Thursday, October 31, 2013

Konsistensi

0 comments
Salah satu hal tersulit adalah konsistensi. Terbukti. Berkali-kali.

Di Oktober ini, di bulan yang luar biasa menggurita, gw 'ngetes' diri sendiri akan sesuatu. Cuma bertahan seminggu. Iya cupu, gw tau. Motivasi boleh kuat. Ngejalaninnya boleh semangat. Tapi saat gada konsistensi, yaaa.. tamat.

Okeh. Bulan depan. Ngga yakin berhasil, tapi yah, mari coba lagi!

Thursday, October 24, 2013

Seimbang

0 comments
Beberapa hari ini, mood super ngga karuan. Ngga ngerti lagi deh. Sekarang PMS nya makin merajalela. Iya tau, PMS jangan dijadiin alasan, tapi bodo deh. Mending nyalahin PMS daripada nyalahin TV, nonton acara gosip. Eh btw, kasus Dul itu apa kabar sih sekarang? Okeh, abaikan.

Emang ya, Yang Maha Bisa itu bisaan aja membolak-balik mood. Mari me-recap!

Hari Senin, kesel sepagian 'dikerjain' birokrasi, hinggap ke sana-kemari, angkut-angkut barang dan jadi kurir dadakan, eeeh.. tau-tau dapet surat dari orang yang kirain ngga bakal bales. Iya surat beneran, yang dikirim lewat pos itu, bukan email. Hihihi, senang :D

Hari Selasa, mabok meeting seharian, ngurus ini-itu sampe ngga sempet napas, ngga jadi main sama Shasha abis pulang kantor, eeeh.. tau-tau hoki banget pas nunggu Transjakarta ada APTB Kota-Ciputat lewat. Trus random main sama Nesya di PIM, makan di Sushi Tei. Iseng request Salmon Belly Soup yang salmon nya mentah, ternyata bisa! Wih! Makanan enak emang bikin bahagiaaa~

Hari Rabu, heboh gara-gara takut gamau disuntik, manyun sepagian, tau-tau pas pulang 'disogok' pake Jamoca Almond Fudge nya Baskin Robbins. Langsung girang lagi. Anaknya murahan banget emang.

Siangnya tetep ke kantor dalam keadaan lengan pegel luar biasa kaya abis angkat beban seberat Ade Rai kilogram. Udah gitu, jadi sensitif banget sama sentuhan. Dicolek dikit jozz rasanya kaya dibacok pake golok.

Kemudian tibalah saatnya pulang. Berhubung naik Transjakarta di jam prime time itu super mustahil ngga desek-desekan, udah maha dahsyat banget lah ini lengan rasanya kaya anjing poodle kesenggol gorila. Ya nasib :'

Hari Kamis, drama di rumah dari subuh. Rusuh. Kisruh. Mana lengan makin lebay aja. Sampe ngga bisa ngulet. Sampe ngga jadi keramas karna susah angkat tangan. Gimana cerita mau pegangan gantungan di Transjakarta? Lemah ih! Kesel.

Yaudah deh. Daripada teler ngga bisa ngapa-ngapain di kantor, mending izin kerja di rumah. Eeeh.. ternyata lebih produktif, efektif, dan efisien. Alhamduuu.. lillah!

Ini ceritanya sepele dan super ngga penting banget sih. Cuma pengen bilang, hidup itu emang seimbang. Seperti Yin dan Yang. Ada kalanya lo pengen jedot-jedotin kepala ke tembok. Tombol on, biar jiwa raganya berfungsi lagi. Dan alih-alih tembok, tau-tau, lo disuguhi kasur. Buat tidur. Coba deeeh. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Iya, emang ngga nyambung. Semoga selalu ada hal menyenangkan di tiap harinya, sekacau apa pun harinya. Yaudah, gitu aja. Sekian dan terima recehan.

Sunday, October 20, 2013

Tentang Kehidupan Per-idol-an

0 comments
Lagi scroll timeline Twitter dan nemu link tentang JKT48, langsung inget jaman-jaman fangirling jejonisan, haha.

