Posts

Showing posts from September, 2013

Quiet, Please?

Image
Huh hah huh hah! Tul ngetz!

Menulis butuh keberanian. Salah satunya, berani membuka diri. Dan dengan membuka diri, berarti harus terima resiko bahwa itu sama aja 'mempersilakan' orang buat mencari celah untuk menyerang kelemahan kita.

Ini menakutkan sih sebenernya. Tapi, kalau bukan karna nulis, mungkin gw ngga akan pernah memberanikan diri belajar terbuka. Anaknya paradoks ya. Pemberani yang penakut. Haha (entah apa yang gw tertawakan).

Ngomong-ngomong soal nulis dan lagi-lagi, menyangkutpautkan dengan introvert, katanya orang introvert itu lebih gampang mengekspresikan sesuatu lewat tulisan. Hmm.. iya kah? Hmm.. lagi.

###

Di postingan ini, gw bilang kalo gw pengen baca buku "Quiet" nya Susan Cain. Sekarang sedang dibaca. Blom selesai. Dari awal September. Sementara sekarang udah akhir September. Iya, gw anaknya lama emang kalo baca buku.

But anyway, this book is illuminating! Seriously.

Salah satu part yang bikin gw tertarik dan ber-ooooooooh ria adalah part di ma…

Perkara Sudut Pandang

Ada sebuah masalah. Melibatkan 4 pihak. Pihak pertama marah. Kesal karena hasil tidak sesuai standar. Pihak kedua tersinggung. Merasa didikte. Menyalahkan pihak luar. Pihak ketiga merasa bersalah dan bertanya-tanya, apa yang salah?

Apa kabar pihak keempat? Mendengar. Mengangguk-angguk. Mencoba paham. Tidak marah. Tidak kesal. Tidak banyak berkomentar. Malah merasa bersyukur. Kenapa?

Pihak pertama marah dan menjelaskan mengapa pihak pertama marah. Pihak keempat yang memang haus pembelajaran, merasa itu semua adalah bagian dari evaluasi. Sesuatu yang jarang sekali pihak keempat dapatkan akhir-akhir ini. Pihak keempat menyimak dan mencatat. Mulut terkatup, namun mata berbinar. Ini peristiwa langka, pikirnya.

Pihak kedua tidak terima. Apa yang dilakukan selalu salah di mata pihak pertama, keluhnya. Padahal, di mata pihak kedua, pihak pertama juga salah. Ah ya, pihak kedua memang lihai mencari alasan. Atau bisa dibilang pembenaran.

Pihak keempat mengangguk-angguk saja. Sudah biasa. Pihak k…

Pe-er dari Mardayah Anggraeni

Di-tag Liebster-an lagi, haha. Yaudah deh, jawab aja. Mumpung lagi mood. Thanks Di btw :D

1. Ketika gue bilang film. Judul film apa yang pertama kali muncul di pikiran lo?
MOOD INDIGO! Film terakhir yang gw tonton. Surealis, berbahasa Perancis, dan tanpa subtitle bahasa Inggris. Plis banget kalo ada yang nemu English subtitle nya, boleh loh bagi-bagi *senyum manis

2. Apa korelasinya film itu sama kehidupan yang elo jalanin sekarang?
Filmnya super absurd. Begitu juga dengan hidup gw. Hahaha

3. Kalo gue bilang hidup itu kaya nonton film, lo setuju ga? Alasannya?
Hmm.. lebih setuju kaya main film sih. Kadang jadi tokoh utama, kadang antagonis. Kadang jadi sidekick, kadang cuma figuran yang numpang lewat di jalan. Tapi mau jadi apa pun, pasti pegang peran di film hidup itu *hazek hazek hoi hoi

4. Kejadian apa yang pernah lo alamin tapi belom pernah lo liat di salah satu adegan film yang lo tonton?
Apaan ya? Skip deh skip

5. Duh kebanyakan pake kata lo nih. Hm.. Percaya happy ending? Kenapa?
Ya…

Ekspektasi

Gw anaknya suka meng-underestimate diri sendiri. Makanya, saat ada yang meng-overestimate, cemasnya seujung dunia yang gada ujungnya itu. Takut ngecewain. Ngga percaya sama diri sendiri kalo gw bisa dipercaya dan diandalkan segitunya. Iya kah? Bukankah saya yang peragu ini meragukan?

When the expectation is too damn high, so is my anxiety.

Tell Me

Nunggunya 5 tahun. 'Jadian' nya 3 bulan. Move on nya? Hmm..

Semenjak 'putus' di tanggal 13 Juli 2013, si anak 'patah hati' ini tiap hari kerjaannya cari 'pelarian' dengan pergi ke sana-sini, ketemuan sama ini-itu, dan pulang minimal jam 10 malem. Sok sibuk, biar ngga perlu inget kalo dia bisa banget pulang langsung ke rumah jam 5 TENG di hari Selasa-Kamis. Biar tiap Sabtu-Minggu ngga perlu ngebayangin pake kaos putih dan celana training gelap.

