Thursday, February 28, 2013

Life of Pi dan 'AHA!' moment

0 comments
Di kantor, mumpung kerjaan udah kelar dari siang, gw magabut marathon nonton film. Mari me-recap! Dari kemaren, yang udah ditonton tuh: Django, The Fall (nonton ulang), Art School Confidential, Skip Beat, Little Mermaid the Series, dan yang barusan, Life of Pi.

Rasanya kayak abis makan es teler, trus tom yam, trus pizza, trus sushi, trus permen karet stroberi, trus kare. Campur aduk nggak karuan karna 'nuansa' nya beda-beda banget di lidah.

Di antara beberapa film yang gw tonton itu, paling nggak nyaman nonton Django. Darah 'becek' di mana-mana kayak tangki sirup Marjan Cocopandan tumpah. Emang pada dasarnya gw nggak terlalu suka tipikal film kaya gini sih. Eh tapi tergantung sih.

Dan sekarang gw nyesel tak terhingga nggak nonton Life of Pi di bioskop. Hiks. Bagus bangeeet visualnya. Andaikan gw nonton versi 3D nya, pasti bola mata udah gelindingan saking terpesonanya.

Life of Pi ini sebenernya udah dari lama gw pengen baca bukunya, tapi nggak kesampean mulu, bahkan sampe akhirnya filmnya keluar. Trus nyesel karna udah keburu nonton filmnya duluan sblom baca bukunya, trus nyesel lagi karna nontonnya di komputer bukan di bioskop.

Ah, yaudalah. Penyesalan kan emang selalu dateng belakangan. Kalo duluan mah namanya pendaftaran. Zzz.. mamam tuh nyesel. Udah kenyang nyesel blom lo Del? Daftar gih Komunitas Nyesel Duluan.

Eh tapi gw nggak nyesel kok udah nonton film berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Bikin 'ngawang' dan mempertanyakan banyak hal. Kalo kata buku Kala Kali dalam cerita "Bukan Cerita Cinta", mungkin emang nggak semua pertanyaan butuh jawabannya, tapi tiap bertanya, pasti orang mengharapkan jawaban kan?

Hmm.. mempertanyakan dan bertanya. Dua hal yang berbeda emang, tapi tetep aja, mengarah pada satu tujuan: jawaban. Ada yang mencari dan menemukan. Ada yang menunggu dijawab. Ada yang menyesal udah mengajukan pertanyaan. Dan ada juga yang sampe sekarang pun blom nemu jawabannya.

Ah apaan sih, ngelantur.

Dulu, gw pernah baca salah satu postingan Henry Manampiring di sini. Waktu baca itu, gw nggak ngerti karna emang blom nonton filmnya. Trus abis nonton Life of Pi, gw baca lagi, dan termenung. Cara dia menafsirkan filmnya keren! Sederhana tapi dalem. Emang ya, orang pinter itu seksi... otaknya.

Gw bingung sih mau nulis apa sebenernya, haha. Tapi gara-gara film ini, gw jadi kepikiran sesuatu, sebuah 'AHA' moment. Tapi masih mentah, mau 'direbus' dulu. Fufufu!
"Faith is a house with many rooms" - Life of Pi (2012)

Tuesday, February 26, 2013

Estafet Buku Kedua: "Hembus Angin Utara"

0 comments

Jadi, buku kedua yang mau gw estafet-in adalah buku "Hembus Angin Utara" karangan Daniel Glattauer. Buku ini adalah novel roman terjemahan yang bercerita tentang dua orang yang saling berkirim email. Berawal dari email nyasar dan berlanjut jadi sahabat pena versi modern. Review nya bisa diliat di sini.

Btw, buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, bahasa Jerman, dan dalam interaksi tokohnya, sang penerjemah menggunakan 'Saya' dan 'Anda' sebagai kata ganti orang pertama dan kedua.

