Tuesday, June 25, 2013

Resensi 12 Menit

0 comments

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal Buku : 343 halaman


Prolog

“Stop thinking. Start feeling” – 12 Menit, BAB 43

Berhenti berpikir dan rasakan. Nikmati. Dengarkan apa kata hati.

Saya adalah seorang anak marching band, dan saat tahu ada yang membuat buku dan film mengenai dunia marching band, tentunya saya sangat antusias. Sangat amat antusias. Sekali lagi, SANGAT AMAT ANTUSIAS! Ya, saya seantusias itu! Di Indonesia, ini pertama kalinya ada buku dan film mengenai dunia marching band.

Setelah selesai membaca buku 12 Menit, saya ingin sekali menulis resensi ini dengan sempurna dan terlihat ‘WAH!’ oleh orang yang membacanya. Banyak sebaran kata-kata di dalam kepala yang berebut ingin disusun. Namun, semakin saya berpikir bagaimana menulis dengan baik dan benar, semakin saya berpikir bagaimana tanggapan orang lain saat membaca resensi saya, saya semakin takut salah, dan alih-alih menulis dengan sempurna, saya justru tidak menulis apa pun. Saya semakin tidak tahu ingin menulis apa.

Maka dari itu, saya putuskan untuk tulis saja, apa pun itu. Tak perlu berusaha menjadi sempurna. Tak perlu juga terlalu memikirkan apa kata orang. Rasakan saja apa kata hati. Stop thinking. Start feeling.

“What comes from heart, goes to heart” – Anonymous

Saya selalu percaya bahwa apa pun yang datang dari hati akan sampai ke hati. Tidak berlebihan bila saya bilang bahwa buku ini salah satu buktinya. Apa yang disampaikan oleh buku ini sangat mengena di hati saya. Semoga begitu pula dengan filmnya yang akan rilis di bulan Agustus nanti. Dan sebagai ucapan terima kasih telah menyentuh saya lewat buku ini, saya juga akan menulis resensi ini... dari hati. Semoga bisa sampai ke hati juga.

***

“Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri” – 12 Menit

Kutipan di halaman pertama buku 12 Menit ini merangkum keseluruhan cerita. Tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang impian. Tentang tekad dan kemauan. Tentang kerja keras. Tentang kemenangan. Bukan tentang mengalahkan musuh, namun tentang mengalahkan diri sendiri.

Buku setebal 343 halaman ini menceritakan mengenai perjalanan Marching Band Bontang menuju GPMB dan menyorot kisah beberapa tokoh yaitu Elaine, Tara, dan Lahang di bawah bimbingan Rene sang pelatih.

Elaine, seorang anak turunan Jepang yang sangat berbakat dan mencintai musik, namun ditentang keras oleh ayahnya untuk mengikuti marching band. Bagi ayahnya, bermain musik adalah hal yang sia-sia. Namun di tengah tentangan keras ayahnya, kemauan Elaine lebih keras. Ia ingin membuktikan bahwa kecintaannya terhadap musik tidak sia-sia.

Tara, seorang pemain snare drum yang memiliki keterbatasan pendengaran semenjak kecelakaan yang menimpanya, yang juga membuatnya kehilangan ayah yang dicintainya. Di tengah segala keterbatasannya, Tara berjuang meyakinkan dirinya untuk tidak menyerah pada keadaan, juga untuk berdamai dengan masa lalu.

Lahang, seorang pemain color guard yang ayahnya sedang sakit keras, dan dihadapkan pada dilema antara menjaga ayahnya atau berjuang sampai ke Jakarta, tempat tugu impiannya selama ini berada.

Rene, pelatih paling keras kepala yang dimiliki Marching Band Bontang selama ini. Namun kekeras kepalaan Rene bukan tanpa alasan. Ia bermimpi membawa tim Marching Band Bontang yang dilatihnya menjadi juara, sesuatu yang tampak mustahil bagi sekumpulan pemain marching band dari pelosok daerah.
Bagi Rene, para pemainnya adalah berlian mentah yang perlu diasah agar memancarkan kilaunya. Mereka sekumpulan anak berbakat yang memiliki mimpi. Sesuatu aset yang sangat berharga.

“Nothing worth having comes easy” – Anonymous

Tidak mudah. Perjuangan anak-anak Marching Band Bontang menuju GPMB tidak mudah. Perjuangan Rene mencapai mimpinya untuk membawa timnya menjadi juara pun tidak mudah. Tapi segala perjuangan mereka terbayar. Mereka berhasil mengalahkan musuh tersulit: diri sendiri.



It’s all worth it. And yes, nothing worth having comes easy.

