Listen to Me

How often do you write, preview, edit, and end up with delete? Me, too often.

HAHAHA. Agak gimana-gimana juga sih jujur-jujuran nulis ini dalam keadaan baik-baik aja, tapi yaaah.. begitulah. Ada titik-titik -banyak titik sebetulnya, dan bisa ditarik garis- di mana gw rasanya pengen banget 'nyender'.

Berhubung gw anaknya susaaaaaaaah.. banget buat bisa 'nyender' ke orang, gw biasanya 'nyender' ke nulis, segala 'curhat pasif', atau ke Yang Maha Tempat Bersandar *hazek jadi religius, haha.

And times when I do those things, are times when I (try to) get up again ASAP, not letting myself lean on too long.

Gw terbiasa "bersih-bersih netral-netral" tiap pikiran-pikiran negatif menclok, jadi mereka ngga hinggap lama-lama.

Actually it's a good thing, but sometimes, good thing is not a good thing.

Ada masa-masa di mana gw 'ngga butuh' mikir positif. Gw cuma pengen 'lepas kendali'. Meledak, nangis, teriak-teriak, marah-marah, berontak, ngamuk, dan semacamnya lah. Tapi otak gw menolak. Dia maunya gw selalu terkendali.

Dan karna si 'bos besar' ini yang mimpin reaksi gw, yaudah, jadinya badan (mau gamau) nurut. Pun dada rasanya sesek banget dan ujung-ujungnya nangis, gw tetep masih bisa ngendaliin nangis gw.

Otomatis ngatur napas. Otomatis madep atas. Otomatis maksain bibir buat senyum. Otomatis nyari segala "masih untung". Otomatis balik jadi baik-baik aja. Segala otomatis sampe lupa caranya pake manual. Pret lah!

NIH KAN! Nulis gini aja langsung si otak nge-hush-hush-in. Emang sih, harusnya gw bersyukur, tapi gimana yaaa.. jatohnya jadi 'perang' antara si Della (yang pengen) menye-menye lawan si Della sok kuat (yang alergi menye-menye).

Pokoknya gimana lah caranya biar si Della (yang pengen) menye-menye ini 'takluk', dan biasanya caranya adalah dengan 'marahin' diri sendiri.

I'm hard to myself.

Trus tadi gw nemu artikel ini: "Have You Listened Your Self-Talk Lately" dan ter-GLEK sendiri. Rasanya kaya ke-gep nyontek sama guru ter-killer se-antero sekolah dan satu kelas tau (pengalaman pribadi, hahaha). "You're busted" banget.

Naaah, artikel di atas bikin gw berpikir ulang. Apa mungkin gw terlalu keras sama diri sendiri? Bisa kali ya nyoba cara lain, yaitu dengan sedikit mengubah cara gw 'ngontrol' diri, semacam "Del, anggep diri lo itu temen lo sendiri. Apa gitu cara lo men-treat temen yang lagi down?"

Kadang, manusia butuh di-lift up, di-support dengan tulus, 'disayang-sayang', dipuk-puk. Begitu pun gw ke gw. Tau kapan harus tegas, tau kapan harus lembut. Iyuh, najis! Geli sendiri deh nulisnya, huahaha.

Trus gw jadi sadar kenapa kadang gw muak banget sama diri sendiri yang belagak bisa 'mengatur' lautan emosi, walaupun emang jadi 'surut'. Ternyata peralihan dari gw-yang-ngga-baik-baik-aja ke gw-yang-baik-baik-aja itu jatohnya 'fight against' toooh, bukan 'make peace with'.

Pantesan aja! Yang namanya perang mah ya, orientasinya pasti menang. Boro-borooo mau dengerin, yang ada malah hasrat pengen menguasai. No wonder suara minoritas di kepala yang terdengar lirih -bahkan hampir berbisik- itu kalah.

Jadi, yuk ah gengsinya diteken dulu. Mari dengerin, menyimak apa yang suara-suara sayup itu coba sampaikan.

Because after all, all we need is... to be listened :)

No comments:

Powered by Blogger.