Posts

Showing posts from January, 2013

#30haribercerita FIN

Oke, sekarang mau bongkar rahasia, haha. Sebetulnya, gw udah pernah berkali-kali iseng ikut proyek nulis rutin tiap hari selama 30 hari, jadinya sekarang cukup terbiasa.

Dari sekian kali nyoba, yang berhasil baru Januari taun lalu sama Januari taun ini. Januari taun lalu malah rekor bisa posting 50 tulisan dalam sebulan, sementara Januari taun ini nggak sampe sebanyak itu.

Walaupun begitu, sebetulnya nggak bisa dibandingin sebagai indikator kesuksesan, karna tingkat kesulitan dan tantangan Januari taun lalu dan taun ini agak beda.

Waktu itu, gw super nggak bisa ke mana-mana gara-gara kaki masih patah. Bisa sih ke mana-mana, tapi rempongmania, harus pake kruk atau kursi roda. Walhasil, nulis mulu deh kerjaannya, karna emang nggak ada kerjaan, haha.

Sedangkan yang sekarang, gw udah kerja, udah sehat, dan udah dituntut untuk 'hidup dengan ritme cepet' lagi, jadinya emang harus pinter-pinter colongan nulis.

Di kantor bisa sih colongan nulis kalo kerjaan udah kelar, tapi seringnya …

Hari ke-30: SELESAI!

SELESAI!

Proyek #30haribercerita yang aturan mainnya gini edisi Januari selesai! Yeaaay! Wohooo! Yatta~

Sebagai pengganti postingan kedellapan yang sengaja nggak dibuat, gw bikin dellapan klasifikasi tulisan aja kali ya, dengan kategori suka-suka gw:

1. Pembahasan dari buku Kangen Indonesia, Cinta Tidak Harus Mati, dan Brainworks
2. Insight dari telor, teh, dan abon, facial, copot pen, dan pantangan makan kacang
3. Cerpen tentang rumah, Putri Salju, pelangi, dan cerbung tentang tomat
4. Daily report 1, 2, 34 dan recap-an 4/5 postingan (nanggung amat)
5. Mood-mood 'miring' tentang monolog, fokus, 'melarikan diri'korupsi, hujanbanjir, dan insecurity
6. Berkontemplasi di postingan "Question?" dan "What if..."
7. Cerita ngalor ngidul tentang kenapa menulis
8. Tulisan entah-apa-sebutannya di postingan "Donor hati" dan "Hey"

Kalo ditotal, jadinya 28. Eh, sama yang ini jadi 29 deng. Tapi ada 1 bonus tulisan tentang keinginan jalan…

Hari ke-29: Maximizer vs Satisficer 2

Bangun kepagian, siap-siap kepagian, berangkat kepagian, jalanan (ALHAMDULILLAH BANGET) lancar (untuk takaran Jakarta ya), nyampe kantor kepagian, akhirnya jadi punya waktu yang lumayan buat fokus baca Brainworks, dan nemu sub-bab yang cukup menjawab pertanyaan gw di sini.

Ah, senangnyaaa! Ini buku menarik banget deh, super layak baca buat orang-orang yang penasaran, gimana sih sebetulnya kerja 'direktur' badan kita itu?

Oot dikit. Ini ngeselin loh. Bokap gw, pas liat gw nenteng-nenteng buku ginian, malah komen "Ah kamu kok beli buku nggak ada hubungannya sama kerjaan? Sayang ah duitnya kamu beli buku mahal-mahal"

Ngeselin soalnya dulu bokap pernah bilang "Papa sih nggak pernah sayang kalo buat beli buku" trus sekarang komennya nggak konsisten gitu. ISSSH, bikin sewot deh (anaknya lagi sensian, haha).

Oot selesai. Lanjut. Salah satu sub-bab yang gw baca adalah tentang pilihan. Tentang gimana manusia memutuskan. Tentang paradoks dalam memilih.

Dibuka dengan …
What's with those "I don't use 'I' and do humble brag" thing, I wonder.

Lalala.

Hari ke-28: Daily 4

Image
Nggak bosen-bosennya gw menyatakan bahwa gw cinta akhir pekan secinta-cintanya.

Di akhir pekan terakhir di bulan ini, seperti yang udah gw tulis di sini, Sabtu-Minggu gw diwarnai dengan hal-hal yang berbau-bau pernikahan.

