Monday, September 30, 2013

Quiet, Please?

2 comments

Huh hah huh hah! Tul ngetz!

Menulis butuh keberanian. Salah satunya, berani membuka diri. Dan dengan membuka diri, berarti harus terima resiko bahwa itu sama aja 'mempersilakan' orang buat mencari celah untuk menyerang kelemahan kita.

Ini menakutkan sih sebenernya. Tapi, kalau bukan karna nulis, mungkin gw ngga akan pernah memberanikan diri belajar terbuka. Anaknya paradoks ya. Pemberani yang penakut. Haha (entah apa yang gw tertawakan).

Ngomong-ngomong soal nulis dan lagi-lagi, menyangkutpautkan dengan introvert, katanya orang introvert itu lebih gampang mengekspresikan sesuatu lewat tulisan. Hmm.. iya kah? Hmm.. lagi.

###

Di postingan ini, gw bilang kalo gw pengen baca buku "Quiet" nya Susan Cain. Sekarang sedang dibaca. Blom selesai. Dari awal September. Sementara sekarang udah akhir September. Iya, gw anaknya lama emang kalo baca buku.

But anyway, this book is illuminating! Seriously.

Salah satu part yang bikin gw tertarik dan ber-ooooooooh ria adalah part di mana Susan, sang penulis, bercerita tentang profesor Jerome Kagan yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti perkembangan emosi dan kognitif anak-anak dari mulai bayi sampai remaja.

Prof Kagan melakukan eksperimen dengan menyetel suara-suara seperti balon meletus (DOR!), menunjukkan gambar mobil warna-warni berseliweran, dan aroma alkohol. Hasilnya adalah ada bayi-bayi yang responsif dan ada yang chill bae. Yang responsif ia sebut "high reactive", sementara yang chill bae itu ia sebut "low reactive".

Saat mereka beranjak remaja, bayi-bayi "high reactive" tumbuh menjadi anak yang pendiam dan sensitif (introvert), sementara bayi-bayi "low reactive" cenderung jadi anak 'cool' yang pede jaya dan eksis di mana-mana (extrovert).

Intinya, seorang bayi yang kalem, yang kalau digendong sama siapa aja anteng, ngga ribut kalau lingkungannya berisik, dan nyaman sama perubahan yang ada di sekelilingnya, Prof Kagan namakan "low reactive" yang kemudian menjelma jeng jeng jadi anak extrovert.

Kebalikannya, seorang bayi yang gampang nangis atau kagetan saat denger bunyi-bunyian yang agak keras, celingak-celinguk gelisah saat dibawa ke tempat yang asing, dan pilih-pilih orang kalau digendong, dikategorikan sebagai "high reactive" yang punya kecenderungan menjadi introvert.

Menarik yah! Pertanyaannya: kenapa bisa begitu?

Jadi, ada bagian otak yang 'kecil-kecil cabe rawit', yang mengontrol emosi dan insting binatang pada manusia seperti seks, nafsu makan, dan rasa takut. Namanya Amygdala. Si Amygdala inilah yang men-trigger reaksi flight-or-fight dan mengirim sinyal tanda bahaya seperti jantung deg-deg-deg, pupil mata membesar, dan meningkatnya hormon cortisol (hormon stres).

Ibarat alarm, semakin sensitif, semakin gampang bunyi. Begitu juga dengan Amygdala. Semakin peka Amygdala seseorang, semakin high reactive lah dia. Sebaliknya, orang dengan temperamen low reactive, biasanya 'alarm' Amygdala nya ngga terlalu sensitif.

Sebetulnya emang ngga bisa pukul rata sih. Ngga selalu high reactive = introvert dan low reactive = extrovert. Tapi, menurut penelitian Prof Kagan, tingkat kecenderungannya tinggi.

###

Kalau Prof Kagan meneliti soal perkembangan temperamen bayi sampai remaja, Dr Schwartz, kolega Prof Kagan, meneliti gimana kerja si Amygdala seseorang lewat fMRI scanner. Pertanyaan dasarnya: bisa ngga sih 'footprint' bayi-bayi yang diteliti Prof Kagan berubah dan berkembang saat mereka dewasa?

Singkat cerita, hasil penemuannya adalah:
"The footprint of a high- or low-reactive temperament never disappeared in adulthood"

Berikut paragraf-paragraf yang gw rasa penting buat di-highlight:

Schwartz's research suggests something important: we can stretch our personalities, but only up to a point. Our inborn temperaments influence us, regardless of the lives we lead.

