Wednesday, January 30, 2013

#30haribercerita FIN

0 comments
Oke, sekarang mau bongkar rahasia, haha. Sebetulnya, gw udah pernah berkali-kali iseng ikut proyek nulis rutin tiap hari selama 30 hari, jadinya sekarang cukup terbiasa.

Dari sekian kali nyoba, yang berhasil baru Januari taun lalu sama Januari taun ini. Januari taun lalu malah rekor bisa posting 50 tulisan dalam sebulan, sementara Januari taun ini nggak sampe sebanyak itu.

Walaupun begitu, sebetulnya nggak bisa dibandingin sebagai indikator kesuksesan, karna tingkat kesulitan dan tantangan Januari taun lalu dan taun ini agak beda.

Waktu itu, gw super nggak bisa ke mana-mana gara-gara kaki masih patah. Bisa sih ke mana-mana, tapi rempongmania, harus pake kruk atau kursi roda. Walhasil, nulis mulu deh kerjaannya, karna emang nggak ada kerjaan, haha.

Sedangkan yang sekarang, gw udah kerja, udah sehat, dan udah dituntut untuk 'hidup dengan ritme cepet' lagi, jadinya emang harus pinter-pinter colongan nulis.

Di kantor bisa sih colongan nulis kalo kerjaan udah kelar, tapi seringnya gw nyicil di perjalanan. Sedikit banyak harusnya gw berterima kasih sama macet, karna salah satu aktivitas untuk mengisi waktu saat stuck di himpitan kendaraan di jalan itu adalah menulis.

Gw emang masih sering (BANGET) ngeluh, kenapa sih harus banget ngadepin macet gila-gilaan tiap hari?! Capek banget loh PP 5-6 jam tiap hari. Pernah bahkan pulang doang 8.5 jam. BOK!

Tapi gw selalu menanamkan dalam benak kalo "yang penting prosesnya, bukan hasilnya", yang kalo diaplikasikan dalam studi kasus gw: "yang penting menikmati perjalanannya, bukan sampe kantornya"

Karna menikmati itulah, jadinya segala hal di sekitar bisa jadi inspirasi nulis, nggak mati gaya walaupun udah kenyang banget sama bosen. Toh, kayak yang pernah gw tulis di sini juga: "Bahkan bosen pun bisa diceritakan, kan?"

Oh ya, sama baca! Nggak harus buku sih. Bisa Twitter, blog temen, artikel yang di-subscribe di Google Reader, ataupun blogwalking dari link-link tulisan orang di @30haribercerita sama @poscinta. Makasih ya cerita-ceritanya. Ampuh banget nemenin bermacet-macet ria :D

Terbukti yah ternyata 'teori' membaca dan menulis itu berbanding lurus. Semakin banyak membaca, semakin punya banyak bahan buat tulisan. Semakin banyak menulis, semakin pengen cari referensi bacaan. Yang bikin kacau 'teori' nya emang cuma males, dan kacaunya sering, haha.

Ngomong-ngomong, seperti yang udah gw tulis di awal, sebetulnya gw udah beberapa kali nyoba konsisten nulis selama 30 hari. Tulisannya ada di:
  • Sini (prolog #30harimenulis edisi Januari 2011) 
  • Sini (archive #30harimenulis edisi Februari 2011)
  • Sini (prolog #30harimenulis edisi Desember 2011)
  • Sini (kegagalan #30harimenulis edisi Desember 2011)
  • Sini (prolog #30harimenulis edisi Januari 2012)
  • Sini (keberhasilan #30harimenulis edisi 2012)
Oot. Baru ngeh, gw bener-bener 'Taurus banget' ya ternyata. Keras kepala dan ogah nyerah kalo blom selesai. Kekeuhan anaknya, makanya suka nyusahin diri sendiri aja hobinya -___-

Oot selesai. Lanjut.

Dari berkali-kali nyoba, gagal, nyoba lagi, gagal lagi, sampe akhirnya berhasil, gw belajar satu hal: menunda itu ibarat bola salju. Semakin menunda, semakin 'menggulung' dan menggunung lah peer-peernya. Ujung-ujungnya, jadi ngibrit karna bolanya makin gede.

Ah, tau deh, analoginya aneh. Kalo kata Einstein:
"Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results"
Well, maybe I'm insane, since I do the same thing over and over again. But at least I try in different ways. Therefore, results are different.

Intinya, sukses itu bukannya nggak pernah gagal, tapi belajar dari kegagalan dan nggak ngulangin lagi, contohnya nggak nunda berkali-kali, tapi beberapa kali aja, haha (ajaran sesat).

Hari ke-30: SELESAI!

0 comments
SELESAI!

Proyek #30haribercerita yang aturan mainnya gini edisi Januari selesai! Yeaaay! Wohooo! Yatta~

Sebagai pengganti postingan kedellapan yang sengaja nggak dibuat, gw bikin dellapan klasifikasi tulisan aja kali ya, dengan kategori suka-suka gw:

1. Pembahasan dari buku Kangen Indonesia, Cinta Tidak Harus Mati, dan Brainworks
2. Insight dari telor, teh, dan abon, facial, copot pen, dan pantangan makan kacang
3. Cerpen tentang rumah, Putri Salju, pelangi, dan cerbung tentang tomat
4. Daily report 1, 2, 34 dan recap-an 4/5 postingan (nanggung amat)
5. Mood-mood 'miring' tentang monolog, fokus, 'melarikan diri'korupsi, hujanbanjir, dan insecurity
6. Berkontemplasi di postingan "Question?" dan "What if..."
7. Cerita ngalor ngidul tentang kenapa menulis
8. Tulisan entah-apa-sebutannya di postingan "Donor hati" dan "Hey"

Kalo ditotal, jadinya 28. Eh, sama yang ini jadi 29 deng. Tapi ada 1 bonus tulisan tentang keinginan jalan-jalan yang nggak gw masukin ke proyek #30haribercerita, jadi anggep aja totalnya 30. Pas.

Sebetulnya, ada 2 tulisan lagi, tapi terlalu singkat, super nggak penting, dan lalala banget. Jadi nggak usah masuk itungan lah ya (ini gw bikin peraturan sendiri gini deh).

Oh ya, pengakuan dosa. Ada 1 lagi rapelan tulisan 2 hari karna males, haha. Ya wajar lah ya, males itu kan manusiawi (najong, pembenaran banget). Jadi, total bolongnya ada 5.

Secara general gw seneng sih, di sela-sela kesibukan gini, ternyata masih bisa nyisip-nyisipin nulis rutin juga. Terbukti deh kalo ada niat pasti ada jalan, tapi kalo nggak niat pasti ada alesan.

Jadi... SELESAI!

Tuesday, January 29, 2013

Hari ke-29: Maximizer vs Satisficer 2

0 comments
Bangun kepagian, siap-siap kepagian, berangkat kepagian, jalanan (ALHAMDULILLAH BANGET) lancar (untuk takaran Jakarta ya), nyampe kantor kepagian, akhirnya jadi punya waktu yang lumayan buat fokus baca Brainworks, dan nemu sub-bab yang cukup menjawab pertanyaan gw di sini.

Ah, senangnyaaa! Ini buku menarik banget deh, super layak baca buat orang-orang yang penasaran, gimana sih sebetulnya kerja 'direktur' badan kita itu?

Oot dikit. Ini ngeselin loh. Bokap gw, pas liat gw nenteng-nenteng buku ginian, malah komen "Ah kamu kok beli buku nggak ada hubungannya sama kerjaan? Sayang ah duitnya kamu beli buku mahal-mahal"

Ngeselin soalnya dulu bokap pernah bilang "Papa sih nggak pernah sayang kalo buat beli buku" trus sekarang komennya nggak konsisten gitu. ISSSH, bikin sewot deh (anaknya lagi sensian, haha).

Oot selesai. Lanjut. Salah satu sub-bab yang gw baca adalah tentang pilihan. Tentang gimana manusia memutuskan. Tentang paradoks dalam memilih.

Dibuka dengan kalimat berikut:

Imagine going into gourmet food store and seeing this display of varieties of jam. Pick one you think you might like to buy.

How difficult was it to choose? You're more likely to buy a jar of jam if 6 varieties are available instead of 24.

Seorang peneliti melakukan eksperimen di sebuah toko swalayan, di mana pelanggan yang datang dikasih kupon untuk memilih selai dari 2 lorong. Satu lorong terdiri dari 6 pilihan selai, dan satu lorong lagi terdiri dari 24 pilihan selai. Pelanggan bebas mencicipi selai yang tersedia, sebelum memutuskan membeli.

Lorong dengan 24 pilihan selai memang lebih banyak menarik perhatian pelanggan. Tapi ternyata, cuma 3% pelanggan yang akhirnya memutuskan membeli.

Sementara itu, 30% pelanggan yang pergi ke lorong dengan 6 pilihan selai, memilih selai dan pergi ke kasir untuk membayar.

Hal ini menarik karna ternyata, semakin banyak pilihan justru nggak bikin manusia merasakan serunya memilih, malahan mengurangi tingkat kepuasan setelah memutuskan memilih.

Trus apa hubungannya dengan maximizer dan satisficer? Apanya yang menjawab pertanyaan tentang maximer dan satisficer? Gw salin aja deh biar enak:

Some people choose to accept only the best. Schwartz calls these people maximizers. They invest much of their time and energy comparing options to make sure they choose the things they consider the finest.

