H-20

Jakarta, 11 November 2013

Seorang perempuan berdiri di depan pintu keluar sebuah gedung.

Rambutnya digelung, menampakkan leher yang jenjang. Baju mininya yang super ketat, menonjolkan lekuk tubuh. Perut yang rata, pinggang yang ramping, dan kaki yang jenjang, yang ditopang oleh sepatu dengan hak (mungkin) 12 sentimeter, membuat siluet tubuhnya terlihat seksi sekali.

Ditambah wajah indo yang cantik dengan hidung yang mancung dan make up yang mendukung, siapa yang ngga 'nengok'?

Gw -yang notabene sesama perempuan- pun.

Tapi ternyata, perempuan indo itu membosankan. Dia cuma berjalan mondar-mandir dengan handphone yang setia menempel di kupingnya. Bergantian. Kiri dan kanan. Muka ditekuk. Dahi berkerut. Bibir cemberut. Sepertinya sedang bertengkar dengan lawan bicaranya.

Karna bosan, gw pun iseng mengamati reaksi orang-orang di sekitar. Gw ambil posisi paling strategis. Duduk di undakan tangga paling atas, menghadap pintu keluar. Posisi si perempuan indo ini membelakangi pintu tersebut.

Mungkin, perhitungan secara kasar, dari 10 orang yang melewati pintu, 7 di antaranya terkesima. Iya, secantik itu. 3 sisanya sedang sibuk dengan handphone nya. Ah, handphone lagi. Gadget yang mendekatkan sekaligus memisahkan manusia dengan dunia.

Orang-orang itu sepertinya ngga sadar kalau lagi diamati. Mungkin, kita harus mulai berhenti berpikir "ah, ngga ada yang liat ini" karna pasti di suatu waktu, akan ada aja yang memperhatikan dan menahan tawa geli karna memergoki kelakuan-kelakuan yang 'ajaib'.

Salah satunya seorang satpam. Saat si perempuan akhirnya berjalan ke dalam gedung, satpam itu menatap nanar dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil berdecak dan bergumam "wuih bodinya". Pelan sih, tapi sayangnya, bisa gw dengar, haha.

Pernah juga, di spot yang sama, gw memperhatikan seorang pria yang berjalan menuju pintu keluar sambil merentangkan tangannya, seolah-olah dia manusia berkekuatan super yang sedang menyingkirkan apa pun yang menghalangi jalannya. Dan setelah pintu terbuka otomatis, dia senyum-senyum sendiri.

Gw cuma bisa menepuk jidat. Hiburan banget di kala penat.

###

Well, hari ini cuma satu itu hal yang menarik. Sisanya, yaaah.. begitulah. Berangkat kantor, macet, kerja, pulang, macet lagi.

Tapi 1 hal yang gw pelajari hari ini, setelah gw secara impulsif memutuskan untuk ngga buka social media (Twitter dan Facebook) selama seminggu. Gw remove shortcut Twitter di HP dan berusaha mencari distraksi saat tangan secara otomatis buka www.twitt... dari PC ataupun laptop.

Ternyata, waktu terasa berjalan lebih panjang dari biasanya. Selain emang karna kegiatan hari ini ngga terlalu 'penuh', gw juga baru sadar betapa banyaknya waktu yang gw habiskan cuma untuk scrolling timeline Twitter, mindlessly.

Bangun tidur, di perjalanan menuju kantor, di toilet, kadang-kadang saat lagi ngga ada kerjaan atau saat makan, di perjalanan pulang, dan terakhir, di rumah. Sambil nonton TV atau kerja lagi. Oh! Sebelum tidur juga.

WOW! Kayanya harus sering-sering iseng begini. Puasa socmed.

Comments