#9 tuan nona kesepian - tulus


tuan kesepian, tak punya teman
hatinya rapuh, tapi berlagak tangguh

kamu. si tampan berbulu abu-abu dengan reputasi yang tidak terlalu baik. sombong, angkuh, dingin, dan seperti membenci apapun kecuali makanan. kamu tidak punya teman. tepatnya, kamu tidak pernah menggubris siapapun yang mencoba berteman denganmu. kamu selalu menghindar, seolah-olah mereka semua gangguan paling menyebalkan dan merepotkan.

kamu. dan perkenalan pertama kita. di suatu hari yang langka, kamu tiba-tiba menyapaku "hai hitam..." terkejut, aku menyahut "kamu memanggilku?" "ya, kamu. minggir. kamu menghalangi makananku" oke. memang bukan perkenalan yang akrab, tapi aku senang sekali kamu memanggilku hitam.


nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta
sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya

buluku berwarna putih bersih, namun memang, di bagian perutku, ada corak mungil berwarna hitam, yang kalau hanya sekilas, tidak akan terlihat. ya, sepele memang, tapi itu menandakan kalau kamu awas akan hal-hal kecil seperti ini. atau mungkin, apa aku saja yang terlalu berlebihan?


semenjak saat itu, aku makin sering mengamatimu.

tuan apa yang salah padamu
mengapa wajahmu ada seribu
tuan apa yang salah padamu
seakan dunia hanya kamu, kamu, kamu, kamu

kamu. dan sifat penyendirimu yang penuh kejutan. aku tidak akan lupa saat itu. majikan kita sedang bersedih karna kamu hilang selama seminggu. ia mencarimu kemana-mana, dan di saat ia mulai pasrah dan mengikhlaskan kehilanganmu, kamu kembali sambil menggondol seekor bayi dalam gigitanmu. majikan kita memungutnya dan memberi nama kuro.

kuromu kini tumbuh besar. aku tahu kamu menyayanginya. walaupun majikan kita juga memberinya makanan, namun kamu tetap saja menyisakan makananmu untuknya. namun, agar tidak terlihat terlalu mencolok, tiap kali kamu selesai makan, kamu seolah-olah tidak menghabiskan makanan dan meninggalkannya begitu saja. padahal aku tahu, kamu menyisakan makananmu untuknya. ah, manis sekali.


kamu. dan gengsimu. aku ingat saat kamu menyapaku lagi untuk kedua kalinya. kamu berjalan ke arahku, dan jantungku berdegup kencang. apa aku menghalangi makananmu lagi? aku melemparkan pandanganku ke segala arah. kamu semakin mendekat dan aku semakin salah tingkah.

"hai hitam. makananmu sepertinya enak. boleh aku cicipi? tapi kalau kamu keberatan, tidak apa-apa. toh aku juga tidak terlalu lapar" lalu kamu membuang mukamu, diiringi lagu keroncong dari perutmu.


aku melirik dan mendapati kuro sedang menjilati mangkuk makananmu. mati-matian aku menahan geli. pantas saja kamu lapar. kuro menghabiskan makananmu. tentu saja boleh, tampan. dengan senang hati. dengan sangat sangat sangat senang hati. ambil saja semua makananku kalau kamu mau. untukmu, aku rela kelaparan.

nona apa yang salah padamu
apa enaknya tenggelam dalam khayal
nona apa yang salah padamu
kau tahu ku tak punya hati
kamu masih saja menanti


kamu. dan dia. saat itu, salah satu teman kita, michan, hilang. majikan kita terlihat cemas sekali saat michan tidak muncul pada jam makan sore. berkali-kali ia memanggil namanya, namun tidak ada jawaban. aku tahu kamu peduli, namun kamu bertingkah seolah-olah kamu tidak peduli. masih tetap dengan gaya acuhmu, kamu berjalan berkeliling, seakan-akan sedang mengobservasi tiap sudut rumah.

aku tahu kamu mencarinya, karna aku hafal betul gerak-gerikmu. tidak mungkin kamu mau repot-repot mengeluarkan tenaga kecuali untuk berjalan ke tempat makan, pasir, dan sofa favoritmu. puncaknya adalah saat majikan kita lalai membuka pintu lebar-lebar dan kamu pergi menyelinap keluar rumah. untuk kedua kalinya.

