Thursday, March 28, 2013

No Title

0 comments
"To philosophize, one must confess" -Hajime Tanabe
Therefore, I confess.

Therefore, I'll write here like no one's reading. No, not that I want to philosophize, it's just... I need to write down things. I feel this urge to catharsize. Fuck grammar, fuck audience, fuck everything. I'm writing now for no one but me. Sometimes, we gotta be selfish for our own good, yes?

So... where should I start from?

Okay, I'll start from thing I want. People say, pursue what you really want. But the problem is, what I want now seems non-sense and worthless to most people around me. But I understand, they just can't understand. They never be in my shoes. I am.

So, it's okay. I fully acknowledge my consequence. My willingness is stronger than my body, beyond my limit, and worth more than what's tangible. And nothing worth having comes easy, yes?

But for what comes easy, one must still struggle. Like Sisyphus. And now, I feel like Sisyphus. Doing worthless task but still, a task is a task. No matter how worthless it is at the end, you have to do what you are told to.

As what Albert Camus said "One must imagine Sisyphus happy", I try to take it easy, let it go, and do things light-heartedly. But in fact, I don't, but I have no other option for now. Either I focus on that thing-I-want but still do what I do, or consider another thing to do but set that thing-I-want as my second priority.

Choices, choices, choices. Life is all about choices. Either you choose or choose. Even not choosing is a choice. If there's thing besides time and uncertainty that is certain, it's choice. Choice is a destiny, to choose what to choose is a choice. Period.

For thing I do now, for thing I choose, I'm stuck. Everything runs so-so. No significant development. Maybe because I don't try really hard. Well, actually I mindfully and purposely don't force myself to work harder, so I have to accept the truth that I get what I give: so-so result.

Well, it's not that i don't try at all. I try. But maybe not in that "try so hard to get best result" way, but "try so hard to like what I do though what I do is not what I like" way. But I fail. I try again, and I fail again. My heart doesn't belong there. It never does in the first place.

And as what Sisyphus does, it just sucks to see the rock you're pushing to the hill rolls down again, and you have to start everything over again, again, and over again. It's kinda heartbreaking you know, to see what you put sweat on is all useless.

Well, anyway, who can control what's going beyond our reach, yes? What we can control is how we react through it. But to react wisely, it's easier said than done.

Because one does not simply imagine Sisyphus happy.

Wednesday, March 27, 2013

Marchic

0 comments
Barusan di kereta tiba-tiba gw kepikiran nama buat bulan ini: Marchic! Bulan lalu ngga sempet bikin nama, jadinya lewat gitu aja Februarinya. Jadinya pas tadi terlintas "Marchic", langsung kegirangan sendiri, trus jadi pengen nulis. Iya, emang ngga penting banget sih.

Gw sebenernya lagi menghindari recap-an, karna tau pasti bakal stres ngitungin tanggal, hahaHIKS, tapi berhubung sekarang lagi pengen, jadi yaudalah ya, mari menelusuri lagi, apa aja yang terjadi sepanjang Marchic ini?

Jadi gini, akhir-akhir ini tuh gw punya 'hobi' baru: ngecekin dan nyoret-nyoret kalender. Dan ngga berasa banget, tau-tau bentar lagi udah mau abis aja Maretnya, bulan di mana banyak 'pertama kali' akan sesuatu. Dari hal-hal cemen sampe hal-hal yang... gitu deh.

Pertama kali berani pake contact lens. Pertama kali rasanya butuh banget dopping karna harus banget sehat, padahal biasanya anti-obat dan takut over dosis (lebay banget emang). Pertama kali punya tempat tinggal dan singgah 3 biji. Rumah, kosan deket kantor, kosan Cune.

Pertama kali mulai proyek nulis tandem. Pertama kali kerja sambil latian MB. Pertama kali nari-nari lagi, walaupun perkakian sempet kambuh ngilunya dikit. Pertama kali hidup nomaden. Pertama kali pengakuan sesuatu yang selama ini gw simpen rapet-rapet.

Pertama kali nikahan sepupu dari keluarga bokap (yang berujung pada "abis ini giliran siapa nih?" Hahaha). Pertama kali panitia nikahan temen MB (Bhotie dan Ndun). Trus apa lagi ya? Sekian itu sih yang bisa gw inget.

