Random 4: #14 You've Got a Friend - James Taylor & Carol King



"Maaf"

"Nanti ya. Sekarang gausa ngobrol dulu"

"Gw nggak maksud....."

"Iya, gw tau"

"Terus?"

"Gw cuma butuh waktu"

"Oke. Semoga ngga lama-lama. Semoga ngga selamanya. Terakhir, cuma mau bilang satu hal: if you need me, I'm all ears, eyes, and hands. Like usual. Sekali lagi, maaf"

"I know. Thanks. Bye"

Seminggu berlalu semenjak pertengkaran itu. Masih terekam jelas di benakku bagaimana kata demi kata dalam percakapan via situs chatting itu berbicara. Aku bisa membayangkannya berkata dengan intonasi datar dan dingin namun sarat emosi hanya lewat tulisan.

Aku menggosok-gosok lenganku. Bergidik. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Tanpa sadar aku tersenyum kecil, teringat celetukan seorang teman "ya iyaaalah! Kalo datengnya duluan, namanya pendaftaran".

Hhh.. aku menghela napas dan memijat-mijat keningku, yang alih-alih menghilangkan pening, malah membuat semakin pening. Bagaimana cara mengeluarkan isi kepala ini?

###

2 minggu berlalu. Tidak ada perkembangan. Tetap diam membisu. Tidak ada yang bergerak. Mungkin marah yang belum redam. Mungkin takut dan ragu bertemu. Mungkin malas berpapasan kembali dengan konflik. Atau mungkin hanya ego yang tidak mau mengalah. Segala kemungkinan membuatku kesal dan lelah menerka-nerka. Meski demikian, aku pun tidak bertindak apa-apa.

"ARGH!" Kutendang batu kerikil itu serampangan.

"Hei, kenapa? Dari tadi marah-marah aja. Mau cerita?" Hati-hati, Iya menyentuh pundakku pelan.

Aku menepis tangannya dan melempar pandangan dengan sinis "Tau dari mana lo gw dari tadi marah-marah? Orang dari tadi diem aja kok. Sotoy!" Aku tahu tidak seharusnya aku berkata demikian. Iya tidak salah apa-apa. "Eh, sori" Aku buru-buru meminta maaf.

"Yaudah kalo ngga mau cerita. Makan mau? Kantin?"

Aku memaksakan senyum. "Ngga laper. Makasih. Gw mau langsung balik aja"

Iya menepuk-nepuk punggungku santai. "Hmm.. oke. Lo lagi butuh sendiri ya? Well, if you need me, I'm all ears, eyes, and hands. Like usual"

Langkahku terhenti. Aku tersentak. Kalimat itu.........

"Yaudah. Gw balik juga ya. Daaah! Semoga cepet baik-baik lagi. Jangan lama-lama lah menyendirinya. Oh ya, kalo mau nendangin kerikil, ati-ati kena orang. Hehehe" Iya kembali menepuk-nepuk punggungku, melambaikan tangan, kemudian berlalu dari hadapanku.

Tak berapa lama, sebuah pesan masuk melalui ponselku. Sebait lirik.

You just call out my name, and you know where ever I am
I'll come running to see you again

Iya.

Comments