Learned Helplessness

Jadi ceritanya... gw baca ulang postingan blog salah satu blogger favorit gw di sini. Selalu suka caranya mengulas sebuah topik yang sebetulnya cukup berat, tapi dia kemas secara ringan dan disertai bumbu humor.

Kali ini, dia mengulas tentang depresi yang sumbernya dia ambil dari buku "Life's a Pitch" karya Philip Broughton. Salah satu yang dia bahas adalah adalah hasil penelitian Martin Seligman, seorang profesor psikologi di Universitas Pennsylvania.

Gw juga ngga kenal mereka-mereka itu siapa dan blom baca bukunya juga. Biar keren aja lah, haha.

Si Henry Manampiring ini meng-highlight topik soal learned helplessness, yang menurut definisinya tuh: perasaan tak berdaya (helplessness) yang sebenarnya dibangun sendiri oleh si penderita.

Dia menuliskan ulang hasil penelitian si Prof Seligman itu, di mana terdapat 3 kategori interpretasi manusia terhadap kejadian buruk yang menimpanya. Blablabla, panjang, intinya, bisa diliat di postingan ini (males ngejabarin).

Baca itu, gw 'GLEK' banget. Gw punya kecenderungan untuk jadi penderita depresi, mengingat gw seringkali menginterpretasikan suatu kejadian buruk karna faktor internal (self-blaming), sesuatu yang sifatnya stabil, dan sebuah gambaran yang menyeluruh.

Lagi-lagi, penjelasan lebih lengkapnya ada di postingan ini.

Beberapa hari ini, ada 2 hal yang bikin 'HUFFFORTISSISSIMO BANGET'. Pertama, konflik interpersonal. Kedua, investasi saham yang bermasalah. Walaupun gw tau akan ke mana arah hasilnya, gw coba ngikutin saran yang ada di tulisan tersebut: mem-break down dan menganalisis interpretasi gw terhadap 2 hal tersebut.

And the result is... yes, I have tendency to learn helplessness. Well, not that surprising actually. I already knew it somehow.

Tapi, di situ juga ditulis bahwa sebenernya bisa kok kita men-challenge interpretasi kita buat jadi lebih realistis. Ini yang gw harus lakuin, walaupun emang rasanya pening banget mikirinnya, karna gw masih blom bisa lepas dari 'interpretasi-orang-dengan-tendensi-menjadi-depresi' terutama soal self-blaming.

I dunno, it just came up naturally. I tend to ask within, about almost everything. And for most cases, I DO let me blame myself. Default-setting, maybe?

But hey, my dearest-self, if you can't, you must. If you must, you can.

Fyuh. Semoga ini ngga berenti sampe di interpretasi. Tetep harus ada aksi, walaupun sejujurnya, gw masih takut banget buat beraksi apa pun. Gw takut banget akan reaksi yang di luar ekspektasi, yang ngga pernah gw antisipasi.

2 hal itu punya kesamaan: pernah terjadi 2 kali. Gw takut banget akan ada kejadian yang sama terulang lagi. Takut banget.

Maaf :(

Comments