Friday, October 24, 2014

Siap-siap

0 comments
Hai Tuan,

Boleh sedikit bercerita? Sepekan lalu aku membahasmu dengan seorang teman. Sebelum aku selesai bercerita, dia langsung menebak kelanjutan ceritaku dan tebakannya tepat sekali. Aku panik. Apa semudah itu aku 'dibaca'? Tapi ya sudahlah, mungkin memang iya, haha.

Mungkin suatu saat kita bisa bertemu. Mungkin kamu pun akan menemukan tulisanku. Hanya membayangkan itu saja, aku panik (lagi). Aku belum siap. Tapi ya sudahlah, kalau menunggu siap, selamanya pasti takkan siap. Jadi, mari bersiap-siap!

Oh ya, mungkin saja, kesempatan bertemu itu tidak pernah ada. Untuk itu, aku pun seharusnya juga bersiap-siap.

Salam dari pengagum diam-diam,
Nona

Thursday, October 16, 2014

'Selimut'

0 comments
Baru 2 bulan berkenalan dan gw sudah kehabisan kata-kata. Berkali-kali mencoba, tetap nihil hasilnya. Tapi kali ini akan gw coba.

Sebetulnya gw bukan orang yang gampang membuka diri. Apalagi di forum terbuka yang ada banyak orang di dalamnya, yang bahkan belum pernah bertatap muka. Ya keleus! Gile lu, Ndro!

Tapi percakapan intens yang beragam di dalamnya bisa dengan mudah memancing gw untuk banyak bercerita. Dan pada pertemuan pertama, rasanya seperti sudah berteman lama.

Nggak ada habisnya gw bergumam "ini gila! Gila gila gilaaak!!!" Bisa-bisanya cerita apa saja --BAHKAN hal personal-- ke orang-orang yang 'baru kenal kemarin sore'.

Di sana dan di sini ada tulisan tentang kami. Mungkin ada lagi di blog yang belum gw ketahui. Mereka memang luar biasa. Luar biasa gila, maksudnya, hahaha.

Pembahasan topik umum yang udah nggak ngerti lagi randomnya dari mulai jengkol, kopi, bra dan undies, LGBT, ekonomi kreatif, RPP, konsep perkalian, sampai balada packing yang nggak kunjung selesai.

Topik klasik yang selalu terselip: jodoh dan pernikahan, dinamika kelompok seperti left group dan hoax yang bikin sebagian ngakak dan sebagian lainnya kesal, sampai pembahasan insightful barusan: tentang zona nyaman.

Menarik banget menyimak definisi 'zona nyaman' masing-masing dari mereka. Buat gw, zona nyaman itu ibarat selimut: sahabat saat istirahat, musuh saat subuh.

Bergelung di balik selimut memang nyaman, tapi bahaya karena bisa membuat orang terlena, terlalu mager untuk keluar dari situ. Apalagi kalau cuaca dingin. Brr. Boleh selamanya ngerungkel jadi kepompong aja nggak? NGGAK! Nanti 'mati rasa' loh!

Makanya, ada istilah "keluar dari zona nyaman".

Tapi, alih-alih memakai istilah "keluar dari zona nyaman", salah seorang dari mereka menyebutnya "memperluas zona nyaman". Menarik! Ibarat beranjak dari selimut kesayangan buat mencari selimut di tempat lain. Jadi selimutnya ada banyak *apose sih, Del?

Oke. Gw kembali kehabisan kata-kata. Yang jelas, gw sangat bersyukur dipertemukan dengan mereka, calon Pengajar Muda IX, yang 10 hari lagi akan (akhirnya) berjumpa semua. Mereka, 'selimut' baru yang nyaman.

Ah, rasanya nggak sabar untuk saling berkabar!

Peserta kopdar perdana CPM IX cabang Jakarta

Wednesday, October 15, 2014

No Pain No Gain

0 comments
They start to count down. Despite all those unpacked stuff, I'm not worry about being ready or not. I know whatever happens, I'll keep moving and find a way. Nothing to worry about.

It's just... the pain of leaving is inevitable. But hopefully, there's more to gain. From living. From loving. From giving. From sharing. From learning. And from defining new form of happiness.

Murakami once said:
"Pain is inevitable, suffering is optional"

Thus I choose not to suffer.  I choose to write instead.

Motivasi atau Distraksi?

0 comments
Gw baru ngeh-se-ngeh-ngeh-nya kalau yang paling berat dari pindah adalah meninggalkan orang-orang di zona nyaman. Gw kira nggak akan se-big deal itu susah komunikasi, toh gw fine-fine aja selama ini cuma dengan ber-teks-ria.

Iyeee.. selama ini, Del. Selama lo nggak pernah kesulitan berkabar. Selama semua orang masih dalam jangkauan. Toh se-jauh-jauhnya, masih terjangkau. Toh bukan lo yang pindah. Toh walaupun lo bilang pernah pindah rumah, selemparan tol juga nyampe *walaupun tolnya MAHAL.

Gw pengennya sih fokus ke persiapan. Tapi yang gengges-gengges macem ini paling tepat dituangkan lewat tulisan. Sebodo teuing lah ntar jadinya lebay.

Mungkin yang namanya motivasi itu ibarat keramas. Ya nggak harus tiap hari sih, tapi minimal kalau udah mulai nggak nyaman, kepalanya disiram, kucek pakai shampoo, dan bilas. Biar bersih lagi dan bisa mikir jernih.

Kucek banget? Itu rambut apa baju?!

Sesekali pengen manja sih creambath di salon. Kan kan kan, jadi pengen creambath tengah malem gini. Random.

Ya intinya, hmm.. apa ya intinya? Ah elah fuck denial lah, Del. Jadi gini. Ada seorang oknum yang jadi salah satu motivasi gw. 'Shampoo' dengan aroma yang menyegarkan. Masalahnya udah 2 tahun dan nggak pernah berani bawa ke kasir. Kemahalan.

Demmm.. apa sih ini bawa-bawa kasir segala?!

Nah, distraksi gw dari si oknum adalah orang-orang di zona nyaman. Lah kalau susah nyampahan ke mereka terus kudu piyeee? Guling-guling sendiri aja lah di pinggir pantai tanpa gadget tanpa listrik.

Gw bukan pengen ngeluh sih, malah sebenernya nggak sabar. Cuma lagi mikir aja, zona nyaman gw, tempat katarsis, mungkin harus sedikit 'dimodifikasi' nantinya. Atau gw nya yang perlu adaptasi.

Terus si motivasi yang mendistraksi ini harus diapain dooong? Terlalu menyenangkan untuk dienyahkan, tapi terlalu mengesalkan untuk dipertahankan.

Eh gimana gimana? Jadi distraksi apa motivasi? Siapa yang mendistraksi yang mana? Siapa yang memotivasi apa?

AUK AH DEL! Suka sendiri, sewot sendiri, bingung sendiri. Maunya hapaaah?!

Kalau pakai prinsip paradoxical intention, ini yaudalah ya mabokan aja sendiri nulis-nulis sampai puas. Abis itu tidur bentar, terus lanjut lari pagi.

Jadiii.. gw sebenernya merasa bersalah karena mengakui si oknum itu jadi salah satu motivasi gw. Sempet 'lupa' sih, dan saat inget lagi jadi agak 'panik' dan menganggap itu distraksi.

It's like every time I think of that person, this monologue goes like this:

Della 1: "So... how sincere can you go? You don't do this because of him in the first place, right?"
Della 2 (doubtlessly nod): "OF COURSE not because of him"
Della 1: "Then why still anxious?"
Della 2: "If I were car, then he would be the gasoline, NOT the destiny. What makes me anxious is because I'm run out gas"

AH INI GIMANA NGEJABARINNYA KOK SUSAH BANGET SIH?!

Banyak hal yang tumpang tindih di otak. Nggak ngerti banget deh. Aaargh, semoga nanti gw nggak punya waktu buat mikirin hal macem gini karena masih banyak hal lain yang lebih penting buat dipikirin. Aamin aamiin.

Dan semoga semuanya lancar. Baik motivasi maupun distraksi. Eh?

Saturday, October 11, 2014

Halo, Tuan!

0 comments
Halo, Tuan!

Ini gila. Luar biasa gila. 2 tahun, dan rasanya masih sama. Sama menariknya, sama bikin penasarannya, dan sama diam di tempatnya.

Kita bahkan nggak pernah berjumpa, tapi namamu ada dalam doaku yang sederhana: semoga di suatu masa, kita bisa duduk berdua dan bertukar cerita. Apa saja.

Tertanda,
Nona

Tuesday, October 7, 2014

Friendship Relationship

1 comments
Belakangan, beberapa orang teman bercerita tentang sahabat-sahabat mereka, yang entah bagaimana mendadak asing. Setelah cerita, respon mereka rata-rata sama: yaudah. Selesai.

Gw emang nggak mengalami dan mungkin juga gatau apa yang mereka rasain, tapi rasanya mencelos. Sebuah kemewahan bisa punya sahabat, masa bisa segampang itu 'selesai' cuma gara-gara penyebab yang bahkan gatau apaan? Ngilang aja gitu ceritanya?

Mereka bilang "nggak semua orang layak kita pertahankan, kan?" Gw rasanya pengen gaplokin dan bilang "sahabatan belasan bahkan 20an tahun, masa nggak layak dipertahankan? Hampir seumur hidup loh itu!"

Seiring bertambahnya umur, gw semakin menyadari kalau mempertahankan teman dalam jangka waktu yang lama (BANGET) itu butuh usaha, tapi pasti akan diusahakan dengan senang hati.

Apalagi mereka yang jadi saksi metamorfosa kita dan hafal betul gimana kita luar-dalam, bahkan kadang lebih dari diri kita sendiri. Udah kartu As banget, nggak mungkin laaah gamau diusahakan.

Kalau emang tiap hubungan punya masa kadaluwarsa, pasti pertemanan jangka panjang ini yang paling pedih saat ternyata ada kadaluwarsanya. Dan pasti rasanya super nggak rela.

Emang ya, dalam mendengarkan cerita seseorang (atau berusaha jadi pendengar yang baik) tuh butuh banget kemampuan untuk nahan diri buat nggak menyertakan "kalau gw jadi lo".

Mungkin saat seseorang curhat ke kita, bisa dibilang itu bentuk penghargaan karena tandanya dia percaya sama kita. Tapi buat tetap 'jaga batas' antara empati dan simpati itu S-U-S-A-H meeen!

