Hari ke-16: Hujan

Gw nggak suka hujan. Nuff said.

Kata orang, hujan itu romantis, punya bius mistis yang membuat para pecinta kata melahirkan sajak-sajak puitis.

Kata gw, hujan itu dramatis, terutama di Jakarta. Hujan, banjir, dan macet. Ibarat pop corn dan minuman bersoda yang dijual di bioskop 21, mereka udah sepaket.

Rain rain, go away
Come again another day

Rain rain, go away
Come again some other day

Little Johnny wants to play
In the meadow by the hay

Rain rain, go to Spain
Never show your face again

Rain rain, pour down
But not a drop on our town

Rain on the green grass
And rain on the tree

And rain on the housetop
But not on me

Sama kayak si Little Johnny yang kesal karna nggak bisa main di luar gara-gara hujan, gw pun sama. Hujan yang turun merusak segala rencana.

Tapi mungkin gw bisa dibilang orang yang beruntung kali ya? Karna seringkali, hujan datang di saat gw lagi berada di tempat yang teduh, jadi nggak kebasahan. Btw, kenapa hujan harus ke Spanyol ya? Abaikan.

Hmm.. Hujan, kamu udah tau ya kalau aku nggak suka kamu? Makasih ya Hujan, karna seringkali turun di tempat yang tepat.

Anywhere but me.
"But without the rain, rainbow will be just bow"
Meskipun gw nggak suka hujan, tapi gw suka pelangi. Lagian, siapa juga sih yang ngga suka pelangi? Ah, tapi kapan emangnya Del terakhir kali lo liat pelangi? Kapan terakhir kali liat hujan?

Gw lupa kapan terakhir kali liat pelangi, tapi kalau hujan, barusan. Hmm.. iya juga ya. Hal ini membuktikan kalau nggak selamanya pelangi hadir setelah hujan.

Terus apa artinya dong frase tadi? Percuma lah kalau gitu. Makin bikin kecewa karna terlalu berharap pada pelangi, dan ujung-ujungnya makin membenci hujan.

Well, people tend to look at the bright side, yes?

Pelangi hadir atas kombinasi hujan dan matahari. Kombinasi apa-apa yang membasahi dan apa-apa yang menyinari. Jadi, jangan berharap melihat pelangi, kalau nggak bisa jadi matahari. Apa-apa yang bersinar dari dalam diri.

Note to self.

Comments