Sunday, July 28, 2013

0 comments
That tingling sensation. Over years. Consistently attracted. Or just... me and my curiosity? Boy oh boy :">

Tuesday, July 23, 2013

Once Upon a Time...

0 comments
"Membaca adalah latihan menulis" - @nulisbuku
BENER BANGET! Gw sangat suka baca tulisan orang-orang yang gw kenal. Juga orang-orang terkenal. Atau orang-orang yang dikenal orang-orang yang gw kenal.

Tulisan mereka bagus-bagus, dengan ciri khas yang terkadang keliatan-tapi-ngga-bisa-dijelaskan. Dan ngeliat tulisan yang bagus, gw juga jadi pengen bikin tulisan yang bagus. Gw pengen tulisan gw itu ibarat kacang yang sekali dimakan, ngga bisa berenti. Err.. aneh ya istilahnya. Bodo deh.

Ah, jadi inget dulu gw pernah dikasih julukan "Ratu Analogi". Zzz, ngga gitu juga sih. Gw cuma ngerasa kalo perumpamaan itu bisa menjelaskan sesuatu secara lebih tepat dan sederhana dibanding penjelasan deskriptif. Masalahnya, nyari analoginya itu yang kadang susah. Soalnya sifatnya situasional banget dan "bego-begoan".

Terkait soal analogi, gw juga sangat suka tipe tulisan yang terkesan ringan, tapi sebetulnya berat dan tersirat. Macem cerita-ceritanya Shel Silverstein, Dr. Seuss, Little Prince, dll.

Gw juga suka cerita fabel. Salah satunya adalah Little Mermaid. Eh, Little Mermaid bukan fabel ya? Ah, yaudalah, anggep aja fabel. Kan ceritanya tentang ikan... duyung.

Gw suka Ariel. Cetek sih. Karna cantik, rambutnya merah, dan tinggal di laut. Udah gitu, doi kan kerjaannya main terus sama Flounder-Sebastian. Bertualang. Selalu penasaran dan hidupnya musikal banget. Ah, saya iri.

Selayaknya siklus kehidupan, Ariel beranjak dewasa, menikah, dan punya anak, namanya Melody. Nontonnya bikin senyum-senyum sendiri. Ngebayangin suatu saat, walaupun pasti pusing ngurusnya, gw bisa bergumam "oh my dear little melody, you give harmony to my soundtrack of life"

Lalala. Apaan sih, Del. Oot ah!

Oh ya, ngomong-ngomong soal fabel juga, waktu SMA, gw pernah baca novel judulnya "Animal Farm". Tipis dan bagus. Gw mencerna bulat-bulat itu sebagai fabel murni, tanpa tau bahwa sebenernya itu alegori dari pemerintahan Uni Soviet di zamannya Stalin dan Lenin.

Itu pun gw taunya karna 'dijebak' ikut nemenin the chair-mate girl, Ezzat, diwawancara sama Bukune. Usut punya usut, doi ngajak gw biar bisa jelasin sama si orang-orang yang wawancara karna dia blom selesai bacanya. Ngeeek.. jebakan betmen -___- Tapi mayan lah, dapet uang saku buat jajan-jajan dan jalan-jalan. AHAHA.

Saat dijelasin sama si pewawancara tentang interpretasi cerita "Animal Farm" itu, gw langsung........ WOW! Sejarah ternyata bisa dikemas semenarik itu yah, lewat fabel.

Dari Little Mermaid, Animal Farm, terus berlanjut ke Little Prince. Dan The Lorax. Beberapa cerita favorit yang super berkesan dan melekat kuat dalam ingatan 'ikan mas' gw ini.

Beberapa kali gw (sok-sokan) nyoba bikin alegori, tapi yaaa.. gitu (menjelaskan abis deh Del). Salah tiga cerita-apalah-sebutannya yang (menurut gw) lumayan 'mending' dan akhirnya berani gw posting adalah cerita tentang "Putri Salju", "Daging Asap", dan "Tomat" (yang niatnya mau bersambung tapi gantung *lirik sinis partner-tandeman-nulis-yang-PHP-abis).