Jadi, pada akhirnya gw tetap menyertakan "kalau gw jadi lo" dalam komentar. Gw bilang ke mereka kira-kira begini "gw gatau rasanya jadi lo, tapi kalau gw jadi lo, mungkin gw akan keras kepala pertahanin" dengan nada senetral mungkin.

Salah satu dari mereka akhirnya 'baikan' lagi. Gw nggak kenal sahabatnya sama sekali, cuma denger cerita dari si teman gw itu, tapi rasanyaaa.. I'm extremely happy for them :)

Terus barusan, seorang teman cerita lagi. Dan rasanya kayak de javu. Komentar yang sama pun gw lontarkan, dengan rasa mencelos yang juga sama. Ini kenapa sik gw jadi kayak 'magnet' orang-orang cerita beginian mulu?! Hiks. Kan jadi ikutan sedih.

So... to all my dear friends,

I need to assure myself about this. People come and go. I may lose you anytime, but hopefully I can guarantee you won't lose me no matter what.

And IF I were you --you, yes you, my friends with friendship-relationship-matter-- guess at leaaast I would let that buddy know that s/he might come, s/he might go. But I would still stay.

Semoga pada cepat 'baikan' lagi yah sama sahabatnya masing-masing. Dan semoga, yang namanya 'kadaluwarsa' dalam persahabatan itu cuma mitos belaka. Aamiin.

Monday, October 6, 2014

Tentang Jakarta

0 comments
Kemarin, gw mengobrol dengan dua orang asing. Yang satu berkebangsaan Amerika, yang satunya lagi orang Jepang. Mereka banyak bercerita tentang perjalanan mereka melanglang buana, sementara gw banyak bercerita tentang........

Jakarta.

Oh betapa bencinya gw sama kota ini. Hiruk-pikuknya, kemacetannya, lumpuhnya kota saat hujan apalagi banjir, para warganya yang super barbarian mirip manusia purba didandanin, dan lain-lainnya.

"Come to Indonesia someday. You'll see heaven. Anywhere but Jakarta. You'll see hell" gw mengingatkan mereka.

Tapi sekarang, kalau diingat-ingat lagi dan menyadari sesuatu, gw malah ketawa sendiri (iya udah gila emang).

Saat itu, gw bercerita dengan berapi-api, penuh semangat, dan segala hal ke-chaos-an itu ibarat kecetus cabe atau seledri di kuah bakso. Walaupun nggak suka --nyerempet benci setengah mati--, toh nggak bikin gw berhenti makan bakso.

Gini nih kalau nulis tengah subuh dalam keadaan laper. Semua analogi ujung-ujungnya makanan.

Random lah. Intinya sih, mungkin bener kata orang kalau benci dan cinta itu beda tipis. Gw bisa bilang benci setengah mati, tapi apa namanya kalau bukan cinta, saat setengah mati berusaha nggak peduli tapi ujung-ujungnya balik lagi?

Sebentar lagi gw akan meninggalkan segala atribut perkotaan ini dalam waktu yang cukup lama. Gw benci bilang ini, tapi ya, dengan segala hiruk-pikuknya, Jakarta tetap punya hak untuk dirindukan.

Monday, September 29, 2014

'Rasa Bahasa'

0 comments
Dari beberapa postingan yang lalu, gw suka bertanya-tanya, kalau gaya bahasa gw berubah, apakah 'rasa bahasa' nya pun ikut berubah?

Karena seiring gw yang berkembang, gaya bahasa pun turut berevolusi. Sempet ngerasa kalau di beberapa pemilihan kata, kok agak hmm gimanaaa.. gitu ya? Kurang tepat aja.

Ibarat not miring yang nggak 'matching', bukan not miring yang justru jadi penyedap melodi. Duh, ini efek kelaperan, ngebayangin not miring jadi semacam Masako. 11-12 lah ya, matching dan mecin.

Mungkin karena gw masih belum berhasil menemukan formula yang tepat untuk bikin tulisan semi-formal namun tetep sesuai EYD kali ya? Ini emang anaknya suka nyusahin diri sendiri sih. Padahal nggak ada yang nyuruh juga, cuma penasaran aja.

Sebenernya, 'rasa bahasa' itu sendiri apa sih?

Seperti layaknya semua rasa, rasa yang ini pun susah didefinisikan. Gw kadang suka membayangkan kata-kata itu punya 'roh' sendiri. Dia hidup dalam 'jasad' rangkaian kalimat. Dan bagaimana dia dihidupkan oleh 'Tuhan'-nya (aka sang penulis), di situlah letak si 'rasa bahasa' tadi.

Mungkin 'gaya bahasa' boleh beda. Tapi soal 'rasa bahasa', harusnya sih bisa jadi semacam 'signature' (aka kekhasan. Aka sidik jari. Aka grafologi. Aka apa pun itulah) kan ya?

Lalala. Gw pusing sendiri jadinya. Jadi, daripada makin melantur, mari tutup saja postingan kali ini dengan........

Tidur.

Tuesday, September 23, 2014

Transformasi (Flash Fiction Titipan)

0 comments
Aku mematut diri di depan cermin. Dadaku berdebar kencang sekali, seakan-akan siap meledak kapan saja. Tepatkah keputusanku melepas atribut yang membingkai keimananku selama ini? Akankah Tuhan marah padaku? Apakah ini namanya berselingkuh dengan Tuhan sendiri?

Maafkan aku, ya Tuhan. Tapi gejolak yang tak terdefinisikan ini mendorongku untuk mencobanya. Salahkah aku, Tuhan? Berdosakah aku?

Aku menghela napas dan menyingkirkan semua pikiran-pikiran yang menghantuiku itu.

Kulirik sekilas foto yang terpampang manis di atas meja rias. Sosok aku dan kedua orang tuaku, sedang tersenyum dengan latar belakang Ka'bah. Sekali lagi Tuhan, maafkan aku. Sudah bulat keputusanku.

Aku mau ke gereja.

###

"Sayang, kamu serius?" tanyamu saat kita akhirnya sampai di parkiran. Perjalanan bisu tadi tentu menyiksamu. Maaf ya.

Aku mengangguk mantap, "Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Yuk!" Aku tersenyum dan menatapmu, berusaha meyakinkan bahwa aku lebih dari serius.

"Aku cuma nggak mau kalau kamu ke sini cuma gara-gara aku. Aku nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Aku nggak pernah maksa kamu", ujarmu. Nampak cemas.

Tawaku meledak. "Hahaha, geer deh kamu. Kan aku udah bolak-balik bilang. Aku ke sini karena aku mau, bukan karena kamu atau siapapun. Aku dari tadi diem aja karena aku merasa... hmm apa ya? Antara nggak percaya, takut, kaget, senang, meledak-ledak, dan entahlah. Susah dijelaskan. Rasanya kayak mimpi. Kamu tahu nggak, aku pernah mimpi ini waktu aku masih kecil?"

"Oh ya? Mimpi apa?"

"Panjang ceritanya. Nanti aku ceritain. Sekarang, boleh kita masuk aja?"

Kamu tidak berkata apa-apa lagi, hanya menggenggam erat tanganku yang basah dan berkeringat, serta bergemetar hebat. Aku mengerti kamu pasti mencemaskanku. Dan aku juga mengerti, kamu pasti tidak tahu harus berkata apa lagi padaku, setelah mengiyakan permintaanku yang sulit dipahami akal sehat.

Aku menengadah menatap bangunan megah yang akan kita tuju itu dan mengerjap, masih tidak percaya bahwa bangunan tersebut tidak menghilang dalam hitungan detik dan aku terlempar kembali ke lorong gelap itu, lalu terbangun dengan napas memburu. Bukan, ini bukan mimpi. Ini sungguhan.

Senandung lagu gospel yang merdu dan penuh puja-puji melantun. Pelan dan sayup, kemudian terdengar semakin jelas. Bulu kudukku berdiri. Ini persis seperti dalam mimpiku. Lorong ini, cahaya itu, suara piano dan paduan suara, kamu, aku, Gabriel........

Aku menghentikan langkah tiba-tiba.

###

Behind the flash fiction:

Di suatu malam, ada seorang teman yang mendadak minta dibuatkan cerita dengan brief: petualangan hati yang tersentuh oleh sesosok makhluk Tuhan bernama pria. Harus ekslusif tapi nggak FTV. 'Menantang' banget emang orang banyak maunya -___-


Ini versi interpretasi bebas gw, mengambil sedikit dari kisah masa lalunya. Sengaja belum gw rampungkan karena sekarang, anaknya terlihat Islami sekali. Semacam takjub ada orang yang bisa bertransformasi sedemikian rupa. Sebegitu cepatnya.

Monday, September 22, 2014

'The It Shoes'

0 comments
Sehabis lari pagi tadi, ada beberapa hal yang terlintas di pikiran. Hmm.. mulai dari mana (dan yang mana) ya? Oke, mari mulai dari cerita tentang lari yang pernah ditulis di sini.

Setelah sekian lama mogok lari dan olahraga, akhirnya semenjak bulan Juli gw mulai rutin lari pagi. Motivasinya cetek: mau medical check-up. Tengsin nanti kalau ketahuan fisik nggak okeh gara-gara jarang olahraga. HAHA.

Gw bikin beberapa 'check point' dalam program lari ini. Sebetulnya tinggal atur aja sih di aplikasi Nike Run, tapi pada prakteknya nggak semudah mencapai target si 'virtual coach' itu.

Tentunya, hal paling sulit adalah BANGUN SUBUH!!! Mana gw kan kalong yang biasa tidur larut, jadi suka 'ngawang' kalau harus bangun subuh. Sebetulnya gw pasti bangun sih, soalnya nyokab selalu kasih jus tiap subuh.

Masalahnya, biasanya habis minum jus gw tidur lagi. Sekarang, gw harus memaksakan diri untuk melek dan beranjak dari kasur yang hangat untuk menembus sejuknya BSD di pagi hari. Gw manfaatkan momen itu dengan mengecek HP tiap nyokab kasih jus biar melek.

Nggak ngefek sama sekali. Melek sih melek, tapi malah bikin makin mager :))

Gw coba sok iye dengan menempel post it "AYO LARI! SEMANGAT!" di tempat yang terjangkau pandangan. Ngaruh kadang-kadang doang.

Yaudah. Gw kasih tambahan di post it "inget medcheck!" dan yang ini ternyata efektif. Memang deh, yang bikin gw 'gerak' ya motivasi internal itu: ogah tengsin. Harga diri adalah senjata nomer wahid lah. HAHA.