The search is difficult and not very rewarding. After all, to be sure of making the ultimate choice, a maximizer must take on the impossible task of considering all options. And after making a choice, a maximizer is likely to reconsider and have "buyer's regret".

Satisficers make very good choices -- albeit not the absolute best ones -- because their brains find the optimal balance between the pleasure of finding the right choice and the pain of extended selection process.

Hooo.. gitu toh ternyata jawabannya kenapa satisficer itu lebih bahagia dibanding maximizer. Karna maximizer butuh banyak pilihan untuk menentukan mana yang terbaik. Sementara semakin banyak pilihan, semakin banyak 'penderitaan' berupa penyesalan yang harus dipertimbangkan.

Bener gitu kan ya kalo boleh menyimpulkan dengan bahasa sendiri? Dih, gaya banget deh ini gw sok-sokan menyimpulkan -___-

P.S.: Berarti kalo nawarin ke klien nggak usah banyak-banyak pilihannya kalo gitu, FUFUFU. Tuh kan babeh, ada hubungannya kan sama kerjaan? Nggak ada buku yang sia-sia kali, kalo dibaca, zzz..
0 comments
What's with those "I don't use 'I' and do humble brag" thing, I wonder.

Lalala.

Monday, January 28, 2013

Hari ke-28: Daily 4

0 comments
Nggak bosen-bosennya gw menyatakan bahwa gw cinta akhir pekan secinta-cintanya.

Di akhir pekan terakhir di bulan ini, seperti yang udah gw tulis di sini, Sabtu-Minggu gw diwarnai dengan hal-hal yang berbau-bau pernikahan.

Sabtu.

Nikahan Mira di Serang. Berangkat jam 5 pagi, padahal travel jam 1/2 6. Jeng jeeeng! Telat gara-gara gw kesiangan. Iya, ini murni salah gw emang. Begadang, nggak masang alarm, dan cuma ngandelin alarm otak dan alarm nyokab. Maaf ya.

Ternyata sampe sana kecepetan. Masih teler gara-gara kurang tidur. Ngerecokin sang manten sblom akad nikah, haha. Akad nikah, momen-SAH, resepsi, daaan... makan kacang. Tepatnya sate ayam. Bodo ah. Dikit.

Anak-anak binatang Taurus emang termager seplanetbumi deh. Di kala yang lain pada muter-muter entah ngapain, 4 anak ini diem ngejogrok di kursi, nggak beranjak sampe waktu makan tiba.

Sesi foto-foto. Sesi ngobrol-ngobrol. Pengantinnya ganti baju. Sesi foto-foto bagian 2. Pulang. Ternyata 3x ganti baju, tapi berhubung udah balik, jadi nggak ada sesi foto-foto bagian 3.

Nge-random sotoy nyari cemilan di Alfamart atau apalah yang deket tapi ternyata nggak ada. Impulsif beli Tiramissu yang ujung-ujungnya dimakan waktu udah meleleh. Bertapa di Gramedia sampe malem. Pulang. Eh, pulangnya kesebut 2x.

Tengah malem baca sesuatu yang........ fffuuu. Tapi yaudalah ya. Dinginkan kepala. Jangan panas. Tarik-tahan-hembus napas. Berpikir waras. Selalu ada ruang untuk (me)maaf(kan) kan?

So, keep calm and forgive, then. Though i never hear any sorry.

Foto ala garden party, hasil nyegat manten setelah ganti baju

Minggu.

Rapat nikahan Ndun dan Bothie. Ini udah deh, Ndun sama Bothie mending beneran bikin usaha wedding organizer aja gih, haha.

Nonton dadakan di Detos sama orang yang gada-yang-nggak-mungkin-di-dunia-ini. Huahahahahahahawkard moment 2013. Lanjut makan di Warung Pasta. Ngobrol-ngobrol dengan isi obrolan yang lagi-lagi, gada-yang-nggak-mungkin-di-dunia-ini.

Bisa salam damai secara langsung dan tatap muka. Akhirnya :') walaupun rasanya aneh banget, hahaha!

Kemaleman. Ketinggalan Deborah tapi gpp kok. "Time you enjoy wasting is not wasted time". Pulang. Eh, pulangnya kesebut 3x.

Suasana persiapan pernikahan "Jawi in March"

Senin.

Kembali bekerja. Kembali ke realita. Kembali pada kemacetan Jakarta.

Hari ke-27: What If...

0 comments
What if...

You are not who you are, but who you were?
Is it called consistency or simply stuck in your old self?

What if...

You're given a chance to be anything you're not for a while?
Will you miss your old self?

What if...

I'm anything but me?
Am I? Will I? Can I?

Sunday, January 27, 2013

0 comments
Wow wow wow wow wow. Luar biasa! Tepuk tangan dulu yuk pemirsa. Lagi menggali lubang sendiri atau apa?

Saturday, January 26, 2013

Hari ke-26: Maximizer vs Satisficer

0 comments
Salah satu bahasan dalam buku "Cinta Tidak Harus Mati" nya Henry Manampiring:

###

Gue pernah baca di buku The Paradox of Choice oleh Barry Schwartz bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut "Maximizers", yang satu lagi "Satisficers".

Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang terbaik (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik.

Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari menurut kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan "cukup memuaskan", ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.

Bayangkan skenario mencari LCD TV.

Si maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai "10".

Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, dan cukup hepi mendapatkan TV bernilai "7".

Pada akhirnya, si Satisficer malah mungkin lebih hepi, dan puas dengan TV-nya, karena tidak selelah si Maximizer yang sudah jungkir-balik dalam usahanya mencari yang 'the best'.

###

Setuju. Kadang, yang terbaik blom tentu baik. Kadang, puas atas apa yang udah dimiliki itulah sebetulnya yang terbaik. Karna kadang, puas itu hadir karna berhenti mencari dan mencoba menikmati.

Tapi kadang, wondering nggak sih? Apa iya para Maximizer nggak cukup hepi dengan usaha 1000% buat dapetin hasil 100%? Tau dari mana kalo para Satisficer lebih hepi?

Friday, January 25, 2013

Hari ke-25: Recap

0 comments
Jadi, sampai hari ke-25 ini, gw udah bikin dosa 4 kali ngerapel tulisan.

1 hari, karna nggak ada internet, tapi tetep nulis di draft HP dan tinggal disalin. 1 hari, karna pulang-pulang capek banget, langsung tidur, dan nggak sempet nulis (alesan banget emang). 1 hari karna lupa. Dan 1 hari lagi, karna posting-nya di atas jam 12, jadi jatohnya udah ganti hari.

Yaaah.. lumayan lah ya (menghibur diri).

Sisa 5 hari lagi (plus 1 hari yang sengaja dilongkapin). Semoga bisa konsisten, karna rasanya makin hari makin males aja, haha. Untung aja nggak terlalu mati gaya, karna mau sebosen apa pun, selalu ada cerita tiap harinya. Bahkan bosen pun bisa diceritakan, kan?

Hari ini abis jalan seharian sama peer iklan plus hana dan anggi. Kalo mau nge-recap, hari-hari libur gw kayaknya banyak diisi dengan ketemu ini-itu, update cerita, berita, dan bertegur-sapa atau waktu bareng keluarga.

Ih, cinta hari libur banget lah pokoknya! Semenjak mulai kerja dari 6 bulan yang lalu, berasa banget deh betapa berharganya waktu luang, lebih dari uang.

Sebetulnya sih ya, dulu pas masih MB, nggak ada cerita deh tuh Sabtu-Minggu libur. Mamam noh ngedemprok di Depok tiap weekend, haha. Jadi sebetulnya, bukan cuma 6 bulan ini doang sih gw ngerasa waktu luang itu berharga. Tapi entah kenapa, rasanya beda aja.

Saat kuliah dan MB, sesibuk apa pun, seenggaknya, masih bisa ngumpul-ngumpul malem di sekitaran Depok cuma buat sekedar makan dan ngobrol. Ah, jadi kangen ngekos, huhuhu.

Saat kuliah dan nggak MB, lebih lengang, walaupun lagi masa-masa stres langganan mahasiswa tingkat akhir. Kuliah yang kebanyakan proyek kelompok, magang, dan TKA.

Saat udah lulus dan nggak MB serta masih jadi pengangguran, apalagi. Lengang banget, sampe guling-gulingan karna nggak punya kesibukan, haha.

Sekarang, saat kerja, saat nggak bisa lagi keliaran di warkop ataupun warnet tengah malem, saat pemandangan kosan dan warung digantikan gedung-gedung, saat ngerasain macetnya jalanan ibukota tiap hari, rasanya tiap Jumat tuh seneng banget, ngebayangin akan ketemu dua hari favorit gw dalam seminggu: Sabtu dan Minggu.
"Time you enjoy wasting is not wasted time"
Yes, i DO enjoy 'wasting time' on holiday. Precious :D

Weekend minggu ini akan diisi dengan yang berbau-bau nikah. Sabtu, temen nikah. Minggu, rapat pembagian tugas buat nikahan temen yang coming soon. Hihi, mari kita liat akan seseru apa nanti.

