Trilogi Hunger Games

"Del, nonton Hunger Games yuk"
"Ngga ah. Palingan ngga lebih oke dari Battle Royale"

Dulu, waktu Hunger Games tayang di bioskop dan semua orang heboh ngomongin, gw ngga tertarik. Yaaah, bisa dibilang, gw meremehkan film ini. Gw tau film ini diangkat dari trilogi novel yang jadi world best seller, tapi bodo amat. Ngga tertarik ya ngga tertarik aja.

Lalu, saat lagi leyeh-leyeh di depan TV sama bokap, Fox Movie menayangkan film Hunger Games. Waktu itu, gw ngga terlalu meresapi filmnya karna sebetulnya cuma pengen nyobain sofa yang baru dibeli bokap secara random, entahlah buat apa. Mungkin buat gw, karna warnanya merah *geer, haha.

Kmaren, karna gada kerjaan, gw mengiyakan ajakan si Uli nonton sekuel Hunger Games, yaitu Catching Fire. Toh gw udah pernah nonton film sebelumnya. Sekalian lah. Kaya apa sih emangnya?

###

Yaoloh akang Gale teh tjakeup pisan #salahfokus


Gw nonton Catching Fire tanpa ekspektasi apa pun kecuali berharap Gale jadi tambah ganteng, bahkan lagi-lagi, cenderung meremehkan. Tapi sepulang dari bioskop, gw mulai merenungi pesan yang mungkin ingin disampaikan film ini.

Saat itu hujan, jadi mau gamau gw dan Uli harus nunggu reda. Dan Gramedia lah pilihannya. Terus entah kenapa gw tiba-tiba benci toko buku. Gw cuma pengen pulang, browsing film review. Ngga ngerti deh, kadang gelisah datang tanpa alasan. Menyebalkan.

Lalu gw menghampiri rak buku trilogi Hunger Games ini, baca buku pertamanya.

Awal-awal baca, gw kesel. Ini apa sih terjemahannya 'ngga enak' gini? Tapi sambil menggerutu dalam hati, gw tetep lanjut baca. Saat gw pikir hujan udah agak reda, gw dan Uli pulang, dan sialan! Gw kepikiran akan buku yang blom selesai dibaca itu.

Sampai rumah, gw browsing-browsing dan memutuskan nonton ulang film Hunger Games. Ternyata...

Have you ever hated a story because it's painfully beautiful yet ironic? This is that kinda movie.

Iya, gw tau gw sadarnya telat banget. Dan iya, gw juga tau gw mamam omongan sendiri.

Lesson learned: Never judge anything at the first glance. Never underestimate. And never compare on thing that you don't even know what it is like.

###

Film ini adalah simbol pemerintahan yang diktator, di mana kekayaan dan kemakmuran berpusat di Capitol, sementara 12 distrik lainnya miskin dan kelaparan. Di kala penghuni Capitol menghambur-hamburkan makanan, rakyat kecil berkutat pada "hari ini aku makan apa?"

Hunger Games adalah sebuah ajang tahunan yang disiarkan di televisi nasional, di mana sepasang tribute dari tiap distrik diwajibkan untuk bertarung di sebuah arena yang mana hanya ada 1 orang pemenang. Artinya, 23 orang lainnya akan mati.

Pemilihan tribute dilakukan dengan undian. Dan ritual sebelum pengundian adalah dengan menonton sebuah video brainwash.

Rakyat diingatkan akan sejarah yang kelam dan ditekankan bahwa penguasa selalu menang. Bahwa pemberontakan hanya akan membawa kesengsaraan. Bahwa mereka yang tertindas harus bungkam agar hidup mereka tetap aman.

Saat rakyat tiap tahunnya dihantui ketakutan dan keputusasaan, ada yang berbeda dalam Hunger Games ke-74 kali ini. Pasangan tribute dari distrik 12, Katniss dan Peeta, datang membawa perubahan. Dan itu membuka mata semua orang bahwa selalu ada harapan.

Di sekuel Catching Fire ini, kemenangan Katniss dan Peeta berdampak besar. Rakyat mulai berani memberontak. Presiden Snow, pemimpin yang paling berkuasa, mulai khawatir.

Dan pada Hunger Games ke-75 (Quarter Quell), Presiden Snow 'merayakan' hari spesial tersebut dengan pengundian spesial, yaitu para pemenang Hunger Games dari tiap distrik, termasuk -tentu saja- the Girl on Fire: Katniss Everdeen.

Apa yang terjadi dalam Quarter Quell? Mari nonton saja.

Comments