Setelah touch down 'check point' medical check-up dan alhamdulillah dinyatakan sehat, gw malas lagi. Even worse, gw merasa burnout. Si program Nike Run itu suka bilang kalau gw over-training. Harusnya cuma 3 kilo, gw lari 10 kilo. Harusnya rest, gw lari 5 kilo.

Ditambah, gw belum punya sepatu lari. Selama ini pakai Skechers Go Walk punya nyokab atau adek gw yang ukurannya kekecilan. Walhasil, kaki gw sering lecet. Nggak nyaman banget. Tapi berhubung adanya cuma itu, yaaa.. hajar weee lah.

Yang penting sudah nggak ngilu lagi, pikir gw.

Terus bokap dengan baik hatinya bilang mau membelikan sepatu lari setelah gw suka mengeluh lecet. YEAY!!! Ada donatur tunggal dari Yayasan Papah Nusantara. Nggak menolak lah!

Akhirnya mulailah proses hunting sepatu lari. Selama Agustus, gw nggak pakai program si Nike Run. Lari ya kalau mood saja. Di otak sudah beda lagi prioritasnya: beli sepatu dulu baru rutin lari lagi.

Agak absurd memang.

Proses huntingnya cukup lama karena gw banyak maunya. Warnanya cabe-cabean lah. Bentuknya heboh lah. Nggak suka modelnya lah. Berat lah. Daaan.. semacamnya.

Giliran ada yang oke, harganya di luar budget. Giliran budget cocok, nggak ada ukurannya. Giliran ketemu, budget cocok, dan masih ada stok ukuran, susah banget pemesannya karena harus beli di US.

OMAIGAT DEL! LO MAU CARI SEPATU APA JODOH SIH? SELEKTIF AMAT!

Singkat cerita, sekitar awal September, akhirnya gw menemukan 'the it shoes'. Memang jodoh nggak ke mana ya, soalnya gw sudah mengincar itu sepatu dari lama. Gw jatuh hati pada pandangan pertama, tapi dibikin patah hati pada harga pertama. Hiks.

Beruntungnya, setelah gw ke sana lagi sebulan kemudian, 'the it shoes' yang sesuai dengan ukuran kaki gw stoknya tinggal yang ada di display, jadi DIKASIH DISKON!!! Sip! Bungkus, Gan!

Jadi ingat bahasan tentang Maximizer vs Satisficer (part 1 dan part 2) yang pernah gw tulis. Rasa-rasanya, gw sedang mengaplikasikan itu, dan gw baru sadar tadi saat lari pagi.

Alih-alih terus mencari yang terbaik, gw cukup senang mendapatkan sepatu itu meskipun stok display. Kalau masih ngeyel cari lagi, bisa-bisa gw nggak jadi lari pagi dan keburu masuk camp, terus cupu deh staminanya.

Atas pertimbangan itu, gw pun membawa pulang 'the it shoes' dengan senyum sumringah. Merasa puas.
"Karena kadang, puas itu hadir saat berhenti mencari dan mencoba menikmati"

Friday, September 19, 2014

Hot and Cold

0 comments
Today, I discover new finding about myself: I can be veeery emotionally detach over people. I can be so cold like serial killer that even me, is scared of me. I feel so inhumane.

On the other hand, I can care too much about people I love unconditionally. Maybe more than too much that most people fail to understand. Me neither.

Fyuh. I wonder how can people be so 'dispenser-like'? I mean, they can be so cold yet so hot at the same time. So cold that you can froze out, yet so hot that can cause blister.

But still appear fine.

Monday, September 15, 2014

Transnasionalisme

0 comments
Kemarin, gw menyimak diskusi forum para ilmuwan muda yang diadakan kantor. Dalam diskusi tentang transnasionalisme, salah satu partisipan cerita, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia harus siap kalau misalnya anaknya menikah dengan orang Afrika.

Gw menangkap kekhawatirannya. Ibu X ini mengajarkan anaknya untuk melihat dunia, berarti dia harus siap melepas kalau anaknya suatu hari jadi 'warga dunia' dengan segala keberagamannya, termasuk menikah dengan orang asing.

Ready or not, her kids are now third culture kids.

Terus salah satu partisipan yang menikahi orang asing bilang, nggak susah kok mengurus suami bule, walaupun mereka harus mendidik anaknya dengan 3 bahasa (Indonesia, Inggris, Tamil). Oh ya, fyi, ibu Y ini keturunan India.

"Kayaknya justru lebih susah mengurus suami Indonesia ya?" komentarnya.

Lalu salah satu partisipan lain menanggapi sekaligus bertanya-tanya, "Sebetulnya, mana yang lebih berpotensi terjadi konflik? Seragam atau beragam?"

Mindblowing.

Bleki Kampret

0 comments
Ada orang yang mungkin ditakdirkan berpapasan jalan dengan kita untuk menguji kesabaran. Ada. Orang yang mempersulit birokrasi misalnya (mari kita anggap saja Pak Bleki 1 2 3 dst).

Jadi ceritanya, selama gw bekerja ini sebetulnya gw bermasalah soal status kepegawaian. 2 bulan pertama bekerja udah pening ngurusin ini tetap aja sampai sekarang belum kelar juga.

Dilempar dari Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2 ke Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2, muter aja gitu terus kayak kuda-kudaan Dufan. Lama-lama gw kesal dan bilang kalau gw lebih baik mengundurkan diri kalau nggak ketemu jalan tengahnya.

BLEKI KAMPRET! Tapi yaudalah, Bleki menggonggong khafilah berlalu. Gpp lah gw dirugikan secara nominal, tapi nggak secara mental.

Saat gw cerita ke pemimpin tertinggi di kantor, beliau bilang "tenang aja. Della tahu kan kami semua dukung Della". Ya gw udah diginiin, gimana bisa menolak kan? Akhirnya gw urung mengundurkan diri. Toh gw menyukai apa yang gw kerjakan.

Jadi gw mengafirmasi diri berulang-ulang "uang bukan segalanya. Seenggaknya, gw mendapat lebih dari uang. Rezeki nggak bakal tertukar". Fyuh. Sabar ya, Del.

###

Di bulan ke-4, ada lagi masalah yang membuat gw berurusan dengan Pak Bleki baru, sebut saja Pak Bleki 3. Hadeeeh.. orang-orang macem gini tuh kayak karang gigi deh. Kalau nggak rutin dibersihkan makin susah menghilangkannya.

Sayangnya, para Bleki karang gigi itu tetap dipertahankan karena belum ada pengganti. ISSSH!!! Hobi banget ya pemerintah nahan-nahan tumor negara.

Dalam peraturan dan kebijakan (YANG DIBUAT SENDIRI DAN SEMENA-MENA OLEH PAK BLEKI 3), disebutkan bahwa karyawan yang melakukan perjalanan dinas wajib menyerahkan boarding pass sebagai bukti perjalanan.

Si Della anak slebor ini dengan jeniusnya menghilangkan that precious boarding pass. Maka dari itu, konsekuensinya adalah mengganti biaya transportasi sesuai dengan harga tiket.

YA KELEUUUSSS!!! OGAH BANGET!!! Segala alternatif solusi pun gw tawarkan, tapi ditolak sama si kampret Bleki 3. FUCK!!! Akhirnya ada 1 solusi yang dia pertimbangkan: minta bukti ke pihak maskapai bahwa gw benar-benar melakukan penerbangan, which means........

........gw harus bolak-balik bandara.

ANOTHER FUCK!!! Macem gw nggak punya kerjaan lain aja. Tapi yowes turutin bae lah. Ojo misuh-misuh tho le. Salah sendiri boarding pass nggak disimpan baik-baik. Lesson learned banget lah untuk nggak sleboran.

Setelah segala keribetan bolak-balik bandara itu, akhirnya Pak Bleki 3 menyetujui bahwa gw nggak perlu mengganti biaya transportasi. Ok. Case closed.

###

Umm.. not yet.

Kemarin, kebangsatan Pak Bleki 3 kembali lagi. Untung bukan gw yang berurusan langsung dengan si kampret. Tapi gw sangat nggak terima akan perlakuan dia kepada para undangan forum.

Jadi, dalam peraturan dan kebijakan (YANG SEKALI LAGI GW BILANG, DIBUAT SENDIRI DAN SEMENA-MENA OLEH PAK BLEKI 3), disebutkan bahwa ongkos perjalanan darat para undangan hanya bisa diberikan sejumlah 100.000 rupiah, PP.

Ini orang sinting nggak bisa berhitung atau gimana sih? Gw aja yang rumahnya di Serpong ongkos taksi bisa sampai 200.000 rupiah sekali jalan. Lah apa kabar yang tinggal di kota satelit seperti Bandung, Bogor, Depok, Bekasi, dan sekitar?!

Gw mah bukan soal nominalnya, tapi bentuk apresiasinya. Para undangan itu kan bukan orang sembarangan. Mereka petinggi di kampus masing-masing yang supeeer sibuk.

Mengundang mereka aja susahnya minta ampun. Harus announce dari jauh-jauh hari dan follow-up berulang-ulang. Tapi demi hadir di forum, mereka bela-belain meluangkan waktu 3-4 hari (tergantung jadwal), dari pagi sampai tengah malam, weekend pula! Dan itu statusnya sukarela.

Kami para panitia hanya memastikan bahwa mereka nggak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk menghadiri forum ini. Tapi si Bleki karang gigi kampret sinting itu nggak mau kompromi. Peraturan ya peraturan, walaupun nominalnya nggak masuk akal.

Duit juga punya negara, bukan punya dia. Lagian orang jelas-jelas ada anggarannya dan jelas akan dipergunakan untuk apa, kenapa juga harus dipersulit sih?

Peraturan itu dibuat untuk mempermudah pengaturan, bukan mempersulit. Peraturan itu sifatnya tegas, bukan kaku. Peraturan itu bisa disesuaikan sesuai kebutuhan, bukan dipukul rata. HARUSNYA BEGITU. Coba deh, kalau dia digituin emang rela?

Berdasarkan cerita Mbak P yang berurusan langsung dengan si kampret, dia bilang "saya bisa naik angkot dari Bandung" ANJIR!!! EEK BANGET JAWABANNYA!!!

Astagfirullah allahuakbar subhanallah masyaallah audzubillahiminasyaitonnirojim, ada ya orang kayak gitu. Semoga dia secepatnya dapat balasan yang setimpal deh. Aamiin. Gw berdoa yang terburuk aja buat dia.

