Kolaborasi



Dalam jangka waktu yang mayan berdekatan, gw menyaksikan sendiri simbiosis mutualisme dari sebuah kolaborasi. Pertama, kolaborasi Estafet Buku, Love Books A Lot, dan Rumah Baca Panter di acara Social Media Festival.

Seru deh liat bentuk kolaborasinya. Yang satu, bikin 'perpustakaan maya'. Yang satu, komunitas pecinta buku. Yang satunya lagi, punya perpus 'beneran'. Bentuk kolaborasinya itu ngumpulin buku untuk disumbangin ke perpusnya Rumah Baca Panter.

Gw sempet ngobrol-ngobrol sama salah satu sukarelawan dari komunitas Rumah Baca Panter, namanya Mbak Lani. Mbak Lani ini ngejelasin singkat tentang aktivitas komunitasnya. Jadi, di Rumah Panter itu, mereka buka perpustakaan buat anak-anak di sekitaran terminal Depok. Makanya dinamakan Rumah Baca Paguyuban Terminal.

Di sana, mereka juga bikin 'sekolah' kecil-kecilan dan belajar macem-macem, salah satunya belajar musik, kolaborasi sama sukarelawan dari komunitas pecinta musik.

###

Ada lagi cerita dari Aya. Dia gabung di komunitas Jakarta Games Society. Kalo ada car free day, komunitasnya suka bikin permainan tradisional kaya egrang, mainan hola hop dari rotan, dll. Pernah kolaborasi sama komunitas Parkour yang aktivitasnya itu 'loncat-loncatan'. Gw bingung ngejelasinnya, ahaha. Mungkin Wikipedia atau film Yamakasi (2001) bisa membantu.

Kebayang banget euy bentuk kolaborasinya. Misalnya games engklek tapi kotaknya jauh-jauh atau main egrang sambil loncat-loncat. Pesertanya ya orang-orang komunitas Parkour itu. Demenannya kan loncat-loncat. Super seru pasti!

###



Yang terbaru, Trade Expo Indonesia yang sekarang masih berlangsung di JIEXPO Kemayoran. Kantor gw kan buka booth biji kopi dan pastinya butuh meja-kursi buat ngobrol-ngobrol kalo ada buyer yang dateng. Masalahnya, ngga disediain sama panitia.

Akhirnya, kami beride ngajak booth 'tetangga depan' -perusahan furniture- buat kolaborasi dengan minjem salah satu meja-kursi mereka. Jadi, buyer yang dateng ngga perlu bingung harus duduk di mana dan si perusahaan furniture itu bisa numpang promosi produk mereka.

Ide ini tercetus dari hasil liat-liat booth lain. Kami 'nyontek' konsep sebuah kolaborasi antara booth furniture dan teh herbal. Jadi, si perusahaan furniture itu minjemin lemari dan segala ornamennya buat naro display produk si perusahaan teh.

###

Cerita lainnya dateng dari booth 'tetangga sebelah'. Mereka jualan belut yang biasa dipakai untuk bikin sushi. Kebetulan, di sebelahnya ada booth yang jualan teh dan gula aren. Jadilah mereka kolaborasi. Kalau ada buyer dateng, mereka bisa icip-icip unagi sushi sambil minum teh.

Tadinya mereka ngajakin kolaborasi sama kantor gw juga. Jadi ada pilihan: mau ngemil sushi sambil ngeteh apa ngopi? Tapi, berhubung kami jualannya biji kopi mentah, jadi yowes, ngga bisa. Nyeduhnya gimana cuy? Disangrai aja blom :))

###

Ada lagi 4 booth, sama-sama jualan furniture, tapi alih-alih bersaing, mereka ngedekor boothnya bareng-bareng. Kalo mereka sendiri-sendiri, jatah boothnya kan kecil, sementara produk mereka gede-gede, jadi pasti keliatan sumpek. Tapi kalau bergabung, boothnya jadi keliatan luas dan tjakep tenaaan!

Cool yah mereka! Spiritnya kolaborasi, bukan kompetisi. Sayang, gw blom sempet liat booth-booth yang lain.

###

Btw, kan booth kami di hall F ya, yang mana lebih kecil dari yang ada di hall A. Di sana, ruangannya indoor dan jatah boothnya lebih gede. Sementara di hall F itu pakai tenda dan jatah boothnya kecil.

Tapi yaaah.. punya keterbatasan bukan berarti membatasi diri. Emang harus pinter-pinter ngakalinnya. Berkreasi dengan fasilitas yang ada.

Booth kantor gw aja DIY abis! Dari mulai ke pasar buat belanja karung, keranjang dan aksesoris pendukung lainnya, angkut-angkut barang, nge-design banner dan brosur, sampai dekorasi, semuanya kami kerjain sendiri. Sampai pak bos pun ikut turun tangan, haha. Fyi, yang ngerjain cuma berlima. Makanya, kalo kata temen gw: "kalo mereka padat modal, kita padat karya". Oke deeeh!

Dan yah, dengan kolaborasi, kita bisa 'mengakali' batas jadi lebih luas. Hihi.

Comments