Ini sebetulnya bikin gw bertanya-tanya. Kenapa ya? Apa karna emang bahasa aslinya pake kata ganti yang seformal itu, atau ada alesan lain? Ada kesan 'berjarak' dalam penggunaan 'Saya' dan 'Anda', walaupun literally emang berjarak karna interaksi tokoh cuma terhubung lewat email.

Tapi yaudalah. Ada hal-hal yang bisa dinikmati tanpa kita harus tau kenapa.

Asal-usul pertemuan gw sama buku ini sebetulnya tanpa sengaja. Waktu itu, abis pulang kuliah, gw pergi ke Bloc, toko buku sekaligus kafe di FISIP. Lagi iseng liat-liat, eeeh.. ketemulah si "Gut Gegen Nortwind" ini (judul buku aslinya).

Sebagai 'anak cover' (alias gampang tertarik oleh sampul depan yang menarik), stopping power buku ini buat gw emang terletak pada cover nya, tapi keputusan gw membeli adalah karena secuplik kutipan ini:
"Schreiben ist wie kussen, nur ohne lippen. Schreiben ist kussen mit dem kopf (Menulis seperti mengecup, hanya tanpa bibir. Menulis adalah mengecup dengan pikiran)"
Tanpa pikir panjang dan tanpa ekspektasi macem-macem, gw bergegas ke kasir. Dan emang bener ya, semakin rendah ekspektasi, semakin banyak kejutan.

As the quote said, this book kissed my mind... unexpectedly and surprisingly. And I officially love and hate this book at the same time.

Buku ini spesial. Selain karna gw suka sekaligus benci ceritanya (terutama ending nya), tapi juga karna kenangannya. Nempel di otak selengket super glue. Itulah kenapa gw maju-mundur mau ngelepas buku ini. Tapi, balik ke niatan gw buat belajar ikhlas, rasa-rasanya ini keputusan yang tepat.

Nggak sayang emangnya Del ngelepas buku favorit? Ya karna sayang makanya gw lepas. Lagi-lagi, perihal belajar ikhlas. Err.. sebetulnya nggak selebay itu sih. Masih bisa lah gw beli lagi kalo emang mau. Tau deh tapinya nyari di mana lagi, hahaha.

Poinnya sih, walaupun gw nggak bisa ngelepasin kenangan, tapi bentuk fisiknya bisa kok dilepas. Mengestafetkan buku ini jadi semacam pembuktian kalo gw bisa.

So, who wants to be kissed in mind?

Saturday, February 23, 2013

Estafet Buku Perdana: "Kangen Indonesia"

2 comments

Beberapa hari yang lalu, berawal dari twit Uswah tentang ide bikin estafet buku, lahirlah akun @estafetbuku. Apa itu estafet buku? Detailnya bisa diliat di sini: "Mari Berbagi Racun dalam Buku"

Selayaknya estafet pada umumnya, pasti akan selalu ada pelari yang membawa tongkat dan pelari yang menunggu tongkat. Dalam estafet buku juga sama, cuma bedanya, tongkatnya berupa buku.

Kalo dalam estafet biasa ada finish line nya, dalam estafet buku, harapannya malah justru nggak ada finish line, jadi penyerahan 'tongkat' nya terus berlanjut, dan pengetahuan di dalamnya akan terus hidup.

Menarik kan yah? Idenya sederhana, tapi siapa yang tau nantinya bisa berkembang kaya gimana kan? Buktinya, hanya dalam beberapa hari semenjak Uswah mencetuskan ide itu, udah kebentuk komunitas kecil dan estafetnya mulai jalan. Hihi, kekuatan social media emang nggak bisa diremehkan ya.

Terus kalo mau ikutan, caranya gimana? Bisa diliat di sini: "Aturan Bermain Estafet Buku"

Untuk proyek estafet buku ini, gw mau memulainya dengan jadi starter, dengan 'tongkat' berjudul "Kangen Indonesia" karangan Hisanori Kato. Gw pernah sedikit mengulas tentang buku ini di sini: "Indonesia di Mata Orang Jepang"

Ngg.. bukan ulasan juga sih sebenernya. Lebih kepada sedikit pemikiran gw dan efek samping setelah baca buku ini.