Mamam noh naik angkot dari Bandung ke Jakarta. Sekalian aja naik becak genjot sendiri.

Sunday, September 14, 2014

How I Met IM (part 2)

0 comments
Januari 2014

Di bulan ini, status gw adalah pengangguran bahagia. Pertama, artikel perdana gw di Ruang Psikologi selesai (walaupun baru dimuat di bulan Februari).

Kedua, alhamdulillah gw lolos seleksi esai IM dan lanjut ke tahap Direct Assessment (DA).

Ketiga, gw punya buanyaaak waktu buat main dan leyeh-leyeh do nothing setelah intens 'menggurita' beberapa bulan sebelumnya.

Februari 2014

Mulai galau kelamaan nganggur dan menunggu kepastian pengumuman DA. Harusnya gw ke Semarang, tapi nggak jadi-jadi mulu karena nungguin ini. Lah piye kan kalau keterima? Masa bentaran doang di sana?

Lagipula, gw sekeluarga mau umroh. Yaudalah, ditunda aja ke Semarangnya (yang ujung-ujungnya niat ke sana beberapa bulan nggak jadi juga).

Maret 2014

PUNCAK KEGALAUAN!!! Udah kering jadi ikan asin gw nungguin pengumuman. Nggak lolos pula. Itu pun taunya di penghujung bulan Maret.

Rasanya kayak harap-harap cemas nunggu ditembak gebetan, eh ternyata relationship status nya udah jadian sama orang lain. Sakitnya tuh di sini *nunjuk ulu hati. Okelah, mari march on!

Oh ya, di bulan ini pun gw mulai sibuk pindahan. Another 'march on' thingy. Deket sih emang, cuma dari Bintaro ke BSD. Tapi tetap aja menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Untung aja gw masih pengangguran, jadi punya banyak waktu buat mengurus ini-itu printilan rumah.

Bener-bener deh, 'timing' nya Allah emang nggak pernah salah. Kitanya aja yang kadang suka menyalahkan keadaan. Mungkin gw belum dikasih rezeki lolos IM karena........

April 2014

........gw mulai kerja di kantor temen gw sebagai sekretaris proyek sains. Jauh banget ya dari bidang ilmu gw? Hahaha. Tapi ya itulah rezeki. Kadang datang di saat yang nggak disangka-sangka.

And it was one of my best moment, to work there.

Jadi gini, setelah gw bantu event dia, yang sempet gw ceritain di 'How I Met IM (part 1)', gw ditawarin kerja di sana. Tapi berhubung gw masih menunggu pengumuman IM, jadi yaaah.. setelah nggak lolos baru deh gw akhirnya kerja di situ.

Di bulan ini, gw ikut seleksi IM lagi. Setelah ragu karena takut nggak siap kalau gagal lagi, gw pikir, fuck off. I'll try one more time.

Agustus 2014

Setelah lolos seleksi esai, lolos DA, lolos medcheck, akhirnya gw resmi jadi Pengajar Muda. Alhamdulillaaah! Untung aja gw nggak cepat menyerah. Coba kalau gw mengurungkan niat daftar IM lagi, mungkin nggak begini ceritanya.

Tapi ya hidup itu emang selalu menawarkan pilihan. Kadang, pilihannya nggak ada yang pengen kita pilih. Tapi kadang, semua pilihannya menggiurkan. Kayak sekarang.

Gw udah terlanjur menikmati menjadi bagian dari proyek besar para ilmuwan terbaik se-Indonesia. Ya yang terbaik mereka sih, tapi somehow gw juga jadi ikutan bangga bisa terlibat di dalamnya. Mana di bulan November ada kunjungan ke Aussie pula. Huweee.. mupeng!

Berhubung gw udah memilih IM, ya gw harus siap akan segala konsekuensinya. Termasuk menelan kemupengan karena ada wacana di tahun depan mereka akan ke Italia.

Yaudalah, tahun depan gw bisa kok traveling ke Eropa sendiri, nggak harus karena tugas dinas. Selalu ada lain kali, Del *aamiin aja dulu. Menghibur diri.

September 2014

Akhir bulan ini gw resign. Hari ini hari terakhir gw ngurus event. Hari-hari sisanya, mungkin akan lebih banyak handover kerjaan ke pengganti gw. Nggak ada habisnya rasa syukur bisa sampai ke titik 'check point' ini.

Emang ya, whatever happens, just keep moving. We'll never know what we'll find in every intersection.

Salah satu orang yang harus gw ucapkan terima kasih adalah Cune. "The Iron Lady" (aka "Wanita Setrikaan" --huahaha nggak enak banget terjemahannya--) inilah yang jadi saksi dan 'menyetrika' segala kegalauan gw, juga yang turut bangga atas gw. I can't thank you more, Ne!

Oh! Dan Dini, si ibu RM --yang sebetulnya maunya jadi ibu RT-- yang nggak pernah gagal bikin gw yakin meskipun gw suka ambil keputusan 'nyeleneh', salah perhitungan, dsb, selalu ada orang yang bilang "kan lo tau sendiri gw yang paling dukung lo". Makasih banyak loh, Din!


Sooo.. this is how I met IM :)

How I Met IM (part 1)

0 comments
Atas: tim inti. Ki-ba: Prof Sangkot Marzuki. Ka-ba: Direktur Proyek

Gw habis pulang dari event kantor. Marathon rapat dan ngurus forum diskusi sekitar 50an ilmuwan (yang ada di foto cuma tim inti) selama 4 hari berturut-turut dari pagi sampai tengah malam. Capek? Nggak usah ditanya. Tapi gw sangat menikmati event terakhir sebelum gw resign ini.

Jadi pengen throwback masa-masa semenjak lulus kuliah sampai sekarang.

Juli 2012

Pekerjaan pertama gw adalah creative officer di sebuah perusahaan marketing consultant. Perusahaan ini adalah perusahaan start-up yang baru jalan beberapa bulan. Masih 'hijau' banget. Sistem belum terbentuk. Karyawan cuma 3 orang. Tapi udah gaya banget ngantor di Kuningan.

Iya, Kuningan yang biang macet Jakarta itu loooh!

Sepanjang hidup, gw nggak pernah beraktivitas rutin di pusat kota, jadi syok banget saat ngerasain 5-6 jam PP ngantor. Butuh pembiasaan gila-gilaan di beberapa bulan pertama. Mana habis putus pula, nggak ada tempat berkeluh-kesah (ea ea ea).

Ditambah, proyek-proyek 'Roro Jonggrang' super ngehek dengan deadline nggak masuk akal, nggak sesuai kapabilitas gw, dan nggak ada SDM tambahan. DAAAN.. udah dikerjain pun belum tentu terpakai. Kampretos! Beneran 'dikerjain' gw.

November 2012

Suatu hari, gw disuruh cari ide kampanye sosial, lalu gw inget tentang program Indonesia Mengajar. Gw cari tahu lebih lanjut dan ngobrol sama temen gw yang kebetulan pernah jadi Pengajar Muda.

Singkat cerita, akhirnya muncul ide-ide dan jadilah proposal rancangan kampanye sosial yang lagi-lagi nggak kepake. Aku rapopooo.. *sambil tujes-tujes boneka Voodoo.

Tapi gara-gara mencari tahu tentang IM, gw sempet galau pengen daftar jadi Pengajar Muda tapi belum yakin. Sampai sini, loncat dulu ke cerita selanjutnya.

September 2013

Setelah frustrasi apa yang gw kerjain selama ini selalu sia-sia, gw mulai berpikir untuk resign. Gw nggak ngerasa berkembang.

Well... to be frank, sebetulnya perusahannya yang nggak berkembang. Gw mah ya mau gamau 'mengembang' karena terpaksa ngerjain ini-itu di luar batas kemampuan gw. Blessing in disguise sih sebetulnya. Tapi gw bingung. Nggak ada alasan kuat kenapa gw harus resign.

Walaupun di awal wawancara kerja gw udah bilang ke Pak Bos bahwa gw nggak akan lama di sini (mungkin 1-2 tahun aja), tetep rasanya cupu 'nyerah' gitu aja.

Di saat galau resign-nggak-ya, gw tau-tau dikasih kepercayaan buat handle klien besar. Mari sebut saja klien O. Nggak tanggung-tanggung, dengan 'kanvas kosong' alias bikin proposal kampanye dari nol.

Sinting sih ini Pak Bos berani banget ngasih gw kerjaan yang tanggung jawabnya besar. I could screw up this whole things anytime. He knew that. Asli lah gw insecure gila-gilaan!

Tapi walaupun dengan segala kesintingan itu, gw sangat respek sama Pak Bos. Emang orang pintar, ahli marketing, rendah hati, ramah, dan nggak pernah membatasi ruang gerak gw. Dia membebaskan gw melempar ide apa pun. Bahkan terlalu bebas kadang-kadang :))

Oktober 2013

Gw lihat pendaftaran IM lagi. Galau lagi. Apa gw daftar aja ya? Lalu gw lihat lowongan volunteer Citra Pariwara. Galau juga. Cita-cita gw kan jadi copywriter. Berhubung belum kesampaian, nyicipin ajang Ad Awards nya dulu boleh kali ya?

Lalu bokap menawarkan untuk ke Semarang, bantu-bantu di sebuah UKM yang bergerak di bidang design. Menarik juga kalau bisa ke sana beberapa bulan. Pengen merasakan jadi anak rantau sekaligus belajar design sekaligus menyumbang kontribusi buat UKM itu.

Lagipula, di bulan Desember kan MBUI ada GPMB. Gw pengen bantu di latihan intensif dan Training Center (TC) akhir.

Iya, anaknya emang banyak maunya.

Dari situ, gw menyadari bahwa udah saatnya gw resign setelah 'check point' si proposal itu kelar di bulan November. Udah cukup banget lah pengalaman kerja di 'Toko Kelontong' dengan motto "Palugada. Apa Lu Mau Gue Ada".

Gw masih punya banyak keinginan yang ngga akan kesampaian kalau gw masih bekerja di situ. Yaudalah, persetan dengan ngerasa cupu 'nyerah' padahal belum sampai 2 tahun kerja. Well, I deserve better anyway.

Alhamdulillah Pak Bos baik sih. Dia paham alasan gw. Emang ya, bener kata quote ini:
"Don't pick a job. Pick a boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn't trust you won't give you opportunity to grow" - William Raduchel
Despite everything, he trusted me THAT MUCH. Lucky me, yes? :')

November 2013

Hidup emang penuh kejutan ya. Tanpa disangka, ternyata gw menikmati banget ngerjain si proposal kampanye klien O ini. Alesannya simpel. Pertama, kali ini beneran terpakai dan dieksekusi, bukan cuma end up di rancangan doang.