Ini antara 'haha' dan 'huhu' sih. 'Haha' karna langsung ke-recall anak-anak jonis dan gimana 'gila' nya gw dulu kalo udah mulai fangirling-an. Kaya orang kesurupan :)) 'Huhu' karna tipikal idol Jepang banget. 'Nge-buruh' dengan bayaran ngga sesuai.

Sekaligus :'3 juga karna para idol itu rela ngelakuin apa aja demi passion mereka. Para fans itu kadang jadi attached sama idolnya bukan cuma karna penampilan di atas panggung, tapi juga karna ngikutin prosesnya.

Misalnya saat nonton konser. Yang 'diikutin' itu perjalanan si idol sampai akhirnya bisa bikin konser megah. Gimana chemistry tim, kelakuan-kelakuan dodol absurd sesama anggota, perjuangannya sampai sakit-sakit tetep 'show must go on', ngga tidur-tidur demi latian dan tampil maksimal, dll.

Apa-apa yang ada di depan DAN belakang layar.

Dan itu ngga sebentar. Bisa sampai bertahun-tahun. Ngerintisnya dari mulai masih 'polos' sampai udah bisa tengil-tengilan di panggung. Dari cuma jadi penari latar sampai jadi center. Dari masih piyik-piyik sampai hampir kepala tiga.

Karna ngeliat hal-hal tersebut, pas mereka tampil rasanya jadi terharu banget, seolah-olah 'tumbuh' bareng. Haha, lebay ya? Tapi ya emang gitu sih. The art of fangirling. The art of seeing people growing together.

Makanya, buat para idol itu, fans adalah 'nyawa' mereka. Aset berharga yang bikin mereka terus 'hidup'. Kalo gada dukungan dari para fans, gatau deh mereka bertahan buat apa. Makanya ada istilah "fan service" sebagai bentuk ucapan terima kasih dan penghargaan buat para fans yang udah ngedukung mereka.

Per-jeketi-an ini gw ngga terlalu ngikutin sih. Cuma nonton acara JKT 48 Mission aja, itu pun suka ketinggalan episode, haha. Tapi 'feel' nya mirip. Bingung gimana deskripsinya, tapi 'khas' Japonica aja gitu. Ah, jejepangan lagi apa ya? Kangen juga, hahahahaha.

Kembali ke link tadi. Kembali ke alasan 'huhu'. Kalo kata Joker:


Hmm.. kalo diterapin ke 'kasus' per-idol-an, perlu sedikit modifikasi kali ya:
"If you're good at something, never do it for cheap"

'Huhu' banget ngga sih ngeliat para pebisnis entertainment itu menjual mimpi? Produknya ya orang-orang yang punya mimpi itu. Mereka 'dimanfaatkan' sebagai tambang emas dengan kompensasi yang ngga sebanding. Ya mereka nya sih seneng-seneng aja, karena mungkin itu passion mereka.

Dan para fans nya juga seneng-seneng aja, karna ya namanya nge-fans mah pasti pengen bisa liat terus idolnya di mana-mana. Daaan.. lahan para pemodal dan pelaku bisnis pun makin 'basah'.

Dunia entertainment emang ya. Keras. Tapi kalo simbiosis mutualisme gini yaaa.. mau gimana? Eh kok gw malah jadi 'ngebelain' ya. Gimana sih? -___-

Lost and (Hopefully) Found

0 comments


The best wallet I've ever had, bought with my own money. Now gone. So sad :''''''''(

I don't care about the cash. Go ahead, take it all. I just care about everything but the cash. Especially those papers that may seem like a junk but important for me. And my cards. And my ancient Yen coin, got from Ninja Village. And my Ariel Little Mermaid pressed penny. And of course, my wallet.

Hope there's still good people out there who find it and bring it back to me. May God bless good and honest people and place them in heaven. Aamiin.

So, my dear foxy wallet, till we meet again?

On Being Realistic

0 comments
"It's hard to wait around for something you know might never happen. But it's even harder to give up when you know it's everything you want"

I know how it feels when you just can't give up trying. You try and fail and try again and fail again and never stop trying until you reach the limit. Sounds familiar? Of course it's an "OF COURSE!" for me. With bold capital letters and exclamation mark. Because I was born stubborn, haha.