Tuh kan, kembali pada kebiasaan (ngomong, nulis, dan ngelakuin apa-apa) loncat-loncat. Gini nih kalo udah nggak sabaran, bawaannya semuanya pengen ditumpahin tanpa perlu banyak mikir dan pertimbangan. Jiwa impulsif bergejolak (apaan sih).

Ah, bentar lagi Januariangembira nya abis nih, udah ngapain aja selama sebulan ini? Apa hal bermanfaat yang udah dilakukan? Apa pengetahuan dan bantuan yang udah dibagi? Apa pengalaman yang udah didapet? Apa aja karya yang udah dihasilkan?

Syit, UHUK banget ini pertanyaannya. Sampe nggak berani jawab.

Thursday, January 24, 2013

Hari ke-24: Donor Hati

0 comments
Berjingkat-jingkat kamu mendekat
Awalnya kaucuri informasi
Lalu hati
Lalu kau kembalikan lagi

Sayang,
Ini tidak utuh!
Kau apakan saja selama ini?

Kembalikan,
Kembalikan seperti sedia kala, Sayang

Mau aku donorkan
Pada yang membutuhkan

Bukan,
Bukan padamu, Sayang

Tenang saja.

###

Tulisan lama yang terinspirasi dari tulisan #fiksimini seorang teman. Izin pinjem dikit ya kata-katanya.

Hari ke-23: Daily 3

2 comments
Ketiga kalinya dalam bulan ini gw nulis tentang keseharian. Yang dua sebelumnya, rentang waktunya berdempetan. Yang sekarang, agak jauh. Yaudalah ya.

Seperti biasa, seperti Senin Selasa Rabu Kamis Jumat biasanya, gw ngantor. Bangun, ritual cek HP, mandi, makan, bermacet-macet ria, kerja, dan bermacet-macet ria lagi.

Kenapa ya di saat gw mulai ngerasa nyaman, malah justru bikin bosen? Serba salah sih, saat banyak hal yang butuh adaptasi, gw nya galau uring-uringan sendiri. Sekarang, saat udah terbiasa dengan pola, gw nya butuh sesuatu yang menarik dan lebih menantang.

Ah, manusia.

Ngomong-ngomong soal manusia, tadi siang gw ngecek Twitter, iseng buka bagian settings, siapa tau udah bisa request Twitter archive. Eh ternyata bisa loh, Saudara-saudara sekalian! Dan ini sebetulnya nggak ada nyambung-nyambungnya sama 'ngomong-ngomong soal manusia'. Bodo ah.

Dan jadilah gw semacam anak kurang kerjaan (padahal kerjaan udah ngantri dari tadi), baca ulang twit-twit awal. Sungguh err pake banget.
That awkward moment when you thought you're completely different person from what you used to be, but not really, actually.
Suka ngerasa gitu nggak sih? Belagu, berasa yang sekarang udah paling hebat aja, berasa jaman dulu cupu banget, padahal mah sebetulnya nggak banyak perubahan. Yah, mungkin sebagian (kecil) diri kita berubah, tapi sebagian (besar) sisanya, udah bawaan lahir.

Bertaun-taun nggak pernah ngelirik twit-twit lama (ya kali deh, males banget scrolling nya), sekalinya baca ulang, rasanya kayak... kejutan.
"Have you ever heard a joke so many times you've forgotten why it's funny? And then you hear it again and suddenly it's new" - Big Fish (2003)
Semacam itu lah kira-kira rasanya. Salah satu contohnya adalah twit ini, yang bikin gw sukses ngakak-ngakak sendiri di kantor. Sebuah percakapan absurd di keluarga gw:

Vita (adik 1): "Apa yang matanya 3, kakinya 1, suka berdiri di perempatan jalan?"
Fully (adik 2): "Orang gila"

Dan gw jadi inget obrolan-obrolan lanjutannya yang super unbloggable (ngarang istilah). Ngawur sengawur-ngawurnya. Dari jayus, trus bikin ngakak, sampe jadi jayus lagi.

Pulang kantor, tiba-tiba impulsif mampir ke toko buku dan beli 3 buku: The Book of Everything; The Philosophy Book; dan Brain Works. Keluar dari toko buku, gw rasanya pengen nitip pesen ke suami di masa depan "siap-siap bangkrut ya kalo ngajak gw ke toko buku" Hahaha!

Nggak tau ya, lagi bosen aja. Otak gw lagi macet, butuh stimulus yang bukan didapet dari bacaan elektronik. Gw butuh menyentuh dan mengendus kertas.

Gw kangen sensasi buku baru dimana gw bisa buka plastiknya dan mencopot label harga buat ditempel di sampul belakang, di pojok kanan bawah. Makanya gw sebel banget kalo buku yang gw beli, plastiknya dibuka sama orang lain, trus label harganya dibuang. Agak freak emang.

Walaupun gw yakin seyakin-yakinnya nggak bakal abis ini 3 buku gw baca sekaligus (anaknya suka ngacak kalo baca buku ginian), pemilihan buku-buku ini ya berdasarkan mood gw yang lagi pengen 'curhat pasif' aja.

Apaan itu 'curhat pasif'? Mirip-mirip lah tujuannya kayak curhat aktif, yaitu bikin perasaan lega. Cuma bedanya, kalo biasanya kita yang bercerita, ini membiarkan buku yang bercerita.

Lagian, nggak ada salahnya sih bangkrut karna buku. Ya nggak? Itung-itung investasi emosi (pembenaran abis).

Di rumah, gw akhirnya menamatkan Twivortiare. Sebetulnya kepikiran buat ngebahas film Les Miserable. Tapi alih-alih ngebahas film 'orang-orang menderita' itu -yang aktingnya nyampe banget ke yang nonton- gw malah ngebahas apaan tau yang nggak jelas gini.

Ah, bodo deh ini postingan gado-gado banget.

Wednesday, January 23, 2013

Hari ke-22: Tomat

0 comments
"Ah, lagi-lagi, isi biodata. Menyebalkan!" Repetku.

Aku bingung ya, kenapa ya, hidup itu penuh dengan kotak-kotak. "Kamu buah atau sayur?" Ah, sampai bosan sekali aku mendengar pertanyaan itu dari para buah dan sayur. Kalau aku tak mau jadi keduanya, bagaimana? Salah?

Oh ya, aku belum mengenalkan diri ya? Namaku Tomat. Aku sebuah... ah, sudahlah, jangan bahas itu. Buah, sayur, buah, sayur, buah, sayur, aku tidak tahu dan tidak peduli. Jadi, panggil saja aku Tomat ya.

(Bersambung...)

Hari ke-21: Hey

0 comments
Hey there,

How's life going? Still try to reach your dream or already reach it?

With curiosity,
The wondering one but not dare to ask

Sunday, January 20, 2013

Hari ke-20: Insecurity

4 comments
Di suatu kunjungan ke rumah, seorang tante gw ngomong sama anaknya, sekitar 4-5 taun, "Coba Bengbeng (bukan nama sebenarnya), cantikan mana, kakak Chocolatos (bukan nama sebenarnya juga) apa kakak Della?"

Kemudian Bengbeng menunjuk dengan malu-malu ke arah Chocolatos.

Nyokab ketawa dan menimpali, "Ya kakak Chocolatos soalnya putih ya"

Rese emang deh, keluarga gw hobi banget komentar "gembel banget sih Del" "kamu item banget sih" "dandan dikit kek" dan lain-lain.

Sampe pernah bokap gw yang... w4'daHg4x'n6ertYa9y, bawa sabun muka herbal bentuk beruang, beserta paket krim pagi-malem buat gw. Malem-malem. Pulang dari kantornya di Semarang.

...
...
...

Nggak tau deh harus terunyu-biru apa termangu. Random dad is random, indeed.

Biasanya yang beginian nggak gw peduliin. Mau item kek, gembel kek, apaan kek, nggak bikin gw ngerasa terintimidasi. Jadi, bodo amat, terserah deh mau komen apaan.

Yah, walaupun paketan beruang random itu tetep gw pake, menghargai bentuk kepedulian dari sang papah dan jalan pikiran beliau yang terkadang suka absurd itu. Masa gw pernah dibawain tongkat buat hiking coba deh!

Tapi momen tante itu, dikombinasikan dengan PMS, dikombinasikan dengan bad hair day, DAN dikombinasikan dengan timbangan yang terlalu jujur, gw semacam... sewot.

Apaan sih nyuruh anak kecil banding-bandingin?! I feel offended, to be honest. Tumben banget emang. Selain bodo amat sama komentar orang, biasanya gw juga nggak pernah terlalu peduli sama timbangan.

Trus tante gw kayaknya nyadar perubahan ekspresi gw. Sang tante buru-buru mengoreksi "Tapi kamu juga cantik kok, sayang. Kamu eksotis, gampang dapet bule pasti"

Makasih banget loh tante penghiburannya. Zzz. Karna males ngelanjutin percakapan, udah keburu bete, gw naik ke kamar, ngaca, dan nyoba menetralkan mood.

Gw menarik napas, merem, menghela napas, dan bilang ke cermin, "Why bothered?"


"See, Del? You are beautiful, yes you are. So, again, WHY BOTHERED???!!!"

Lucunya, tante yang bilang tadi dan tante yang dandanin gw jadi begini adalah orang yang sama.

Nggak, gw bukannya nggak suka sama tante gw itu. Bahkan sang tante itu termasuk tante favorit gw. Baik, asik, kreatif, sangat conversationalist, dan hebat banget bisa menyulap gw yang so-called item-gembel ini jadi kayak di foto itu.

