Absurdism of Sisyphus

Berhubung pagi ini dengan tumbennya gw bangun (terlalu) pagi dan punya banyak waktu buat baca tapi sedikit bacaan, gw iseng buka-buka buku The Philosophy Book yang udah dibeli dari bulan Januari lalu tapi baru gw sentuh sekarang.

Buku ini berisi kompilasi pemikiran para filsuf yang -menurut gw- cukup ringan dibaca untuk orang awam, dengan format layout design yang super bikin nyaman mata.

Seperti biasa, gw baca secara acak, ngeliat dari judul yang menarik. Judul pertama yang bikin gw ter-hook adalah tentang pemikiran Albert Camus.
"Life will be lived all the better if it has no meaning"
Albert Camus ini adalah seorang jurnalis, penulis, dan filsuf beraliran absurd. WUOH! Gw baru tau loh ada aliran filosofi absurdism. Haha, telat ya baru tau sekarang.

Di situ dijelaskan mengenai 'embracing meaningless life', di mana Albert Camus mengambil cerita mitologi Yunani tentang Sisyphus, seorang raja yang dihukum oleh seorang dewa untuk mendorong batu besar yang super berat ke atas bukit.

Di saat dikit lagi sampai puncak, batu itu gelinding, dan Sisyphus harus ulang dorong lagi dari bawah. Gelinding lagi, dorong lagi. Begitu seterusnya. SELAMANYA.

Eh OOT. Kalo dewa tuh sebutannya 'seorang dewa' apa 'dewa' aja? Soalnya kan dewa beda sama manusia, jadi harusnya nggak pake 'seorang' kan ya?

Oke, kembali ke topik.

Kebayang nggak sih kalo jadi si Sisyphus ini? Apa coba kan yang lebih menyiksa dari hidup dengan bekerja secara cuma-cuma dan percuma, dan bahkan nggak bisa mati?

Tapiii.. si Albert Camus ini kemudian berpikir "gimana kalo si Sisyphus ini sebetulnya seneng-seneng aja? Kira-kira, apa ya yang bikin dia seneng?"

Eh ini ceritanya gw lagi ngarang pake bahasa gw sendiri tentang pemikiran si Camus ya, subjektif jatohnya. Semacam interpretasi bebas gw terhadap apa yang gw baca tentang doi. Mungkin lebih asik ngutip dikit kali ya:
"...Sisyphus teaches the higher fidelity that negates the gods and raises rocks. He too concludes that all is well. This universe henceforth without a master seems to him neither sterile nor futile. Each atom of that stone, each mineral flake of that night filled mountain, in itself forms a world. The struggle itself toward the heights is enough to fill a man's heart. One must imagine Sisyphus happy"
Intinya, kisah Sisyphus itu refleksi kehidupan yang meaningless. Makanya, yaudalah, 'embrace that meaningless life' aja.

Tapiii.. Camus juga bilang gini:
"The workman of today works every day in his life at the same tasks, and this fate is no less absurd. But it is tragic only at the rare moments when it becomes conscious"
Kalo ngeliat kasus Sisyphus, emang iya bener, kadang, ngga punya tujuan itu lebih baik daripada nggak melakukan tindakan. Walaupun udah tau kalo ujung-ujungnya batu yang dia dorong akan gelinding lagi, dia terus berusaha. Bergerak. Gagal dan bangkit.

So... yes, I DO agree that embracing meaningless life is meaningful indeed. But as Camus said, to choose to do such meaningless task consciously is... tragic.

Because Sisyphus doesn't have choice. We do.

No comments:

Powered by Blogger.