Quiet, Please?


Huh hah huh hah! Tul ngetz!

Menulis butuh keberanian. Salah satunya, berani membuka diri. Dan dengan membuka diri, berarti harus terima resiko bahwa itu sama aja 'mempersilakan' orang buat mencari celah untuk menyerang kelemahan kita.

Ini menakutkan sih sebenernya. Tapi, kalau bukan karna nulis, mungkin gw ngga akan pernah memberanikan diri belajar terbuka. Anaknya paradoks ya. Pemberani yang penakut. Haha (entah apa yang gw tertawakan).

Ngomong-ngomong soal nulis dan lagi-lagi, menyangkutpautkan dengan introvert, katanya orang introvert itu lebih gampang mengekspresikan sesuatu lewat tulisan. Hmm.. iya kah? Hmm.. lagi.

###

Di postingan ini, gw bilang kalo gw pengen baca buku "Quiet" nya Susan Cain. Sekarang sedang dibaca. Blom selesai. Dari awal September. Sementara sekarang udah akhir September. Iya, gw anaknya lama emang kalo baca buku.

But anyway, this book is illuminating! Seriously.

Salah satu part yang bikin gw tertarik dan ber-ooooooooh ria adalah part di mana Susan, sang penulis, bercerita tentang profesor Jerome Kagan yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti perkembangan emosi dan kognitif anak-anak dari mulai bayi sampai remaja.

Prof Kagan melakukan eksperimen dengan menyetel suara-suara seperti balon meletus (DOR!), menunjukkan gambar mobil warna-warni berseliweran, dan aroma alkohol. Hasilnya adalah ada bayi-bayi yang responsif dan ada yang chill bae. Yang responsif ia sebut "high reactive", sementara yang chill bae itu ia sebut "low reactive".

Saat mereka beranjak remaja, bayi-bayi "high reactive" tumbuh menjadi anak yang pendiam dan sensitif (introvert), sementara bayi-bayi "low reactive" cenderung jadi anak 'cool' yang pede jaya dan eksis di mana-mana (extrovert).

Intinya, seorang bayi yang kalem, yang kalau digendong sama siapa aja anteng, ngga ribut kalau lingkungannya berisik, dan nyaman sama perubahan yang ada di sekelilingnya, Prof Kagan namakan "low reactive" yang kemudian menjelma jeng jeng jadi anak extrovert.

Kebalikannya, seorang bayi yang gampang nangis atau kagetan saat denger bunyi-bunyian yang agak keras, celingak-celinguk gelisah saat dibawa ke tempat yang asing, dan pilih-pilih orang kalau digendong, dikategorikan sebagai "high reactive" yang punya kecenderungan menjadi introvert.

Menarik yah! Pertanyaannya: kenapa bisa begitu?

Jadi, ada bagian otak yang 'kecil-kecil cabe rawit', yang mengontrol emosi dan insting binatang pada manusia seperti seks, nafsu makan, dan rasa takut. Namanya Amygdala. Si Amygdala inilah yang men-trigger reaksi flight-or-fight dan mengirim sinyal tanda bahaya seperti jantung deg-deg-deg, pupil mata membesar, dan meningkatnya hormon cortisol (hormon stres).

Ibarat alarm, semakin sensitif, semakin gampang bunyi. Begitu juga dengan Amygdala. Semakin peka Amygdala seseorang, semakin high reactive lah dia. Sebaliknya, orang dengan temperamen low reactive, biasanya 'alarm' Amygdala nya ngga terlalu sensitif.

Sebetulnya emang ngga bisa pukul rata sih. Ngga selalu high reactive = introvert dan low reactive = extrovert. Tapi, menurut penelitian Prof Kagan, tingkat kecenderungannya tinggi.

###

Kalau Prof Kagan meneliti soal perkembangan temperamen bayi sampai remaja, Dr Schwartz, kolega Prof Kagan, meneliti gimana kerja si Amygdala seseorang lewat fMRI scanner. Pertanyaan dasarnya: bisa ngga sih 'footprint' bayi-bayi yang diteliti Prof Kagan berubah dan berkembang saat mereka dewasa?

Singkat cerita, hasil penemuannya adalah:
"The footprint of a high- or low-reactive temperament never disappeared in adulthood"

Berikut paragraf-paragraf yang gw rasa penting buat di-highlight:

Schwartz's research suggests something important: we can stretch our personalities, but only up to a point. Our inborn temperaments influence us, regardless of the lives we lead.

Free will can take us far, suggests Dr. Schwartz's research, but it cannot carry us infinitely beyond our genetic limits. Bill Gates is never going to be Bill Clinton, no matter how he polishes his social skill, and Bill Clinton can never be Bill Gates, no matter how much time he spends alone with a computer.

We might call this the "rubber band theory" of personality. We are like rubber bands at rest. We are elastic and can stretch ourselves, but only so much.

###

Trus apa hubungannya pembahasan tentang introvert di atas sama menulis butuh keberanian? Kesannya ngga nyambung ya. Tapi sebetulnya ada benang merahnya.

Apa?

Comments

Ujung-ujungnya : bawaan orok, Dell hahahaaha
Iya Fris. Baca itu bab berhalaman-halaman, kesimpulannya cuma 2 kata: bawaan orok. Hahaha