Sabtu.

Nikahan Mira di Serang. Berangkat jam 5 pagi, padahal travel jam 1/2 6. Jeng jeeeng! Telat gara-gara gw kesiangan. Iya, ini murni salah gw emang. Begadang, nggak masang alarm, dan cuma ngandelin alarm otak dan alarm nyokab. Maaf ya.

Ternyata sampe sana kecepetan. Masih teler gara-gara kurang tidur. Ngerecokin sang manten sblom akad nikah, haha. Akad nikah, momen-SAH, resepsi, daaan... makan kacang. Tepatnya sate ayam. Bodo ah. Dikit.

Anak-anak binatang Taurus emang termager seplanetbumi deh. Di kala yang lain pada muter-muter entah ngapain, 4 anak ini diem ngejogrok di kursi, nggak beranjak sampe waktu makan tiba.

Sesi foto-foto. Sesi ngobrol-ngobrol. Pengantinnya ganti baju. Sesi foto-foto bagian 2. Pulang. Ternyata 3x ganti baju, tapi berhubung udah balik, ja…

Hari ke-27: What If...

What if...

You are not who you are, but who you were?
Is it called consistency or simply stuck in your old self?

What if...

You're given a chance to be anything you're not for a while?
Will you miss your old self?

What if...

I'm anything but me?
Am I? Will I? Can I?
Wow wow wow wow wow. Luar biasa! Tepuk tangan dulu yuk pemirsa. Lagi menggali lubang sendiri atau apa?

Hari ke-26: Maximizer vs Satisficer

Salah satu bahasan dalam buku "Cinta Tidak Harus Mati" nya Henry Manampiring:
###
Gue pernah baca di buku The Paradox of Choice oleh Barry Schwartz bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut "Maximizers", yang satu lagi "Satisficers".
Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang terbaik (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik.
Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari menurut kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan "cukup memuaskan", ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.
Bayangkan skenario mencari LCD TV.
Si maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai "10".
Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, da…

Hari ke-25: Recap

Jadi, sampai hari ke-25 ini, gw udah bikin dosa 4 kali ngerapel tulisan.

1 hari, karna nggak ada internet, tapi tetep nulis di draft HP dan tinggal disalin. 1 hari, karna pulang-pulang capek banget, langsung tidur, dan nggak sempet nulis (alesan banget emang). 1 hari karna lupa. Dan 1 hari lagi, karna posting-nya di atas jam 12, jadi jatohnya udah ganti hari.

Yaaah.. lumayan lah ya (menghibur diri).

Sisa 5 hari lagi (plus 1 hari yang sengaja dilongkapin). Semoga bisa konsisten, karna rasanya makin hari makin males aja, haha. Untung aja nggak terlalu mati gaya, karna mau sebosen apa pun, selalu ada cerita tiap harinya. Bahkan bosen pun bisa diceritakan, kan?

Hari ini abis jalan seharian sama peer iklan plus hana dan anggi. Kalo mau nge-recap, hari-hari libur gw kayaknya banyak diisi dengan ketemu ini-itu, update cerita, berita, dan bertegur-sapa atau waktu bareng keluarga.

Ih, cinta hari libur banget lah pokoknya! Semenjak mulai kerja dari 6 bulan yang lalu, berasa banget deh betapa be…

Hari ke-24: Donor Hati

Berjingkat-jingkat kamu mendekat
Awalnya kaucuri informasi
Lalu hati
Lalu kau kembalikan lagi

Sayang,
Ini tidak utuh!
Kau apakan saja selama ini?

Kembalikan,
Kembalikan seperti sedia kala, Sayang

Mau aku donorkan
Pada yang membutuhkan

Bukan,
Bukan padamu, Sayang

Tenang saja.

###

Tulisan lama yang terinspirasi dari tulisan #fiksimini seorang teman. Izin pinjem dikit ya kata-katanya.

Hari ke-23: Daily 3

Ketiga kalinya dalam bulan ini gw nulis tentang keseharian. Yang dua sebelumnya, rentang waktunya berdempetan. Yang sekarang, agak jauh. Yaudalah ya.