Free will can take us far, suggests Dr. Schwartz's research, but it cannot carry us infinitely beyond our genetic limits. Bill Gates is never going to be Bill Clinton, no matter how he polishes his social skill, and Bill Clinton can never be Bill Gates, no matter how much time he spends alone with a computer.

We might call this the "rubber band theory" of personality. We are like rubber bands at rest. We are elastic and can stretch ourselves, but only so much.

###

Trus apa hubungannya pembahasan tentang introvert di atas sama menulis butuh keberanian? Kesannya ngga nyambung ya. Tapi sebetulnya ada benang merahnya.

Apa?

Perkara Sudut Pandang

0 comments
Ada sebuah masalah. Melibatkan 4 pihak. Pihak pertama marah. Kesal karena hasil tidak sesuai standar. Pihak kedua tersinggung. Merasa didikte. Menyalahkan pihak luar. Pihak ketiga merasa bersalah dan bertanya-tanya, apa yang salah?

Apa kabar pihak keempat? Mendengar. Mengangguk-angguk. Mencoba paham. Tidak marah. Tidak kesal. Tidak banyak berkomentar. Malah merasa bersyukur. Kenapa?

Pihak pertama marah dan menjelaskan mengapa pihak pertama marah. Pihak keempat yang memang haus pembelajaran, merasa itu semua adalah bagian dari evaluasi. Sesuatu yang jarang sekali pihak keempat dapatkan akhir-akhir ini. Pihak keempat menyimak dan mencatat. Mulut terkatup, namun mata berbinar. Ini peristiwa langka, pikirnya.

Pihak kedua tidak terima. Apa yang dilakukan selalu salah di mata pihak pertama, keluhnya. Padahal, di mata pihak kedua, pihak pertama juga salah. Ah ya, pihak kedua memang lihai mencari alasan. Atau bisa dibilang pembenaran.

Pihak keempat mengangguk-angguk saja. Sudah biasa. Pihak kedua memang selalu konsisten menginginkan kesempurnaan. Oleh sebab itu, sedikit saja kelalaian bisa jadi objek kekesalan seharian. Sayangnya, mungkin pihak kedua terlalu sibuk mengoreksi kesalahan dan lupa introspeksi diri.

Pihak keempat belajar banyak dari situ. Belajar untuk tidak menjadi seperti itu.

Pihak ketiga serba salah. Merasa semua pihak menekan. Pihak ketiga berkeluh kesah pada pihak keempat. Pihak keempat mendengar. Iya, hanya mendengar. Barangkali, pihak ketiga memang hanya butuh didengarkan.

Menyaksikan bagaimana sebuah stimulus direspon, pihak keempat kemudian berpikir dan bertanya-tanya. Mengapa masalah yang sama bisa terlihat sangat berbeda di mata pihak-pihak yang terlibat?

Yah, perkara sudut pandang ;)

Monday, September 23, 2013

Pe-er dari Mardayah Anggraeni

1 comments
Di-tag Liebster-an lagi, haha. Yaudah deh, jawab aja. Mumpung lagi mood. Thanks Di btw :D

1. Ketika gue bilang film. Judul film apa yang pertama kali muncul di pikiran lo?
MOOD INDIGO! Film terakhir yang gw tonton. Surealis, berbahasa Perancis, dan tanpa subtitle bahasa Inggris. Plis banget kalo ada yang nemu English subtitle nya, boleh loh bagi-bagi *senyum manis

2. Apa korelasinya film itu sama kehidupan yang elo jalanin sekarang?
Filmnya super absurd. Begitu juga dengan hidup gw. Hahaha

3. Kalo gue bilang hidup itu kaya nonton film, lo setuju ga? Alasannya?
Hmm.. lebih setuju kaya main film sih. Kadang jadi tokoh utama, kadang antagonis. Kadang jadi sidekick, kadang cuma figuran yang numpang lewat di jalan. Tapi mau jadi apa pun, pasti pegang peran di film hidup itu *hazek hazek hoi hoi

4. Kejadian apa yang pernah lo alamin tapi belom pernah lo liat di salah satu adegan film yang lo tonton?
Apaan ya? Skip deh skip