Gw malu. Berulang kali gw keselek sendiri bacanya, malu jadi orang Indonesia. Bukan, bukan dalam artian negatif, tapi dalam artian "sebagian dari iman"

Aduh, bingung jelasinnya, haha.

Di buku itu, Kato-San bercerita tentang cintanya dia sama Indonesia yang ramah, hangat, dan 'fleksibel'. Alih-alih memandang negatif hal-hal yang selama ini kita anggep negatif (tentang budaya "jam karet" dan "nggak pa-pa" misalnya), Kato-San bisa banget mengemasnya jadi sebuah pandangan baru yang positif.

Gw campur aduk bacanya. Antara sedih, malu, ngerasa kesindir halus, tapi juga terbersit rasa bangga dan bersyukur. Sialan emang 'racun' buku tuh.

Sama kaya Uswah, gw juga nggak mau 'tersiksa' sendirian. Gw pengen seenggaknya, gw bisa berbagi 'penderitaan' dan 'kegelisahan' untuk jadi lebih baik, dan gerakan itu dimulai dari membaca buku.

Gw pengen kita, bangsa Indonesia, bisa lebih bangga sama negara sendiri. Malu nggak sih, ada orang asing yang bisa bercerita betapa cintanya dia sama negara orang, sementara bangsanya sendiri nggak?

Di suatu mention, ada pertanyaan menarik dari Vida tentang kekhawatiran buku akan rusak atau hilang. Kalo buat gw, simpel aja: berani ngelepas, berani ikhlas. Toh gw melepas buat sesuatu yang lebih baik.

Nggak tau ya, gw sih percaya buku ini bisa dijaga dengan baik oleh 'penerima tongkat' berikutnya, berikutnya lagi, dan seterusnya. Kalaupun ternyata di perjalanan 'tongkat' nya kenapa-kenapa, yaudah, ikhlasin. Semoga tetep bermafaat buat 'penerima tongkat' yang terakhir ;)

Sekarang, udah ada 3 orang yang udah nungguin 'tongkat' berpindah tangan dan dengan senang hati menampung penyebaran 'racun' dari gw: Dini, Velo, dan Vieza. Jadi, selamat teracuni! Siapa mau jadi 'korban' selanjutnya? Hehehe ;p

Wednesday, February 20, 2013

Kunci Kosan dan Rambutan

0 comments
Semalem, kunci kosan gw ketinggalan. Berhubung udah kemaleman dan bawaan juga banyak banget, nanggung lah kalo pulang. Capek banget bahkan cuma ngebayangin harus mengarungi macet. Gw pikir, ah yaudalah pinjem kunci duplikatnya aja. Dan terjadilah percakapan berikut:

Gw: "Mbak X, kunci saya ketinggalan. Boleh pinjem duplikat nggak?"
Mbak X: "Oh nggak ada"
Gw: "Kok bisa kosan nggak ada kunci duplikatnya?"
Mbak X: "Ya emang nggak ada"
Gw: "Atau nggak, saya pinjem kasur deh buat malem ini"
Mbak X: "Tapi bekas kebanjiran, nggak papa?"
Gw: "Err.. Nggak jadi deh. Obeng atau kawat atau apa gitu, ada nggak mbak?"
Mbak X: "Nggak tau"
Gw: "Nggak bisa banget ya mbak minta tolong diusahain kunci duplikatnya, buat besok gitu?"
Mbak X: "Nggak bisa"
Gw: "Trus gimana dong ya?"
Mbak X: "Nggak tau"
Gw (UDAH MULAI KESEL): "Ah tau deh! Yaudah, makasih ya mbak"

Gila ini mbak kosan gw. Bener-bener nggak solutif. Grr..