Ini ya, cerita Si Tomat udah pake acara riset kecil-kecilan segala padahal. Sok-sokan pake plotting lah. Diskusi tentang tokoh-tokohnya lah. Pokoknya heboh dan niat abis lah. Tapi kalo ngga kelar-kelar mah ya........ udah lah. Haha.

Trus kmaren, gw baca (nonton) ulang cerita-ceritanya Shel Silverstein: "Missing Piece", "The Giving Tree", "The Missing Piece Meets the Big O", nemu cerita (dari hasil blogwalking random) judulnya "The Half and Half Man" karangan Jonathan Chan (entah doi siapa), dan Youtube-ing macem-macem short animation.

Trus gara-gara itu semua, gw jadi pengen makin banyak baca sebagai bentuk latihan menulis, seperti yang dibilang si @nulisbuku. Gw jadi inget, dulu gw pernah bercita-cita jadi guru bahasa Inggris buat anak-anak karna alesan cetek: biar bisa 'modus' ngajar, padahal lagi bikin cerita dongeng. Ahaha.

I wonder... is this silly dream possible to reach? Yeah sure it is, Del. Go get it if you really want it.
"No dream is too big, no dreamer is too small"- Turbo (2013)

Sunday, July 21, 2013

The Missing Piece

0 comments

The Missing Piece
By: Shel Silverstein

It was missing a piece. And it was not happy. So it set off in search of its missing piece. And as it rolled, it sang this song:

“Oh I’m lookin’ for my missin’ piece. Hi-dee-ho, here I go, lookin’ for my missin’ piece’

Sometimes it baked in the sun. But then the cool rain would come down. And because it was missing a piece, it could not roll very fast. So it would stop to talk to a worm.

Or smell a flower. And sometimes it would pass a beetle. And sometimes the beetle would pass it. And this was the best time of all. And on it went, over oceans.

"Oh I’m lookin’ for my missin’ piece. Over land and over seas. So grease my knees and fleece my bees. I’m lookin’ for my missin’ piece"

Through swamps and jungles up mountains and down mountains. Until one day, lo and behold!

“I’ve found my missin’ piece. I’ve found my missin’ piece. So grease my knees and fleece my bees"

"Wait a minute" said the piece.

“Before you go greasing you knees and feecing your bees… I am not you missing piece. I am nobody’s piece. I am my own piece. And even if I was somebody’s missing piece, I don’t think I’d be yours!"

"Oh" it said sadly. “I’m sorry to have bothered you"

And on it rolled. It found another piece. But this one was too small. And this one was too big. This one was a little too sharp. And this one was too square.

One time it seemed to have found the perfect piece, but it didn’t hold it tightly enough and lost it. Another time it held too tightly. And it broke.

So on and on it rolled. Having adventures. Falling into holes. And bumping into stone walls. And then one day it came upon another piece that seemed to be just right.

"Hi" it said.
“Hi" said the piece.
“Are you anybody else’s missing piece?"
“Not that I know of"
“Well, maybe you want to be your own piece?"
“I can be someone’s and still be my own"
“Maybe I do"
“Maybe we won’t fit"
“Well…"
" Hmm?"
“Umm!"

It fit! It fit perfectly! At last! At last! And away it rolled. And because it was now complete, it rolled faster and faster.
Faster that it had ever rolled before.

So fast that it could not stop to talk to a worm or smell a flower. Too fast for a butterfly to land. But it could sing its happy song. At last it could sing:

“I’ve found my missin’ piece"

And it begin to sing:

“I’ve frown my nizzin’geez. Uf vround my mitzin’brees. So krease my meas. An Bleez my dregs. Uf frown" Oh my, now that it was complete. It could not sing at all.

"Aha" it thought. “So that’s how it is!"