THAT FEELING WHEN YOU FINALLY SEE THE REAL RESULT OF WHAT YOU'VE BEEN WORKING ON. AFTER ALL THIS TIME!!! *anaknya lebaynya nggak santai abis.

Kedua, gw pengen meninggalkan 'warisan' yang semoga bermanfaat buat ke depannya. Gw pengen menghasilkan sesuatu yang layak dikenang, nggak gitu aja menghilang tanpa kesan.

Ketiga, ternyata gw menyukai managing people. Duh, guilty pleasure. Tapi emang beneran menyenangkan sih jadi koordinator, penghubung antara klien dan para vendor. Apalagi mereka asik diajak kerjasama.

Dari September sampai November ini, gw bekerja bersama seorang Mbak X yang emang udah pro banget soal bikin creative plan. Saking pro nya, gw sempet ngerasa terintimidasi. HAHA.

Di bulan ini pula gw diminta tolong seorang teman untuk bantu event dia, semacam simposium sains. Siapa sangka, itulah yang jadi awal rezeki gw. Nanti akan gw ceritakan lebih lanjut. Sedikit ceritanya bisa dibaca di sini.

Desember 2013

Gw akhirnya daftar IM. Setelah setahun galau, sebulan nyicil bikin esai, gw bismillah aja. Semua yang gw tulis di situ bener-bener murni pengalaman gw. Jadi masalah keterima atau nggak, seenggaknya, gw udah berusaha menampilkan gw apa adanya. Selesai perkara.

Di bulan ini gw udah resign dan 'merayakan' nya dengan jadi volunteer Citra Pariwara, jadi staf pubdok di TC Akhir MBUI, dan apply buat jadi kontributor penulis di Ruang Psikologi.

Kalo kata Syahrini, rasanya tuh... I FEEL FREEE~

Thursday, September 11, 2014

At Least I Never Walked

0 comments
There's no such thing as ideal life. Even when you like what you do, often times, you will feel tired and discover that there are A LOT OF things happened beyond your expectation.

You may take a deep breath, chill down, and assure yourself "this too shall pass". But although you know everything will be over --and leave you that mixed feeling when it IS finally over--, just keep doing what you're doing and never slow down your pace.

I'd like to associate things with running. As I start to run and set the distance, unless I plan to mix speed between run and walk, I hate to give up the run and decide to walk instead.

Too bad, besides being a sucker at direction, I also suck at calculating distance. I have no idea how far is too far. Literally. I used to think 1 mile equals 10 km, while it's actually 1.6 km. HAHA. So often times, I fail at estimating limits.

But as written on the last page of my favorite book titled "What I Talk About When I Talk About Running" when Murakami said he wanted his gravestone to be carved:
"At least he never walked"
I'd like to be like him. I'd like to run and won't walk until finish line.

Cemburu

0 comments
"Gw kan cemburuan ya sama temen. Kalo lu suka nulis tentang Y gw suka cemburu" -X

Gw ngakak sejadi-jadinya. Apa pula?! PERSISSS banget sama yang pernah dibilang si Y juga. Dengan bahasa yang beda tentunya, tapi intinya sama: cemburu.

Well anyway, don't be. Because you're also special. I still have so much room in my heart for all my beloved ones. I'm just not that kinda person who tell it every day, out loud.

Lalala

0 comments
Kalau lagi lalala banget emang paling enak tuh nulis sebagai ajang katarsis ya. Setelah harusnya udah bisa tidur cepet, tidur tenang, dan tidur senang, malah kebangun tengah malem gini.

Fyuh. Padahal nggak lagi PMS, nggak lagi kenapa-napa, tapi bawaannya cemas aja. Kenapa sih? Udah gila banget rasanya pengen lari.

Inget dulu pernah lari sekitar jam 3 pagi di sekitaran Kukel-Kutek-Pusgiwa UI sendirian. Nggak peduli gelap, setan, maupun 'setan' dalam bentuk manusia (aka pelaku kriminal yang berniat jahat). Anak sinting emang. Untungnya aman-aman aja.

Isssh.. paling ngeselin deh uring-uringan sendiri yang nggak jelas asal muasal dan sebab akibatnya. Nggak penting abis. Buang-buang emosi aja.

Lalala, dalam berbagai definisi.

Sunday, September 7, 2014

Recap Agustus

0 comments
Gw pernah menyebutnya: Agustusugus. Bulan yang manis, mirip permen Sugus yang punya bermacam varian rasa.

25 highlights of the month:
  1. Hunting sepatu lari
  2. Kejadian yang bikin spaneng (AH SUDAHLAH)
  3. Ultah Qopul
  4. Rapat weekend bulanan
  5. Dolly melahirkan. Anaknya 3, mati 1
  6. Pengajuan resign per Setember
  7. Medical check-up Indonesia Mengajar
  8. Main sama geng angkatan 34 MBUI (Diah, Shasha, Velo, Tegar)
  9. Eyang kena stroke (lagi), lumpuh sebagian :(
  10. Main sama Octa
  11. Ultah Mardayah
  12. Ke GOE (demo ekskul SMA)
  13. TC buat persiapan OKK (gw nggak dateng sih)
  14. Nonton Musikal Sekolahan saat 17an sama Shasha (dan beberapa anak MBUI lain)
  15. Ada yang baru jadian (PRIKITIUW)
  16. Misi ngumpulin 10 cap Goethe demi notes: done
  17. OKK (gw nggak dateng sih)
  18. Main sama geng magang Lowe (Astrid dan Marcell)
  19. Ke Jember Fashion Carnaval sama Velo
  20. Tandatangan kontrak Indonesia Mengajar
  21. Wisuda (gw nggak dateng sih)
  22. Nonton Mocca sama Cune (dan Pipit, harusnya)
  23. Main ke Bintaro sama Dini dan Yuni
  24. Meet-up sama Vika, Inay, Intan buat bikin final itinerary Singapore
  25. On-off mbak-less days. Mendadak Ijah
Dan gw masih menyebutnya: Agustusugus.

Thursday, September 4, 2014

Fine

3 comments
Beberapa pekan yang lalu, seorang teman bercerita mengenai ketakutannya dan ke-nggak yakin-annya kepada diri sendiri. GLEK! Gw menahan napas dan menelan ludah, menyadari kenyataan bahwa seseorang bisa berubah.

Iya, gw tahu itu biasa. Tiap orang pasti berubah. Tapi nggak munafik, walau bagaimana pun berusaha menerima, kadang tetap ada setitik keinginan diam-diam "plis jangan berubah".

Dia yang gw kenal dulu, selalu optimis apa pun yang terjadi. Sampai pelan-pelan, gw mulai merasakan dia berubah jadi sosok yang peragu, yang bolak-balik gw tepis "Del ah gausah sotoy".

Mungkin karena tuntutan dan tekanan lingkungan. Entah. Bukan hak gw udah menghakimi. Tugas gw sebagai seorang teman hanya meyakinkan dia untuk kembali yakin pada dirinya sendiri.

"You. Are. Fine. No such thing as pattern if we can learn our lesson. Just go ahead. You worry too much", I said.

Mungkin terlalu angkuh kalau gw bilang gw cukup mengenal dia. Gada yang benar-benar mengenal manusia lainnya. Terlalu rumit.

Tapi seenggaknya, gw bisa bilang gw mengikuti perkembangannya. Gimana caranya menyikapi sesuatu. Gimana dia menimbang sebuah keputusan. Gimana pola pikirnya. Dan 'pola' lainnya.

Makanya, gw super bahagia saat tahu dia akhirnya menemukan seseorang yang diam-diam gw acc dalam pikiran. Beberapa hari yang lalu, kami bertemu, dan gw sangat lega. Mereka cocok.

Entah gimana, feeling gw mengatakan kalau gw bisa percaya orang itu bisa meyakinkan dia kalau dia baik-baik aja. Well, bukan cuma meyakinkan, tapi juga membuktikan.

And yes, she looks fine. And glowing :)

Saturday, August 30, 2014

Pengakuan Dosa

0 comments
"Amanah paling berat adalah kepercayaan DAN kebebasan"

Ketika kita diberi kepercayaan sekaligus kebebasan untuk mengatur diri sendiri, sadar nggak ketika itulah kita sebenarnya lagi diuji? Namanya "ujian nikmat". Ujian ini bahaya karena kita bisa terlena untuk lepas tanggung jawab.

Suatu kali, gw pernah izin MB buat jalan-jalan ke Magelang-Jogja dengan alasan:
  1. Menunaikan bucket list lihat pelepasan lampion saat perayaan Waisak
  2. Promo tiket kereta api murah (BANGET)
  3. Lagi empet kerjaan, butuh hiburan dan liburan

Sebelumnya, gw nggak pernah izin buat jalan-jalan kayak gini, jadi gelisah banget antara mengurungkan niat atau tetap lanjut dan bilang aja terus terang.

Akhirnya, dengan modal bismillah dan degdegan, gw minta izin, dan ternyataaa.. diizinin dengan mudahnya! Tanpa syarat pula! Well, tetap kena seri sih (aka hukuman push up).

Yang namanya MB kan izinnya ajegile susahnya kayak kentut di luar angkasa. Lah ini beneran banget nih diizinin?

Tapi apa itu bikin gelisah gw berkurang? Nggak. Lagi liburan pun yang dipikirin MB. Badan di Jogja tapi pikiran di Depok.

Lantas, kapok? Jadi gini... gw mau pengakuan dosa sekali lagi.

Beberapa hari yang lalu, gw kembali berdilema dengan "izin-nggak-ya" karena gw berencana pergi ke Jember-Surabaya buat nonton Jember Fashion Carnaval. Another bucket list to accomplish.

Saat itu, tiket yang masuk budget jatuh di Senin malam. Ini salah gw juga sih nekat go show. Keputusan beli tiket pesawat baru hari Jumat, sementara acaranya Sabtu-Minggu. Tiket kereta api udah abis bis bisss.

MAMEEEN!!! SENIN KAN HARI KERJA!!! JANGAN GILA LO DEL!!!

Oke. Iya gw emang gila. Dan nekat. Maka, gw putuskan tetap berangkat. Toh tiket nonton juga udah terlanjur dibeli. Sayang kalau angus.