Trus selama gelesoran di depan pintu kosan, mikir gimana caranya jadi maling buat kamar sendiri, gw sambil juga coba nenangin emosi. Sebel banget asli! Bukan (cuma) masalah kosan yang nggak punya kunci duplikat, tapi gimana respon si mbaknya.

Dia jawabnya emang sambil nyengar-nyengir oon sih, nggak nyolot. Tapi keliatan banget nggak peduli se-nggak peduli ngga peduli-nya. Bahkan nggak menawarkan solusi alternatif apa pun loh! Ah tau deh, sebel lagi kan jadinya.

Jadi, dari kasus perkuncian ini, gw banyak belajar.

Pertama, tentunya, duplikat kunci kosan sebanyak-banyaknya. Bloon sih gw, padahal ini bukan kasus pertama. Dulu juga udah beribu-ribu juta kali kunci kosan ketinggalan dan ilang, tapi selalu tertangani dengan kunci duplikat yang dipegang penjaga kosan.

Kedua, nggak semua orang peduli. Jadi, nggak usah terlalu banyak berharap dan bergantung sama orang lain. Salah gw sih emang, pake acara ketinggalan segala. Cuma kan ya, yang namanya kunci duplikat itu kan udah jadi fasilitas dasar yang harus dimiliki sama penjaga kosan. Cemana oi bisa nggak punya?!

Ketiga, kenalan sama temen-temen kosan. Beberapa minggu di sini, temen gw cuma 1, tetangga kamar sebelah, itu pun temen kantor, hahaha. Untung aja ada temen gw itu. Coba kalo nggak ada, dia pulang ke rumahnya misalkan, fix banget lah pasti gw semaleman tidur di depan pintu kamar.

Kebayang misalnya gw tiba-tiba ngetok-ngetok kamar lain, numpang nginep. Ya kali deeeh. Nggak tau diri banget namanya -___- Makanya, pertemanan itu penting (anak ansos tobat, haha).

Keempat, belajar nahan diri buat nggak ngeluh, karna itu ngefek ke orang lain. Seharian kmaren, jiwa gw kaya disedot dementor karna yang gw denger cuma keluhan sepanjang hari. Kerjaan nggak seberapa, tapi rasanya capeeek banget.

Dengerin orang ngeluh itu bikin capek loh, percayalah. Ya boleh lah sekali-kali, asal nggak berlarut-larut. Makanya, gw jadi kaya ketampar sendiri "mungkin gini kali ya rasanya jadi orang lain yang dengerin gw ngeluh?" Duh duh, iya deh, gw harus ngurangin ngeluh-ngeluh kalo gitu. Kasian yang dengerin, kecapekan.

Kelima, belajar bersyukur. Kebayang, nggak bisa masuk kamar aja ribet banget urusan. Padahal masih untung masih bisa masuk kosan. Apa kabar coba yang nggak punya rumah?

Jadi, intinya, selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa, secetek apa pun peristiwanya. Ibarat pohon rambutan, walaupun udah berbuah lebat, kalo nggak dipetik ya percuma. Sama kaya hikmah. Kalo ngga dipetik ya jadi sia-sia.

Yazek deh ah.

Monday, February 18, 2013

Know Nothing

0 comments
Setelah selama ini gw pikir gw kekurangan zat kompetitif dan kelebihan zat kooperatif, ternyata untuk beberapa hal, untuk hal-hal yang aneh, untuk sesuatu yang sebetulnya konyol dan nggak penting banget, gw baru sadar kalo gw anaknya nggak mau kalahan juga. Hahahaha!

Lucu ya gimana saat kita sok tau sama diri sendiri, justru jadi nemu banyak fakta-fakta mengejutkan yang kita sendiri nggak percaya kita kayak gitu. Bayangin, buat diri sendiri aja masih banyak misteri. Apalagi orang lain. Pasti lebih banyak lagi hal yang nggak kita tau, dan udah seharusnya nggak sok tau.
"The only true wisdom is in knowing you know nothing" - Socrates
Note to self.

