sabtu dan bayang-bayang

"hari punya sistem pergantian yang teratur sehingga ia tak pernah merasa sesak karena ditinggalkan" - kutipan di sampul depan buku menuju(h)
jadi, kmaren gw abis baca buku kumpulan cerpen, judulnya menuju(h). blom abis sih bacanya, karna gw punya kebiasaan baca buku separo-separo, loncat dari nuansa satu ke nuansa lainnya, dengan topik dan genre cerita yang berbeda-beda.

kebiasaan yang aneh emang, tapi yaaah, begitulah. makanya lama banget buat nyelesaiin 1 buku doang, bahkan kadang ngga selesai, haha. ya anggep aja seni membaca lah ya.

buku ini punya satu benang merah yaitu cerita tentang 7 hari, yang ditulis oleh 7 orang penulis, yang mana 3 diantaranya gw suka tulisannya, 2 diantaranya gw suka twitnya, dan 1 diantaranya seorang copywriter. dengan tema cerita yang menarik, penulisnya orang-orang yang menarik, gimana bisa gw ngga tertarik?

ditambah lagi, sebagai anak "judge a book by its cover" banget, halaman sampul dan ilustrasi di dalemnya bikin mata ngga bisa ngga melirik. istilahnya: jatuh suka pada skimming pertama. gagasmedia tuh ya emang ahlinya bikin sampul yang menarik.

okeh, cukup pujian di permukaan. lanjut ke konten. sementara ini, gw baru selesai baca 2 hari: senin dan sabtu. kenapa yang gw pilih untuk dibaca duluan adalah hari senin dan sabtu? karna yang satu adalah hari yang paling gw ngga suka dan yang satunya lagi adalah hari yang paling gw suka.

dari 2 hari ini, gw suka cerita tentang sabtu. sang penulis (sundea), salah satu penulis favorit gw, bisa banget menggambarkan sesuatu yang abstrak sebagai sebuah personifikasi, sesuatu yang berwujud dan hidup.

seru, bikin otak sibuk ngebayangin "senin tuh gmana ya kira-kira wujudnya? kalo kamis itu semistis apa? sabtu gimana? selasa rabu jumat minggu? kaya gimana ya para hari menjalani hari?"

ada 2 cerita tentang sabtu. cerita pertama tentang sabtu yang hilang. si sabtu ini ternyata lagi bosen jadi hari. dia pengen jadi sesuatu yang lain untuk mengisi hari. akhirnya dia memutuskan untuk menyamar jadi sabtu si sabut kelapa gadungan.

cerita kedua masih tentang sabtu yang hilang, tapi dari sudut pandang sebuah bayang-bayang. sesuatu yang kelam, muram, dan temaram, tapi alih-alih hitam, dalam bayangan gw, si bayang-bayang adalah sebuah warna kelabu yang sendu. pekat, tapi ngga jahat.

sepotong deskripsi diri dari si bayang-bayang ini:

###

aku adalah bayang-bayang. entah siapa yang lebih kubenci, cahaya atau benda-benda. sepanjang waktu aku bersembunyi di balik kenaifan benda-benda untuk membunuh cahaya. dan sepanjang waktu, aku memanfaatkan luka-luka cahaya untuk menghantui benda-benda. mereka yang sok rasional bolak-balik berkata, "bayang-bayang tidak bisa berbuat apa-apa. mereka tidak nyata!" padahal, sesungguhnya segala kehancuran justru berangkat dari hal-hal yang tidak nyata. kebencian. kekecewaan. iri hati. kecurigaan. ketakutan. kegelapan. aku.

aku adalah bayang-bayang. aku tidak terhitung; bukan satu, bukan beberapa, bukan pula banyak. aku sanggup menyusup dalam segala konteks dan dimensi karena tak punya wujud tetap. satu-satunya yang kumiliki secara absolut hanyalah kekelaman.

aku dapat membayangi apa saja yang bergulir di permukaan hari, tetapi tidak hari itu sendiri. hari bukanlah benda yang berwujud. bukan pula sejenis pikiran. aku selalu mencari cara menghantui hari karena aku berambisi menghantui segalanya.

###

gw suka penggambaran si bayang-bayang ini. pahit. kaya kopi hitam tanpa gula. dan... ah, tiba-tiba males ngelanjutin, haha. yauda, bersambung aja deh, sblom bayang-bayang mulai menghantui pikiran gw juga.

Comments