Seperti biasa, seperti Senin Selasa Rabu Kamis Jumat biasanya, gw ngantor. Bangun, ritual cek HP, mandi, makan, bermacet-macet ria, kerja, dan bermacet-macet ria lagi.

Kenapa ya di saat gw mulai ngerasa nyaman, malah justru bikin bosen? Serba salah sih, saat banyak hal yang butuh adaptasi, gw nya galau uring-uringan sendiri. Sekarang, saat udah terbiasa dengan pola, gw nya butuh sesuatu yang menarik dan lebih menantang.

Ah, manusia.

Ngomong-ngomong soal manusia, tadi siang gw ngecek Twitter, iseng buka bagian settings, siapa tau udah bisa request Twitter archive. Eh ternyata bisa loh, Saudara-saudara sekalian! Dan ini sebetulnya nggak ada nyambung-nyambungnya sama 'ngomong-ngomong soal manusia'. Bodo ah.

Dan jadilah gw semacam anak kurang kerjaan (padahal kerjaan udah ngantri dari tadi), baca ulang twit-twit awal. Sungguh err pak…

Hari ke-22: Tomat

"Ah, lagi-lagi, isi biodata. Menyebalkan!" Repetku.

Aku bingung ya, kenapa ya, hidup itu penuh dengan kotak-kotak. "Kamu buah atau sayur?" Ah, sampai bosan sekali aku mendengar pertanyaan itu dari para buah dan sayur. Kalau aku tak mau jadi keduanya, bagaimana? Salah?

Oh ya, aku belum mengenalkan diri ya? Namaku Tomat. Aku sebuah... ah, sudahlah, jangan bahas itu. Buah, sayur, buah, sayur, buah, sayur, aku tidak tahu dan tidak peduli. Jadi, panggil saja aku Tomat ya.

(Bersambung...)

Hari ke-21: Hey

Hey there,

How's life going? Still try to reach your dream or already reach it?

With curiosity,
The wondering one but not dare to ask

Hari ke-20: Insecurity

Image
Di suatu kunjungan ke rumah, seorang tante gw ngomong sama anaknya, sekitar 4-5 taun, "Coba Bengbeng (bukan nama sebenarnya), cantikan mana, kakak Chocolatos (bukan nama sebenarnya juga) apa kakak Della?"

Kemudian Bengbeng menunjuk dengan malu-malu ke arah Chocolatos.

Nyokab ketawa dan menimpali, "Ya kakak Chocolatos soalnya putih ya"

Rese emang deh, keluarga gw hobi banget komentar "gembel banget sih Del" "kamu item banget sih" "dandan dikit kek" dan lain-lain.

Sampe pernah bokap gw yang... w4'daHg4x'n6ertYa9y, bawa sabun muka herbal bentuk beruang, beserta paket krim pagi-malem buat gw. Malem-malem. Pulang dari kantornya di Semarang.

...
...
...

Nggak tau deh harus terunyu-biru apa termangu. Random dad is random, indeed.

Biasanya yang beginian nggak gw peduliin. Mau item kek, gembel kek, apaan kek, nggak bikin gw ngerasa terintimidasi. Jadi, bodo amat, terserah deh mau komen apaan.

Yah, walaupun paketan beruang random itu tet…

Hari ke-19: #12 Pelangi di Matamu - Jamrud

Image
"Eh, ada apaan tuh?" Kamu menunjuk mataku. Keningmu berkerut.

"Hah?" Aku refleks memegang mataku.

"Oh, pelangi toh"

Aku tergelak, "Lo mau tau nggak kenapa di mata gue ada pelangi?"

"Contact lens?"

"Demi apa pun, asli, fail banget sih, Tuan Benizolaaa. Karna gue abis ujan dan lo mataharinya. Ah kan, anti klimaks"

Kamu tertawa, namun sedetik kemudian air mukamu berubah serius, "Kei, jangan sering-sering ujan ya"

"Ben, lo lagi kesambet apa sih? Tumben banget. Mendadak gombal, mendadak fail, sekarang mendadak serius. Udah ah, gue laper. Para 'mendadak' lo itu bikin laper tau ngga? Hahaha. But anyway, makasih ya udah mau nemenin makan. Emang the best sobat in town banget deh lo. Mau pesen apa nih?" Aku membuka buku menu dan mulai memilih-milih makanan.