5. Duh kebanyakan pake kata lo nih. Hm.. Percaya happy ending? Kenapa?
Yang namanya ending gada yang happy kali

6. Tau Joker-nya Dark Knight kan? Apa pendapat lo tentang karakter ini? Bukan tentang Heath yaa
JENIUS! Mastermind

7. Kalo lagi di dalem bioskop, tiba2 ada temen laamaaa yang udah lama banget ga ketemu sama lo muncul dan duduk ga gt jauh dari tempat duduk, apa yang akan elo lakukan?
Nyamperin pas filmnya selesai. Halo-haloan. Kalo sendirian dan lagi ngga buru-buru ya ngajak main, atau at least makan. Kalo ramean atau buru-buru ya dadah-dadahan aja

8. Lagi nonton bioskop trus tiba-tiba satu bioskop ngucapin happy birthday ke elo. Dan ketika elo tau yg di dalem bioskop itu adalah orang-orang yang gak lo kenal sama sekali. Sama sekali ga ada yang dikenal. Apa reaksi lo?
Ah paling dikerjain acara tipi -___-

9. Film yang paling pas buat mendeskripsikan tentang lo kira2 ada ga? Apa?
Nanya balik boleh ngga? Kira-kira apa dong?

10. Lagu yang paling lo suka dari Soundtrack film?
Under the Sea (Little Mermaid, 1989)

11. (akhirnya!) Kalau punya kesempatan yang sama, lebih milih bisa foto bareng artis idola di Disneyland atau bisa foto bareng temen lama di Universal Studio?
Foto bareng temen lama di Disneyland ;p

Friday, September 20, 2013

Ekspektasi

0 comments
Gw anaknya suka meng-underestimate diri sendiri. Makanya, saat ada yang meng-overestimate, cemasnya seujung dunia yang gada ujungnya itu. Takut ngecewain. Ngga percaya sama diri sendiri kalo gw bisa dipercaya dan diandalkan segitunya. Iya kah? Bukankah saya yang peragu ini meragukan?

When the expectation is too damn high, so is my anxiety.

Sunday, September 15, 2013

Tell Me

2 comments
Nunggunya 5 tahun. 'Jadian' nya 3 bulan. Move on nya? Hmm..

Semenjak 'putus' di tanggal 13 Juli 2013, si anak 'patah hati' ini tiap hari kerjaannya cari 'pelarian' dengan pergi ke sana-sini, ketemuan sama ini-itu, dan pulang minimal jam 10 malem. Sok sibuk, biar ngga perlu inget kalo dia bisa banget pulang langsung ke rumah jam 5 TENG di hari Selasa-Kamis. Biar tiap Sabtu-Minggu ngga perlu ngebayangin pake kaos putih dan celana training gelap.

Anak ini pikir, ini fase 'patah hati' yang akan lewat setelah 1 bulan. Ternyata...

2 bulan berlalu dan masih aja nyari 'pelarian' tapi lari-lari melulu. Masih nanyain kabar, merhatiin. Kadang masih aja nyamperin dan nyempet-nyempetin mampir. Malah dengan murahan dan senang hatinya menawarkan diri buat bantuin. Masih 'berharap'. Masih aja 'nyesss' kalo ditanyain.

I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on if I still in love with you?

Tell me, what spell you put on me, dear Madah Bahana?

Intimidated

0 comments
Setelah berurusan dengan harga diri yang bersikeras ngga mau terintimidasi oleh kehebatan orang lain, akhirnyaaa.. sang harga diri pun menyerah. Hahaha.

Dulu, tiap kali ngiri, gw suka mengafirmasi diri bahwa tiap orang punya kelebihannya masing-masing, dan gada yang perlu 'disaingi'. Malah bagus kalo dikelilingi orang-orang hebat. Bisa 'nyuri' banyak banget ilmu. Bisa kerjasama bikin sesuatu yang oke punya. Kooperatif, bukan kompetitif.

Tapi ternyata...

Jadi ceritanya, gw mulai kerjasama sama seorang partner lagi di kantor. Namanya Mbak X. Siapa Mbak X ini? Begini. Awalnya, gw disuruh bikin proposal rancangan kegiatan suatu organisasi O selama 6 bulan. Gw sendirian, dan boook! Rasanya kaya ngerjain TKA lagi, bedanya ini proyek beneran, bukan simulasi -___-

Dan lagi, ini kerjaan ngga main-main. Tantangan dan tanggung jawabnya besar. Dan gw pun sadar pengalaman gw masih super minim buat nanganin kegiatan macem ini sendirian. Tapi yowes, dibuat dulu aja, tapi gw bilang ke Pak Bos kalo gw kesulitan dan butuh banget diskusi.