Berhubung gw bisa remote working, jadi gw pikir akan lebih nggak enak kalau gw bilang ke Jember-Surabaya, pulang Senin malam. Maka gw putuskan hari Senin itu gw remote working dari Surabaya tanpa bilang-bilang.

Toh gw pernah bilang jujur ke MB buat izin jalan-jalan rasanya tetap nggak tenang. Sama aja kan kalau gitu?

Lalu, apa dengan nggak izin gw bisa tenang? Ternyata nggak juga. Cuma pembenaran atas sesuatu yang gw tahu harusnya nggak gw lakukan.

intinya, podo wae. Baik izin maupun nggak izin, perasaan bersalah dan nggak nyaman karena meninggalkan tanggung jawab dan menyalahgunakan kepercayaan itu selalu ada.

Believe me, if you wanna travel for fun, do it in a proper way. Because runaway travel ain't fun at all. You won't fully enjoy it. Lesson learned. Noted.

Besoknya, saat gw ke kantor, gw ditanya (tepatnya, disindir) "gimana Jember? Udah pulang? Lain kali izin ya"

GLEK!!! MAMPUS BANGET!!! KETAHUAAAN!!! PIYE IKI???

Saat itu, rasanya jantung lompat ke jempol kaki. Sumpah malu. Ke mana integritas yang selama ini gw junjung tinggi? Nggak lagi-lagi deh.

Gw sempat cerita ke Shasha dan Dea, dan mereka mencoba menghibur dengan bilang gpp, asal sekali ini aja dan untuk terakhir kalinya.

Tapi justru itu bikin gw mikir, yang "gpp-gpp" ini malah yang bikin gw takut kebablasan. Takut nggak bisa bertanggung jawab atas kebebasan yang dikasih. Takut mengkhianati kepercayaan. Takut. Takut banget.

Terus gw terlintas cerita seorang teman, di mana temannya 'kabur' dari tugas selama 2 minggu dan nggak ketahuan. Detailnya gw udah gamau tahu. Gw ngeri. Hal itu bisa banget terjadi pada gw.

Kalau dilepas di tempat asing, godaan buat berpetualang pasti besar banget, dan yah, harus gw akui, hal-hal yang memicu adrenalin itu sebenarnya menambah sensasi tersendiri.

SUSAH SUMPAH ITU PASTI NGONTROLNYA!!! Harus terus inget (dan diingetin) tentang amanah yang diemban.

Gw pernah dengan mudahnya bikin orang mau mengizinkan gw meninggalkan kewajiban. Gw pernah di-gpp-in untuk hal yang harusnya ngga pantes di-gpp-in. Di kemudian hari, kalau gw ngga pintar-pintar jaga diri, bisa jadi makin banyak track record dosa "gw pernah ini-itu".

When there is no one to watch you, will you stay in the right track? Can you control yourself? That's the key question I keep repeating to myself.

Oh, I hope I can learn my lesson and always remind myself not to do it again next time. I'm sorry.

Friday, August 22, 2014

Time Capsule

0 comments
Tengah subuh ngos-ngosan, kebangun karena mimpi buruk, terus mikir, tahun depan kalau tengah subuh kebangun gara-gara mimpi buruk kayak gini, sarana katarsisnya apa ya kalau gada internet? *anaknya sepele :))

Ngomong-ngomong soal sepele, kemarin gw menerima email-email yang bikin degdegserrr.. terutama email dari Tepi tentang "How to survive blablabla" terus legaaa.. ternyata gw ngga sepele sendirian, HAHA.

Hal-hal ribet yang gw pikirin ternyata emang penting dan udah dipikirin sama orang lain solusinya. Beruntungnyaaa! Well, beda tipis sih antara "jangan menyepelekan hal kecil" dan "jangan membesar-besarkan hal sepele". Untuk kasus ini, masuk tipe pertama: jangan menyepelekan hal kecil.

Anyway, gara-gara itu, gw jadi buka email time capsule yang gw tulis sendiri tahun lalu buat gw di umur seperempat abad. Alesan nulisnya (lagi-lagi) sepele: pengen dapet kado surat pas ulang tahun.

Di time capsule itu, gw menuliskan harapan-harapan untuk gw di tahun ini. Gw inget, waktu baca itu di bulan Mei, rasanya campur aduk antara sedih ngga mencapai apa yang gw harapkan dan super malu nulis ngga penting kayak orang mabok. Ya kira-kira begini:


Kalau kata Uswah, jangka waktunya terlalu cepet. Masa bikin time capsule cuma buat proyeksi setahun ke depan?

Tapi ya mana tahu kan kalau ternyata satu per satu wishlist gw terkabul. Bahkan se-sepele pengen punya iPhone 5 biar casing yang udah gw beli bisa kepake (impulsif banget emang beli casing HP padahal blom punya HPnya).

Mungkin, yang gw perlukan hanya sedikit bersabar. Hal baik ngga selalu datang bersamaan. Huaaah, rasanya mellow-mellow bahagia gimanaaa.. gitu. Law of attraction :')

I knooow I'm that shallow and occasionally mellow (not really showing it though). But I'm fine being shallow. You don't have to appear intellectual or deep to appreciate little things, yes?

Besides, it reminds me that every piece of accomplishment is an investment, even as shallow as collecting full stamps to get free bonus. And every wish, however silly, is a morale booster.

Terus gw jadinya nulis time capsule lagi buat gw di ultah ke-26. Entahlah akan dibaca kapan, ngga yakin gampang dapet akses internet juga soalnya. Ya semoga sekitar bulan Mei 2015 lah bisa baca email time capsule nya. Dan semoga bisa 'dibaca' dan dibantuin semesta supaya terkabul.
"When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it" - Paulo Coelho

Aamiin :)

Saturday, August 16, 2014

About Fear

0 comments
"Del, lo berani emangnya?"
My friend once asked me. Back then, I was offended. She underestimated me. But after a while, I got sorta similar questions that I began to wonder myself "what is bravery anyway?"

I listed down all my fears and reasons why I feared them. Mostly, those were nonsense.

Like my fear of syringe. That horrifying mental image over a tiny metal? Oh come ooon.. why so scared? It was just one 'cusss' away. Like an ant's bite.

O HAIL WHITE LIE! No such thing as "ngga sakit kok, cuma kayak digigit semut".

Anyway, what was the worst scenario could happen? Well... how if the injection jab jab jab throughout my skin and bones? How if I caught myself crying, hysterically screamed in front of strangers? How if I fainted and never woke up? GEEZ!

Thank God it didn't happen. And I deserved iced Milo and ice cream. YEAY! Childish? Oh well, like I care.

###

It's just one example from an endless list.

One night-til-dawn, I chit-chatted with Uswah, discussing about how we deal with our own fears. I told her that to get rid of it, I had to imagine the worst shit that could happen until I got sober from the nonsense. She laughed, "I don't get your brain mechanism. Maybe because I have no fear?"

Then I was like "WHAAAT?! HOW COME?!"

She told me the story when she first came alone to big city from her small hometown. She just... came. No expectation. No worry. Nothing. She just did what she had to. Que sera sera at its finest.

I said, "If I were you, guess I might freak out for months, all by myself, until I reached that 'que sera sera' point. At the end, I might appear at the same level of calmness, but that's because I'm done being afraid".

"You're such an inefficient person. You imagine the worst case even before it's actually happening. How if it IS really happening? Like it or not, you still have to find a way out. That means you have to work twice" Uswah argued.

I nodded. To some extent, she got the point. But unfortunately, it didn't work for me. If I didn't 'nyicil panik', maybe I would find no way out.

Like if you're afraid of darkness, you have to imagine the most 'uka-uka' ghost until you get used to it and you're no longer afraid. Or if you're afraid of heights, just imagine you're falling from skyscrapers and you're dead. What's worst than that, anyway?

Yeah I know my amygdala system works in very odd way.

What I'm trying to say here is... we can have looong endless list of fear and still live with it. Am I no longer scared of syringe? No! HECK NO! All part of me is still against it.

If I had option, I'd rather cancel everything and run away from it. Or maybe I could invent a genius lifehack where there is no longer need to use that sharpie tiny metal for blood testing.

In sum, bravery isn't defined by how big is your fear but how you face it. So... I guess I'll answer my friend's skepticism with this:

Wednesday, August 13, 2014

At Least We Have Us

0 comments
How can you commit suicide if you have peer like this? :'))

These kinda people I wanna treasure forever, for life, for sure.

Friday, August 1, 2014

Recap Juli (Tambahan)

0 comments
Ini harus banget diabadikan! Akhirnya kesampean juga ngidam naik kereta-keretaan keliling mall setelah berhasil membujuk om-tante dan saudara sepupu buat minjemin bocil-bocilnya.

YEAY! Achievement unlocked! Welcome, pleasant August! :D

I'm still a kid at heart after all

Tuesday, July 29, 2014

Pelabuhan

0 comments
Della 1: WOW! Gila juga ya 'pasang surut' kita selama 5 tahun ini. Inget ini ngga? Januari 2010. Saat kita mempertanyakan hidup yang lurus-lurus aja? Lesson learned. Be careful of what we wish for ;p

Della 2: HUAHAHAHAHAHAHAHAHANJIR!!!

Della 1: Inget ngga segala drama percintaan, pertemanan, masuk rumah sakit di tengah pengerjaan tugas akhir, kecelakaan, patah kaki, gagal audisi, gagal pentas, gagal ini-itu pokoknya, patah hati, sakit hati, frustrasi, kecewa, kucing kesayangan meninggal, eyang sakit, daaan sebagainya. Masih bisa bilang 'hidup lurus'?

Della 2: Iya, Del, iyaaa.. ampuuun! Tahun 2011 tuh yang paling epic lah. Masa-masa cobaan dateng serencengan kayak duku. Udah ya. Malu nih gw. Labil abis emang drama masa muda. LALALALALALALALA~

Della 1: Sekarang juga masih muda kali! Selamat ya, Kapten, masih terjaga kewarasannya

Della 2: ATUH LAH!!! SISI MANANYA YANG WARAS???!!! Well, at least we've learned our lesson. In hard way. Congratulation, anyway. We survive, we're still alive. HIGH FIVE!!!

Della 1: *TOSSS* Kira-kira 5 tahun ke depan bakal gimana ya?

