Hari ke-26: Maximizer vs Satisficer

Salah satu bahasan dalam buku "Cinta Tidak Harus Mati" nya Henry Manampiring:

###

Gue pernah baca di buku The Paradox of Choice oleh Barry Schwartz bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut "Maximizers", yang satu lagi "Satisficers".

Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang terbaik (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik.

Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari menurut kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan "cukup memuaskan", ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.

Bayangkan skenario mencari LCD TV.

Si maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai "10".

Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, dan cukup hepi mendapatkan TV bernilai "7".

Pada akhirnya, si Satisficer malah mungkin lebih hepi, dan puas dengan TV-nya, karena tidak selelah si Maximizer yang sudah jungkir-balik dalam usahanya mencari yang 'the best'.

###

Setuju. Kadang, yang terbaik blom tentu baik. Kadang, puas atas apa yang udah dimiliki itulah sebetulnya yang terbaik. Karna kadang, puas itu hadir karna berhenti mencari dan mencoba menikmati.

Tapi kadang, wondering nggak sih? Apa iya para Maximizer nggak cukup hepi dengan usaha 1000% buat dapetin hasil 100%? Tau dari mana kalo para Satisficer lebih hepi?

Comments