk-muluk. kubur dalam-dalam dalam tanah sadarmu, sayang.

Comments