Berubah?

Ngga pedulian, ngga sensitif, ngga peka, cuek, lempeng, dingin, bodo amatan, ngga perhatian, dan lain-lain. Terlalu sering gw mendengar komen-komen tersebut dari orang lain. Saking seringnya, gw sampai percaya kalau gw orang yang kaya begitu.

Waktu SMA, gw dipanggil Ngao sama kakak kelas gara-gara kalau disapa 'usil', gw cuma mendongakkan kepala, angkat kedua alis, dan membentuk huruf "A". Entahlah apa korelasinya dengan ngao -___-

Pernah juga diteriakin Pak Eko dari ruang kimia waktu masih jadi anak baru, dan cuma nengok sekilas dan berlalu. Setelahnya, selama beberapa pekan gw gamau lewat ruang kimia. Menghindar.

Kadang suka 'digangguin' kakak kelas, dipanggil-panggil kalau lagi ngumpul OSIS atau di Foton (bimbel deket sekolah), tapi tetep pasang tampang lempeng at its finest, pura-pura ngga denger.

Terus saat ada anak kelas lain ngajak kenalan dan minta nomer HP, dengan dinginnya gw melirik sinis dan nanya datar "buat apa?" Asli lah, ini kalau diinget-inget lagi, gw ngerasa super jahat. Maaf ya.

Bukannya gimana-gimana, tapi defense mechanism gw saat ngerasa 'terancam' adalah jaga jarak. Dan dulu, gw bener-bener 'awam' dalam bersikap saat menghadapi situasi di mana seseorang berusaha masuk dalam 'personal space' tanpa seizin gw.

Selain itu, gw juga socially awkward. Gatau harus merespon apa di tengah suasana 'menye-menye' massal. Di kala yang lain saling peluk-pelukan, ngasih kata-kata penghiburan atau semangat, gw cuma diam salting, nepuk-nepuk pundak atau punggung dengan canggung, atau senyum simpul.

Begitu pula sebaliknya. Gw pun ngga pernah menunjukkan kalau lagi ada apa-apa, sampai suatu hari...

Gw kesel banget karna ngga bisa curhat. Di titik gw bener-bener butuh cerita, gw minta temenin Ezzat (temen sebangku waktu SMA) duduk di kursi depan kelas yang ada di depan lapangan upacara pas pulang sekolah. Ekspektasi gw adalah apa yang numpuk di kepala bisa keucap. Nyatanya ngga.

Gw bukannya ngga mau, tapi bener-bener ngga bisa, gatau kenapa. Gw inget banget saat itu, gw cuma bolak-balik menghela napas, Ezzat bingung dan bolak-balik nanya kenapa, gw geleng-geleng, dan ujung-ujungnya sama-sama 'nyerah' dan akhirnya pulang.

Pernah juga tengah malem gw duduk di depan komputer, ceritanya mau ngerjain tugas sebagai panitia acara, tapi clueless banget. Akhirnya gw nelfon temen 1 tim cuma buat bilang "gw gatau apa yang harus dikerjain" dan kejadian yang sama terulang. Sama-sama 'nyerah'. Karna minimnya komunikasi, telfon pun ditutup tanpa menghasilkan solusi.

Those pissing off moments when you couldn't describe your anxiety. You didn't even know why. You just knew that you were constantly worry. You seek for help, but you didn't know how people can help you.

Mungkin karna hal inilah -karna susah mengekspresikan emosi dan 'berjarak'- jadinya cap ngga pedulian, ngga sensitif, ngga peka, cuek, lempeng, dingin, bodo amatan, ngga perhatian, dll itu nempel di gw.

Di akhir masa SMA sampai awal-awal kuliah, gw mulai ikut forum jejepangan. Dari situlah gw 'belajar' nulis dan mulai 'kenalan' sama diri sendiri.

Lucu saat baca tulisan-tulisan zaman dulu, di mana gw berpikir bahwa gw extrovert, tapi ngerasa ada yang 'salah' karna seringkali ngga 'terkoneksi' dengan lingkungan. Socially awkward. Berkumpul tapi ngga membaur. Kesepian di tengah keramaian.

Lucu juga saat gw akhirnya menemukan bahwa menyendiri itu menyenangkan. Gw suka momen hening di kosan. Suka saat main ke toko buku atau nonton sendirian. Suka 'ngabur' ke perpus pusat tanpa ngajak siapa pun dan berharap ngga ketemu siapa pun yang dikenal. Suka nyari pojokan yang sepi cuma buat merhatiin orang. Suka menjadikan nulis sebagai ajang katarsis dan baca sebagai 'curhat pasif'.

Walaupun gw menikmati momen-momen soliter tersebut, gw tetep masih ngerasa 'salah' karna orang-orang di sekitar gw 'protes' atas ke-'ansos'-an gw. Bukannya ngga suka kumpul-kumpul. Justruuu.. SUKA BANGET! Gw juga SUKA BANGET ngobrol, tapi ngga suka 'small talk' saat lagi ngga pengen atau 'batre sosial' nya lagi abis dan butuh 'nge-goa'.

Tapi sebetulnya lebih lucu lagi masa-masa setelah itu, di mana gw mulai 'sadar'. Kalau kata pepatah, "the more you know, the more you realize that you know nothing". Ini pun sama. Semakin jauh 'mengenal' diri sendiri dan orang lain, gw semakin ngga kenal siapa pun.

Di saat gw mulai ngerasa nyaman 'melipir' dari keramaian tanpa terganggu dengan protes sana-sini, gw malah kesepian dan kangen kegaduhan yang pernah gw bolak-balik keluhkan.

Di saat gw mulai membuka diri, lebih bersimpati dan empati, lebih 'hangat' dan ngga sekikuk dulu, gw terkadang justru berharap gw kembali ke "Della Si Ngao" lagi. Karna saat proximity level udah tinggi, jadi sering banget 'patah hati' dan makin ngga bisa ngga peduli.

Dan yang paling menyebalkan adalah di saat gw mulai lebih sensitif dan lebih sering mengapresiasi hal-hal kecil, respon gw akan suatu stimulus jadi makin lebay, makin mood swing, tapi tetep susah untuk nunjukin terang-terangan. Tetep 'lempeng'.

Manusia berubah. Sekaligus ngga berubah. Gw pun.

Comments