Akhirnya Pak Bos yang baik hati itu pun ngenalin gw ke Mbak X ini. "Nanti kamu diskusinya sama si Mbak X aja. Hasilnya baru lapor ke saya", katanya. HUAAAH LEGAAA!!!

Singkat cerita, bekerjasama lah gw sama Mbak X.

Mbak X ini cerdas banget. Ngga banyak omong, tapi sekalinya ngomong, pelan dan alus. Gw jelasin brief yang dikasih Pak Bos, ngasih liat rancangan proposal yang gw buat, dan dia diam menyimak. Selesai gw jelasin, dia cuma komentar "Hmm.. you don't have to think about everything. Make it simple" dan nunjukin contoh-contoh kegiatan yang serupa dalam kemasan yang lebih menarik, trus langsung gambar bagan strategi. Tanpa banyak bicara.

There, I felt stupid. Yet, enlightened. Gw mikirin proposalnya berhari-hari, pusing kalo ini-itu gimana harus ngehubungin siapa clueless ngga tau apa-apa, doi bentar aja udah menguasai. Pengalaman berbicara emang. Keren pisaaan!

Setelah itu, dia telfon sana-sini buat tanya-tanya hal teknis, sementara gw nge-break down rancangannya. Terus si Mbak nya nyamperin, liat hasil kerjaan gw, dan komentar "it's boring. Too many words. Nanti kita diskusi lagi ya"

JEGEEER!!! Hahaha. 'Untung' aja gw udah 'kebal' sama komen-komen frontal.

Abis itu Pak Bos dateng dan Mbaknya langsung ngajak diskusi, ngabarin kalo si ini-itu mungkin bisa bantu dll. Pak Bos cuma ngangguk-ngangguk. Doi emang tipikal bos yang ngga pernah mementahkan ide. Kita yang disuruh ngembangin sendiri. Tanggung jawab sama apa yang udah dirancang. Keren yah! Iya, emang, gw dikelilingi sama orang-orang keren. Tapiii..

Gw ngerasa tersaingi. JEGER part 2. Gw jarang banget menganggap rekan satu tim sebagai saingan. Lagi-lagi, kooperatif, bukan kompetitif. Tapi ini? Uring-uringan sendiri karna berasa keduluan. Kenapaaa???

Jujur aja, rasanya langsung pengen tiba-tiba mahir infographic, ilustrasi, slide presentasi, video, sekaligus jadi strategic planner biar ngga kalah jago dari Mbak X. Ya kali Deeel! Lo kata Pop Mie, instan?!

Gw pengen kerjasama. Mau banget belajar dari dia. 'Nyuri' ilmu. Tapi gw 'ngga tahan' sama diri gw sendiri yang bawaannya gamau kalah sekaligus ngerasa kalah sama orang yang bahkan sama sekali ngga bermaksud 'lomba'. Dan yaaah.. kalo mau adu-aduan mah jauh lah ya level nya :))

UGH! Mixed-up feeling banget deh ini. Gw mengakui, tapi gengsi. Kombinasi antara rendah diri dan harga diri. Disuruh kerja sendiri, bingung setengah mati. Dikasih partner, ngerasa terintimidasi. Maunya hapaaah?!

Ah, yaudalah ya. Instead of mumbling some useless stuff, feeling intimidated, why don't you do something useful, Del?

Sunday, September 8, 2013

Life's Good :)

0 comments
Sabtu pagi beli kado buat ultah setaun sepupu. Ke toko yang jual barang-barang bayi, yang baunya 'bayi banget'. Ihihi.

Ke stasiun jajan soto mie. ENAK!

Bertualang sendirian ke Museum Gajah dengan modal nekat. Padahal buta jalan, tapi ternyata nyampe juga dengan selamat. Prestasi! Nonton finger puppet jam 1 siang dan keliling-keliling museum. Merhatiin orang gambar. Merinding-mistis waktu ngelewatin alat-alat gamelan, entah kenapa. Nostalgia pelajaran Sejarah, Biologi, dll waktu zaman sekolah.

Masih jam setengah 3, padahal janjian sama Icha Shasha jam 5. Bingung mau ke mana, bengong di halte, akhirnya random buntutin sekelompok bule yang ternyata jalan ke arah Monas. Bahkan mereka ngga sadar gw buntutin sampai akhirnya gw ganti haluan buntutin sekelompok anak Pramuka :))

Jajan kerak telor. Jajan es teh manis yang bikin sakit tenggorokan. Keliling Monas dan 'nemu' pertunjukan puppet dari Cina. Bosen. Ketiduran. Bangun-bangun ngobrol sama orang di sebelah, katanya dia mau nonton pertunjukan wayang dari USA, tapi ngga nemu, padahal di jadwal ada.