Di bulan Marchic ini, jadwal gw padet. Najis, gegayaan banget, sok-sokan jadwal padet macem artis, zzz. Tapi ya gitu, gw... mendadak males nulis. Udah ah, sampah lah.

Friday, March 22, 2013

Estafet Buku Ketiga: "The Little Prince"

2 comments


Buku ketiga yang mau gw lepas ke semestanya Estafet Buku adalah The Little Prince. Secara garis besar, buku ini bercerita tentang perjalanan seorang anak kecil yang berasal dari planet yang nggak lebih besar dari rumah. Istilahnya: "lurus ke depan tidak membawa kita terlalu jauh"

Anak ini bernama Little Prince (Le Petit Prince, Pangeran Kecil, atau apa lah sebutannya). Dia bertualang di alam semesta, dari planet ke planet, bertemu orang-orang dewasa yang menurutnya aneh, dan berakhir di bumi.

Seperti 2 buku sebelumnya, Kangen Indonesia dan Hembus Angin Utara, gw juga akan memperlakukan buku ini secara spesial lewat bahasan singkat di sini. Dan seperti 2 buku sebelumnya juga, The Little Prince ini merupakan salah satu buku favorit gw. Kenapa?

Pertama, pada dasarnya, gw suka buku anak-anak yang penuh ilustrasi. Dan buku ini ho-oh banget.

Kedua, karna gaya penceritaannya yang ringan dan tipikal dongeng, sekaligus filosofis dan kontemplatif. Sekilas emang keliatannya ini buku buat anak-anak, tapi sebetulnya cocok juga untuk orang dewasa. Kalo kata halaman pengantarnya:
"...aku akan mempersembahkan buku ini kepada anak yang kemudian menjadi orang dewasa ini. Semua orang dewasa mulanya adalah anak-anak (meskipun hanya sedikit dari mereka yang ingat)..."
Ketiga, karna si penulis ngambil sudut pandang yang menarik, yaitu anak kecil yang melihat dunia. Somehow gw ngerasa kesindir, haha. Ah, jadi pengen jadi anak kecil terus. Woy sadar umur woy.

Keempat, gw suka dongeng dan suka didongengin, makanya gw suka buku ini karna gw ngerasa kayak lagi didongengin sama tokoh 'Aku'. Siapa 'Aku'? Jadi, di buku ini ada 2 tokoh utama: tokoh 'Aku' dan tokoh 'Pangeran Kecil'. Nah, si Aku inilah yang cerita tentang ceritanya Pangeran Kecil.

Terakhir, dalam petualangan besar si Pangeran Kecil ini, ada 1 kutipan favorit gw. Banyak sih sebetulnya, tapi yaudalah 1 aja, sekalian menutup postingan kali ini:
"...Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting tak terlihat oleh mata"
Jadi, dadah, Pangeran Kecil. Selamat jalan-jalan di semesta yang baru! Semoga apa-apa yang terlihat oleh mata juga bisa terlihat sejelas melihat dengan hati :D

Wednesday, March 20, 2013

First Thing First!

0 comments
Pilihan tuh kayak Gugur Bunga ya, mati satu tumbuh seribu. Butuh banget deh emang bikin Urgent/Important Matrix. Masalahnya, yang nggak mendesak dan nggak penting tuh biasanya distraksi yang menarik. Ah, cemana ini godaannya tipikal 'Gugur Bunga' banget.

First thing first, Del!

Anggep aja lagi packing. Belajar milih. Mana yang perlu dibawa, mana yang perlu ditinggal. Ngapain banget kan, misalnya mau pergi ke Swiss, tapi hebohan 'fashion show' bikini mana yang mau dibawa, padahal alesannya karna pengen doang. Percuma, nggak bakal kepake juga sih.

Yah, kecuali mau ski-an pake bikini.

Dan ada aja gitu yang bikin dilema banget. Misalnya lagi di Swiss, trus nemu toko yang menggelar diskon besar-besaran untuk produk musim panas, yang udah tinggal hari terakhir banget.

Super nggak penting tapi mendesak. Kapan lagi coba punya bikini bulu ala Swiss dengan harga murah kan? Ditambah, tali bikini yang lama bahkan sampe pake karet gelang buat nyambunginnya, saking udah nggak ngerti lagi harus diapain. Jadi emang kudu beli yang baru.