Della 2: Entahlah. Yang jelas, ketimbang mengarungi samudera, gw lebih pengen pasang jangkar. Ngga lagi mencari gejolak di lautan, tapi mencari pelabuhan

Recap Juli

0 comments
Highlight Juli (personal, lokal):
  • Pengumuman seleksi IM tahap 2
  • Nobar debat capres sambil rapat
  • Ramadhan di rumah baru
  • Eyang tetangga meninggal
  • Mulai rutinitas jogging pagi
  • Bukber non-stop hits
  • Kantor pindah gedung
  • Beli shampoo kuda
  • Dapet boneka Line (Cony)
  • Twitterview Vabyo
  • Main ke Bogor
  • Mbak-mas mudik, mendadak Ijah

Highlight Juli (nasional, global):
  • Pilpres
  • Piala Dunia
  • Gaza
  • MH-17
  • Lebaran


What a fulfilling month :)

Ramadhan emang ajang silaturahmi dengan modus buka bersama yah. Yang tadinya sibuk terus dan mencar ke mana-mana, di momen bukber jadi pada ngumpul lagi. Ah, senangnyaaa!

Ya walaupun selama bukber, udah 3x aja gw dijodoh-jodohin dari lingkaran yang berbeda. Ini apa sih pada kaya bocah SD, zzz. Tau sih becandaan doang, tapi kenapa harus gw mulu dah yang kena?

Gpp deh, tandanya orang-orang pada perhatian sama gw. Hoek cuih. Perhatian tuh ngasih THR gitu kek. Lah ini ngasihnya ceng-cengan. Bully-able banget kayanya gw. Sib nasib. Pasrah wae lah -___-

Anyway, bulan ini adalah bulan puasa pertama di rumah baru. Antara yeay dan yah sih. Yeay karena suasana baru, yah karena ngga pernah teraweh sama sekali di mesjid sekitar sini. Hiks.

Bahkan gw pun ngga Shalat Ied karena emang lagi dapet. Hiks lagi. Padahal momen banget tuh Shalat Ied pertama di lingkungan baru.

Yaudalah ya, semoga tahun depan masih bisa bertemu Ramadhan dan lebaran. Aamiin.

Monday, July 28, 2014

Forgiveness

0 comments
Photo taken at Nabawi, February 2014

Lebaran kali ini alhamdulillah berjalan cukup lancar, setelah 5 tahun pasti ada aja sesuatu yang mengganjal.

Beberapa lebaran belakangan, kata "maaf" jadi kata yang susah diucapkan sekaligus sangat diharapkan. Duh, kalau diingat-ingat, rasanya pengen gali lubang, nyemplung, dan kubur diri. Malu. Lebaynya drama ngalah-ngalahin Ncess Uscita.

Tapi kalau mau ambil ekstraknya hikmahnya, ini proses lah ya. Dari sekian kali lebaran yang udah dilewati, gw banyak belajar dan makin paham betapa dahsyatnya kekuatan kata "maaf".

Kalau sekarang sih berasanya super lebay, tapi kala itu, emang segitu cetar-membahana-luar-biasa-ulala nya.

Manusia khilaf. Manusia meminta maaf. Katanya, seseorang mungkin aja memaafkan, tapi belum tentu melupakan. Ngga masalah. Kenapa harus dilupakan?

Never forget is never an issue. Never forgive is. Ain't it burdening, not to forgive others? So, to enlighten our burden, why don't we all make room for forgiveness?

Emang ngomong sih gampang. Tapi pelaksanaannya? Butuh keberanian tingkat dewa untuk mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh meminta maaf. Dan juga, kalau kata Sherina "...hanya yang berjiwa ksatria yang mau memaafkan".

Been there done that.

Lega banget rasanya saat permintaan maaf akhirnya diterima. Begitu pula sebaliknya. Ada rasa lega luar biasa saat bisa ikhlas memaafkan.

Jadi, semoga mulai lebaran kali ini dan seterusnya, kita semua bisa jadi orang-orang pemberani dan berjiwa ksatria.

Because nothing's more peaceful than the act of forgiveness :')

Sunday, July 27, 2014

Harapan yang Menghidupkan

0 comments
Kemarin, Prabowo mengajukan gugatan terhadap keputusan KPU ke MK. Belum kelar juga nih drama copras-capres? Alamak! Ra uwis-uwis.

Tapi hei! Mari kita lihat sisi positifnya:

  1. Scan data C1 oleh KPU
  2. Kawal Pemilu: Situs crowdsourcing dari ratusan relawan yang keroyokan cross-check scan data tadi
  3. Kumpulan C1 yang aneh
  4. Surat Untuk Pak Bowo: Kumpulan surat terbuka dari para seniman dan pekerja kreatif untuk menyemangati Pak Prabowo agar legowo
  5. Polling kabinet usulan rakyat
  6. Kabinet Rakyat: Detail CV + hasil polling (walaupun kandidatnya agak berbeda)
  7. Konser Salam Dua Jari
  8. Daaan.. segala kampanye kreatif macem "Seri Blusukan Jokowi" ala Tintin, "I Stand on the Right Side", "IndONEsia", fanpic Jokowi-Prabowo jabat tangan, tukeran kaos bola, dsb

Gila sih partisipasi rakyat. Meriah banget!

Sebenernya gw ngga dukung-dukung Jokowi amat. Malahan, awalnya gw se-skeptis itu sama dua-duanya. Terpaksa pilih salah satunya karna gamau milih yang satunya lagi. Pokoknya satu yang pasti: gw emoh golput.

Trus yaudah, gw pilih Jokowi sesimpel percaya aja, karena hati gw lebih tenang coblos no. 2 setelah ngikutin keriuhan pesta demokrasi ini.

Tapi setelah Jokowi menang, lihat lagi ke belakang, gw jadi semakin optimis, semoga ngga salah pilih orang. Sosok 'kucing kampung pergi ke Mekkah pulang-pulang jadi presiden' itu bener-bener memberi harapan.

Hangat banget baca surat terbuka untuk Jokowi dari Mbak Ainun @pasarsapi (penggagas gerakan Akademi Berbagi). Sedikit cuplikannya:

Bapak Joko Widodo yang disayangi rakyatnya,

Anda terpilih dan melaju di atas kursi nomer satu republik ini karena keringat banyak orang. Mereka bergerak tanpa bayaran tanpa janji kekuasaan bahkan harus keluar tenaga dan uang. Mereka ikhlas melakukan ini, karena mereka percaya Bapak bisa mengemban amanat rakyat dengan baik dan membawa perubahan bagi negeri ini. Mereka rindu pemimpin yang manusiawi.

Kebayang ngga sih beratnya beban Jokowi sebagai presiden RI? Jadi 'sumbu negeri'. Hiii.. emangnya gampang ngurus negara yang banyak maunya gini? Emangnya gampang jadi pemimpin yang manusiawi di tengah para petinggi yang kelakuannya minta digiles kereta api?

Tapi itulah yang bikin gw bangga jadi bangsa Indonesia yang kekinian (hazek). Semua orang mau ikut ngurusin. Bukan ngerecokin, tapi bagi-bagi beban. Ringan sama dijinjing, berat bawa sendiri sama dipikul.

Para pendukungnya tersentuh dan tergerak oleh aksi nyata, bukan orasi semata. Semangat gotong royong 'khas' Indonesia muncul lagi. Udah lama yah ngga ngerasa nasionalis kaya gini. Hihihi.

Si Cune pernah bilang, menurut dia, dua-duanya secara persona gada yang meyakinkan, tapi dia menegaskan satu hal, "doa gw cuma satu: semoga gw salah"

Sama. Sejujurnya, gw masih menyisakan ke-skeptis-an gw sebagai antisipasi. Biar ngga kecewa-kecewa amat nanti. Gamau terlalu berekspektasi.

Tapi semoga gw pun salah. Semoga kita, rakyat Indonesia, walaupun sedikiiit aja, selalu bisa menaruh harapan pada Jokowi serta ngga membiarkan presiden kita itu bekerja sendiri. Mengutip Mbak Ainun:
"...Karena harapan lah yang menghidupkan"

Ngga kece amat ya penampakan presiden kita :))

Tentang Bersyukur

0 comments
Lo: "Del, gw iri deh sama hidup lo" (sambil liat-liat gallery iPod Della)
Della: "Haha, apaan deh. Kenapa emangnya?"
Lo: "Punya banyak temen, volunteer ini-itu, jalan-jalan mulu. Kayanya seru aja lo bisa selalu ngelakuin apa yang lo suka"

Si Della ini gemes. Bukan cuma sekali dua kali lo ngomong gini. Dan bukan sekali dua kali juga si Della klarifikasi. Makanya kali-kali, pengen nulis ini.

Lo gatau aja........

Betapa berantakan belakang layarnya orang yang lo iri-in itu. Betapa gelisahnya si Della tiap melangkah, berpisah, dan bertemu orang baru lagi. Betapa kencengnya traffic temen yang datang dan pergi. Yang datang dan ngga pernah pergi? Bisa dihitung pakai jari.

Betapa pada kenyataannya, dia ngga selalu bisa ngelakuin apa yang dia suka. Pun iya, ngga selalu menyenangkan. Pun emang dia sukai dan kegiatannya menyenangkan, banyak yang harus dikorbankan.

Mungkin lo lupa aja........

Betapa banyaknya orang yang iri sama hidup dan karir lo yang gemilang kaya Ika Natassa itu. Betapa beruntungnya lo, punya pasangan yang sayang banget sama lo, lolos kualifikasi bibit bebet bobot, dan sangat ngga neko-neko.

Betapa lo pun dikelilingi banyak temen dan kalau mau ngelakuin apa yang lo suka mah atuh lah. Betapa kesempatan lo buat jalan-jalan sebenernya lebih banyak, secara lo sering merantau ke berbagai tempat.

Terakhir, lo gatau kan, betapa si Della diem-diem iri juga sama lo? Ngga afdol emang kalau udah puas sama hidup sendiri dan ngga pernah iri sama hidup orang lain, haha. Tapi yaaah, kita bersyukur aja, gimana?

Anyway, HAPPY BIRTHDAY! May you have wonderful life you want and always be grateful :D

Wednesday, July 16, 2014

Mari Lari

3 comments
Beberapa hari ini, gw lagi rajin lari pagi setelah sekian lama 'lari' dari lari. Terakhir lari yang beneran lari itu waktu latihan buat MBIC 2, bulan Juni 2013.

Walaupun tipe pelari lamban, gw sangat menikmati momen-momen saat lari.

Saat pikiran bergerak seiring langkah yang mengayun. Saat dada sesak, nafas naik-turun, seluruh tubuh panas, betis serasa mau meledak, dan hidung-tenggorokan perih. Pun saat batuk-batuk susah nafas pasca lari, gw tetap menikmati.