"Saya nggak lagi gombal dan saya pesen kamu"

"Ben, apaan sih?"

"Saya serius. Saya pesen kamu nggak sering-sering ujan. Saya pes…

Hari ke-18: Question?

"Tell me, what do you want?" This question haunted me lately. And later than lately. And later than later than lately. And later than forever but not later than never. Hence, I've been searching for the answer.

This morning, I found mindfucking quote from Murakami:
"Good questions never have answers" And for that question, is it considered as good question? Do I have to keep searching for the answer? Will I be haunted by it forever? What do I want? Tell me, what should I do?

Good question.

Hari ke-17: Banjir

Hari ini, Jakarta jadi artis ibukota. Ibukota yang jadi artis ibukota. Penuh sorotan media massa, juga heboh di linimasa.

Baru aja kemaren gw ngebahas tentang hujan yang dramatis. Sekarang? Miris. Banjir dimana-mana. Anak sekolah, mahasiswa, dan para pekerja mau nggak mau harus siap terhambat aktivitasnya.

Penduduk yang rumahnya tergenang mau nggak mau harus siap mengungsi. Belom lagi penyakit-penyakit yang mau nggak mau harus siap menyerang nanti, saat pasca banjir.

Salah siapa?

Katanya, hujan itu berkah. Tapi beberapa hari ini emang 'berkah' nya terlalu melimpah, dan mungkin karna manusianya serakah, maunya semuanya ditampung di satu wadah, makanya jadi musibah.

Salah siapa?

Nggak usah saling tunjuk. Inget, jari yang menunjuk itu cuma telunjuk. Sisanya, mengarah ke kita.

Hari ke-16: Hujan

Gw nggak suka hujan. Nuff said.

Kata orang, hujan itu romantis, punya bius mistis yang membuat para pecinta kata melahirkan sajak-sajak puitis.

Kata gw, hujan itu dramatis, terutama di Jakarta. Hujan, banjir, dan macet. Ibarat pop corn dan minuman bersoda yang dijual di bioskop 21, mereka udah sepaket.

Rain rain, go away
Come again another day

Rain rain, go away
Come again some other day

Little Johnny wants to play In the meadow by the hay
Rain rain, go to Spain
Never show your face again

Rain rain, pour down
But not a drop on our town

Rain on the green grass
And rain on the tree

And rain on the housetop
But not on me

Sama kayak si Little Johnny yang kesal karna nggak bisa main di luar gara-gara hujan, gw pun sama. Hujan yang turun merusak segala rencana.

Tapi mungkin gw bisa dibilang orang yang beruntung kali ya? Karna seringkali, hujan datang di saat gw lagi berada di tempat yang teduh, jadi nggak kebasahan. Btw, kenapa hujan harus ke Spanyol ya? Abaikan.

Hmm.. Hujan, kamu udah tau ya kalau aku n…

Hari ke-15: Kenapa Menulis?

"Apa sih alasan kalian nulis? Lalu motivasinya apa?" -@30haribercerita Hmm.. kalau gw bilang karna gw suka, kuat nggak alasannya? Sebenernya bukan soal kuat atau nggak sih, cuma hmm.. gimana ya ngejelasinnya?

Pernah nggak sih lo kebingungan sendiri saat ditanya kenapa lo melakukan sesuatu? Karna nggak ada alasan lain selain karna suka. Dan kalau ditanya kenapa suka, cuma bisa bilang "Nggak tau, suka aja"

Sama kayak kalau lagi suka sama seseorang dan nggak bisa jawab kenapa. Karna suka itu nggak selalu harus punya alasan kan?

Kalau ditanya soal motivasi, motivasi apa dulu nih? Motivasi nulis apa motivasi nulis blog apa motivasi nulis blog selama 30 hari apa motivasi nulis blog selama 30 hari dan disebarluaskan di Twitter? Haha, ribet.

Kalau motivasi nulis, karna pengen, butuh, dan harus. Gw pengen mengenang dan dikenang, maka gw nulis. Gw butuh penyalur emosi, maka gw nulis. Gw harus menyampaikan sesuatu, maka gw nulis. Sesimpel itu, sekaligus nggak sesimpel itu.

#…

Hari ke-14: Kacang

"Kamu jangan makan kacang dulu ya"

"Kenapa?"