So it stopped rolling. And it set the piece down gently. And slowly roll away. And as it rolled, it softly sang:

“Oh I’m lookin’ for my missin’ piece. I’m lookin for my missin’ piece. Hi-dee-ho, here I go. Lookin’ for my missin’ piece"


The Half and Half Man

0 comments
(Source: here)

The Half and Half Man
By: Jonathan Chan

This is the story of the half-and-half man
Who didn't quite fit into anyone's plans

He wanted to paint, and to draw, and to sing
But he didn't know what the future would bring

This, he decided, was what he would do
He'd think up a motto, think it through and through

By that he'd abide, by that he'd exist
So he scrunched up his brain and he thought up this

"I want to make people laugh and unwind
I want them to have a ball of a time"

"I want to do what I like and like what I do
Doing things that my brain and my heart are into"

"And if half my heart's in, and half my heart's out?
I'm quitting it. There, no mucking about"

The motto worked fine for a while and a bit,
But he quickly realized that nothing quite fit

Work at an office? He didn't like that
And busking meant spare change and permits and hats

And it seemed as though everything was falling apart
Living life as you want it was a very fine art

And he wasn't an artist. No, not per se
His palette lost it's color, and started to gray

He said, "It's time to grow up," with resignation
"A charmed life was never my designation"

And with a wink and a twist,
A frown and a sigh,

He let go of his dreams
And he waved them goodbye

Friendly Gesture(?)

0 comments
(Ceritanya kemaren abis mampir tiba-tiba ke rumah Yuni, ngasih kado yang super telat)

Yuni (dengan cengengesan khasnya): "Eh ngapain lo?"
Dini: "Happy birthday, Yun!" (meluk)
Della: "Cie ultah" (salaman, cipika-cipiki-yang-ngga-kena-pipi)
Yuni: "Apaan sih, najis luh" (nepok pundak)

Hahaha. Gw baru sadar setelahnya kalo gw abis melakukan gestur yang ngga biasanya gw lakuin: inisiatif cipika-cipiki. Biasanya gw ngelakuin itu kalo dari pihak sana udah ngasih gestur itu duluan, atau untuk temen yang ngga terlalu deket. Antara awkward dan 'sedih', karna jadi ngerasa asing sama temen yang udah lama (banget) ngga ketemu.

Iya, gw emang aneh anaknya. Kalo udah akrab, gw justru menghindari gestur (yang menurut gw) 'sok akrab' macem cipika-cipiki-yang-ngga-kena-pipi. Indikator "akrab" gw ada di lengan. Gw prefer megang lengan, yang kalo ada lemaknya, suka gw pencet-pencetin, ahaha.

Well anyway, I wonder... do people really grow up and grow apart? Kinda sad, ain't it?

Learned Helplessness

0 comments
Jadi ceritanya... gw baca ulang postingan blog salah satu blogger favorit gw di sini. Selalu suka caranya mengulas sebuah topik yang sebetulnya cukup berat, tapi dia kemas secara ringan dan disertai bumbu humor.

Kali ini, dia mengulas tentang depresi yang sumbernya dia ambil dari buku "Life's a Pitch" karya Philip Broughton. Salah satu yang dia bahas adalah adalah hasil penelitian Martin Seligman, seorang profesor psikologi di Universitas Pennsylvania.

Gw juga ngga kenal mereka-mereka itu siapa dan blom baca bukunya juga. Biar keren aja lah, haha.

Si Henry Manampiring ini meng-highlight topik soal learned helplessness, yang menurut definisinya tuh: perasaan tak berdaya (helplessness) yang sebenarnya dibangun sendiri oleh si penderita.

Dia menuliskan ulang hasil penelitian si Prof Seligman itu, di mana terdapat 3 kategori interpretasi manusia terhadap kejadian buruk yang menimpanya. Blablabla, panjang, intinya, bisa diliat di postingan ini (males ngejabarin).

Baca itu, gw 'GLEK' banget. Gw punya kecenderungan untuk jadi penderita depresi, mengingat gw seringkali menginterpretasikan suatu kejadian buruk karna faktor internal (self-blaming), sesuatu yang sifatnya stabil, dan sebuah gambaran yang menyeluruh.

Lagi-lagi, penjelasan lebih lengkapnya ada di postingan ini.

Beberapa hari ini, ada 2 hal yang bikin 'HUFFFORTISSISSIMO BANGET'. Pertama, konflik interpersonal. Kedua, investasi saham yang bermasalah. Walaupun gw tau akan ke mana arah hasilnya, gw coba ngikutin saran yang ada di tulisan tersebut: mem-break down dan menganalisis interpretasi gw terhadap 2 hal tersebut.

