Random 8: Tentang Memaafkan

"It seems easy but actually it's not. To forgive and to be forgiven. Doing that on Lebaran day is supposed to be a meaningful moment, isn't it?" -@aikidoka47
Twit yang mau gw-RT tapi karakternya kepanjangan. Zzz. Bikin yang 140 karakter aja kek Din (protes aja lo Del)

Yup, miss Andini, you're right. It's not about all the broadcast greeting, but the meaning. It's seems easy to say "maaf lahir batin" on that day, but to put it into one meaningful "sorry" and really mean it, actually it's not. Even when you DO really mean what to say, being forgiven is never easy either.

Jadi inget, postingan pertama dalam blog ini adalah kata-kata yang gw kirim saat lebaran 2008:
"Sorry. Simple word. Huge meaning"
Haha, singkat ya. Bahkan tanpa 'embel-embel' apa pun. Just that plain and simple yet very meaningful text I sent (yang orang-orang kira itu karna gw mau irit SMS. Teganya -___-)

###

Saling memaafkan itu indah ya.

Seorang temen tiba-tiba 'laporan' kalo dia seneng banget bisa komunikasi lagi sama temennya yang selama ini nyuekin dia. Gw kira tadinya gw akan merespon dengan kening berkerut dan komen apatis "like I care" seperti biasa, haha (jahat)

Tapi ternyata, gw sendiri pun kaget mendapati gw senyum tulus dan turut seneng. Kalo dua manusia itu baikan tuh ada dua kemungkinan: dunia bentar lagi kiamat, atau yaaah.. keajaiban alam itu nyata adanya.

Oh, sama manusia yang satu lagi. Kalo mereka bertiga bener-bener bisa ketemu dan duduk semeja tanpa sensi dan pretensi, gw mungkin akan jadi orang pertama yang nyengir girang, karna ternyata emang gada yang ngga mungkin di dunia ini.

Yah, mari berdoa saja, semoga bukan kemungkinan yang pertama, hihihi.

###

Masih tentang indahnya saling memaafkan.
"...lo udah gw maafin"
Satu kalimat singkat yang bener-bener bikin hati berasa ringaaan banget. Seolah-olah ada ratusan tangan jin yang kerja bakti mindahin beton-beton berat dan dingin, diganti dengan ribuan cotton candy warna-warni yang masih hangat, baru dibuat.

2010, 2011, 2012, 2013. Akhirnya, walaupun cuma lewat teks, entah gimana, gw bisa ngerasain bener-bener dimaafin. Sampe bingung mau bales apa saking senengnya, dan jadinya balesannya ngga nyambung, haha. Semoga orangnya ngerti maksud gw apa. Aamiin aamiin :'D

###

But hey, sweet ain't as sweet without bitter, yes?

Lebaran taun ini, rasanya ini hati mencelos berkali-kali. Setelah menghangat karna kalimat di atas, satu pesan dari seorang temen yang bahkan gw takut banget buat minta maaf (lagi) dan ngucapin selamat lebaran, secara mengejutkan ngucapin duluan :') Gw kira ini namanya berkah Idul Fitri. Tapi ternyata...
"...mohon maaf juga ya karna blm bisa memaafkan"
........
........
........
........
........
........
........
........

Saya membeku. Bukan formalitas, tapi dingin dan formal rasanya. Dan berjarak. Jauh sekali.

Yaudalah ya. Walaupun dengan segala walaupun, gw percaya akan frase "suatu saat...". Suatu saat... akan baik-baik lagi. Suatu saat... bisa duduk semeja, ngebahas hal ini dengan terbuka. Suatu saat... segala pertanyaan-pertanyaan di kepala, ngga cuma dijawab dengan asumsi semata ataupun lewat perantara.

Suatu saat. Ya, suatu saat... yang entah kapan. Gw cuma bisa berharap, percaya, dan berdoa.

Like I said. Even if it takes years to be forgiven, I'll wait. I just really hope it won't take forever. Your forgiveness, for me, is really worth the wait. And yes, it means a lot. Why? Well, I never tell it right and obviously to you, but... because you're one of those in my significant-others circle. One of those very few people I can share my trust. And still I can trust. People I care.

And when I say I mean it, I really mean what I say.

Comments