Friday, February 8, 2013

0 comments
Della 1: Duh haduh haduuuh, mules lalala banget. Ibarat pagi-pagi sarapan WSG basi. Nekat nggak nih?
Della 2: Yauda sih, nggak usah kaya orang susah deh. Iya-iya nggak-nggak. Maju-mundur aja kaya odong-odong
Della 1: Ya emang orang susah, gimana dong?
Della 2: Ya nggak gimana-gimana
Della 1: Ah elah, ngapain banget sih lagian gw pake ngobrol sama lo yang gw sendiri juga
Della 2: Lah lo yang mulai. Gw sih tinggal komentar aja
Della 1: Ini tangan gw beku tapi keringetan gini tau nggak?!
Della 2: Penting buat gw?
Della 1: PENTING BANGET!!!
Della 2: Yauda lakuin. Ntar nyesel loh
Della 1: Huh hah huh hah, udah nggak waras banget ini sumpah demi bumi dan langit, hujan dan pelangi, pulpen dan penggaris
Della 2: Paan sih lebay banget. Norak deh
Della 1: Rese amat sih! Nggak usah apa ya? Kan kata lo norak, lebay pula. Hiks
Della 2: Yeee.. labil
Della 1: Asli banget tolongin gw dooong! Ini tuh kluxy moment banget tau nggak?!
Della 2: Enggaaak
Della 1: Nyolot banget sih. Bantuin mikir keeek!
Della 2: Yauda lakuin, trus lupain
Della 1: Gitu ya?
Della 2: Iya
Della 1: Trus kalo nggak bisa lupa dan makin lalala?
Della 2: Ya resiko
Della 1: Trus kalo ketauan dan lebih lalala dari lalala?
Della 2: Ya resiko
Della 1: Trus kalo nggak siap sama resikonya?
Della 2: Ya nggak usah
Della 1: Trus kalo nyesel?
Della 2: Ya resiko
Della 1: Trus gw kudu gimanaaa???!!!
Della 2: Ya nggak tau. Pikirin dulu gih. Cuma hari ini doang loh
Della 1: Ah kampretos. Nggak solutif banget sih ini monolog sama lo. Ngunyah daun deh ni gw lama-lama
Della 2: Gih
Della 1: Guling-guling dulu boleh nggak?
Della 2: Silakan. Asli beneran guling-guling loh ni anak, zzz

Thursday, February 7, 2013

Curhat Pasif

0 comments
Ini credit to Shasha banget deh, udah 'ngenalin' gw sama istilah ini: curhat pasif.

Apa itu curhat pasif? Curhat pasif adalah curhat 'males' di mana lo nggak harus ngoceh nggak karuan, berharap ada yang mau dengerin dan ngertiin. Bukan males curhat tapi ya, bedain.

Dalam curhat pasif, mulut lo bungkam, tapi ada kepuasan dan kelegaan hati yang setara dengan curhat aktif. Contoh aktivitasnya adalah baca buku, dengerin lagu, nonton film, cari quote, dengerin cerita orang, dll.

Sama kaya curhat aktif, ada kalanya ada rasa nggak nyaman saat curhat. Contohnya, waktu marathon baca "Divortiare" dan "Twivortiare". Ini murni pendapat pribadi ya. Menurut gw, walaupun bagus, tapi nggak 'klik' aja di gw.

Duh, gimana ya ngejelasinnya? Gini, kebayang nggak sih, kaya lagi curhat sama orang, tapi bukannya bikin lega, malah bikin 'ganjel' karna nggak 'sreg' sama komentar-komentarnya. Tapi bukan berarti jadi nyesel udah curhat, cuma nggak 'matching' aja. Ah, bingung. Gitu deh pokoknya, ahaha.