Tapi, kadang-kadang emang yaaah.. gitu deh. Jadi, maaf ya jadi narsis buat menghibur diri. Sebetulnya masih kesel. Honestly, this insecurity is somehow bothering me. So not me but it happens anyway.

Saturday, January 19, 2013

Hari ke-19: #12 Pelangi di Matamu - Jamrud

0 comments

"Eh, ada apaan tuh?" Kamu menunjuk mataku. Keningmu berkerut.

"Hah?" Aku refleks memegang mataku.

"Oh, pelangi toh"

Aku tergelak, "Lo mau tau nggak kenapa di mata gue ada pelangi?"

"Contact lens?"

"Demi apa pun, asli, fail banget sih, Tuan Benizolaaa. Karna gue abis ujan dan lo mataharinya. Ah kan, anti klimaks"

Kamu tertawa, namun sedetik kemudian air mukamu berubah serius, "Kei, jangan sering-sering ujan ya"

"Ben, lo lagi kesambet apa sih? Tumben banget. Mendadak gombal, mendadak fail, sekarang mendadak serius. Udah ah, gue laper. Para 'mendadak' lo itu bikin laper tau ngga? Hahaha. But anyway, makasih ya udah mau nemenin makan. Emang the best sobat in town banget deh lo. Mau pesen apa nih?" Aku membuka buku menu dan mulai memilih-milih makanan.

"Saya nggak lagi gombal dan saya pesen kamu"

"Ben, apaan sih?"

"Saya serius. Saya pesen kamu nggak sering-sering ujan. Saya pesen kamu lupain Teddy. Saya pesen... ah, nggak usah pelangi, bikin ujan kamu reda aja nggak bisa. Kalau saya jadi dia, mending bikin kamu gosong kepanasan daripada harus ngeliat kamu ujan terus tiap saat"

"Hahaha, analogi lo tuh ya. Udah ya, nggak usah dibahas lagi. Kita ke sini mau makan, bukan mau ngebahas elemen langit. I'm okay, okay? Jadi, mau pesen apa nih?"

Kamu menghela napas.

Ada yang lain, di senyummu
yang membuat lidahku, gugup tak bergerak
Ada pelangi, di bola matamu
yang memaksa diri, tuk bilang...

"Nasi goreng sama es teh manis aja deh"

Friday, January 18, 2013

Hari ke-18: Question?

0 comments
"Tell me, what do you want?"
This question haunted me lately. And later than lately. And later than later than lately. And later than forever but not later than never. Hence, I've been searching for the answer.

This morning, I found mindfucking quote from Murakami:
"Good questions never have answers"
And for that question, is it considered as good question? Do I have to keep searching for the answer? Will I be haunted by it forever? What do I want? Tell me, what should I do?

Good question.

Thursday, January 17, 2013

Hari ke-17: Banjir

0 comments
Hari ini, Jakarta jadi artis ibukota. Ibukota yang jadi artis ibukota. Penuh sorotan media massa, juga heboh di linimasa.

Baru aja kemaren gw ngebahas tentang hujan yang dramatis. Sekarang? Miris. Banjir dimana-mana. Anak sekolah, mahasiswa, dan para pekerja mau nggak mau harus siap terhambat aktivitasnya.

Penduduk yang rumahnya tergenang mau nggak mau harus siap mengungsi. Belom lagi penyakit-penyakit yang mau nggak mau harus siap menyerang nanti, saat pasca banjir.

Salah siapa?

Katanya, hujan itu berkah. Tapi beberapa hari ini emang 'berkah' nya terlalu melimpah, dan mungkin karna manusianya serakah, maunya semuanya ditampung di satu wadah, makanya jadi musibah.

Salah siapa?

Nggak usah saling tunjuk. Inget, jari yang menunjuk itu cuma telunjuk. Sisanya, mengarah ke kita.

Wednesday, January 16, 2013

Hari ke-16: Hujan

0 comments
Gw nggak suka hujan. Nuff said.

Kata orang, hujan itu romantis, punya bius mistis yang membuat para pecinta kata melahirkan sajak-sajak puitis.

Kata gw, hujan itu dramatis, terutama di Jakarta. Hujan, banjir, dan macet. Ibarat pop corn dan minuman bersoda yang dijual di bioskop 21, mereka udah sepaket.

Rain rain, go away
Come again another day

Rain rain, go away
Come again some other day

Little Johnny wants to play
In the meadow by the hay

Rain rain, go to Spain
Never show your face again

Rain rain, pour down
But not a drop on our town

Rain on the green grass
And rain on the tree

And rain on the housetop
But not on me

Sama kayak si Little Johnny yang kesal karna nggak bisa main di luar gara-gara hujan, gw pun sama. Hujan yang turun merusak segala rencana.

Tapi mungkin gw bisa dibilang orang yang beruntung kali ya? Karna seringkali, hujan datang di saat gw lagi berada di tempat yang teduh, jadi nggak kebasahan. Btw, kenapa hujan harus ke Spanyol ya? Abaikan.

Hmm.. Hujan, kamu udah tau ya kalau aku nggak suka kamu? Makasih ya Hujan, karna seringkali turun di tempat yang tepat.

Anywhere but me.
"But without the rain, rainbow will be just bow"
Meskipun gw nggak suka hujan, tapi gw suka pelangi. Lagian, siapa juga sih yang ngga suka pelangi? Ah, tapi kapan emangnya Del terakhir kali lo liat pelangi? Kapan terakhir kali liat hujan?

Gw lupa kapan terakhir kali liat pelangi, tapi kalau hujan, barusan. Hmm.. iya juga ya. Hal ini membuktikan kalau nggak selamanya pelangi hadir setelah hujan.

Terus apa artinya dong frase tadi? Percuma lah kalau gitu. Makin bikin kecewa karna terlalu berharap pada pelangi, dan ujung-ujungnya makin membenci hujan.

Well, people tend to look at the bright side, yes?

Pelangi hadir atas kombinasi hujan dan matahari. Kombinasi apa-apa yang membasahi dan apa-apa yang menyinari. Jadi, jangan berharap melihat pelangi, kalau nggak bisa jadi matahari. Apa-apa yang bersinar dari dalam diri.

Note to self.

Tuesday, January 15, 2013

Hari ke-15: Kenapa Menulis?

0 comments
"Apa sih alasan kalian nulis? Lalu motivasinya apa?" -@30haribercerita
Hmm.. kalau gw bilang karna gw suka, kuat nggak alasannya? Sebenernya bukan soal kuat atau nggak sih, cuma hmm.. gimana ya ngejelasinnya?

Pernah nggak sih lo kebingungan sendiri saat ditanya kenapa lo melakukan sesuatu? Karna nggak ada alasan lain selain karna suka. Dan kalau ditanya kenapa suka, cuma bisa bilang "Nggak tau, suka aja"

Sama kayak kalau lagi suka sama seseorang dan nggak bisa jawab kenapa. Karna suka itu nggak selalu harus punya alasan kan?

Kalau ditanya soal motivasi, motivasi apa dulu nih? Motivasi nulis apa motivasi nulis blog apa motivasi nulis blog selama 30 hari apa motivasi nulis blog selama 30 hari dan disebarluaskan di Twitter? Haha, ribet.

Kalau motivasi nulis, karna pengen, butuh, dan harus. Gw pengen mengenang dan dikenang, maka gw nulis. Gw butuh penyalur emosi, maka gw nulis. Gw harus menyampaikan sesuatu, maka gw nulis. Sesimpel itu, sekaligus nggak sesimpel itu.

###

Lanjut soal motivasi nulis blog.

Berawal dari dunia perfandoman jejepangan dimana sharing adalah 'nyawa' dari sebuah forum, gw sadar, semua orang suka cerita. Sebagian suka bercerita, sebagian suka menyimak cerita, dan sebagian lagi suka keduanya.

Awalnya, gw lebih banyak menyimak ketimbang bercerita. Tapi lama-lama, nggak adil rasanya kalau gw nggak turut menyumbang cerita. Akhirnya di tahun 2008, jadilah blog pertama gw. Bukan di sini. Ya ada deh pokoknya di suatu tempat (dih, sok misterius).

Eh btw, ini kok jatohnya jadi asal-usul ya, bukan motivasi? Ya apa pun lah.

###

Lanjut soal motivasi nulis blog selama 30 hari.

Dari kecil, gw nggak pernah sukses buat konsisten nulis diary tiap hari. Gw nulis sesuka hati kapan pun gw pengen nulis. Seringkali, saat gw baca ulang diary-diary (yang sekarang udah pada entah ke mana), gw suka nyesel sendiri, kenapa sih jadi orang kok susah amat buat rajin.

Lupa terinspirasi dari mana, pokoknya tentang suatu program menulis selama 30 hari, akhirnya gw coba menantang diri sendiri, bisa nggak ya selama sebulan gw rutin nulis tiap hari? Ternyata gagal berkali-kali. Konsisten itu susah, Jendral!

Tapi sebetulnya sih yang esensial bukan di gagal atau berhasilnya, melainkan di prosesnya. Sepanjang niatan gw buat ngejalanin proyek iseng itu (kalau nggak salah tahun 2010), gw jadi 'ogah rugi' dalam artian nggak mau melewatkan momen-momen yang bisa diabadikan dalam bentuk jurnal yang isinya recap-an kejadian tiap hari.

