Random 22: Introvert

Bosen, gw scrolling timeline Facebook dan menemukan ini (lupa siapa yang nge-post link-nya):


HA! Ternyata gw 19 dari 23, setelah selama ini gw 'meyakini' bahwa gw adalah ambivert, walaupun dengan kecenderungan sedikit introvert. Yaaah.. palingan sekitar 12-13 poin doang lah. Bahkan dulu, gw kira gw adalah seorang extrovert.

Dulu yang lebih baru dari dulu saat gw merasa extrovert, gw pernah nulis tentang introvert dan extrovert, tapi kali ini cuma pengen nulis tentang introvert. Oot dikit. Gaya tulisan gw berubah ya? Baru ngeh, haha.

Ngga sedikit orang-orang yang gw kenal yang merupakan orang yang introvert dalam 'kulit' extrovert. Terlihat seperti 'social butterfly', tampil gemilang di atas panggung, punya kemampuan public speaking yang baik, dan berbagai macam ciri lain yang nampak seperti seorang extrovert.

Baca ciri-ciri dari artikel "23 Signs You're Secretly an Introvert" tadi, emang ternyata seorang introvert ngga melulu merupakan pribadi yang pemalu dan pendiam. Bisa aja dia nampak sebagai orang yang riang, supel, dan punya attitude 'happy-go-lucky'.

Ciri khas yang dapat di-highlight dari seorang introvert adalah dia memperoleh 'energi' dari dalam. Tapi ini bisa menjadi sangat tricky, karna ngga nampak dari luar.

Hal itu pun ternyata berlaku buat diri sendiri.

Seperti yang tadi udah gw tulis tadi, dulu gw kira gw adalah seorang extrovert. Hasil personality test gw pun sanguine, yang mana nyambung ke logika bahwa orang sanguine punya kecenderungan extrovert.

Iya, tau, personality test itu ngga bisa ditelen mentah-mentah kaya salmon sashimi. Tapi ya lumayan lah, toh banyak benernya juga kok.

Terus gw bertanya dan mempertanyakan lagi, apa iya? Kemudian gw berubah pikiran. Ambivert kali ya? Eh tapi sekarang, gw mulai ngerasa kalo sebetulnya persentase introvert gw bisa mencapai 70% bahkan lebih, dan kepribadian yang kontradiktif -misalnya sanguine yang introvert- itu normal.

Gw bisa berhari-hari intens ketemu ini-itu, jalan, main, menclak-menclok ngobrol sama banyak orang, suka saat tampil di atas panggung, tapi pasti ada 1 titik di mana gw bisa tiba-tiba 'ngilang'. Entah bener-bener ngilang sejenak dari keramaian, atau pikirannya aja yang 'ngilang', sementara raganya masih di tempat.

Gw cuma butuh recover energi, karna semakin banyak ketemu orang, semakin banyak energi terkuras. Dan cara 'nge-charge' nya ya dengan me-time. 'Nge-goa'. Bukan kebalikannya, aka ketemu banyak orang buat menghilangkan kesepian.

Frase "kesepian di tengah keramaian" itu kadang bener, walaupun gw sebetulnya menikmati keramaian, selama berada di lingkungan yang familiar. Mungkin ini yang gw salah artikan sebagai 'mendapat energi dari luar' kali ya? Hmm..

Lupa kapan, dulu ada yang pernah membahas buku judulnya "Quiet: The Power of Introvert in a World That Can't Stop Talking" nya Susan Cain. Waktu itu gw emang tertarik, tapi ngga segitunya pengen baca. Sekarang, gara-gara baca artikel tadi, jadi penasaran banget. Cari deh ntar di toko buku.

Penutup ini agak 'loncat' sih, tapi gw wondering...

Sebetulnya, pembagian karakteristik dasar manusia itu asalnya dari mana sih? Iya paham kalo manusia itu ngga sesederhana 'kotak' introvert atau extrovert. Manusia itu rumit, lebih rumit dari penyelesaian masalah macet di Jakarta. 

Walaupun sifatnya dinamis, sebetulnya ada 'ground rule' mengenai karakteristik dasar manusia tersebut ngga sih? Yang bikin bertanya-tanya, asalnya dari mana?

Dari apa yang dimakan saat lagi di kandungan kah? Rasi bintang kah (eh ini astrologi sih ya, ahaha, ngaco)? Terbentuk dari asuhan semasa kecil kah? Lingkungan kah? Atau apa? Nature or nurture?

Kalo soal asuhan semasa kecil atau lingkungan, hmm.. itu bukannya ibarat membuat kerajinan keramik ya? Maksudnya, bahan bakunya tanah liat. Titik. Ngga bisa diganggu gugat. Kita ngga bisa bikin keramik dari tanah lainnya. Tanah air misalnya (iye daaah bebaaas).

Yang bisa dilakukan ya membentuk tanah liat tersebut saat masih basah. Nah, itulah 'campur tangan' pola asuh saat masih kecil terhadap pembentukan karakteristik seseorang. Tangan pengrajinnya, bukan lempungnya. Ya ngga sih? Ya ngga sih?

Kembali ke pertanyaan tentang asal-usul 'lempung' tersebut, mungkin ngga sih karna:
"You are what you(r mother) eat"
Ngarang bebas, mungkin seseorang bisa terlahir sebagai introvert atau extrovert tuh karna waktu masih di kandungan, nyokabnya makan sesuatu yang berpengaruh pada pembentukan trait tersebut. Misal, kalo senengnya makan yang pedes-pedes dan/atau manis-manis, jadinya extrovert. Kalo makan yang pait-pait dan/atau asem-asem, jadinya introvert.

Ngasal abis.

Comments