Di sebuah pembahasan bareng Shasha, berawal dari wondering "kenapa ya gw suka Ika Natassa, bahkan tiap hari buka timeline nya, suka banget "Antologi Rasa", tapi nggak terlalu suka "Divortiare" sama "Twivortiare"? Kaya... nggak nyaman aja", si Shasha berkesimpulan bahwa:


Dari pembahasan panjang lebar, mulai dari buku "What I Talk About When I Talk About Running" dan segala insight nya sampe dorama-dorama pembunuhan dan misteri yang terinspirasi dari novel, kita sepakat bahwa ada hal-hal dari penulis yang mungkin tanpa sadar 'masuk' dalam tulisannya.

Itulah kenapa kalo kata gw, "you can tell people by their writings", dan kalo  kata Shasha "you are what you write, not read" Ya intinya sama sih, cuma beda kalimat doang.

Tiap tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi, bisa 'curhat' juga, yang cuma bisa didengar oleh orang yang baca, selama dia bener-bener menyimak.

Semacam... cerita yang bercerita. Cerita di balik cerita. Cerita dalam cerita. Ceritaception. Atau apa lah namanya, di mana seakan-akan cerita itu hidup dan menceritakan cerita yang lain: cerita tentang sang penulis, meskipun si penulis sendiri nggak lagi nulis tentang dirinya.

Ini berkembang banget deh pembahasannya. Tadi kan gw mau ngebahas tentang curhat pasif. Yaaa.. tapi masih berhubungan sih.

Nah, beberapa hari ini, gw punya tempat curhat pasif baru, namanya "L". Sebuah buku.

Mau cerita sedikit tentang buku ini. Jadi, duluuu.. banget gw pernah baca "L", tapi ngga selesai. Kenapa? Karna itu buku pinjeman, dan berhubung gw anaknya kalo baca suka setengah-setengah, walhasil, udah keburu dibalikin saat lagi kentang-kentangnya. Yanasib, apa boleh buat.

Ini buku 'nyangkut' banget selama bertaun-taun. Gw nggak bosen-bosennya penasaran. Tiap kali melanglang buana ke toko buku atau book fair, kalo lagi inget, pasti gw nyari ini buku, tapi nggak nemu-nemu, sampai suatu hari...

Waktu lagi jalan-jalan di Twitter, gw liat lupa-siapa ngelink website yang lagi buka garage sale buku via online. Penasaran lah gw. Lagi iseng liat-liat, eeeh.. nemu!

Tanpa pikir panjang, langsung gw email, pesen, transfer, dan singkat kata, bukunya sampe 2 hari kemudian. Ah, senangnyaaa!

Puas banget deh mesen di sini. Sebagai pelanggan yang baik, kalo dilayanin dengan baik, udah seharusnya kasih testimonial yang baik kan? Dan nggak lupa terima kasih. Jadi, makasih ya, Mbak Nyonyabuku :D

Gw beli buku "L" ini dengan harga murah. Buku second sih, tapi kondisinya masih bagus dan rapi tersampul, dan ada bonus pesan:
"'The worst thing about new books is that they keep us from reading the old ones,' said Joseph Joubert. So, thank you for picking this lovable book as your new friend"
Hihi, your welcome. And thank you for delivering new friend, an old-but-new curhat pasif friend. Hello, dear L :)

Jadi, begitulah. Intinya, gw seneng banget akhinya misi pencarian buku "L" selesai. Horai! Banzai!

Ah emang deh insting tuh nggak pernah salah. Ini buku emang sesuai banget sama mood 'pengen curhat pasif' gw. Dan bermodal insting itu pula, gw 'mengarahkan sekaligus diarahkan' untuk 'curhat pasif' di saat yang tepat. Gw blom selesai sih bacanya, tapi sampe tengah, gw cukup 'fulfilled'.

Walaupun dengan konflik cerita yang super beda sama kehidupan gw, tapi entah gimana, dengan cara yang aneh, buku "L" ini bisa merangkum sekaligus menjawab 'kegelisahan' gw. Bingung ngejelasinnya, hehe.