Monday, June 17, 2013

MBIC 2

0 comments

MBIC 2: " Kerjaku, Kerjamu, Kerja Kita"


'Kerja' banget emang temanya. Abis kerja, latian, kerja, latian, kerja, latian, latian, latian, sesekali pulang. Haha.

My oh my, I really don't want this to end :'

Friday, June 14, 2013

Self Affirmation

0 comments
"Panta Rei. No man ever steps in the same river twice, for it's not the same river and he's not the same man" -Heraclitus

So, one shall not worry. For it's (not) the same river and (but) one's not the same (wo)man. One shall not worry, one shall not worry.

Wednesday, June 12, 2013

Who Tell What to Whom?

0 comments
Time's ticking. Spare at least an hour a day to think and...
"Tell me, what is it you plan to do with your one wild and precious life" - Mary Oliver Wilde
Well, time will tell.
0 comments
Tanggal baik, baik-baik saja kah? Harus.

Saturday, June 8, 2013

Zona Nyaman

0 comments
Orang bilang, untuk berkembang, kita perlu keluar dari zona nyaman kita yang sekarang. Apa iya? Bukannya naluri manusia untuk menempati 'sarang'? Tidur dengan tenang. Terhindar dari bahaya yang menyerang. Kenapa harus repot-repot berpetualang?

Tapi, kalau terus berada di zona yang nyaman, lama-lama, nyaman itu sendiri akan kehilangan esensinya, bukan? Terlalu nyaman membuat bosan. Lagipula, bukannya berpetualang itu naluri manusia juga? Bergerak. Berlari. Mencapai tempat yang lebih tinggi.

Ah, saya bingung sendiri. Separuh diri ingin mendaki. Separuhnya lagi, terlalu takut melangkahkan kaki. Perang antara otak dan hati.

The Croods, maybe?
0 comments
Tanggal baik, mari baik-baik saja ;)

Tuesday, June 4, 2013

Cewek > Cowok

5 comments

Nah... menggelitik.

Ini pertanyaan buat cowok sih katanya, tapi kalo gw boleh komentar (boleh lah ya, blog-blog gw ini), kalo nemu tipikal cowok yang kaya gini, cupu lah! Pilihannya ada dua: mau diceburin ke laut, apa mau nyebur sendiri? Haha.

Yaaah.. dengan pengalaman gw yang super minim ini, emang sok tau banget sok-sokan komentar. Tapi kalo dari pengalaman gw yang minim PLUS pengalaman orang-orang, gw belajar satu hal:

The thing about relationship is cooperation, not competition.

Gw mungkin bukan cewek super yang punya label "ras dewa" di jidat. Gw cewek biasa aja, "ras manusia". Tapi kalo gw ada di atas pasangan gw dalam hal finansial, karir, atau apa pun, I won't lower myself for the sake of him feeling 'safe'. I'll be where I stand, so hopefully, he can motivate himself to stand beside me.

Gw pastinya akan membantu apa yang bisa gw bantu, tapi keputusannya ya ada di tangan dia. Bisa berdiri sendiri, apa butuh bantuan? Bilang kalo butuh. Kalo nggak bilang, gw anggep bisa berdiri sendiri. Yang jelas, gw akan memastikan selalu ada dalam posisi stand by.

Selama ini, gw nggak pernah nganggep suatu hubungan itu 'arena balapan'. Kalo pun ada yang ketinggalan, yuk ah kejar, biar kita bisa berkembang bareng-bareng, maju bareng-bareng. Kalo kata Stitch versi modifikasi "partner means family. Family means nobody get left behind"

Berhubung default setting-an mindset gw adalah 'sebisa mungkin usaha dulu bangun sendiri, baru minta tolong', gw kayanya nggak akan bisa tahan deh sama orang yang minderan dan berharap didorong-dorong. Udah aja sana jadi pintu.

Beruntunglah gw (dulu) ngga mendapat (mantan) pasangan yang kaya gitu. Yang ada, gw yang gregetan setengah mati, ini manusianya insecure nggak sih gw udah 'ngeduluin' dia? Kok kayanya santai-santai aja deh? Hahaha.

Tapi gw percaya, dia orang hebat. Pinter. Kesadarannya tinggi. Jadi, pada masanya nanti, dia pasti bisa menyelesaikan apa yang udah dia mulai dengan kemauannya sendiri.

Aamiin.

Katanya, kalo ada niat, pasti ada jalan. Ini gw tau banget manusianya jago cari jalan. Yang bisa ditanyain dan bantu kalo nyasar di tengah jalan juga banyak. Yang mendukung dan mendoakan juga pasti lebih banyak. Gw salah satunya.

Ah, emang deh ya, kalo udah kaya gini, residu dari masalah hati, mungkin tinggal peduli #eaaa.

...Because one may stop loving, but one does not simply stop caring.