Like my obsession to be Garuda Indonesia's flight attendant. I tried the walk-in interview 3 times already, but well... just my luck. Like my will to finish my english class in ILP after postpone it for 9 freaking years.

Like my desire to be JFC volunteer though I know I'm old enough for doing voluntary. Like being a color guard squad in MBUI after waiting patiently for 5 years. Like joining jazz ballet class on my 20-es. Comparing to those teenagers that already start from kids, it's actually late. But well, better late than never, yes?

But sometimes, life teaches us to stop. I learn it hard way. And for me, it's not about giving up. It's about being realistic. To try forever, ignore 'universe sign' and our body limit, and have a 'blind optimism' is such a fatality.

Last night, I had a talk with my friend. She told me that she already quit dancing. She said, after years, the condition is still the same. Then she decided to quit. After her last show.

I don't know what she's been through but it breaks my heart when hearing the news. I feel her. Been there done that. An injury may recover, but the scar remains forever. And it's not easy to accept the fact that things won't be the same anymore.

But anyway, again, it's not about giving up. It's about being realistic.

Thursday, October 17, 2013

Kendaraan Umum

0 comments
Beraktivitas di pusat kota, salah satu hal yang banyak dikeluhkan orang-orang adalah maceeet! Broh broh, "tua di jalan" itu bukan cuma ungkapan broh. Kalo dibiarin terus bisa-bisa 'upgrade' istilah jadi "berangkat single, pulang punya cucu" broh!

Gw salah satu orang yang udah cukup muak sama kemacetan Jakarta, makanya gw ngga pengen nambah-nambahin macet dengan make kendaraan pribadi. Nebeng sana-sini atau naik kendaraan umum aja lah kalo bisa.

Anaknya udah broh banget ini sama perojekan. Tukang ojek di deket kantor bahkan udah afal destinasi gw tanpa harus sebut lokasi, bahkan notice kalo gw potong rambut, kmarennya ngga naik ojek, atau gw dateng dari arah lain. Hahaha.

Selain itu, gw juga mulai broh-an sama commuter line. Misalnya: mau ke Gandaria City: turun di St. Kebayoran, nyambung ojek. Mau ke Senayan City: turun di St. Palmerah, nyambung ojek. Mau balik dari Goethe: naik ojek ke St. Sudirman, transit St. Tanah Abang, turun St. Pondok Ranji, dan nyambung ojek.

Apa pun stasiunnya, teteeep, ojek 'sambungan' nya :))

Biarpun broh sama perojekan, kalo udah malem atau lokasinya agak jauh ya terpaksa lah naik taksi. Kalo orang-orang 'ngeri' naik taksi sendiri, gw kadang malah seneng! Cuma ngga seneng di ongkos, IHIK IHIK.

Iya sih, harus tetep waspada, tapi gw suka aja gitu ngajak ngobrol supir taksi. Kalo ramean kan pasti asik sendiri. Kalo sendirian kan ya ngapain lagi selain ngajak ngobrol pak supir? Daripada ketiduran kan? Malah lebih bahaya. Bisa-bisa keterusan dan bengkak di argo.

Ngobrol sama supir taksi tuh seru sih, walaupun kadang suka ada yang sotoy, ngomong mulu, dan ngga ngasih kesempatan buat orang lain nimpalin. Atau kampret banget cerita setan di daerah pekuburan atau tempat-tempat yang katanya angker. Zzz.

Pernah suatu hari, lupa di daerah mana, lagi hening tau-tau si supir taksi cerita "mbak, waktu itu pernah di daerah sini tiba-tiba penumpang saya ilang". MEEEN! Udah aja gw timpalin "saya manusia beneran kok pak" -___-

Tapi ada juga yang punya sudut pandang yang menarik. Gw yang 'buta' (apatis?) sama pemerintah kadang banyak belajar juga dari supir taksi. Salah satunya, supir taksi yang beropini tentang LCGC.

Dia bilang, masyarakat kita didominasi sama kalangan menengah. Dari kalangan itu, dulu, yang bawa kendaraan pribadi ada 30 persen. Sekarang, ada LCGC, bisa-bisa jadi 70 persen. Dan dampaknya bukan cuma bikin macet, tapi ke mental masyarakatnya juga.