Anak ini pikir, ini fase 'patah hati' yang akan lewat setelah 1 bulan. Ternyata...

2 bulan berlalu dan masih aja nyari 'pelarian' tapi lari-lari melulu. Masih nanyain kabar, merhatiin. Kadang masih aja nyamperin dan nyempet-nyempetin mampir. Malah dengan murahan dan senang hatinya menawarkan diri buat bantuin. Masih 'berharap'. Masih aja 'nyesss' kalo ditanyain.

I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on if I still in love with you?

Tell me, what spell you put o…

Intimidated

Setelah berurusan dengan harga diri yang bersikeras ngga mau terintimidasi oleh kehebatan orang lain, akhirnyaaa.. sang harga diri pun menyerah. Hahaha.

Dulu, tiap kali ngiri, gw suka mengafirmasi diri bahwa tiap orang punya kelebihannya masing-masing, dan gada yang perlu 'disaingi'. Malah bagus kalo dikelilingi orang-orang hebat. Bisa 'nyuri' banyak banget ilmu. Bisa kerjasama bikin sesuatu yang oke punya. Kooperatif, bukan kompetitif.

Tapi ternyata...

Jadi ceritanya, gw mulai kerjasama sama seorang partner lagi di kantor. Namanya Mbak X. Siapa Mbak X ini? Begini. Awalnya, gw disuruh bikin proposal rancangan kegiatan suatu organisasi O selama 6 bulan. Gw sendirian, dan boook! Rasanya kaya ngerjain TKA lagi, bedanya ini proyek beneran, bukan simulasi -___-

Dan lagi, ini kerjaan ngga main-main. Tantangan dan tanggung jawabnya besar. Dan gw pun sadar pengalaman gw masih super minim buat nanganin kegiatan macem ini sendirian. Tapi yowes, dibuat dulu aja, tapi gw bilang ke…

Life's Good :)

Sabtu pagi beli kado buat ultah setaun sepupu. Ke toko yang jual barang-barang bayi, yang baunya 'bayi banget'. Ihihi.

Ke stasiun jajan soto mie. ENAK!

Bertualang sendirian ke Museum Gajah dengan modal nekat. Padahal buta jalan, tapi ternyata nyampe juga dengan selamat. Prestasi! Nonton finger puppet jam 1 siang dan keliling-keliling museum. Merhatiin orang gambar. Merinding-mistis waktu ngelewatin alat-alat gamelan, entah kenapa. Nostalgia pelajaran Sejarah, Biologi, dll waktu zaman sekolah.

Masih jam setengah 3, padahal janjian sama Icha Shasha jam 5. Bingung mau ke mana, bengong di halte, akhirnya random buntutin sekelompok bule yang ternyata jalan ke arah Monas. Bahkan mereka ngga sadar gw buntutin sampai akhirnya gw ganti haluan buntutin sekelompok anak Pramuka :))

Jajan kerak telor. Jajan es teh manis yang bikin sakit tenggorokan. Keliling Monas dan 'nemu' pertunjukan puppet dari Cina. Bosen. Ketiduran. Bangun-bangun ngobrol sama orang di sebelah, katanya dia mau…

TIN TIIINNN!!!

"Hukum kekekalan energi: Energi tidak bisa musnah, hanya berpindah atau berubah"
Salah satu contohnya adalah bunyi klakson.

Dalam bunyi klakson, terdapat energi kesal yang berpindah dari satu klakson ke klakson lain. Tidak punya klakson? Oh tenang saja! Tuhan menciptakan mulut sebagai 'klakson' alamiah. Kadang lantang, mewujud dalam caci maki, keluh kesah, dan amarah. Kadang hanya berupa desah.

Pasrah.

Berubah?

Ngga pedulian, ngga sensitif, ngga peka, cuek, lempeng, dingin, bodo amatan, ngga perhatian, dan lain-lain. Terlalu sering gw mendengar komen-komen tersebut dari orang lain. Saking seringnya, gw sampai percaya kalau gw orang yang kaya begitu.

Waktu SMA, gw dipanggil Ngao sama kakak kelas gara-gara kalau disapa 'usil', gw cuma mendongakkan kepala, angkat kedua alis, dan membentuk huruf "A". Entahlah apa korelasinya dengan ngao -___-

Pernah juga diteriakin Pak Eko dari ruang kimia waktu masih jadi anak baru, dan cuma nengok sekilas dan berlalu. Setelahnya, selama beberapa pekan gw gamau lewat ruang kimia. Menghindar.

Kadang suka 'digangguin' kakak kelas, dipanggil-panggil kalau lagi ngumpul OSIS atau di Foton (bimbel deket sekolah), tapi tetep pasang tampang lempeng at its finest, pura-pura ngga denger.

Terus saat ada anak kelas lain ngajak kenalan dan minta nomer HP, dengan dinginnya gw melirik sinis dan nanya datar "buat apa?" Asli lah, ini kalau di…