Awalnya males banget, tapi lama-lama jadi terbiasa, walaupun males tetep nggak ilang-ilang, hahaha. Emang ya, ada hal-hal yang dengan mudahnya bisa jadi kebiasaan, tapi ada pula hal-hal yang perlu dibiasakan, contohnya nyatet jurnal ini.

Intinya, gw cuma pengen belajar rajin. Itu aja sih. Seorang pemalas yang khilaf dan mau insyaf.

Akhirnya, di Januari 2012, gw berhasil juga nulis selama 30 hari, walaupun ada beberapa hari yang curang karna di-jama' haha. Tapi gw sih cukup puas sama hasil yang dicapai, mengingat ada lebih dari 30 postingan di bulan itu.

Nggak mau berenti sampai di situ, ada lagi program bikin cerita dari lagu selama 30 hari tiap 3 hari sekali. Kalau ngikutin aturan itu, sebetulnya gw udah berhasil.

Tapi emang dasar anaknya suka nyusahin diri sendiri, gw maunya bikin 30 cerita, nggak peduli selesainya kapan. Yang jelas, selama blom selesai 30 cerita, proyeknya masih berlanjut. Sampai sekarang. Bebel banget sih, Del. Bodo ah.

###

Terus nemu deh program 30 hari bercerita, di mana harus 'setoran' di Twitter.

Sbetulnya tadinya gw agak ragu sih menyebarluaskan postingan-postingan blog gw di Twitter, apalagi tiap hari kaya gini. Berasa gimanaaa.. gitu, mengingat isinya kebanyakan nyampah doang, nggak berbobot, haha.

Tapi sama halnya dengan motivasi (apa asal-usul?) nulis blog, nggak adil rasanya kalau gw cuma jadi pembaca pasif, menyimak cerita-cerita yang di-link di akun @30haribercerita doang tanpa gantian bercerita. Dan terbukti, berbagi cerita itu emang menyenangkan. Selalu. Hihi.

Jadi, begitulah. Menjawab nggak? Nggak ya? Yauda deh (Nanya sendiri jawab sendiri)

Monday, January 14, 2013

Hari ke-14: Kacang

0 comments
"Kamu jangan makan kacang dulu ya"

"Kenapa?"

"Ya itu pantangannya"

"Kacang apa aja?"

"Sementara pokoknya segala jenis kacang-kacangan jangan dulu"

"Cuma sementara kan?"

"Ya kemungkinan bisa selamanya"

"Sama sekali nggak boleh?"

"Sebaiknya dihindari"

Yauda deh, bye bye Silverqueen Rock'r. Rujak. Gado-gado. Siomay. Batagor. Ketoprak. Bubur ayam sambel kacang. Nasi uduk sambel kacang. Sate. Kacang Bali. Kacang goreng-rebus-bakar-apapun. Segala jenis coklat berkacang. Selai kacang. Dan lain-lain.

Kenapa ya kalo udah gini malah justru pengen banget makan kacang dan turunannya? (Turunan apaan sih? Eksponensial?) Lucu ya manusia. Seringkali hobinya menginginkan yang dilarang dan mengabaikan yang di depan mata.

Yaudalah ya, cuma kacang. Untung cuma kacang.

Sunday, January 13, 2013

Hari ke-13: Putri Salju

0 comments
Pada suatu hari, di sebuah istana yang megah, hiduplah seorang raja dan permaisuri. Sang Permaisuri sedang mengandung. Saat sedang santai berdua, Sang Raja bertanya.

"Wahai Adinda, bagaimana ya kira-kira rupa anak kita?"

"Kulitnya pasti putih, seputih salju yang sedang turun, bibirnya merah seperti apel yang ranum, dan rambutnya pastilah sehalus benang sutera"

"Hmm.. Bagaimana kalau kita beri nama putri kita 'Putri Salju', Adinda?"

"Bagaimana kalau dia lelaki, Kakanda?"

###

Menginjak usia kandungan yang semakin membesar, Sang Permaisuri mulai sakit-sakitan. Beberapa bulan setelahnya, Sang Permaisuri melahirkan seorang bayi mungil yang cantik, persis seperti tebakannya. Namun kondisi Sang Permaisuri semakin memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

Sang Raja sangat sedih telah kehilangan sosok yang sangat dicintainya, namun ia tahu ia tidak boleh berlama-lama merasa murung. Ia tetap harus melanjutkan hidupnya dan hidup semua orang yang membutuhkannya, rakyatnya. Dan untuk mengenang istrinya, ia menamakan putri kecilnya 'Putri Salju'.

###

Musim demi musim berganti, Putri Salju tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sang Raja amat sayang padanya. Namun seorang raja tetaplah raja. Ia butuh seorang ratu dan sosok ibu untuk anak tercintanya.

Akhirnya Sang Raja menemukan seorang pendamping. Mendiang istrinya memang tak tergantikan, namun ia memiliki harapan besar dengan sosok calon ratu ini. Walaupun wanita ini memiliki reputasi yang buruk di mata orang, Sang Raja tidak peduli. Baginya, semua manusia itu pastinya memiliki hal yang baik dan buruk. Dan selama manusia berani mengakui keburukan dan berusaha memperbaikinya, kebaikan akan otomatis terpancar dari dirinya.

Sang Ratu memiliki sebuah cermin. Ia seringkali berbicara sendiri di depan cermin. Mungkin orang lain menganggapnya gila, tapi ia tidak peduli. Baginya, cermin itu adalah sahabatnya. Cermin selalu berkata jujur, apa adanya. Walaupun terkadang menyakitkan hatinya, ia selalu menghargai kejujuran. Setiap kali ia berbicara dengan cermin, ia memang hanya bisa melihat pantulan dirinya, namun ia selalu dapat mempelajari hal-hal baru dari situ. Orang lain mungkin tidak mengerti, namun ia sangat bersyukur setidaknya ada satu orang yang percaya padanya, yaitu Sang Raja.

Ya, bersyukur. Satu hal lagi yang terkadang luput dari pandangan. Sepahit apapun cobaan, bersyukur akan selalu bisa menjadi obatnya. Walaupun pahit, bersyukurlah, karna setidaknya, tanpa pahit tidak akan ada manis. Hal inilah yang ia katakan saat berjumpa dengan Sang Raja. Dan hal inilah yang membuat Sang Raja yakin dengan keputusan untuk menjadikannya ratu.

Di lain sisi, Putri Salju sangatlah berbeda dengan Sang Ratu. Ia adalah anak yang sangat manis. Ia senang bermain dengan kupu-kupu, burung-burung, kelinci, dan banyak binatang lainnya. Ia seperti malaikat, selalu tersenyum, ramah kepada semua orang, dan tidak pernah sungkan membantu orang lain, orang asing sekalipun. Karna sifatnya tersebut, semua orang sangat mencintainya, dan Putri Salju selalu mendapatkan apa saja yang dia inginkan.

Namun, Putri Salju tidak suka dengan kedatangan Sang Ratu. Selama ia kecil, ia hanya mengenal sosok ibu yang yang diceritakan Sang Raja kepadanya. Dan saat Sang Ratu itu datang, ia merasa wanita itu hanyalah orang asing yang mengganggu hidupnya serta merebut ayahnya dari dirinya, sekaligus merebut ibunya dari hati ayahnya.

Apapun yang dijelaskan oleh Sang Ratu, semuanya tidak dihiraukan olehnya. Ia hanya mempercayai apa yang ia ingin percayai, bukan apa yang orang lain katakan, walaupun itu adalah kenyataan. Sang Raja pun bingung harus melakukan apalagi untuk membuat putri tercintanya mau menerima kehadiran Sang Ratu. Sang Raja sadar, selama ini ia terlalu memanjakan putrinya, dan sekaranglah waktunya putri kecilnya belajar dewasa.

###

“Wahai cermin, siapakah yang paling cantik di negeri ini?”

“Tentu saja Anda, Baginda Ratu”

“Bukankah seharusnya kau menjawab ‘Putri Salju’?”

“Jika aku menjawab ‘Putri Salju’, maka Baginda Ratu akan marah. Jika Baginda Ratu marah, Baginda Ratu akan mengutus orang untuk membunuh Putri Salju agar Baginda Ratu tetap menjadi yang tercantik. Setelah itu, Putri Salju akan berlari ke hutan, bertemu 7 Kurcaci, dan Baginda Ratu akan menjadi lebih murka saat mengetahui Putri Salju masih hidup. Lalu Baginda Ratu memutuskan untuk turun tangan dan memberinya apel beracun. Setelah itu Putri Salju tidur untuk selamanya, namun akan ada Pangeran yang datang untuk menciumnya. Kemudian Putri Salju kembali hidup dan bahagia selama-lamanya dan Baginda Ratu akan tetap menjadi sosok antagonis selama-lamanya. Apa ini akhir cerita yang Baginda Ratu inginkan?”

Sang Ratu tertawa. Sang Ratu menangis.

###

Putri Salju terbangun dengan terengah-engah. Entah kenapa mimpinya terasa sangat nyata.

