Hari ke-29: Maximizer vs Satisficer 2

Bangun kepagian, siap-siap kepagian, berangkat kepagian, jalanan (ALHAMDULILLAH BANGET) lancar (untuk takaran Jakarta ya), nyampe kantor kepagian, akhirnya jadi punya waktu yang lumayan buat fokus baca Brainworks, dan nemu sub-bab yang cukup menjawab pertanyaan gw di sini.

Ah, senangnyaaa! Ini buku menarik banget deh, super layak baca buat orang-orang yang penasaran, gimana sih sebetulnya kerja 'direktur' badan kita itu?

Oot dikit. Ini ngeselin loh. Bokap gw, pas liat gw nenteng-nenteng buku ginian, malah komen "Ah kamu kok beli buku nggak ada hubungannya sama kerjaan? Sayang ah duitnya kamu beli buku mahal-mahal"

Ngeselin soalnya dulu bokap pernah bilang "Papa sih nggak pernah sayang kalo buat beli buku" trus sekarang komennya nggak konsisten gitu. ISSSH, bikin sewot deh (anaknya lagi sensian, haha).

Oot selesai. Lanjut. Salah satu sub-bab yang gw baca adalah tentang pilihan. Tentang gimana manusia memutuskan. Tentang paradoks dalam memilih.

Dibuka dengan kalimat berikut:

Imagine going into gourmet food store and seeing this display of varieties of jam. Pick one you think you might like to buy.

How difficult was it to choose? You're more likely to buy a jar of jam if 6 varieties are available instead of 24.

Seorang peneliti melakukan eksperimen di sebuah toko swalayan, di mana pelanggan yang datang dikasih kupon untuk memilih selai dari 2 lorong. Satu lorong terdiri dari 6 pilihan selai, dan satu lorong lagi terdiri dari 24 pilihan selai. Pelanggan bebas mencicipi selai yang tersedia, sebelum memutuskan membeli.

Lorong dengan 24 pilihan selai memang lebih banyak menarik perhatian pelanggan. Tapi ternyata, cuma 3% pelanggan yang akhirnya memutuskan membeli.

Sementara itu, 30% pelanggan yang pergi ke lorong dengan 6 pilihan selai, memilih selai dan pergi ke kasir untuk membayar.

Hal ini menarik karna ternyata, semakin banyak pilihan justru nggak bikin manusia merasakan serunya memilih, malahan mengurangi tingkat kepuasan setelah memutuskan memilih.

Trus apa hubungannya dengan maximizer dan satisficer? Apanya yang menjawab pertanyaan tentang maximer dan satisficer? Gw salin aja deh biar enak:

Some people choose to accept only the best. Schwartz calls these people maximizers. They invest much of their time and energy comparing options to make sure they choose the things they consider the finest.

The search is difficult and not very rewarding. After all, to be sure of making the ultimate choice, a maximizer must take on the impossible task of considering all options. And after making a choice, a maximizer is likely to reconsider and have "buyer's regret".

Satisficers make very good choices -- albeit not the absolute best ones -- because their brains find the optimal balance between the pleasure of finding the right choice and the pain of extended selection process.

Hooo.. gitu toh ternyata jawabannya kenapa satisficer itu lebih bahagia dibanding maximizer. Karna maximizer butuh banyak pilihan untuk menentukan mana yang terbaik. Sementara semakin banyak pilihan, semakin banyak 'penderitaan' berupa penyesalan yang harus dipertimbangkan.

Bener gitu kan ya kalo boleh menyimpulkan dengan bahasa sendiri? Dih, gaya banget deh ini gw sok-sokan menyimpulkan -___-

P.S.: Berarti kalo nawarin ke klien nggak usah banyak-banyak pilihannya kalo gitu, FUFUFU. Tuh kan babeh, ada hubungannya kan sama kerjaan? Nggak ada buku yang sia-sia kali, kalo dibaca, zzz..

Comments