"Ya itu pantangannya"

"Kacang apa aja?"

"Sementara pokoknya segala jenis kacang-kacangan jangan dulu"

"Cuma sementara kan?"

"Ya kemungkinan bisa selamanya"

"Sama sekali nggak boleh?"

"Sebaiknya dihindari"

Yauda deh, bye bye Silverqueen Rock'r. Rujak. Gado-gado. Siomay. Batagor. Ketoprak. Bubur ayam sambel kacang. Nasi uduk sambel kacang. Sate. Kacang Bali. Kacang goreng-rebus-bakar-apapun. Segala jenis coklat berkacang. Selai kacang. Dan lain-lain.

Kenapa ya kalo udah gini malah justru pengen banget makan kacang dan turunannya? (Turunan apaan sih? Eksponensial?) Lucu ya manusia. Seringkali hobinya menginginkan yang dilarang dan mengabaikan yang di depan mata.

Yaudalah ya, cuma kacang. Untung cuma kacang.

Hari ke-13: Putri Salju

Pada suatu hari, di sebuah istana yang megah, hiduplah seorang raja dan permaisuri. Sang Permaisuri sedang mengandung. Saat sedang santai berdua, Sang Raja bertanya.

"Wahai Adinda, bagaimana ya kira-kira rupa anak kita?"

"Kulitnya pasti putih, seputih salju yang sedang turun, bibirnya merah seperti apel yang ranum, dan rambutnya pastilah sehalus benang sutera"

"Hmm.. Bagaimana kalau kita beri nama putri kita 'Putri Salju', Adinda?"

"Bagaimana kalau dia lelaki, Kakanda?"

###

Menginjak usia kandungan yang semakin membesar, Sang Permaisuri mulai sakit-sakitan. Beberapa bulan setelahnya, Sang Permaisuri melahirkan seorang bayi mungil yang cantik, persis seperti tebakannya. Namun kondisi Sang Permaisuri semakin memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

Sang Raja sangat sedih telah kehilangan sosok yang sangat dicintainya, namun ia tahu ia tidak boleh berlama-lama merasa murung. Ia tetap harus melanjutkan hidupnya dan hidup semua orang yang membutuhk…

Hari ke-12: Daily 2

Image
Hari ini supeeer menyenangkan. Berbeda dari kemaren yang mana gw nulis tentang keseharian untuk 'kejar setoran', kali ini karna gw pengen.

Dari semalem udah diultimatum buat on time janjian sama Syilfi, nggak boleh telat ke akad nikah Nyanya. Ternyata Syilfi datengnya kecepetan. Akhirnya buru-buru dandan kilat, lalu berangkat.

Nyampe tempat Nyanya, Binatangan jurusan non-Bintaro udah dateng duluan (Binatangan: istilah untuk temen-temen main di kampus. Kenapa Binatang? Karna kalo udah soal makan, barbar kayak Binatang. Karna kalo udah ngumpul, berisik kayak di Kebun Binatang).

Akad Nyanya dimulai. "Terharu gw", si Mama Maya matanya berkaca-kaca. Sooo.. emak, hahaha. Omo flu, bolak-balik keliatan tisu-an mulu. Nyanya nggak keliatan, mukanya ketutupan orang di depan. Kalo gw berdiri, nabrak kipas angin. Sial. Yaudalah ya, yang penting sah ya, Nyonya Omo :)

Selesai akad. Makan-makan. Acara lempar bunga, saweran, injek telor, dll. Highlight obrolan: kerjaan dan 'kulia…

Hari ke-11: Daily

Bangun tidur. Ritual cek HP. Mandi, beres-beres, makan. Ke RS, kontrol kaki, ganti perban. Syok dikit karna sesuatu. Cerita, lumayan bikin lega. Makasih ya :) Ngantor, blablabla. Chatting colongan di jam-jam menjelang pulang. 5 teng pulang. Nyempetin baca buku di jalan sebelom gelap. Sampe rumah, entah kenapa rasanya capek banget, langsung tidur, nggak sempet setoran buat @30haribercerita.

Sekian. Sampah banget emang.