Btw, labil deh ini. Mau ngelarin "The Very Yuppy Wedding" tapi baru halaman-halaman pertama udah 'nggak nyaman' tapi terobsesi buat baca semua bukunya Ika Natassa (masih blom lengkap sih, "Underground" blom punya) tapi lagi nggak mood tapi ngejar target Februari kelar tapi tapi tapi...

Ah elah, ribet.

Wednesday, February 6, 2013

Idealis Spontan

1 comments

Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

Source: http://www.ipersonic.net/id/5.html

###

Huahahahahahahahahahahahahahahahashit tepat banget!

Itulah kenapa apapun kerjaannya, anaknya tetep butuh partner buat penyeimbang, yang telaten akan detail.

Anaknya stresan kalo disuruh ngerjain atau betulin detail, tapi kalo
instruksinya nggak detail, bingungan. Maunya apa sih anaknya?

Anaknya anak tim banget. Nggak bisa kerja sendirian karna hasilnya pasti kacau dan nggak terstruktur, sehubungan dengan otaknya yang acak-acakan.

Dan sehubungan dengan nggak bisanya kerja sendirian, jadi anaknya kooperatif banget kok, tenang aja.

(Ini anaknya apa sih tujuannya nulis ini sebetulnya?)

Saturday, February 2, 2013

#2

0 comments
lulum, melulum v mengemut (Jw), mengulum

semalu n daun hidup, kejut-kejut, putri malu, rebah bangun, sikejut

burakah a Mk aga, agul, anggak (Jw), angkuh, arogan, bengah (ark), besar cakap/kecek/kepala/mulut, bongak, bongkak, congkak, gaduk (Mk), jemawa (kl), kacak, langguk, lantam, mengangkat diri, pongah, rangah, ria (Ar), sombong, tinggi hati, uju (Mk)

geriak, menggeriak v mengeriap; berkerubung, berkerumun, berserengam (ark), membelar, menggerayang, menggerumut, menyeligit, menyemut; menggerayang

lintar n lingkar
0 comments
Pening. Bingung. Excited. Nggak ngerti. Penasaran. Menggebu-gebu. Mempertanyakan. Ngerasa bersalah. Males. Bosen. Marah. Memaafkan. 'Nebus dosa'. Clueless. Salting. Ragu-ragu. Yakin. Konsisten. Labil. Bahagia. Nyesek. Nostalgia. Visioner. De javu. Karma. Percaya. Berubah pikiran. Coba paham. Apalagi?

Ibarat truk molen yang non-stop ngaduk-ngaduk semen emosi, sampai akhirnya mengeras dan jadi aspal.

Siapa mau bikin jalan tol? Gw bantuin deh.

Friday, February 1, 2013

#1

0 comments
din n agama, keyakinan, religi; kepercayaan

kecandan n Mk banyolan, canda, cura, garah-garah (Mk), gurauan, kelakar, olok-olok, seloroh, senda-gurau;
berkecandan v bercanda, bercengkerama, bercura, bergarah (Mk), bergurau, berkelakar, berolok-olok, berseloroh, mencadai; bermain-main

uribang n Jk bunga raya, kembang sepatu

madi a kebendaan, materialistis

afwah n berkat, hikmah, pestaka, tuah (oleh kesucian)

#30harithesaurus

0 comments
Pulang kantor dan di halte Transjakarta tiba-tiba terlintas "gimana kalo bikin 30 hari thesaurus?" Terus ke toko buku beli thesaurus. Iya emang impulsif abis, ahaha.

Jadi, idenya adalah nge-posting 5 kosakata yang belom pernah diketahui, tiap hari, secara acak. Peraturannya suka-suka gw. Pokoknya tinggal tunjuk dan tulis. Simpel. Tujuannya yaaa.. iseng aja, pengen nambah-nambah kosakata.

Yaudah gitu doang.