Perkara Sudut Pandang

Ada sebuah masalah. Melibatkan 4 pihak. Pihak pertama marah. Kesal karena hasil tidak sesuai standar. Pihak kedua tersinggung. Merasa didikte. Menyalahkan pihak luar. Pihak ketiga merasa bersalah dan bertanya-tanya, apa yang salah?

Apa kabar pihak keempat? Mendengar. Mengangguk-angguk. Mencoba paham. Tidak marah. Tidak kesal. Tidak banyak berkomentar. Malah merasa bersyukur. Kenapa?

Pihak pertama marah dan menjelaskan mengapa pihak pertama marah. Pihak keempat yang memang haus pembelajaran, merasa itu semua adalah bagian dari evaluasi. Sesuatu yang jarang sekali pihak keempat dapatkan akhir-akhir ini. Pihak keempat menyimak dan mencatat. Mulut terkatup, namun mata berbinar. Ini peristiwa langka, pikirnya.

Pihak kedua tidak terima. Apa yang dilakukan selalu salah di mata pihak pertama, keluhnya. Padahal, di mata pihak kedua, pihak pertama juga salah. Ah ya, pihak kedua memang lihai mencari alasan. Atau bisa dibilang pembenaran.

Pihak keempat mengangguk-angguk saja. Sudah biasa. Pihak kedua memang selalu konsisten menginginkan kesempurnaan. Oleh sebab itu, sedikit saja kelalaian bisa jadi objek kekesalan seharian. Sayangnya, mungkin pihak kedua terlalu sibuk mengoreksi kesalahan dan lupa introspeksi diri.

Pihak keempat belajar banyak dari situ. Belajar untuk tidak menjadi seperti itu.

Pihak ketiga serba salah. Merasa semua pihak menekan. Pihak ketiga berkeluh kesah pada pihak keempat. Pihak keempat mendengar. Iya, hanya mendengar. Barangkali, pihak ketiga memang hanya butuh didengarkan.

Menyaksikan bagaimana sebuah stimulus direspon, pihak keempat kemudian berpikir dan bertanya-tanya. Mengapa masalah yang sama bisa terlihat sangat berbeda di mata pihak-pihak yang terlibat?

Yah, perkara sudut pandang ;)

Comments