Akhirnya keliling sama orang di sebelah gw itu, mas-mas dari Pondok Pinang yang lupa nanya namanya, buat nyari pertunjukan wayang yang dimaksud. Ternyata show layang-layang! SERU! Di akhir show, nyobain main layang-layang raksasa.

Jajan kerupuk kuning. Jalan kaki ke Plaza Indonesia. Kirain deket, ternyata lumayan juga. Akhirnya nyerah dan naik bis. Ternyata baru 500 meter udah nyampe. Sial. Kembalikan ongkos 3ribu saya bang!

Jajan lekker. Ketemuan sama Icha Shasha di Sushi Tei Plaza Indonesia. Pindah ke Grand Indonesia. Ngobrol-ngobrol, jalan-jalan, blablabla, pegel, dan melipir ke Smooch. Octa nyamperin sama (EHEM) 'temen'(?) nya. Niatnya mau karaoken tapi udah kemaleman. Niatnya mau ketemuan sama Aya di Monas tapi ngga jadi.

Ujan deres. Udah ketinggalan kereta. Akhirnya nginep di rumah Shasha. Ngobrol-ngobrol sampe jam 2 malem. Tidur. Bangun-bangun jam setengah 10, makan, setel TV, komentar dan ngebahas iklan, nonton JKT48 Mission, dan siap-siap pulang. Jam 12.

Niatnya mau naik Trans Kemang Pratama, tapi ternyata adanya jam 3 sore. Akhirnya ngebolang naik Patas arah Blok M, bis-angkot-ojek, dan akhirnya sampai rumah.

Ngga enak badan, sakit tenggorokan gara-gara kemaren kebanyakan jajan sembarangan, tidur, bangun-bangun manggil Andini suruh main ke rumah. Sampai sekarang.

Life's good. Embrace it :)

Thursday, September 5, 2013

TIN TIIINNN!!!

0 comments
"Hukum kekekalan energi: Energi tidak bisa musnah, hanya berpindah atau berubah"

Salah satu contohnya adalah bunyi klakson.

Dalam bunyi klakson, terdapat energi kesal yang berpindah dari satu klakson ke klakson lain. Tidak punya klakson? Oh tenang saja! Tuhan menciptakan mulut sebagai 'klakson' alamiah. Kadang lantang, mewujud dalam caci maki, keluh kesah, dan amarah. Kadang hanya berupa desah.

Pasrah.

Tuesday, September 3, 2013

Berubah?

0 comments
Ngga pedulian, ngga sensitif, ngga peka, cuek, lempeng, dingin, bodo amatan, ngga perhatian, dan lain-lain. Terlalu sering gw mendengar komen-komen tersebut dari orang lain. Saking seringnya, gw sampai percaya kalau gw orang yang kaya begitu.

Waktu SMA, gw dipanggil Ngao sama kakak kelas gara-gara kalau disapa 'usil', gw cuma mendongakkan kepala, angkat kedua alis, dan membentuk huruf "A". Entahlah apa korelasinya dengan ngao -___-

Pernah juga diteriakin Pak Eko dari ruang kimia waktu masih jadi anak baru, dan cuma nengok sekilas dan berlalu. Setelahnya, selama beberapa pekan gw gamau lewat ruang kimia. Menghindar.

Kadang suka 'digangguin' kakak kelas, dipanggil-panggil kalau lagi ngumpul OSIS atau di Foton (bimbel deket sekolah), tapi tetep pasang tampang lempeng at its finest, pura-pura ngga denger.

Terus saat ada anak kelas lain ngajak kenalan dan minta nomer HP, dengan dinginnya gw melirik sinis dan nanya datar "buat apa?" Asli lah, ini kalau diinget-inget lagi, gw ngerasa super jahat. Maaf ya.

Bukannya gimana-gimana, tapi defense mechanism gw saat ngerasa 'terancam' adalah jaga jarak. Dan dulu, gw bener-bener 'awam' dalam bersikap saat menghadapi situasi di mana seseorang berusaha masuk dalam 'personal space' tanpa seizin gw.

Selain itu, gw juga socially awkward. Gatau harus merespon apa di tengah suasana 'menye-menye' massal. Di kala yang lain saling peluk-pelukan, ngasih kata-kata penghiburan atau semangat, gw cuma diam salting, nepuk-nepuk pundak atau punggung dengan canggung, atau senyum simpul.