Della 1: "Yaelah sok sibuk luh. Masa nggak bisa sih nyempetin nulis bentar aja?"
Della 2: "Gw kan kalo nulis lama. Bisa sejuta jam sendiri. Ya kali, bahkan pulang kantor nggak pake ganti baju langsung rebahan, tidur. Jam 9 men. Anak SD banget, kan?"
Della 1: "Ah, alasan"
Della 2: "Yah, mungkin emang bener, kalo ada kemauan pasti ada jalan. Kalo males, pasti ada alasan. Maaf deh ya"

Hari ke-10: Soal PPKN

Gw mulai berpikir ulang tentang pertanyaan yang dulu sering keluar di soal ulangan PPKN jaman SD:

Kalau melihat ada uang 1.000 jatuh di jalan, sebaiknya kita........
a. Menyimpannya di kantong
b. Membiarkan saja
c. Menyumbangkan ke mesjid
d. Membaginya dengan teman

Lucu ya, gimana di negara ini, bukan moral yang diajarin, tapi soal mana yang harus dikerjain. Soal macem gini, harus juga dikerjain? Iya, tapi nominalnya ditambahin.

Lucu ya, gimana di negara ini, soal nominal lebih penting daripada moral.

Hari ke-9: Laut

Nggak kok, nggak salah urutan. Emang sembilan. Dellapannya sengaja gw longkapin. Nggak kok, nggak salah ejaan. Sengaja. Lanjut (lah mulai aja belom).

Tadi pagi, sebelom berangkat kantor, gw sempet nonton sepintas tentang liputan Anang dan keluarga yang lagi liburan ke Maldives. Ngga ngerti lagi lah kerennya itu pulau. Suatu saat, gw mau ke sana. Ralat. Akan ke sana. Aamiin dulu deh, seperti biasa, hehe.

Gara-gara ini, gw jadi inget trip waktu ke Vietnam dan Thailand 2 taun lalu bareng 3 orang temen gw. Dalam 11 hari perjalanan, kami menyisihkan 1 hari buat berkeliling Phuket, tepatnya Phi Phi Island, pulau cantik yang konon katanya pernah jadi lokasi syuting The Beach.

Cantik, cantik banget pulaunya. Kalo pulau itu ibarat wanita dan laut itu pria, mereka emang bener-bener pasangan serasi. Pulau dan laut. Pulaut. Tak terpisahkan. Nenek moyangku seorang pulaut. Gemar mengarung luas samud... Oke, stop sebelom mulai nyanyi.

Waktu itu, pas banget momennya gw lagi 'melarikan diri' d…

Hari ke-7: Fokus!

Sometimes i feel i'm too 'lefty' with no plus pointGw kidal. Dan stereotype nya, orang kidal itu biasanya pinter, kreatif, intuitif, imajinatif, dan segala sifat yang ke-kanan-an. Biasanya. Gw? Deviant, sepertinya, haha.

Di sebuah perbincangan dengan beberapa orang temen, gw bilang "Somehow i feel like i'm not that kinda people whom people like to discuss with. I guess i'm more functioned when it comes to random chit chat, yes?" Dan salah satu temen gw komentar "Ya nggak heran. Fokus lo kemana-mana"

Jleb. Kampret.

Gw nggak tau ini sebenernya gw doang apa nggak. Gw nggak tau ini sebenernya emang masalah orang-orang kidal pada umumnya apa nggak. Dan gw juga nggak tau sebenernya bagi orang lain ini masalah apa nggak. Tapi gw akui, gw emang seringkali kesulitan untuk fokus. Dan ya, itu masalah buat gw.

Emang apa hubungannya susah fokus sama kidal? Kata berbagai macam penelitian, otak kiri itu kan memproses segala hal secara sistematis, sementara otak ka…

Hari ke-6: Scar

Image
"Our scar has a way to remind us that the past is real" -Red Dragon (2002) With or without this scar, everything has its way to remind me that the past is real. Remind me that those times are real. Were.
But it's okay. With or without this scar, i'm still okay, like i'm okay with or without you. Life goes on okay so far.
So, thank you for supporting me for a year and 21 days. Now it's time to say good bye for good reason. Thank you for being with and (finally) without me.
RS Siaga, Jan 5th, 06.06 PM. Same pain, different case. Well, not that bad. Alhamdulillah :)

Hari ke-5: #11 A Face to Call Home - John Mayer

Image
Dear,
Kesayanganku di Ujung Dunia Bagian Sana

Hai, apa kabar? Haha, basi ya aku tanya kabar.