Ini ngasal banget sih perumpamaannya, tapi intinya tentang belajar memilah prioritas. Menjaga integritas. Mengatur waktu yang terbatas.

Kenapa banget ya gw anaknya banyak maunya banget?

Thursday, March 14, 2013

Absurdism of Sisyphus

0 comments
Berhubung pagi ini dengan tumbennya gw bangun (terlalu) pagi dan punya banyak waktu buat baca tapi sedikit bacaan, gw iseng buka-buka buku The Philosophy Book yang udah dibeli dari bulan Januari lalu tapi baru gw sentuh sekarang.

Buku ini berisi kompilasi pemikiran para filsuf yang -menurut gw- cukup ringan dibaca untuk orang awam, dengan format layout design yang super bikin nyaman mata.

Seperti biasa, gw baca secara acak, ngeliat dari judul yang menarik. Judul pertama yang bikin gw ter-hook adalah tentang pemikiran Albert Camus.
"Life will be lived all the better if it has no meaning"
Albert Camus ini adalah seorang jurnalis, penulis, dan filsuf beraliran absurd. WUOH! Gw baru tau loh ada aliran filosofi absurdism. Haha, telat ya baru tau sekarang.

Di situ dijelaskan mengenai 'embracing meaningless life', di mana Albert Camus mengambil cerita mitologi Yunani tentang Sisyphus, seorang raja yang dihukum oleh seorang dewa untuk mendorong batu besar yang super berat ke atas bukit.

Di saat dikit lagi sampai puncak, batu itu gelinding, dan Sisyphus harus ulang dorong lagi dari bawah. Gelinding lagi, dorong lagi. Begitu seterusnya. SELAMANYA.

Eh OOT. Kalo dewa tuh sebutannya 'seorang dewa' apa 'dewa' aja? Soalnya kan dewa beda sama manusia, jadi harusnya nggak pake 'seorang' kan ya?

Oke, kembali ke topik.

Kebayang nggak sih kalo jadi si Sisyphus ini? Apa coba kan yang lebih menyiksa dari hidup dengan bekerja secara cuma-cuma dan percuma, dan bahkan nggak bisa mati?

Tapiii.. si Albert Camus ini kemudian berpikir "gimana kalo si Sisyphus ini sebetulnya seneng-seneng aja? Kira-kira, apa ya yang bikin dia seneng?"

Eh ini ceritanya gw lagi ngarang pake bahasa gw sendiri tentang pemikiran si Camus ya, subjektif jatohnya. Semacam interpretasi bebas gw terhadap apa yang gw baca tentang doi. Mungkin lebih asik ngutip dikit kali ya:
"...Sisyphus teaches the higher fidelity that negates the gods and raises rocks. He too concludes that all is well. This universe henceforth without a master seems to him neither sterile nor futile. Each atom of that stone, each mineral flake of that night filled mountain, in itself forms a world. The struggle itself toward the heights is enough to fill a man's heart. One must imagine Sisyphus happy"
Intinya, kisah Sisyphus itu refleksi kehidupan yang meaningless. Makanya, yaudalah, 'embrace that meaningless life' aja.

Tapiii.. Camus juga bilang gini:
"The workman of today works every day in his life at the same tasks, and this fate is no less absurd. But it is tragic only at the rare moments when it becomes conscious"
Kalo ngeliat kasus Sisyphus, emang iya bener, kadang, ngga punya tujuan itu lebih baik daripada nggak melakukan tindakan. Walaupun udah tau kalo ujung-ujungnya batu yang dia dorong akan gelinding lagi, dia terus berusaha. Bergerak. Gagal dan bangkit.

So... yes, I DO agree that embracing meaningless life is meaningful indeed. But as Camus said, to choose to do such meaningless task consciously is... tragic.

Because Sisyphus doesn't have choice. We do.

Tuesday, March 12, 2013

INFP

0 comments

Gara-gara Cune nge-post gambar di atas di Tumblr-nya, gw jadi inget, dulu pernah ada masa di mana segala tes gw cobain, dari mulai personality test sampe personality disorder test.

