#6 by the way - no doubt


"kalau aku pergi jauh dari kamu, gimana?"
"kalau aku ikut, gimana?"
"apanya yang gimana? ngga bisa, ceritanya kamu tetap disini"
"aku mau ikut"
"ngeyel. kamu di sini. ini dunia khayalku"
"kalau begitu, dalam khayalanku, aku menyusulmu"
"kita menikah dulu, baru kamu boleh susul aku"
"bener mau?"
"dalam khayalan kan?"
"kalau kenyataan?
"ngga janji"
"ngga janji bilang ngga?"
"aku tidur dulu ya. daaah"
"haha, mengelak lagi. tipikal"

###

"hah, jepang?! jadi aku ditinggal sendiri?!"
"tenang, aku pasti kembali"
"janji?"
"janji"

###

"kamu curang. harusnya aku yang di sana"
"makanya, harusnya kamu jangan terlalu banyak berkhayal"
"aku susul ke sana ya?"
"kita nikah di sana? will be my pleasure"
"cih, menyebalkan"
"aku berangkat dulu ya, sayang. baik-baik di sini"
"aku ngga bisa baik kalau gada kamu"
"asik"
"ngga jadi deh, aku cabut lagi omonganku"
"haha, tukang ngambek. tipikal"

###

"di sini bunga sakura lagi mekar-mekarnya. seandainya ada kamu di sini"
"di sini kucingmu melahirkan 5 anak kembar. gimana ini?"
"ah, seandainya aku di sana"
"makanya, kamu pulang saja"
"tunggu ya"
"tunggu apa?"
"tunggu sampai kamu bilang 'i do'"
"ya ya, i do waiting for kitkat dan kimono merah jambu"
"haha, kamu dan gengsimu. tipikal"

###

"sayang, maaf........"
"kenapa?"

###

"aku masih tak percaya kamu mau"

aku memaksakan senyumku. seharusnya, kamu yang bilang itu padaku. seharusnya, aku benar-benar menyusulmu. seharusnya, tak ada yang perlu kemana-mana.

"sah?"
"sah!"

ia mencium keningku. aku balas menempelkan keningku pada punggung tangannya. kulirik logam emas di jari manisnya. seharusnya, cincin itu milik jari manismu. kembaran denganku. ah, seharusnya, memang aku tak boleh banyak berkhayal. tipikal.

###

"ngga mungkin........"

aku bergumam berkali-kali, terbelalak menatap undangan elektronik itu. seharusnya, aku pulang. seharusnya, tak ada yang perlu kemana-mana. ah, seharusnya, memang aku tak boleh banyak menyangkal. tipikal.

by the way, she's far away
and by the way, she's far away

Comments