Begitu pula sebaliknya. Gw pun ngga pernah menunjukkan kalau lagi ada apa-apa, sampai suatu hari...

Gw kesel banget karna ngga bisa curhat. Di titik gw bener-bener butuh cerita, gw minta temenin Ezzat (temen sebangku waktu SMA) duduk di kursi depan kelas yang ada di depan lapangan upacara pas pulang sekolah. Ekspektasi gw adalah apa yang numpuk di kepala bisa keucap. Nyatanya ngga.

Gw bukannya ngga mau, tapi bener-bener ngga bisa, gatau kenapa. Gw inget banget saat itu, gw cuma bolak-balik menghela napas, Ezzat bingung dan bolak-balik nanya kenapa, gw geleng-geleng, dan ujung-ujungnya sama-sama 'nyerah' dan akhirnya pulang.

Pernah juga tengah malem gw duduk di depan komputer, ceritanya mau ngerjain tugas sebagai panitia acara, tapi clueless banget. Akhirnya gw nelfon temen 1 tim cuma buat bilang "gw gatau apa yang harus dikerjain" dan kejadian yang sama terulang. Sama-sama 'nyerah'. Karna minimnya komunikasi, telfon pun ditutup tanpa menghasilkan solusi.

Those pissing off moments when you couldn't describe your anxiety. You didn't even know why. You just knew that you were constantly worry. You seek for help, but you didn't know how people can help you.

Mungkin karna hal inilah -karna susah mengekspresikan emosi dan 'berjarak'- jadinya cap ngga pedulian, ngga sensitif, ngga peka, cuek, lempeng, dingin, bodo amatan, ngga perhatian, dll itu nempel di gw.

Di akhir masa SMA sampai awal-awal kuliah, gw mulai ikut forum jejepangan. Dari situlah gw 'belajar' nulis dan mulai 'kenalan' sama diri sendiri.

Lucu saat baca tulisan-tulisan zaman dulu, di mana gw berpikir bahwa gw extrovert, tapi ngerasa ada yang 'salah' karna seringkali ngga 'terkoneksi' dengan lingkungan. Socially awkward. Berkumpul tapi ngga membaur. Kesepian di tengah keramaian.

Lucu juga saat gw akhirnya menemukan bahwa menyendiri itu menyenangkan. Gw suka momen hening di kosan. Suka saat main ke toko buku atau nonton sendirian. Suka 'ngabur' ke perpus pusat tanpa ngajak siapa pun dan berharap ngga ketemu siapa pun yang dikenal. Suka nyari pojokan yang sepi cuma buat merhatiin orang. Suka menjadikan nulis sebagai ajang katarsis dan baca sebagai 'curhat pasif'.

Walaupun gw menikmati momen-momen soliter tersebut, gw tetep masih ngerasa 'salah' karna orang-orang di sekitar gw 'protes' atas ke-'ansos'-an gw. Bukannya ngga suka kumpul-kumpul. Justruuu.. SUKA BANGET! Gw juga SUKA BANGET ngobrol, tapi ngga suka 'small talk' saat lagi ngga pengen atau 'batre sosial' nya lagi abis dan butuh 'nge-goa'.

Tapi sebetulnya lebih lucu lagi masa-masa setelah itu, di mana gw mulai 'sadar'. Kalau kata pepatah, "the more you know, the more you realize that you know nothing". Ini pun sama. Semakin jauh 'mengenal' diri sendiri dan orang lain, gw semakin ngga kenal siapa pun.

Di saat gw mulai ngerasa nyaman 'melipir' dari keramaian tanpa terganggu dengan protes sana-sini, gw malah kesepian dan kangen kegaduhan yang pernah gw bolak-balik keluhkan.

Di saat gw mulai membuka diri, lebih bersimpati dan empati, lebih 'hangat' dan ngga sekikuk dulu, gw terkadang justru berharap gw kembali ke "Della Si Ngao" lagi. Karna saat proximity level udah tinggi, jadi sering banget 'patah hati' dan makin ngga bisa ngga peduli.

Dan yang paling menyebalkan adalah di saat gw mulai lebih sensitif dan lebih sering mengapresiasi hal-hal kecil, respon gw akan suatu stimulus jadi makin lebay, makin mood swing, tapi tetep susah untuk nunjukin terang-terangan. Tetep 'lempeng'.

Manusia berubah. Sekaligus ngga berubah. Gw pun.