--------------------------------------------------------------------------------

Cerpen jaman kapan yang cuma mengendap dalam email yang gw kirim ke seorang temen, ceritanya mau bikin tandeman tulisan, tapi ngga jadi, hahaha. Baru kali ini gw publikasiin karna sebelomnya nggak pede, ngerasa cupu banget tulisan gw. Haha, sampah sih emang, sok-sok nge-twist cerita dongeng.
"...Intinya, Del. Gw rindu tulisan lo kayak yang waktu lo bikin cerita Putri Salju itu"
Kata-kata ini, yang out of the blue diucapin temen gw itu beberapa hari yang lalu, yang bikin gw akhirnya berani posting di sini. Yes, words are powerful. Thank you :)

Hari ke-12: Daily 2

2 comments
Hari ini supeeer menyenangkan. Berbeda dari kemaren yang mana gw nulis tentang keseharian untuk 'kejar setoran', kali ini karna gw pengen.

Dari semalem udah diultimatum buat on time janjian sama Syilfi, nggak boleh telat ke akad nikah Nyanya. Ternyata Syilfi datengnya kecepetan. Akhirnya buru-buru dandan kilat, lalu berangkat.

Nyampe tempat Nyanya, Binatangan jurusan non-Bintaro udah dateng duluan (Binatangan: istilah untuk temen-temen main di kampus. Kenapa Binatang? Karna kalo udah soal makan, barbar kayak Binatang. Karna kalo udah ngumpul, berisik kayak di Kebun Binatang).

Akad Nyanya dimulai. "Terharu gw", si Mama Maya matanya berkaca-kaca. Sooo.. emak, hahaha. Omo flu, bolak-balik keliatan tisu-an mulu. Nyanya nggak keliatan, mukanya ketutupan orang di depan. Kalo gw berdiri, nabrak kipas angin. Sial. Yaudalah ya, yang penting sah ya, Nyonya Omo :)

Selesai akad. Makan-makan. Acara lempar bunga, saweran, injek telor, dll. Highlight obrolan: kerjaan dan 'kuliah nikah' oleh Susi, Binatangan 'pertama'. Mira, yang 2 minggu lagi mau nikah, makin stres. Huahaha.

Tamu-tamu mulai pulang. Kami blom juga pulang, nunggu Vanie dijemput. Tetep berisik non-stop Hits -seperti biasa- daritadi, dari masih sepi sampe sepi lagi. Tenang cuma kalo lagi foto-foto dan napas doang.

Sebelom pulang, minta tolong Nyanya fotoin dulu. Kurang ajar emang, malah mintain foto sama pengantennya, haha. Ayo lah yuk, beneran bikin arisan, berapa bulan sekali kek. Jadi ngumpul-ngumpul lengkap gini (minus Donda sama Ntume) nggak cuma di nikahan doang.

Sambung ke PIM, di mobil ber-11. Heboh. Odah, si anak Bojong yang nggak tahan panas, mulai ngomel-ngomel nggak kebagian AC. Maya, si emak rempong, bolak-balik rusuh posisi duduk, mesra-mesraan sama Dechu, haha. Citra dengan nyinyir-nya sepanjang jalan.

Nanien tumbenan diem aja, katanya abis begadangan ngerjain liputan JKT48. Dachi dan komen ngawurnya, yang juga mengomentari komentar-komentar gw. Komenception. Syilfi yang sibuk pacaran sama Mas Joko nya di kursi depan.

Anggi si jurnalis Tempo yang sibuk ketawa-ketawa ngeliat kelakuan para anak ajaib. Yang damai tentram sejahtera sepanjang jalan cuma Susi si Nyonya Supri, walaupun kalimat pertama yang keluar  "panas juga ya". Huahaha.

Sampe PIM, makan, jalan-jalan, pulang. Gw lanjut ketemuan sama Rasti yang cuma balik weekend ini karna kakaknya mau lamaran. Sambil nunggu, numpang baca di Gramedia sekalian beli peta dunia buat jadi wallpaper tembok ruangan kantor. Nemenin si anak ngidam Hokben, borong komik setumpuk, beli sepatu, ngobrol-ngobrol, creambath, pulang. Haha, hedonism meet up.

Labil. Males pulang tapi bingung mau kemana lagi. Ujan. akhirnya memutuskan buat pulang aja.

Random se-random-random-nya gw punya bokap, tiba-tiba ada mas totok muka di rumah, jam 11 malem! Baru buka pintu dan assalamualaikum-an, udah 'disambut' teriakan "Del, kamu mau maskeran nggak?" Ya mau lah ya.

Tapi ternyata gw dijebak. Bilangnya cuma masker-an (sekalian totok muka), ternyata disuruh refleksi kaki juga. Mampus. Sakit mampus. Kecapekan, akhirnya ketiduran, dan lupa setor tulisan lagi. AKH!

But overall, i love this day. I LOVE WEEKEND!

Is it just me or being a bride and groom do make people seem... glowing? :)

Hari ke-11: Daily

0 comments
Bangun tidur. Ritual cek HP. Mandi, beres-beres, makan. Ke RS, kontrol kaki, ganti perban. Syok dikit karna sesuatu. Cerita, lumayan bikin lega. Makasih ya :) Ngantor, blablabla. Chatting colongan di jam-jam menjelang pulang. 5 teng pulang. Nyempetin baca buku di jalan sebelom gelap. Sampe rumah, entah kenapa rasanya capek banget, langsung tidur, nggak sempet setoran buat @30haribercerita.

Sekian. Sampah banget emang.

Della 1: "Yaelah sok sibuk luh. Masa nggak bisa sih nyempetin nulis bentar aja?"
Della 2: "Gw kan kalo nulis lama. Bisa sejuta jam sendiri. Ya kali, bahkan pulang kantor nggak pake ganti baju langsung rebahan, tidur. Jam 9 men. Anak SD banget, kan?"
Della 1: "Ah, alasan"
Della 2: "Yah, mungkin emang bener, kalo ada kemauan pasti ada jalan. Kalo males, pasti ada alasan. Maaf deh ya"

Thursday, January 10, 2013

Hari ke-10: Soal PPKN

0 comments
Gw mulai berpikir ulang tentang pertanyaan yang dulu sering keluar di soal ulangan PPKN jaman SD:

Kalau melihat ada uang 1.000 jatuh di jalan, sebaiknya kita........
a. Menyimpannya di kantong
b. Membiarkan saja
c. Menyumbangkan ke mesjid
d. Membaginya dengan teman

Lucu ya, gimana di negara ini, bukan moral yang diajarin, tapi soal mana yang harus dikerjain. Soal macem gini, harus juga dikerjain? Iya, tapi nominalnya ditambahin.

Lucu ya, gimana di negara ini, soal nominal lebih penting daripada moral.

Wednesday, January 9, 2013

Hari ke-9: Laut

2 comments
Nggak kok, nggak salah urutan. Emang sembilan. Dellapannya sengaja gw longkapin. Nggak kok, nggak salah ejaan. Sengaja. Lanjut (lah mulai aja belom).

Tadi pagi, sebelom berangkat kantor, gw sempet nonton sepintas tentang liputan Anang dan keluarga yang lagi liburan ke Maldives. Ngga ngerti lagi lah kerennya itu pulau. Suatu saat, gw mau ke sana. Ralat. Akan ke sana. Aamiin dulu deh, seperti biasa, hehe.

Gara-gara ini, gw jadi inget trip waktu ke Vietnam dan Thailand 2 taun lalu bareng 3 orang temen gw. Dalam 11 hari perjalanan, kami menyisihkan 1 hari buat berkeliling Phuket, tepatnya Phi Phi Island, pulau cantik yang konon katanya pernah jadi lokasi syuting The Beach.

Cantik, cantik banget pulaunya. Kalo pulau itu ibarat wanita dan laut itu pria, mereka emang bener-bener pasangan serasi. Pulau dan laut. Pulaut. Tak terpisahkan. Nenek moyangku seorang pulaut. Gemar mengarung luas samud... Oke, stop sebelom mulai nyanyi.

Waktu itu, pas banget momennya gw lagi 'melarikan diri' dari realita. Entah namanya melarikan diri atau bukan, secara tiketnya udah dipesen dari jauh-jauh bulan. Tapi mungkin, walaupun nggak ada yang namanya kebetulan, anggaplah itu kebetulan.

Dari pertama ngeliat laut dari kapal, gw udah nggak sabar banget mau nyebur dan snorkeling sambil ngasih makan ikan-ikan. Tapi justru, momen-momen paling menentramkan adalah saat gw mengapung pasrah di tengah laut sambil bengong sendirian, rasanya kayak terhisap magisnya lautan. Gw seakan-akan lupa segalanya.

Lupa permasalahan saat itu. Lupa teriknya matahari yang berada tepat di atas kepala, yang sukses membakar kulit gw yang cuma berbalut bikini. Lupa gw masih ada di bumi. Bahkan gw lupa gw masih manusia.

Rasanya gw seolah-olah lagi berada di dunia lain di mana gw bernapas dengan insang, punya sisik, punya selaput, dan berjalan dengan berenang (jadi, berenang apa berjalan?)

Ada di tengah lautan tentunya bikin gw ngga bisa ngeliat apapun di dasarnya. Udah terlalu dalam dan gelap. Tapi biarpun begitu, biarpun gw nggak bisa liat apa-apa, gw nggak butuh liat apa-apa. Gw cuma butuh merasakan. Merasakan kontrasnya suhu air dan panasnya matahari. Merasakan kulit tangan yang semakin mengeriput. Merasakan tiap tarikan dan hembusan napas gw sendiri. Merasakan rasa.