Tapi aku serius mau tahu kabarmu. Saat ini dan setelah kamu membaca suratku nanti.

Aku serius mau tahu kabarmu. Saat ini dan setelah aku pulang nanti.

Aku serius mau tahu kabarmu. Saat ini dan setiap saat.

Jadi, apa kabar? Tolong jangan jawab "baik-baik saja" walaupun aku pastinya berharap kamu benar baik-baik saja.

Walaupun kamu belum bertanya, walaupun aku tidak tahu kamu mau tahu kabarku atau tidak, aku beritahu saja dulu. Aku di sini tidak baik-baik saja. Selain karna musim dingin yang menusuk tulang, pembahasan terakhir kita lebih menusuk pikiranku.

Tentang kecemasanmu kepadaku. Tentang keraguanmu pada jarak yang membentang. Tentang ketakutanmu akan kegagalan. Tentang segalanya yang menghantuimu. Pilihan. Komitmen. Masa lalu. Dengannya.

Tentang kecemasanku kepadamu yang mencemaskanku. Tentang ketidakpercayaan diriku untuk meyakinkanmu mengenai jarak yang membentang. Tentang keinginanku u…

Perjalanan

Dini: "Gw pengen ke Jepang sama lo sama Yuni"

Gw: "YUK ke Jepang!"

Dini: Iya itu mimpi gw dari SMA. Inget nggak kita pernah janjian kalo udah gawe mau ke Jepang bareng atau ke mana deh yang penting luar negeri. Bertiga aja"

Ya ampun, masih inget aja ini anak. Sekarang, gw udah kerja. Yuni udah kerja. Di BI pula. Gaul banget. Dini akan kerja di Bank Mandiri. Ini temen-temen gw kenapa pada gaul-gaul amat deh karirnya.

Gara-gara ini, gw jadi inget satu lagi mimpi dari SMP: ke Singapore bareng Karina sama Rasti. Cetek banget emang khayalan bocah-bocah. Di jaman itu blom ada Air Asia, Jet Star, dan kawan-kawannya. Tiket pesawat masih mahal dan pergi ke luar negeri bareng temen-temen, untuk ukuran anak SMP tuh masih di angan-angan banget kayaknya.

Trus tau-tau Rasti kuliah di Singapore dan yang ada malah Karina duluan yang ke Singapore bareng Rasti, sementara gw jadinya ke Jepang bareng Karina, dan HAMPIR ketemuan sama Rasti di Hongkong. Tapi pergi bertiga, bahkan ke …

Hari ke-4: Facialalala

"Facial itu ibarat lalala tak ada logika. Udah tau sakit, tapi nggak kapok-kapok" -Tweet gw seminggu yang lalu. Jadi, minggu lalu gw abis facial. Itu pertama kalinya gw facial beneran. Lah, emang sebelumnya boongan? Yaaa.. Anggap saja begitu. Cuma totok muka, masker, dan dikasih krim-kriman nggak jelas, nggak pake acara bersihin komedo, jerawat, atau apalah itu.

Ternyata facial itu sakit. Banget. BOK! Nggak abis pikir deh gw. Udah tau rasanya kayak penyiksaan dunia akhirat begitu, masih aja orang tetep pada rutin facial. Ckck. Emang ya, facial itu tak ada logika kalo kata Agnes Monica.

Waktu gw facial, ada seorang cowok yang sepertinya dijebak sama ibunya buat facial. TOS, MAS! SAYA JUGA! Sepanjang facial, dia heboh "Gila sakit banget ini sumpah!" Dan mbak yang nge-facial dia dengan santainya bilang "Sabar mas, biar mukanya mulus."

Dari situ gw belajar, facial itu bukan tentang mbaknya yang bangke mencet-mencet tusuk-tusuk muka seenaknya, yang dengan lem…

Hari ke-3: Monolog

Gw suka monolog. Kayak orang gila ya? Nggak kok, gw masih waras. Sepertinya. Haha. Bagi gw, monolog adalah ajang mengenal diri sendiri. Katanya, tak kenal maka tak sayang. Jadi, monolog itu salah satu cara buat sayang sama diri sendiri. Eaaa. Apa sih, Del.