Ini murni opini doi sih, tapi menarik aja denger sudut pandangnya. Dia bilang "menurut saya ya mbak, orang yang bawa mobil pribadi itu cenderung sombong. Kalo yang tadinya cuma ada 30 persen orang sombong di Jakarta, sekarang jadi ada 70 persen. Artinya apa? Artinya pemerintah bikin kebijakan yang ngajarin orang sombong"

Trus entah gimana, akhirnya nyambung ke "masalahnya, mental DPR nya mental komisi sih. Dari nama aja udah keliatan. Komisi 1, komisi 2, komisi 3"

Sabi pak, sabiii..

Makanya gw sedih banget waktu nonton TV dan liat berita kalau LCGC laku keras di pasaran, bahkan menyetop pre-order karna permintaan membludak. Demand > supply. Ugh! Jokowi-Ahok udah 'capek-capek' merealisasi monorail, lah ini? :(

Wednesday, October 16, 2013

Kolaborasi

0 comments


Dalam jangka waktu yang mayan berdekatan, gw menyaksikan sendiri simbiosis mutualisme dari sebuah kolaborasi. Pertama, kolaborasi Estafet Buku, Love Books A Lot, dan Rumah Baca Panter di acara Social Media Festival.

Seru deh liat bentuk kolaborasinya. Yang satu, bikin 'perpustakaan maya'. Yang satu, komunitas pecinta buku. Yang satunya lagi, punya perpus 'beneran'. Bentuk kolaborasinya itu ngumpulin buku untuk disumbangin ke perpusnya Rumah Baca Panter.

Gw sempet ngobrol-ngobrol sama salah satu sukarelawan dari komunitas Rumah Baca Panter, namanya Mbak Lani. Mbak Lani ini ngejelasin singkat tentang aktivitas komunitasnya. Jadi, di Rumah Panter itu, mereka buka perpustakaan buat anak-anak di sekitaran terminal Depok. Makanya dinamakan Rumah Baca Paguyuban Terminal.

Di sana, mereka juga bikin 'sekolah' kecil-kecilan dan belajar macem-macem, salah satunya belajar musik, kolaborasi sama sukarelawan dari komunitas pecinta musik.

###

Ada lagi cerita dari Aya. Dia gabung di komunitas Jakarta Games Society. Kalo ada car free day, komunitasnya suka bikin permainan tradisional kaya egrang, mainan hola hop dari rotan, dll. Pernah kolaborasi sama komunitas Parkour yang aktivitasnya itu 'loncat-loncatan'. Gw bingung ngejelasinnya, ahaha. Mungkin Wikipedia atau film Yamakasi (2001) bisa membantu.

Kebayang banget euy bentuk kolaborasinya. Misalnya games engklek tapi kotaknya jauh-jauh atau main egrang sambil loncat-loncat. Pesertanya ya orang-orang komunitas Parkour itu. Demenannya kan loncat-loncat. Super seru pasti!

###



Yang terbaru, Trade Expo Indonesia yang sekarang masih berlangsung di JIEXPO Kemayoran. Kantor gw kan buka booth biji kopi dan pastinya butuh meja-kursi buat ngobrol-ngobrol kalo ada buyer yang dateng. Masalahnya, ngga disediain sama panitia.

Akhirnya, kami beride ngajak booth 'tetangga depan' -perusahan furniture- buat kolaborasi dengan minjem salah satu meja-kursi mereka. Jadi, buyer yang dateng ngga perlu bingung harus duduk di mana dan si perusahaan furniture itu bisa numpang promosi produk mereka.

Ide ini tercetus dari hasil liat-liat booth lain. Kami 'nyontek' konsep sebuah kolaborasi antara booth furniture dan teh herbal. Jadi, si perusahaan furniture itu minjemin lemari dan segala ornamennya buat naro display produk si perusahaan teh.

