Resensi 12 Menit


Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal Buku : 343 halaman


Prolog

“Stop thinking. Start feeling” – 12 Menit, BAB 43

Berhenti berpikir dan rasakan. Nikmati. Dengarkan apa kata hati.

Saya adalah seorang anak marching band, dan saat tahu ada yang membuat buku dan film mengenai dunia marching band, tentunya saya sangat antusias. Sangat amat antusias. Sekali lagi, SANGAT AMAT ANTUSIAS! Ya, saya seantusias itu! Di Indonesia, ini pertama kalinya ada buku dan film mengenai dunia marching band.

Setelah selesai membaca buku 12 Menit, saya ingin sekali menulis resensi ini dengan sempurna dan terlihat ‘WAH!’ oleh orang yang membacanya. Banyak sebaran kata-kata di dalam kepala yang berebut ingin disusun. Namun, semakin saya berpikir bagaimana menulis dengan baik dan benar, semakin saya berpikir bagaimana tanggapan orang lain saat membaca resensi saya, saya semakin takut salah, dan alih-alih menulis dengan sempurna, saya justru tidak menulis apa pun. Saya semakin tidak tahu ingin menulis apa.

Maka dari itu, saya putuskan untuk tulis saja, apa pun itu. Tak perlu berusaha menjadi sempurna. Tak perlu juga terlalu memikirkan apa kata orang. Rasakan saja apa kata hati. Stop thinking. Start feeling.

“What comes from heart, goes to heart” – Anonymous

Saya selalu percaya bahwa apa pun yang datang dari hati akan sampai ke hati. Tidak berlebihan bila saya bilang bahwa buku ini salah satu buktinya. Apa yang disampaikan oleh buku ini sangat mengena di hati saya. Semoga begitu pula dengan filmnya yang akan rilis di bulan Agustus nanti. Dan sebagai ucapan terima kasih telah menyentuh saya lewat buku ini, saya juga akan menulis resensi ini... dari hati. Semoga bisa sampai ke hati juga.

***

“Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri” – 12 Menit

Kutipan di halaman pertama buku 12 Menit ini merangkum keseluruhan cerita. Tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang impian. Tentang tekad dan kemauan. Tentang kerja keras. Tentang kemenangan. Bukan tentang mengalahkan musuh, namun tentang mengalahkan diri sendiri.

Buku setebal 343 halaman ini menceritakan mengenai perjalanan Marching Band Bontang menuju GPMB dan menyorot kisah beberapa tokoh yaitu Elaine, Tara, dan Lahang di bawah bimbingan Rene sang pelatih.

Elaine, seorang anak turunan Jepang yang sangat berbakat dan mencintai musik, namun ditentang keras oleh ayahnya untuk mengikuti marching band. Bagi ayahnya, bermain musik adalah hal yang sia-sia. Namun di tengah tentangan keras ayahnya, kemauan Elaine lebih keras. Ia ingin membuktikan bahwa kecintaannya terhadap musik tidak sia-sia.

Tara, seorang pemain snare drum yang memiliki keterbatasan pendengaran semenjak kecelakaan yang menimpanya, yang juga membuatnya kehilangan ayah yang dicintainya. Di tengah segala keterbatasannya, Tara berjuang meyakinkan dirinya untuk tidak menyerah pada keadaan, juga untuk berdamai dengan masa lalu.

Lahang, seorang pemain color guard yang ayahnya sedang sakit keras, dan dihadapkan pada dilema antara menjaga ayahnya atau berjuang sampai ke Jakarta, tempat tugu impiannya selama ini berada.

Rene, pelatih paling keras kepala yang dimiliki Marching Band Bontang selama ini. Namun kekeras kepalaan Rene bukan tanpa alasan. Ia bermimpi membawa tim Marching Band Bontang yang dilatihnya menjadi juara, sesuatu yang tampak mustahil bagi sekumpulan pemain marching band dari pelosok daerah.
Bagi Rene, para pemainnya adalah berlian mentah yang perlu diasah agar memancarkan kilaunya. Mereka sekumpulan anak berbakat yang memiliki mimpi. Sesuatu aset yang sangat berharga.

“Nothing worth having comes easy” – Anonymous

Tidak mudah. Perjuangan anak-anak Marching Band Bontang menuju GPMB tidak mudah. Perjuangan Rene mencapai mimpinya untuk membawa timnya menjadi juara pun tidak mudah. Tapi segala perjuangan mereka terbayar. Mereka berhasil mengalahkan musuh tersulit: diri sendiri.



It’s all worth it. And yes, nothing worth having comes easy.

Comments