Estafet Buku Perdana: "Kangen Indonesia"


Beberapa hari yang lalu, berawal dari twit Uswah tentang ide bikin estafet buku, lahirlah akun @estafetbuku. Apa itu estafet buku? Detailnya bisa diliat di sini: "Mari Berbagi Racun dalam Buku"

Selayaknya estafet pada umumnya, pasti akan selalu ada pelari yang membawa tongkat dan pelari yang menunggu tongkat. Dalam estafet buku juga sama, cuma bedanya, tongkatnya berupa buku.

Kalo dalam estafet biasa ada finish line nya, dalam estafet buku, harapannya malah justru nggak ada finish line, jadi penyerahan 'tongkat' nya terus berlanjut, dan pengetahuan di dalamnya akan terus hidup.

Menarik kan yah? Idenya sederhana, tapi siapa yang tau nantinya bisa berkembang kaya gimana kan? Buktinya, hanya dalam beberapa hari semenjak Uswah mencetuskan ide itu, udah kebentuk komunitas kecil dan estafetnya mulai jalan. Hihi, kekuatan social media emang nggak bisa diremehkan ya.

Terus kalo mau ikutan, caranya gimana? Bisa diliat di sini: "Aturan Bermain Estafet Buku"

Untuk proyek estafet buku ini, gw mau memulainya dengan jadi starter, dengan 'tongkat' berjudul "Kangen Indonesia" karangan Hisanori Kato. Gw pernah sedikit mengulas tentang buku ini di sini: "Indonesia di Mata Orang Jepang"

Ngg.. bukan ulasan juga sih sebenernya. Lebih kepada sedikit pemikiran gw dan efek samping setelah baca buku ini.

Gw malu. Berulang kali gw keselek sendiri bacanya, malu jadi orang Indonesia. Bukan, bukan dalam artian negatif, tapi dalam artian "sebagian dari iman"

Aduh, bingung jelasinnya, haha.

Di buku itu, Kato-San bercerita tentang cintanya dia sama Indonesia yang ramah, hangat, dan 'fleksibel'. Alih-alih memandang negatif hal-hal yang selama ini kita anggep negatif (tentang budaya "jam karet" dan "nggak pa-pa" misalnya), Kato-San bisa banget mengemasnya jadi sebuah pandangan baru yang positif.

Gw campur aduk bacanya. Antara sedih, malu, ngerasa kesindir halus, tapi juga terbersit rasa bangga dan bersyukur. Sialan emang 'racun' buku tuh.

Sama kaya Uswah, gw juga nggak mau 'tersiksa' sendirian. Gw pengen seenggaknya, gw bisa berbagi 'penderitaan' dan 'kegelisahan' untuk jadi lebih baik, dan gerakan itu dimulai dari membaca buku.

Gw pengen kita, bangsa Indonesia, bisa lebih bangga sama negara sendiri. Malu nggak sih, ada orang asing yang bisa bercerita betapa cintanya dia sama negara orang, sementara bangsanya sendiri nggak?

Di suatu mention, ada pertanyaan menarik dari Vida tentang kekhawatiran buku akan rusak atau hilang. Kalo buat gw, simpel aja: berani ngelepas, berani ikhlas. Toh gw melepas buat sesuatu yang lebih baik.

Nggak tau ya, gw sih percaya buku ini bisa dijaga dengan baik oleh 'penerima tongkat' berikutnya, berikutnya lagi, dan seterusnya. Kalaupun ternyata di perjalanan 'tongkat' nya kenapa-kenapa, yaudah, ikhlasin. Semoga tetep bermafaat buat 'penerima tongkat' yang terakhir ;)

Sekarang, udah ada 3 orang yang udah nungguin 'tongkat' berpindah tangan dan dengan senang hati menampung penyebaran 'racun' dari gw: Dini, Velo, dan Vieza. Jadi, selamat teracuni! Siapa mau jadi 'korban' selanjutnya? Hehehe ;p

2 comments:

Uswah Habibah said...

Krn Kato sensei itu dosen gw, gw pernah sgt malu krn ada tmn sekelas gw ketauan nyontek pas ujian Kanji. Takut beliau mikir emang kaya' gitu kelakuan mhs2 Indonesia :( Iya, Del, efek egois "gamau tersiksa sendirian" trnyata bisa jd positif gini ya, hehe

fidella anandhita savitri said...

Kan biar sesuai sama peribahasa "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing" Swah, hahaha!

Powered by Blogger.