And the result is... yes, I have tendency to learn helplessness. Well, not that surprising actually. I already knew it somehow.

Tapi, di situ juga ditulis bahwa sebenernya bisa kok kita men-challenge interpretasi kita buat jadi lebih realistis. Ini yang gw harus lakuin, walaupun emang rasanya pening banget mikirinnya, karna gw masih blom bisa lepas dari 'interpretasi-orang-dengan-tendensi-menjadi-depresi' terutama soal self-blaming.

I dunno, it just came up naturally. I tend to ask within, about almost everything. And for most cases, I DO let me blame myself. Default-setting, maybe?

But hey, my dearest-self, if you can't, you must. If you must, you can.

Fyuh. Semoga ini ngga berenti sampe di interpretasi. Tetep harus ada aksi, walaupun sejujurnya, gw masih takut banget buat beraksi apa pun. Gw takut banget akan reaksi yang di luar ekspektasi, yang ngga pernah gw antisipasi.

2 hal itu punya kesamaan: pernah terjadi 2 kali. Gw takut banget akan ada kejadian yang sama terulang lagi. Takut banget.

Maaf :(

Saturday, July 20, 2013

:(

0 comments
I'm terribly sorry. If things take time, I hope this is not forever.

Thursday, July 11, 2013

Let's Share!

0 comments
Random, tiba-tiba mikir. Mau ngapain ya abis ini? Walaupun gw juga masih bingung mendefinisikan "abis ini" tuh abis apa, tapi gw pengen deh bisa bagi-bagi ilmu yang ngga seberapa ini, dengan harapan, makin banyak berbagi, makin 'kaya rasa'.

Ilmu tuh ibarat makanan, dan ini tuh ceritanya lagi wisata kuliner. Ketimbang masing-masing pesen menu dan makan sendiri-sendiri, bukannya lebih seru share menu? Jadi bisa saling nyicipin menu yang beda-beda.

Sebagai orang yang gampang kenyang, gw ngga 'nyari' porsi besar. Gw lebih memilih porsi kecil yang variatif. Makan tuh buat gw bukan cuma tentang kebutuhan, tapi juga tentang kepuasan. Yes, I eat for pleasure. So... sharing it is then.

Because knowledge is power. And sharing knowledge is powerful.

Asli lah ini random abis, hahaha. Gpp deh, udah lama ngga nge-random yang loncat-loncat-tapi-sebetulnya-saling-terkait (halah pembenaran).

Wednesday, July 10, 2013

Se-la-lu

0 comments
Buat lo yang biasanya se-la-lu dodol ceria,

Lagi kenapa? Tumben 'gelap' banget akhir-akhir ini. Udah lama mau nanya, tapi sori gw cupu 'ngga berani' mulu nanya-nanya, ahaha. Apa pun itu, semoga sekarang udah baik-baik aja ya.

Salam sayang,
Temen lo yang diem-diem suka stalking, diem-diem khawatir, dan diem-diem ngedoain. Se-la-lu ;)

Keypad HP

0 comments
Dulu, gw punya kebiasaan nyatet di notes HP tentang apa pun yang terlintas di pikiran waktu lagi bengong. Bodo amat ngaco, aneh, menye-menye, atau ngga jelas. Gw cuma pengen nulis, nulis, dan nulis.

Entah itu reminder, catetan penting, quote dari buku atau film, ngutip omongan orang, random wondering, ungkapan emosi yang ngga tersampaikan, khayalan-khayalan ngga jelas, dan masih buanyaaak lagi.

Dulu. Waktu masih ber-HP dengan keypad beneran.

Sekarang, semenjak punya HP touch screen, entah kenapa jadi males. Sensasinya beda soalnya. Okeh, anggep aja ini alesan doang, tapi yaaah.. begitulah kenyataannya.

Kangen, kangen banget masa-masa melipir di mana pun gw bisa melipir sendirian, sibuk tak tuk tak tuk ketak-ketik sana-sini, trus jalan lagi, seolah gada apa-apaan.

Haha, sepele sih. Kesannya "yaelaaah, penting banget sih Del". Tapi emang deh... little things do matter most. Termasuk perihal HP ber-keypad beneran versus HP ber-keypad touchscreen.