Ah, pesona laut tuh emang ya... memabukkan. Nggak heran ada istilah mabuk laut. Eh, salah istilah ya.

Sekarang, sepertinya gw butuh tempat 'melarikan diri' lagi. Pantai. Laut. Sebentar aja... Sebentar aja... Sebentar aja... kok.

Monday, January 7, 2013

Hari ke-7: Fokus!

2 comments
Sometimes i feel i'm too 'lefty' with no plus point
Gw kidal. Dan stereotype nya, orang kidal itu biasanya pinter, kreatif, intuitif, imajinatif, dan segala sifat yang ke-kanan-an. Biasanya. Gw? Deviant, sepertinya, haha.

Di sebuah perbincangan dengan beberapa orang temen, gw bilang "Somehow i feel like i'm not that kinda people whom people like to discuss with. I guess i'm more functioned when it comes to random chit chat, yes?" Dan salah satu temen gw komentar "Ya nggak heran. Fokus lo kemana-mana"

Jleb. Kampret.

Gw nggak tau ini sebenernya gw doang apa nggak. Gw nggak tau ini sebenernya emang masalah orang-orang kidal pada umumnya apa nggak. Dan gw juga nggak tau sebenernya bagi orang lain ini masalah apa nggak. Tapi gw akui, gw emang seringkali kesulitan untuk fokus. Dan ya, itu masalah buat gw.

Emang apa hubungannya susah fokus sama kidal? Kata berbagai macam penelitian, otak kiri itu kan memproses segala hal secara sistematis, sementara otak kanan bekerja secara acak. Dan orang kidal itu otak kanannya lebih dominan. Itulah salah satu faktor yang mungkin menyebabkan susah fokus. Orang kidal susah fokus. GW susah fokus.

Oke, ralat. Bukan susah fokus, tapi “fokusnya kemana-mana”. Tapi yah, yang namanya fokus tuh ya ke satu tujuan. Kalo kemana-mana, blur dong? Eh, sama aja ya berarti, jatohnya susah fokus juga, lebih tepatnya, susah nentuin fokus. Ya gitu deh pokoknya.

Kadang ya, gw mikir, jadi kidal itu tantangannya lumayan juga. Dari mulai segala peralatan yang emang didesain untuk pengguna tangan kanan (gunting, gitar, kursi-meja lipet yang biasa buat kuliah, dll), komentar "kok makannya pake tangan kiri?", infus yang biasanya ditaro di tangan kiri kalo nggak dibilang "di kanan aja, saya kidal", senggol-senggolan tangan kalo lagi makan bareng berdampingan dan salah posisi, sampe soal alur berpikir yang terlalu 'otak kanan' ini.

Soal alur berpikir yang terlalu ‘otak kanan’ ini, orang-orang yang kenal gw udah tau banget deh betapa "ratu random" nya gw. Ini bukan gw loh yang ngasih gelar, tapi mereka. Semena-mena emang, zzz, tapi ada benernya juga sih, gw anaknya otaknya emang suka berantakan, fokusnya acak-acakan, hahaHIKS.

Harusnya mah gw bersyukur ya, karna orang kidal itu langka. Dan harusnya gw juga bersyukur dikasih otak kanan yang lebih dominan, karna berarti harusnya gw berbakat ngelakuin apa-apa yang berhubungan dengan kreativitas. Harusnya. Karna sampe sekarang, gw nggak ngerasa gw kreatif. Banyak orang yang non-kidal yang bahkan jauh lebih kreatif dibanding gw. YAIYALAH! Di atas langit masih ada langit, kan?

Ah yaudalah ya. Daripada makin ngelantur nggak karuan, mending disudahi saja. Kayaknya perlu deh nih nambah daftar buat resolusi taun ini: lebih fokus. Terutama pada tujuan hidup. Halah.

Dan juga pada apa yang gw punya sekarang. Mungkin, gw cuma kurang bersyukur :)

Sunday, January 6, 2013

Hari ke-6: Scar

0 comments
"Our scar has a way to remind us that the past is real" -Red Dragon (2002)
With or without this scar, everything has its way to remind me that the past is real. Remind me that those times are real. Were.

But it's okay. With or without this scar, i'm still okay, like i'm okay with or without you. Life goes on okay so far.

So, thank you for supporting me for a year and 21 days. Now it's time to say good bye for good reason. Thank you for being with and (finally) without me.

RS Siaga, Jan 5th, 06.06 PM. Same pain, different case. Well, not that bad. Alhamdulillah :)


Hari ke-5: #11 A Face to Call Home - John Mayer

0 comments

Dear,
Kesayanganku di Ujung Dunia Bagian Sana

Hai, apa kabar? Haha, basi ya aku tanya kabar.

Tapi aku serius mau tahu kabarmu. Saat ini dan setelah kamu membaca suratku nanti.

Aku serius mau tahu kabarmu. Saat ini dan setelah aku pulang nanti.

Aku serius mau tahu kabarmu. Saat ini dan setiap saat.

Jadi, apa kabar? Tolong jangan jawab "baik-baik saja" walaupun aku pastinya berharap kamu benar baik-baik saja.

Walaupun kamu belum bertanya, walaupun aku tidak tahu kamu mau tahu kabarku atau tidak, aku beritahu saja dulu. Aku di sini tidak baik-baik saja. Selain karna musim dingin yang menusuk tulang, pembahasan terakhir kita lebih menusuk pikiranku.

Tentang kecemasanmu kepadaku. Tentang keraguanmu pada jarak yang membentang. Tentang ketakutanmu akan kegagalan. Tentang segalanya yang menghantuimu. Pilihan. Komitmen. Masa lalu. Dengannya.

Tentang kecemasanku kepadamu yang mencemaskanku. Tentang ketidakpercayaan diriku untuk meyakinkanmu mengenai jarak yang membentang. Tentang keinginanku untuk berhasil. Tentang segalanya yang menghantuiku. Pilihan. Komitmen. Masa depan. Denganmu.

Kamu boleh tidak percaya. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk membuatmu percaya. Aku tidak pandai berkata-kata, tapi mungkin sebait lagu ini bisa mewakili:

A face to call home
A face to call home
You got a face to call home

Kamu, rumahku.

Email sent.

###

1 email received.

Then go home soon.

Email sent.

###

1 email received.

Soon, my home :)

Email sent.

--------------------------------------------------------------------------------

Terinspirasi dari cerita seorang teman, dimana gw udah janji bikin 1 cerita fiksi buat dia. Kenapa tagarnya #11? Karna gw udah berkomitmen buat nyelesaiin proyek #30harilagukubercerita dengan 30 cerita dari 30 lagu di bulan September yang lalu. Masih ada 19 lagu lagi, dicicil deh, entah butuh waktu berapa lama. Bisa nggak ya selesai bulan ini? Mari dicoba dulu aja.
"I mean what I say, I say what I mean" - Dr. Seuss

Friday, January 4, 2013

Perjalanan

2 comments
Dini: "Gw pengen ke Jepang sama lo sama Yuni"

Gw: "YUK ke Jepang!"

Dini: Iya itu mimpi gw dari SMA. Inget nggak kita pernah janjian kalo udah gawe mau ke Jepang bareng atau ke mana deh yang penting luar negeri. Bertiga aja"

Ya ampun, masih inget aja ini anak. Sekarang, gw udah kerja. Yuni udah kerja. Di BI pula. Gaul banget. Dini akan kerja di Bank Mandiri. Ini temen-temen gw kenapa pada gaul-gaul amat deh karirnya.

Gara-gara ini, gw jadi inget satu lagi mimpi dari SMP: ke Singapore bareng Karina sama Rasti. Cetek banget emang khayalan bocah-bocah. Di jaman itu blom ada Air Asia, Jet Star, dan kawan-kawannya. Tiket pesawat masih mahal dan pergi ke luar negeri bareng temen-temen, untuk ukuran anak SMP tuh masih di angan-angan banget kayaknya.

Trus tau-tau Rasti kuliah di Singapore dan yang ada malah Karina duluan yang ke Singapore bareng Rasti, sementara gw jadinya ke Jepang bareng Karina, dan HAMPIR ketemuan sama Rasti di Hongkong. Tapi pergi bertiga, bahkan ke tempat sedeket Singapore, belom juga. Boro-boro, Bandung doang aja belom pernah.

Lucu ya gimana seiring perubahan waktu dan pertambahan umur, persepsi tentang jarak juga jadi berubah. Dulu kayaknya Singapore tuh ja u u u h b a n g e t, tapi sekarang kayaknya deketbanget. Padahal mah jaraknya podo wae.

Dan sebetulnya, esensi dari sebuah perjalanan itu bukan tempat tujuan, tapi petualangan di perjalanan. Yang bikin perjalanan jadi menyenangkan itu bukan ditentukan oleh penginapan, makanan, atau kendaraan, tapi oleh rekan seperjalanan. Bukan berapa banyak belanjaan yang dibawa pulang, tapi berapa banyak kisah yang bisa diceritakan ulang.