Saturday, June 1, 2013

#13 Leslie - Nataly Dawn

0 comments

BUGH!

Barusan, tanpa persiapan, Hidup menggebukku, keras sekali. Aku meringis, mengusap darah yang mengalir dari bibirku yang sobek, dan bersiap-siap membalas pukulan Hidup. Apa-apaan ini?! Enak saja! Dia pikir aku tak bisa membalas perbuatannya yang semena-mena itu? Cih!

Sesaat sebelum aku bangkit dan mencoba menghampiri Hidup, tiba-tiba nyeri terasa di ulu hati. Aku tersungkur. Tubuhku mendadak sulit digerakkan. Sialan kau, Hidup! Amarahku meluap. Hidup masih berdiri dengan tegak di sana, menertawakan aku yang tak berdaya.

BUGH!

Hantaman kedua. Pandanganku kabur.

Sialan...
Siala...
Sial...
Sia...
Si...
S...
...

###

"HAI!"

Aku terlonjak ketika sepasang mata bundar berada hanya 2 cm tepat di depan wajahku. "Kamu sudah bangun?"

Aku bergerak mundur. "Kamu siapa? Aku di mana?"

"Aku Harapan. Tadi kamu pingsan dalam keadaan babak belur, jadi aku bawa saja ke rumahku. Selamat dataaang!" Sesosok yang mengaku bernama Harapan itu merentangkan tangannya dan tersenyum lebar. Wajahnya terlihat berseri, seakan-akan aku teman lama yang dia nanti-nanti.

Pertanyaan demi pertanyaan menari-nari dalam benakku. Aku pingsan? Sejak kapan? Bagaimana dia bisa menemukanku? Aku di mana? Siapa dia sebenarnya? Aku tidak kenal dia, tapi wajahnya tidak asing.

Aku memejamkan mata dan mengatur napas untuk menenangkan diri. Kepalaku rasanya seperti ditusuk-tusuk.

"Yaaah, jangan tidur lagi dooong" Harapan menarikku bangun, namun aku kembali merebahkan tubuhku.

"Aku lelah. Aku mau di sini saja, berbaring seperti ini selamanya. Aku takut bertemu Hidup lagi. Aku takut dia memukulku lagi. Aku takut jatuh terjerembab. Sakit sekali rasanya. Di sini aku aman kan?"

Kulihat sinar wajah Harapan meredup. "Aku bukannya tidak mau membiarkanmu berlama-lama di sini. Aku tidak bisa. Kamu tidak bisa. Kalau tidak percaya, coba saja dan rasakan sendiri", ia berkata lirih, "sebetulnya... aku tidak mau membiarkanmu bertemu dengan Putus Asa"

Sejenak, kami terdiam, namun Harapan mendadak memecah keheningan. "AH! Tadi kau menyebut siapa? Kalau tidak salah dengar, Hidup ya? YA AMPUUUN! Aku bersahabat akrab sekali dengannya. Ah dunia sempit sekali. Dia memang agak galak dan suka membentak, tapi sebenarnya maksud dia baik. YUK! Aku kenalkan"

"EH?! Kamu teman Hidup?! Bagaimana bisa..." Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, ia menarikku ke depan sebuah pusaran.

"Masuklah" Harapan tersenyum.

Keningku berkerut. Rentetan kejadian-kejadian yang aku alami ini aneh sekali. "Tunggu dulu! Apa lagi ini? Aku belum siap..."

Masih dengan senyum dan binar matanya yang riang, ia memelukku dan berbisik "Aku percaya kamu selalu siap. Selamat bersenang-senang dengan Hidup. Kalau rindu, larilah yang kencang, dan kembali ke sini. Rumahku, rumahmu juga," Ia melepaskan pelukannya dan menepuk pipiku. "Sampai jumpa!"

Do your best little girl, and have a little fun
Cause life wears you down, and take your for a run

Juniku Bercerita

0 comments
Di suatu hari yang random, berbekal mention-mention-an dengan @heykandela, kenalan blogger yang ternyata temennya Nyanya Vanie Ayu, terlintas ide impulsif buat mainan kaya #30haribercerita lagi.

Tadinya mau #30daysofgoodmovies, tapi terus gw baru inget masi ada mainan #30harilagukubercerita yang blom selesai dari jaman kapan tau. Udah lumutan banget, udah bukan 30 hari bahkan, haha. Ganti aja deh jadi #30harilagukubercerita.

Trus mumpung inget, mau coba ngelanjutin ah bulan ini. Semoga ngga cuma wacana ya, Del.

Jadi buat Kane, maaf ya ngga jadi mainan #30daysofgoodmovies nya, hehe. Tapi kalo mau bikin, di sini ada 1 pembaca yang siap menyimak review film-film 'absurd' ala Penceritahujan kok ;p