2 hari kemudian, kamu kembali bersama michan. ah, syukurlah kalian selamat. michan tidak apa-apa, hanya terlihat seperti habis basah kuyup namun sudah mengering. bulunya menggumpal, dan banyak kotoran di sekujur tubuhnya. sedangkan kamu, berantakan sekali. selain kotor, ada goresan luka menganga di punggungmu serta robekan di kuping kirimu. aduh, kamu kenapa? majikan kita menjerit panik dan segera membawamu ke rumah sakit.


"aku menyesal. aku hanya penasaran dengan dunia luar" michan memulai ceritanya. semua berkumpul dan menyimak.

awalnya, ia senang sekali. baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki di lantai abu-abu panas yang katanya tidak seperti lantai putih licin yang ada di rumah. ia berlarian dan berloncatan kesana-kemari. tapi kemudian, ia tersesat, tidak tahu jalan pulang. saat ia hendak menyebrang lantai abu-abu itu, tiba-tiba sebuah lingkaran karet hitam raksasa hampir saja melindasnya.

"lalu entah darimana munculnya, ia datang dan mendorongku sampai terjatuh ke dalam genangan air" raut muka michan terlihat sedih, "ia hampir saja ikut terlindas, untung saja ia cepat menghindar. namun, ia sempat terkena gesekan karet maut itu sedikit. itulah kenapa tubuhnya terluka"

astaga! aku tidak bisa membayangkan kalau... kalau saja... kalau saja kamu...

lalu michan melanjutkan "sudah terluka begitu, ia masih sempat menenangkanku kalau kami pasti bisa pulang. itu pertama kalinya aku mendengarnya bicara. dan akhirnya, kami benar-benar sampai sini. aku menyesal. maaf ya teman-teman, maaf..." michan tersedu.

kami semua kaget mendengarnya. aku sudah tahu kalau hatimu sebenarnya lembut, tidak sekeras seperti apa yang terlihat. tapi mereka, aku berani jamin kalau mereka semua tidak menyangka kamu akan melakukan tindakan seheroik itu. persepsi mereka padamu sudah berubah sekarang. baguslah. diam-diam, aku tersenyum. namun diam-diam, ada rasa sesak menjalar dalam dada.

kamu. dan sifatmu yang penuh paradoks namun menarik. tapi aku tahu, pasti kamu tidak akan mungkin tertarik padaku. coba, apa yang menarik dariku? ah ya, mungkin hanya corak hitam mungil di perutku ini. jelas-jelas michan lebih menarik dariku. ia tidak pernah menghalangi makananmu. dan walaupun kamu sudah berbicara padaku dua kali sementara pada michan hanya sekali, tapi kamu menyelamatkan michan sampai terluka begitu. sementara aku, malah dimintai makanan olehmu. walaupun sebenarnya aku sama sekali tak keberatan.


nona jatuh cinta pada tuan
tuan menunggu yang lain
nona tak peduli walau tuan
tak pernah peduli sekitarnya

###

"hai hitam..." aduh, aku harus bilang apa?

kamu. si cantik dengan corak hitam mungil di perutmu. kamu, yang membuat perutku seperti 
bergejolak tiap memandangmu. ah, rasa apa ini? bukan lapar, bukan juga kenyang. baru pertama kali aku merasakan ini. aneh sekali.

aku menarik nafas dalam-dalam "mmm.. mau makan makananku bersama? mau semuanya juga tak apa, toh aku juga tidak terlalu lapar. oke, makananku buatmu semuanya saja. kamu sepertinya kelaparan sekali. sampai nanti!"

KURO! apa yang kau lakukan barusan? ah, bodoh sekali! aku mengumpat dan memaki diriku sendiri dalam hati.

Comments