Duh, gimana ya ngejelasinnya? Gini. Orang pertama yang akan kena dampak dari tiap-tiap keputusan yang gw buat ya gw sendiri. Orang pertama yang ngejalanin keputusan-keputusan itu ya gw-gw juga. Jadi, wajar dong ya kalo gw berdiskusi sama diri sendiri sebelom memutuskan dan menjalankan?

Lagipula, ada saat-saat dimana lo nggak bisa mengandalkan siapapun buat menolong lo. Ada saat-saat dimana yang bisa lo andalkan cuma doa. Dan dalam doa, lo sebetulnya ngomong sama diri sendiri, kan?

"Ah kata siapa? Gw berdoa sama Tuhan kok" Hmm.. Katanya, Tuhan itu lebih deket dari urat nadi manusia, kan? Seberapa deket? Ya sedeket lo dan diri lo sendiri. Jadi?

Jadi, gw nggak gila kan kalo suka monolog? Okeh, mungkin belom, haha.

Hari ke-2: Telor, Teh, dan Abon

Temen: "Si X kan ya waktu kuliah, pernah disuruh presentasi tentang pariwisata di negara masing-masing. Nah, dia milih presentasi tentang kuliner Indonesia. Orang mah ya normalnya jelasin tentang masakan daerah ya. Padang kek, Sunda kek, apa kek gitu. Tapi malah yang dia presentasiin itu "Jadi, di Indonesia, telor itu asin. Terus jangan kaget kalo teh di sana tuh pake gula" Huahaha, dodol"

Gw: "Trus orang-orang di sana gimana reaksinya?"

Temen: "Ya pada "WAH!" gitu ternyata, karna disana kan telornya manis, tehnya tawar. Emang deh ya kadang tuh hal-hal yang kita anggep biasa bisa jadi hal baru buat orang lain"

###

Jadi inget waktu gw pergi ke Jepang dan ikut serangkaian tur selama seminggu dimana peserta turnya adalah orang-orang dari mancanegara. Di sebuah acara makan malam, kami tuker-tukeran makanan. Gw dan temen gw bawa abon. Alesannya simpel: nggak mau repot. Haha, anak masa kini banget ya, senengnya yang praktis-praktis.

Tanpa disa…

Hari ke-1: Indonesia di Mata Orang Jepang

Image
Review buku ini bisa dibaca di sini

Pertama kali liat buku ini di toko buku, gw langsung tertarik sama sampulnya. Haha, anak sampul banget ya. Waktu itu, gw lagi iseng liat-liat rak buku yang jarang gw lewatin, sembari nunggu temen. Gw iseng buka-buka halamannya dan baca sepintas lalu.

Hari ini, lagi-lagi, sembari nunggu temen, gw kembali menghampiri rak di mana buku itu berada. Berhubung nunggu 'cukup' lama (baca: 4 JAM! Mamam noh 'cukup'), gw jadi punya kesempatan buat baca-baca gratisan agak lama. Lumayan lah.

Penulis berkebangsaan Jepang ini bercerita tentang Indonesia di matanya, sesuai judul bukunya. Menarik banget ngeliat gimana pandangan orang asing terhadap negeri ini. Orang dari negara maju, yang cukup lama tinggal di negara berkembang, Indonesia.

Baca buku ini, gw tercenung. Malu. Kato-san, sang penulis, orang asing, bahkan bisa sebegitu cintanya sama Indonesia. Gw sebagai bangsa Indonesia, apa kabar? Oke, mari introspeksi diri.

Terus, apa yang mau lo lakui…

#30haribercerita

Lagi buka timeline dan liat twitnya Rima tentang #30haribercerita. Penasaran, itu apa ya? Blom ada jawaban, akhirnya gw gerak buat cari tau. Jiwa stalker bergejolak. Haha.

Oh, ternyata tentang proyek menulis selama 30 hari toh. Hmm.. Ikutan (lagi) apa nih? Yaudah, coba deh. Januari tahun lalu berhasil bikin sampe 50 posting dengan waktu luang segudang, mari kita lihat gimana dengan tahun ini, setelah proyek #30harilagukubercerita, yang cuma berhasil bikin 10 cerita dari target 30 cerita itu. AH! Iya juga ya, lanjutin aja deh, melunasi janji.

Sip. Udah daftar. Semoga berhasil.