Dan itu bervariasi, dengan beragam tipe tes dari berbagai sumber, berhari-hari. Bahkan sampe nyampur-nyampur ke zodiak, shio, golongan darah, dan segala rupa lainnya. Haha, kurang kerjaan banget emang.

Pada dasarnya, gw emang suka nyari tau tentang diri sendiri sih. Soalnya kadang ya, gw suka ngerasa, bahkan gw sendiri pun suka nggak paham sama diri sendiri. Masih banyak hal-hal baru yang ternyata gw baru tau.

Lucu ya, kita suka bilang orang lain sok tau kalo lagi komentar tentang kita, tapi siapa yang tau kalo orang lain ternyata lebih tau tentang kita? Jadi, yang sok tau siapa sekarang?

Eh tapi bukan berarti gw membenarkan orang lain men-judge diri kita sih, cuma yaaah.. kadang, penilaian orang lain tuh ada benernya, sama kayak penilaian kita juga kadang ada salahnya.

Oke, daripada kelamaan muter-muter, langsung aja deh ke topik yang mau dibahas: INFP.

Jadi, karna postingan Cune yang tadi itu, gw jadi nyari-nyari lagi tesnya, trus ketemu tes ini, dan secara mengejutkan, gw dapetnya INFP. Kata Cune sih nggak mengejutkan karna keliatan, haha. Tapi buat gw mengejutkan, karna kayaknya dulu gw bukan itu.

Trus gw jadi mikir, kepribadian seseorang emangnya bisa berubah ya? Bukannya itu justru material dasar? Ibarat perhiasan, gelang emas ya terbuat dari emas, cincin berlian dari berlian (Ya menurut ngana? Masa dari beras?) Yah, kadang campuran sih, nggak murni.

Karna gw nggak yakin, gw ngerjain ulang tesnya, 3x. Pertama, ngerjain tanpa mikir. Kedua, pake mikir "biasanya gw gimana ya?" Ketiga, pake merenung "gw maunya gw jadi kayak gimana ya?"

Lagi-lagi, secara mengejutkan, tiga-tiganya hasilnya INFP. Bah. Cemana pula lah bisa begitu. Oh ya, gw blom ngejelasin ya apa itu INFP.

Jadi, dalam Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), kepribadian manusia itu dibagi 8: Extravert-Introvert, Sensor-iNtuitive, Feeler-Thinker, Perceiver-Judger.

Dari 8 pembagian itu, di-mixed up jadi 4. Kombinasinya ada 16: ESFP, ENFP, ESTP, ENTP, ESFJ, ENFJ, ESTJ, ENTJ, ISFP, INFP, ISTP, INTP, ISFJ, INFJ, ISTJ, INTJ. Fiuh, banyak juga ya. Penjelasan masing-masing kombinasi bisa diliat di sini.

Seperti yang tadi gw bilang, hasil gw adalah INFP: Introvert, iNtuitive, Feeler, Perceiver. Penjelasannya bisa diliat di gambar atau di sinisini, atau sini (males jelasin, haha).

Iseng, gw main tebak-tebakan sama diri sendiri sblom mulai tesnya, semacam "ah gw kayaknya ENFP deh nih. Atau ENTP. Atau INTP". Tapi ternyata tetooot. Salah. Kok bisa ya? Ya kenapa nggak? Apa sih yang nggak bisa di dunia ini? (Nanya sendiri jawab sendiri).

Barusan, karna kebangun dan nggak bisa tidur lagi, gw nyari-nyari lagi tentang INFP ini. Penasaran. Trus iseng ngetes lagi dari sumber yang berbeda. Ujung-ujungnya INFP lagi. ZZZ. Yaudalah, terima aja.

Masih 'mentah' dan versi asumsi sih, cuma gara-gara beginian, gw jadi mikir:
"What you really are and what you really wish you were are different"
Ah tuh kaaan, gw sebenernya thinker deh, karna suka insecure sendiri kalo berpendapat tanpa landasan fakta yang kuat. Minimal googling lah, baca-baca dikit. Eh tapi feeler juga sih, karna gw cenderung pake feeling buat memutuskan sesuatu, dan alesannya suka nggak rasional. Yaaa.. 50-50 deh.

Ah tau lah. Mari nikmati saja apa pun kepribadiannya.

Saturday, March 9, 2013

Relieved

0 comments
Thank you very much :)