###

Cerita lainnya dateng dari booth 'tetangga sebelah'. Mereka jualan belut yang biasa dipakai untuk bikin sushi. Kebetulan, di sebelahnya ada booth yang jualan teh dan gula aren. Jadilah mereka kolaborasi. Kalau ada buyer dateng, mereka bisa icip-icip unagi sushi sambil minum teh.

Tadinya mereka ngajakin kolaborasi sama kantor gw juga. Jadi ada pilihan: mau ngemil sushi sambil ngeteh apa ngopi? Tapi, berhubung kami jualannya biji kopi mentah, jadi yowes, ngga bisa. Nyeduhnya gimana cuy? Disangrai aja blom :))

###

Ada lagi 4 booth, sama-sama jualan furniture, tapi alih-alih bersaing, mereka ngedekor boothnya bareng-bareng. Kalo mereka sendiri-sendiri, jatah boothnya kan kecil, sementara produk mereka gede-gede, jadi pasti keliatan sumpek. Tapi kalau bergabung, boothnya jadi keliatan luas dan tjakep tenaaan!

Cool yah mereka! Spiritnya kolaborasi, bukan kompetisi. Sayang, gw blom sempet liat booth-booth yang lain.

###

Btw, kan booth kami di hall F ya, yang mana lebih kecil dari yang ada di hall A. Di sana, ruangannya indoor dan jatah boothnya lebih gede. Sementara di hall F itu pakai tenda dan jatah boothnya kecil.

Tapi yaaah.. punya keterbatasan bukan berarti membatasi diri. Emang harus pinter-pinter ngakalinnya. Berkreasi dengan fasilitas yang ada.

Booth kantor gw aja DIY abis! Dari mulai ke pasar buat belanja karung, keranjang dan aksesoris pendukung lainnya, angkut-angkut barang, nge-design banner dan brosur, sampai dekorasi, semuanya kami kerjain sendiri. Sampai pak bos pun ikut turun tangan, haha. Fyi, yang ngerjain cuma berlima. Makanya, kalo kata temen gw: "kalo mereka padat modal, kita padat karya". Oke deeeh!

Dan yah, dengan kolaborasi, kita bisa 'mengakali' batas jadi lebih luas. Hihi.

Belajar

0 comments
Belajar membuat template invoice, timeline, PO, dll dari orang finance. Belajar cara melipat ratusan brosur dengan efektif dan efisien dari tukang digital printing. Belajar politik dan infrastruktur dari supir taksi. Belajar mengira-ngira ukuran dan tata letak bidang dari kontraktor. Belajar cara membuka pintu mobil dan masuk pakai payung tanpa ribet dan basah dari tukang parkir. Belajar sistematika mencuci piring dari bibi. Belajar men-stapler kertas secara cepat dari tukang fotokopi. Belajar menakar gula dengan tepat ke dalam racikan kopi dan teh dari OB. Belajar menghitung kembalian dengan 'bulat' dari "ada 1.000 mbak?"-nya kasir saat menyodorkan uang 20.000 untuk pembelian barang seharga 11.000. Dsb.

Belajar bisa dari mana saja. Bahkan dari hal-hal sederhana. Percaya, pasti berguna.

Friday, October 11, 2013

Bulan Gurita

0 comments
Oktober baru lewat sebelas hari, masa percobaan baru lewat dellapan hari, tapi rasanya seperti gulita yang berenang di lautan tinta. Gelap gurita. Lalala. Ngga sih. Lebay. Mari tetap bertahan!

Hup hup hup!

Saturday, October 5, 2013

Note to Self

0 comments
Paling ngga enak emang kalo ngerjain sesuatu ngga ikhlas. Apalagi ada rasa ngga suka sama yang nyuruh.

Paling ngga enak emang kalo ngerjain sesuatu ngga tuntas. Apalagi kalo pake ngeluh.

Tapi, yang paling ngga enak di antara yang paling ngga enak adalah ngga ikhlas, ngga tuntas, ngga suka sama nyuruh, dan pake ngeluh. WOW! Lengkap sekali ya mbak paketnya.

Apa-apa yang dikerjain setengah hati cuma akan berujung makan hati. Makanya, hati-hati.

Kurang-kurangin tuh!

Tuesday, October 1, 2013

0 comments
I watch. I smile. But I forget how it feels.