I just miss the sensation of typing with the real keypad. And the memories that are carried away.


Monday, July 8, 2013

Mission Accomplished

3 comments
Taun lalu, gw pernah nulis 'surat cinta' untuk unit yang gada matinya ini: Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia. Kalo dulu posisnya jadi penonton, kali ini jadi yang ditonton.

MBIC 1: "Simfoni Kenangan Sebuah Perjalanan"

Gw masih inget dengan jelas beberapa momen MBIC 1 waktu itu. Beberapa di antaranya:

1. Dateng ke Pusgiwa sama Qopit-Andono nonton pasukan latian. Super like a boss banget duduk di kursi roda sambil selonjorin kaki yang masih diperban. Pas break, anak-anak guard pada nyamperin :')

2. Nonton run through di Balairung dengan senyum-gigit-bibir dan mata berkaca-kaca, terus akhirnya nangis juga pas pulang sambil nyetel lagu "Part of Your World" kenceng-kenceng di mobil.

3. 'Dimarahin' gara-gara leloncatan pecicilan foto-foto sblom show time.

4. Nama gw dan Luli dibacain Abang (announcer).

5. Diwawancara orang Big Pictures pas kelar show, ditanya kesan pesan dan cuma bisa jawab "Seneng.. seneng.. seneng.. banget" dengan speechlessnya, terus dipuk-puk punggungnya sama Budi.

6. Ngejar foto bareng Addie MS sambil 'lari-larian' pake kruk dengan hebohnya :))

###

MBIC 2: "Kerjaku, Kerjamu, Kerja Kita"

1. Pertama kalinya latian, kerja, dan jadi Mbak Thoyyib nomaden yang ke mana-mana bawa backpack yang isinya baju dan perlengkapan blablabla buat beberapa hari ke depan. Luar biasa banget emang kekuatan sebuah kemauan tuh. Gw yang sebetulnya emoh banget naik kereta di jam prime time orang berangkat dan pulang kantor jadi rela-rela aja ngejalaninnya.

2. Niat banget nyempet-nyempetin nonton teater JKT48 abis pulang kerja demi dapetin feel scene jeketi. Ujung-ujungnya, alih-alih nonton penampilan anak-anak jeketi, gw malah jadi terbengong-bengong nontonin penontonnya yang 'ajaib'. Baru tau gitu gw, ternyata perbandingan penonton cewek:cowok nya jumlahnya sekitar 1:4, jadinya yang cewek didahulukan. Asoy deeeh. Bodo amat 'emansipasi wanita'. Gw mah seneng-seneng aja lah di-ladies first-in kalo situasinya begini. Hahaha.

3. Lemes-gemeteran banget pas pertama kali nyobain penghayatan scene sakit sampe ngga bisa berdiri tegak. Terus jadinya nyender, pegangan tembok, dan entah kenapa keluar air mata padahal ngga lagi pengen nangis. Lebay abis, hahaha. Tapi makin ke sini makin bisa ngendaliin emosi buat penghayatannya sih.

4. Beberapa kali nangis, campuran nahan sakit di kaki yang suka nyut-nyutan ngilu sama kesel sendiri kenapa mindsetnya ngga ngaruh. Semacam... "when you try your best, but you don't succeed" kalo kata Coldplay.

5. 'Protes' ke Reza dan ngomong ke Taufiq kalo gw ngga mau dikasih excuse buat keluar lapangan kecuali emang gw sendiri yang minta izin. Emang deh ini masalah perkakian bikin pergalauan mulu, zzz.

6. Walaupun nyesek dan gengsi setengah mati, akhirnya nurut ngga pemanasan lari biar bisa ikut pemanasan-pemanasan yang lain. Well, kadang-kadang colongan ikutan pemanasan lari sih, fufufu.

###

Haha, self-centered banget ya nyeritainnya tentang gw doang gini. Biarin deh, abisnya jujur, gw ngerasa berprestasi banget bisa sampe sejauh ini. Cetek banget emang, ahaha, tapi kalo ngeliat ke belakang tuh rasanya........ can't help feeling proud of myself :')

And finally, mission accomplished. Well done, Del! (ngga dosa kan ngasih reward buat diri sendiri? Hehe)