Sekarang udah pada gawe, jadiin kenyataan, yuk? Taun ini bisa nggak ya? Haha, orang gila maruk. Yah, punya mimpi gada salahnya lah ya. Sama satu mimpi lagi, hihi, tapi rekan seperjalanannya belom ketemu. Aamiin dulu aja deh.

Well, you'll never know where dream will lead you to anyway, yes? ;)

Hari ke-4: Facialalala

2 comments
"Facial itu ibarat lalala tak ada logika. Udah tau sakit, tapi nggak kapok-kapok" -Tweet gw seminggu yang lalu.
Jadi, minggu lalu gw abis facial. Itu pertama kalinya gw facial beneran. Lah, emang sebelumnya boongan? Yaaa.. Anggap saja begitu. Cuma totok muka, masker, dan dikasih krim-kriman nggak jelas, nggak pake acara bersihin komedo, jerawat, atau apalah itu.

Ternyata facial itu sakit. Banget. BOK! Nggak abis pikir deh gw. Udah tau rasanya kayak penyiksaan dunia akhirat begitu, masih aja orang tetep pada rutin facial. Ckck. Emang ya, facial itu tak ada logika kalo kata Agnes Monica.

Waktu gw facial, ada seorang cowok yang sepertinya dijebak sama ibunya buat facial. TOS, MAS! SAYA JUGA! Sepanjang facial, dia heboh "Gila sakit banget ini sumpah!" Dan mbak yang nge-facial dia dengan santainya bilang "Sabar mas, biar mukanya mulus."

Dari situ gw belajar, facial itu bukan tentang mbaknya yang bangke mencet-mencet tusuk-tusuk muka seenaknya, yang dengan lempengnya bilang "Peeling dulu ya. Rasanya kaya krenyet-krenyet digigit semut." Mamam noh digigit semut. Ini mah namanya ditombak pasukan Aragog.

Jadi, kalo bukan tentang dendam Gunung Berapi ke mbak facial, tentang apa dong? Tentang sakitnya facial untuk muka yang lebih baik, lebih terawat. Kayak yang mbaknya bilang "Biar mukanya mulus". Yazek. Mamam noh mulus.

Sama kayak lalala. Bukan tentang yang dijatuhi lalala yang brengsek selingkuh sana-sini, yang ngasih harapan tapi nggak ngasih kejelasan (ciyan PHP. Penerima Harapan Palsu), yang hobinya ngajak berantem, yang bikin nangis sebaki tiap malem, atau yang lainnya.

Yak, yang galau yang galau, tisunya Kak tisunya.

Lalala dan segala perihalnya itu, sejatinya (cie sejatinya) adalah tentang rasa lalala itu sendiri. Rasa yang diiringi keinginan untuk jadi lebih baik, setelah apa-apa yang bikin sakit. Rasa yang menguji kemulusan hati, seperti mulusnya muka setelah di-facial. Beuh. Salam super.

Jadi, sekarang gw mulai paham kenapa orang nggak kapok-kapok facial walaupun sakit dan mbaknya ganti-ganti #eh ;p

Thursday, January 3, 2013

Hari ke-3: Monolog

0 comments
Gw suka monolog. Kayak orang gila ya? Nggak kok, gw masih waras. Sepertinya. Haha. Bagi gw, monolog adalah ajang mengenal diri sendiri. Katanya, tak kenal maka tak sayang. Jadi, monolog itu salah satu cara buat sayang sama diri sendiri. Eaaa. Apa sih, Del.

Duh, gimana ya ngejelasinnya? Gini. Orang pertama yang akan kena dampak dari tiap-tiap keputusan yang gw buat ya gw sendiri. Orang pertama yang ngejalanin keputusan-keputusan itu ya gw-gw juga. Jadi, wajar dong ya kalo gw berdiskusi sama diri sendiri sebelom memutuskan dan menjalankan?

Lagipula, ada saat-saat dimana lo nggak bisa mengandalkan siapapun buat menolong lo. Ada saat-saat dimana yang bisa lo andalkan cuma doa. Dan dalam doa, lo sebetulnya ngomong sama diri sendiri, kan?

"Ah kata siapa? Gw berdoa sama Tuhan kok" Hmm.. Katanya, Tuhan itu lebih deket dari urat nadi manusia, kan? Seberapa deket? Ya sedeket lo dan diri lo sendiri. Jadi?

Jadi, gw nggak gila kan kalo suka monolog? Okeh, mungkin belom, haha.

Wednesday, January 2, 2013

Hari ke-2: Telor, Teh, dan Abon

0 comments
Temen: "Si X kan ya waktu kuliah, pernah disuruh presentasi tentang pariwisata di negara masing-masing. Nah, dia milih presentasi tentang kuliner Indonesia. Orang mah ya normalnya jelasin tentang masakan daerah ya. Padang kek, Sunda kek, apa kek gitu. Tapi malah yang dia presentasiin itu "Jadi, di Indonesia, telor itu asin. Terus jangan kaget kalo teh di sana tuh pake gula" Huahaha, dodol"

Gw: "Trus orang-orang di sana gimana reaksinya?"

Temen: "Ya pada "WAH!" gitu ternyata, karna disana kan telornya manis, tehnya tawar. Emang deh ya kadang tuh hal-hal yang kita anggep biasa bisa jadi hal baru buat orang lain"

###

Jadi inget waktu gw pergi ke Jepang dan ikut serangkaian tur selama seminggu dimana peserta turnya adalah orang-orang dari mancanegara. Di sebuah acara makan malam, kami tuker-tukeran makanan. Gw dan temen gw bawa abon. Alesannya simpel: nggak mau repot. Haha, anak masa kini banget ya, senengnya yang praktis-praktis.

Tanpa disangka-sangka, perihal perabonan ini jadi sesuatu yang menarik. Lucu deh ngeliat gimana orang-orang yang belom pernah liat abon, tertarik sampe segitunya. Ada vegetarian yang akhirnya terhasut buat nyobain karna penasaran, padahal itu kan daging sapi. Ada juga yang ngeliatin, ngendus-endus, dan megang-megang sebelom dimakan, saking penasaran gimana ngolahnya sampe jadi serabut kayak gitu. Dan semaleman itu, abon sukses jadi selebritis, haha.

Perbedaan itu emang selalu menarik ya. Gw yang selama ini nganggep abon sebagai makanan biasa yang gampang ditemui dimana-mana, jadi senyum-senyum geli ngeliat gimana abon doang diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa, makanan spesial. Hihi.

Bener kata temen gw. Kadang apa yang kita anggep biasa aja, ternyata bisa jadi hal baru buat orang lain. Kadang kita ngga sadar, rumput yang kita punya, yang kita anggep ngga lebih baik dari rumput tetangga, ternyata unik dan menarik juga.

Ah, jadi pengen makan nasi pake telor + abon deh jadinya. Terus minumnya teh manis anget. Nyam!

Tuesday, January 1, 2013

Hari ke-1: Indonesia di Mata Orang Jepang

5 comments
Review buku ini bisa dibaca di sini

Pertama kali liat buku ini di toko buku, gw langsung tertarik sama sampulnya. Haha, anak sampul banget ya. Waktu itu, gw lagi iseng liat-liat rak buku yang jarang gw lewatin, sembari nunggu temen. Gw iseng buka-buka halamannya dan baca sepintas lalu.

Hari ini, lagi-lagi, sembari nunggu temen, gw kembali menghampiri rak di mana buku itu berada. Berhubung nunggu 'cukup' lama (baca: 4 JAM! Mamam noh 'cukup'), gw jadi punya kesempatan buat baca-baca gratisan agak lama. Lumayan lah.

Penulis berkebangsaan Jepang ini bercerita tentang Indonesia di matanya, sesuai judul bukunya. Menarik banget ngeliat gimana pandangan orang asing terhadap negeri ini. Orang dari negara maju, yang cukup lama tinggal di negara berkembang, Indonesia.

Baca buku ini, gw tercenung. Malu. Kato-san, sang penulis, orang asing, bahkan bisa sebegitu cintanya sama Indonesia. Gw sebagai bangsa Indonesia, apa kabar? Oke, mari introspeksi diri.

Terus, apa yang mau lo lakuin, del? Gw mau mulai membiasakan diri pake huruf kapital dengan baik dan benar, juga ngga mencampur adukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, kecuali emang nggak ada atau susah cari padanan kata dalam bahasa Indonesianya.

Dimulai dari hal sesimpel penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, walaupun belum sepenuhnya "baik dan benar", semoga bisa sedikit membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Kira-kira, seberapa lama ya gw bisa bertahan? Secara kosakata bahasa Indonesia gw kan cetek, haha. Yah, mari kita lihat aja nanti.

#30haribercerita

2 comments
Lagi buka timeline dan liat twitnya Rima tentang #30haribercerita. Penasaran, itu apa ya? Blom ada jawaban, akhirnya gw gerak buat cari tau. Jiwa stalker bergejolak. Haha.

Oh, ternyata tentang proyek menulis selama 30 hari toh. Hmm.. Ikutan (lagi) apa nih? Yaudah, coba deh. Januari tahun lalu berhasil bikin sampe 50 posting dengan waktu luang segudang, mari kita lihat gimana dengan tahun ini, setelah proyek #30harilagukubercerita, yang cuma berhasil bikin 10 cerita dari target 30 cerita itu. AH! Iya juga ya, lanjutin aja deh, melunasi janji.

Sip. Udah daftar. Semoga berhasil.