Hari ke-13: Putri Salju

Pada suatu hari, di sebuah istana yang megah, hiduplah seorang raja dan permaisuri. Sang Permaisuri sedang mengandung. Saat sedang santai berdua, Sang Raja bertanya.

"Wahai Adinda, bagaimana ya kira-kira rupa anak kita?"

"Kulitnya pasti putih, seputih salju yang sedang turun, bibirnya merah seperti apel yang ranum, dan rambutnya pastilah sehalus benang sutera"

"Hmm.. Bagaimana kalau kita beri nama putri kita 'Putri Salju', Adinda?"

"Bagaimana kalau dia lelaki, Kakanda?"

###

Menginjak usia kandungan yang semakin membesar, Sang Permaisuri mulai sakit-sakitan. Beberapa bulan setelahnya, Sang Permaisuri melahirkan seorang bayi mungil yang cantik, persis seperti tebakannya. Namun kondisi Sang Permaisuri semakin memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

Sang Raja sangat sedih telah kehilangan sosok yang sangat dicintainya, namun ia tahu ia tidak boleh berlama-lama merasa murung. Ia tetap harus melanjutkan hidupnya dan hidup semua orang yang membutuhkannya, rakyatnya. Dan untuk mengenang istrinya, ia menamakan putri kecilnya 'Putri Salju'.

###

Musim demi musim berganti, Putri Salju tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sang Raja amat sayang padanya. Namun seorang raja tetaplah raja. Ia butuh seorang ratu dan sosok ibu untuk anak tercintanya.

Akhirnya Sang Raja menemukan seorang pendamping. Mendiang istrinya memang tak tergantikan, namun ia memiliki harapan besar dengan sosok calon ratu ini. Walaupun wanita ini memiliki reputasi yang buruk di mata orang, Sang Raja tidak peduli. Baginya, semua manusia itu pastinya memiliki hal yang baik dan buruk. Dan selama manusia berani mengakui keburukan dan berusaha memperbaikinya, kebaikan akan otomatis terpancar dari dirinya.

Sang Ratu memiliki sebuah cermin. Ia seringkali berbicara sendiri di depan cermin. Mungkin orang lain menganggapnya gila, tapi ia tidak peduli. Baginya, cermin itu adalah sahabatnya. Cermin selalu berkata jujur, apa adanya. Walaupun terkadang menyakitkan hatinya, ia selalu menghargai kejujuran. Setiap kali ia berbicara dengan cermin, ia memang hanya bisa melihat pantulan dirinya, namun ia selalu dapat mempelajari hal-hal baru dari situ. Orang lain mungkin tidak mengerti, namun ia sangat bersyukur setidaknya ada satu orang yang percaya padanya, yaitu Sang Raja.

Ya, bersyukur. Satu hal lagi yang terkadang luput dari pandangan. Sepahit apapun cobaan, bersyukur akan selalu bisa menjadi obatnya. Walaupun pahit, bersyukurlah, karna setidaknya, tanpa pahit tidak akan ada manis. Hal inilah yang ia katakan saat berjumpa dengan Sang Raja. Dan hal inilah yang membuat Sang Raja yakin dengan keputusan untuk menjadikannya ratu.

Di lain sisi, Putri Salju sangatlah berbeda dengan Sang Ratu. Ia adalah anak yang sangat manis. Ia senang bermain dengan kupu-kupu, burung-burung, kelinci, dan banyak binatang lainnya. Ia seperti malaikat, selalu tersenyum, ramah kepada semua orang, dan tidak pernah sungkan membantu orang lain, orang asing sekalipun. Karna sifatnya tersebut, semua orang sangat mencintainya, dan Putri Salju selalu mendapatkan apa saja yang dia inginkan.

Namun, Putri Salju tidak suka dengan kedatangan Sang Ratu. Selama ia kecil, ia hanya mengenal sosok ibu yang yang diceritakan Sang Raja kepadanya. Dan saat Sang Ratu itu datang, ia merasa wanita itu hanyalah orang asing yang mengganggu hidupnya serta merebut ayahnya dari dirinya, sekaligus merebut ibunya dari hati ayahnya.

Apapun yang dijelaskan oleh Sang Ratu, semuanya tidak dihiraukan olehnya. Ia hanya mempercayai apa yang ia ingin percayai, bukan apa yang orang lain katakan, walaupun itu adalah kenyataan. Sang Raja pun bingung harus melakukan apalagi untuk membuat putri tercintanya mau menerima kehadiran Sang Ratu. Sang Raja sadar, selama ini ia terlalu memanjakan putrinya, dan sekaranglah waktunya putri kecilnya belajar dewasa.

###

“Wahai cermin, siapakah yang paling cantik di negeri ini?”

“Tentu saja Anda, Baginda Ratu”

“Bukankah seharusnya kau menjawab ‘Putri Salju’?”

“Jika aku menjawab ‘Putri Salju’, maka Baginda Ratu akan marah. Jika Baginda Ratu marah, Baginda Ratu akan mengutus orang untuk membunuh Putri Salju agar Baginda Ratu tetap menjadi yang tercantik. Setelah itu, Putri Salju akan berlari ke hutan, bertemu 7 Kurcaci, dan Baginda Ratu akan menjadi lebih murka saat mengetahui Putri Salju masih hidup. Lalu Baginda Ratu memutuskan untuk turun tangan dan memberinya apel beracun. Setelah itu Putri Salju tidur untuk selamanya, namun akan ada Pangeran yang datang untuk menciumnya. Kemudian Putri Salju kembali hidup dan bahagia selama-lamanya dan Baginda Ratu akan tetap menjadi sosok antagonis selama-lamanya. Apa ini akhir cerita yang Baginda Ratu inginkan?”

Sang Ratu tertawa. Sang Ratu menangis.

###

Putri Salju terbangun dengan terengah-engah. Entah kenapa mimpinya terasa sangat nyata.

--------------------------------------------------------------------------------

Cerpen jaman kapan yang cuma mengendap dalam email yang gw kirim ke seorang temen, ceritanya mau bikin tandeman tulisan, tapi ngga jadi, hahaha. Baru kali ini gw publikasiin karna sebelomnya nggak pede, ngerasa cupu banget tulisan gw. Haha, sampah sih emang, sok-sok nge-twist cerita dongeng.
"...Intinya, Del. Gw rindu tulisan lo kayak yang waktu lo bikin cerita Putri Salju itu"
Kata-kata ini, yang out of the blue diucapin temen gw itu beberapa hari yang lalu, yang bikin gw akhirnya berani posting di sini. Yes, words are powerful. Thank you :)

Comments