Estafet Buku Kedua: "Hembus Angin Utara"


Jadi, buku kedua yang mau gw estafet-in adalah buku "Hembus Angin Utara" karangan Daniel Glattauer. Buku ini adalah novel roman terjemahan yang bercerita tentang dua orang yang saling berkirim email. Berawal dari email nyasar dan berlanjut jadi sahabat pena versi modern. Review nya bisa diliat di sini.

Btw, buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, bahasa Jerman, dan dalam interaksi tokohnya, sang penerjemah menggunakan 'Saya' dan 'Anda' sebagai kata ganti orang pertama dan kedua.

Ini sebetulnya bikin gw bertanya-tanya. Kenapa ya? Apa karna emang bahasa aslinya pake kata ganti yang seformal itu, atau ada alesan lain? Ada kesan 'berjarak' dalam penggunaan 'Saya' dan 'Anda', walaupun literally emang berjarak karna interaksi tokoh cuma terhubung lewat email.

Tapi yaudalah. Ada hal-hal yang bisa dinikmati tanpa kita harus tau kenapa.

Asal-usul pertemuan gw sama buku ini sebetulnya tanpa sengaja. Waktu itu, abis pulang kuliah, gw pergi ke Bloc, toko buku sekaligus kafe di FISIP. Lagi iseng liat-liat, eeeh.. ketemulah si "Gut Gegen Nortwind" ini (judul buku aslinya).

Sebagai 'anak cover' (alias gampang tertarik oleh sampul depan yang menarik), stopping power buku ini buat gw emang terletak pada cover nya, tapi keputusan gw membeli adalah karena secuplik kutipan ini:
"Schreiben ist wie kussen, nur ohne lippen. Schreiben ist kussen mit dem kopf (Menulis seperti mengecup, hanya tanpa bibir. Menulis adalah mengecup dengan pikiran)"
Tanpa pikir panjang dan tanpa ekspektasi macem-macem, gw bergegas ke kasir. Dan emang bener ya, semakin rendah ekspektasi, semakin banyak kejutan.

As the quote said, this book kissed my mind... unexpectedly and surprisingly. And I officially love and hate this book at the same time.

Buku ini spesial. Selain karna gw suka sekaligus benci ceritanya (terutama ending nya), tapi juga karna kenangannya. Nempel di otak selengket super glue. Itulah kenapa gw maju-mundur mau ngelepas buku ini. Tapi, balik ke niatan gw buat belajar ikhlas, rasa-rasanya ini keputusan yang tepat.

Nggak sayang emangnya Del ngelepas buku favorit? Ya karna sayang makanya gw lepas. Lagi-lagi, perihal belajar ikhlas. Err.. sebetulnya nggak selebay itu sih. Masih bisa lah gw beli lagi kalo emang mau. Tau deh tapinya nyari di mana lagi, hahaha.

Poinnya sih, walaupun gw nggak bisa ngelepasin kenangan, tapi bentuk fisiknya bisa kok dilepas. Mengestafetkan buku ini jadi semacam pembuktian kalo gw bisa.

So, who wants to be kissed in mind?

No comments:

Powered by Blogger.