Random 28: Self Blaming

Gw kira gw kelewat nulis 2 hari. Ternyata masih on time. Berarti emang hari-harinya aja yang rasanya berjalan lebih puanjaaang.

Kmaren (atau 2 hari yang lalu?), seorang temen cerita betapa menyebalkannya mood swing saat PMS. Sepertinya doi baru ngalamin. Telat puber, huahaha.

Abis ngatain, terus gw karma. Sial. Giliran gw yang mood swing gila-gilaan karna hal yang gw tau bukan salah gw, tapi tetep ajaaa.. gw turut berkontribusi dalam prosesnya. Sebetulnya hal kecil, tapi bikin mules karna gw melihat raut-raut muka kecewa di sana.

Sepanjang jalan gw merutuki diri sendiri kenapa jadi orang ngga becusan banget. Kenapa apa-apa yang gw kerjain ngga pernah beres. Ngakunya anak komunikasi, tapi ngga bisa berkomunikasi dengan baik. Gimana sih? Seharusnya gw bisa lebih maksimal. Seharusnya lebih teliti. And the bla and the bla and the bla.

Again, as always, it was a self blaming.

Terus gw inget postingan Henry Manampiring, yang pernah gw tulis juga di sini tentang learned helplessness. Okeh, bersih-bersih netral-netral. Lalu gw merem, tarik napas, memaksakan senyum, dan 'bisikin' penghiburan buat diri sendiri:

"It's okay to make mistake again. At least you don't make the same mistake, yes? And well, though you DO contribute and are responsible for it, actually it's not ALL your fault"

SEMANGAT AH DEL!

Comments