Terdengar masokis? Ya, memang.

Tapi ada adiksi tersendiri saat berhasil mencapai tujuan dan 'merayakannya' dengan beberapa teguk air mineral yang menyegarkan. Well, kecuali lagi puasa ya. Pantang minum sebelum maghrib (AUK AH DEL)

Sampai di suatu hari saat latihan MBIC, gw terpaksa harus memilih. Antara ngga lari tapi 'aman' atau lari dengan resiko kaki ngilu karena lagi masa pemulihan pasca operasi copot pen.

Kala itu, gw benci diberi privilege untuk ngga lari sementara yang lain harus lari sesuai jarak dan waktu yang ditentukan. Gw benci 'dibedakan'. Gw benci orang-orang yang iri karena gw boleh ngga lari.

Gw benci tiap kali memaksakan diri, tulang kering kiri rasanya ngga karuan dan jadi ngga maksimal latihan. Gw benci karena masih berpikir "harusnya gw bisa" tapi malah memilih menyerah. Gw benci merasa lemah.

Semenjak itu, gw melakukan 'aksi protes' pada diri sendiri untuk stop lari. Lebih tepatnya: menghukum diri sendiri yang pasrah 'kalah'. Payah ah!

Well, sebetulnya banyak momen di mana gw harus lari-lari, misalnya mengejar kereta atau bis, tapi itu ngga masuk hitungan.

Berkali-kali diajak lari di car free day atau run for ini-itu, gw selalu menolak. Pernah tergoda sih buat daftar lari yang konsepnya seru, tapi ya gitu deeeh. Antara parnoan atau kelewat keras sama hukuman yang dibuat dari dan untuk diri sendiri.

Beberapa hari yang lalu, setelah gw sadar kalau setahun ke depan akan butuh banget stamina yang prima, gw mulai lari lagi, dan itu rasanya........

Entahlah. Senang, puas, terharu, takjub, takut, semua campur aduk.

Udah ngga ngilu, bahkan gw bisa lari pelan sejauh 5 km dengan kecepatan konstan tanpa berhenti sembari menikmati suasana kompleks di pagi hari. Pohonnya rindang dan pemandangannya asri. Udaranya pun sejuuuk banget. BSD rasa Puncak Pass.

Sambil lari, muncul cuplikan memori sarat emosi perihal 'lari sambilan'. Sambil lari sambil mau nangis menahan ngilu sambil sok kuat sambil kesal sama diri sendiri sambil khawatir gimana kalau ini-itu.

Kalau ingat lagi dan membandingkan sama kondisi sekarang, bawaannya pengen senyum dari kuping ke kuping, merasa bersyukur banget. Bodo amat deh orang-orang yang kebetulan papasan mengira gw orang gila nyengar-nyengir ngga jelas.

Gw anaknya sulit membedakan antara gigih berusaha dan keras kepala (aka bebal) sih. Juga bingung kapan harus mencoba lagi dan kapan harus berhenti. Ditambah, susah menerima bahwa menyerah bukan berarti kalah.

Tapi dengan lari, gw belajar untuk terus 'menantang' batas diri sekaligus mengendalikan diri. Saat lari, lawan kita adalah diri sendiri.

Terlalu lunak akan membatasi, tapi terlalu keras akan melukai.

Tuesday, July 15, 2014

How Are You, Guys?

0 comments
Re-watched How I Met Your Mother and found this:
That's how it goes kids. The friends, neighbors, drinking buddies, and partners in crime you love so much when you're young, as the years go by, you just lose touch. You will be shocked kids, when you discover how easy it is in life to part ways with people forever. That's why, when you find someone you want to keep around, you do something about it.

Kinda sad how true it is. People come and go. Even if they come back, sometimes there is that invincible distance. A gap you can't reach. Yes, some people DO grow apart. And you can't help but let them go.

But for whom I want to keep around, I hope I can always make time. While I still have time. Before time fades those bonds and sparks away.

So... how are you, guys?

Tentang Pilpres (Lagi)

0 comments
Pilpres udah kelar. Yeay? No yeay yet!

Pasca pilpres, banyak pro-kontra mengenai isu perhitungan suara, baik quick count maupun real count di tanggal 22 Juli nanti.

Gw sebenarnya udah mulai muak. Berkali-kali gw memberi jeda pada diri sendiri untuk ngga mantengin apa pun yang berhubungan dengan pilpres. Tapi berkali-kali gw balik lagi. Menyimak berita lagi. Muak lagi. Ra uwis-uwis.

Meskipun hingar-bingar pesta demokrasi ini terlalu bising dengan berita miring yang bikin kuping penging serta kepala pusing, harus gw akui, banyak hal positif yang bisa disaring.

Dari mulai golput yang berkurang drastis, 'koleksi' hasil scan C1 yang ngga wajar, sampai main surat-suratan yang belakangan lagi hits di kalangan seniman dan pekerja kreatif. Surat-surat tersebut ditujukan untuk Pak Prabowo.

Salah satu surat oleh Jenny Jusuf berbunyi:
"Bapak, kami sungguh tak ingin membenci. Kami hanya ingin seorang pemimpin yang bisa kami cintai dan hormati, seseorang untuk dipercayai, yang tak menimbulkan ngeri. Beliau sudah ada di sini. Tolong beri ia kesempatan. Biarkan ia menjalankan tugas sebagai abdi rakyat. Dan sementara ia bekerja, barangkali Bapak bisa duduk beristirahat, meluruskan kaki yang sudah penat"

Terenyuh gw bacanya. Betapa kuatnya pengaruh kata-kata. Mengutip Windy Ariestanty:
"Bagi penulis, kata-kata adalah peluru. Karenanya, jangan umbar peluru untuk hal yang tak perlu"

Semuak-muaknya gw soal copras-capres ini, tetap aja khatam baca semua surat di blog itu. Apalagi ada tulisannya Mbak Windy sama Om Piring, salah dua sosok yang sedikit banyak mempengaruhi pembentukan opini gw.

Rata-rata, surat terbuka itu berisi harapan kepada orang nomor satu di Indonesia yang terpilih dan 'bujukan' kepada capres nomor satu untuk mengakui kekalahan demi kebaikan.

Dalam demokrasi, kekuatan tertinggi ada di tangan rakyat, jadi yaaah.. kemenangan Jokowi dalam perhitungan quick count adalah kemenangan rakyat. Jadi ayolaaah Pak Prabowo, berbesar hatilah.

"Jalan menuju kemenangan dimulai dari kebesaran hati" -Tagline Djarum

Monday, July 14, 2014

In Response to :)

2 comments
Reading this really makes me super flattered. Thank you, Ne :)

I don't know what to say. Well, actually I have too much to say that I don't know which one should be said first. And suddenly it disappears. That's the beginning of what so called 'speechless', yes? Those lost words.

Anyway, sorry for those annoying worries, doubts, and anxieties that I frequently shared to you back then. Kinda amazed you were patient enough not to kill me. Will gladly bother you with another lalala lame 'drunken' midnight-till-dawn talks if you don't mind. HAHA.

Once again, thank you for your sincere supports. Wish you infinite happiness and meaningful life, dear Shanti Nurfianti Andin :)

Saturday, July 5, 2014

The Journey with The Writers

2 comments
Jadi ceritanya... beberapa hari yang lalu gw abis liat foto-foto waktu jalan ke Serang bareng penulis The Journeys 3, trus nyengir-nyengir sendiri.

GILAK! SEHARIAN BARENG WINDY ARIESTANTY, VALIANT BUDI, HANNY KUSUMAWATI, DINA DUA RANSEL, ALFRED PASIFICO, DAN ALEXANDER THIAN SEKALIGUS BOK!

Trus gw ngebayangin suatu saat bisa jalan bareng mereka lagi ke tempat yang lebih jauh dengan waktu yang lebih lama. Ih pasti supeeer seru!

Walaupun gw cupu ngga berani ngajak ngobrol Mbak Windy karna grogi, walaupun nyesel ngga banyak ngobrol sama Vabyo tentang pengalamannya di Arab yang super menarik itu, dan walaupun cuma bisa ngikik liat Alex yang banyak gaya, tapi gw cukup puas seharian banyak mengamati perilaku para penulis itu.

Alex yang mata dan jempolnya selalu tertuju ke HP. Kalau ngga lagi interaksi sama layar mungil itu ya ngobrol berisik. Beneran ternyata sami mawon, baik di dunia maya maupun non-maya. Bawel. Haha.

Mbak Windy, Mbak Hanny, dan Mbak Dina yang selfie terus.

Mbak Windy dan Vabyo yang interaksinya somehow manis. Keliatan dekat. Akrab sebagai sahabat. Hangat. Ngga dibuat-buat.

Vabyo yang seringkali memisah dari rombongan buat sekedar duduk bengong sendirian dan ngerokok. Seolah-olah ada gelembung ngga nampak yang menyelimuti dia yang asik bercengkrama dengan dirinya sendiri.

Kalau ngeliat yang kaya gitu bawaannya pengen nyamperin tapi takut ganggu. Gitu kali ya rasanya kalau ada orang ngeliat gw mojok sendirian? Padahal mah ngga masalah sih. Cuma yaaah.. entah. Gw nya aja mungkin yang anaknya socially awkward. Haha.

Alfred yang pendiam tapi sekalinya ngomong sarat informasi banget. Waktu di tengah puing Kerajaan Surosowan, gw sama Shasha heboh sendiri liat kerbau albino lagi merumput. Maklumin. Anak kota norak.

Trus dia tau-tau nongol dari belakang sambil cerita kalau orang Batak ada tradisi potong kerbau dalam acara-acara adat, dan kalau ada yang pakai kerbau albino, tandanya dia orang kaya. Semacam tolak ukur kesuksesan si empunya acara.

Ya secara 1 ekor bisa sampai puluhan juta. Bayangin ada lebih dari 1 kerbau albino. Bisa buat nyicil rumah sama mobil. Kalau ngga tajir-tajir amat mah mending pakai kerbau item biasa aja.

Dia ngajak ngobrolnya ngga pake basa-basi banget. Kaget banget sumpah! Huahaha. Tapi karna ceritanya menarik, jadi gw dan Shasha sih seneng-seneng aja nyimak. Lagian, kalau diperhatiin, ternyata dia emang suka random nyamperin orang-orang gitu walaupun lebih banyak diem.

Kaya ngikutin dari belakang, ngamatin, trus kalau ada kesempatan, dia ajak ngobrol personal 1-2 orang doang. Ah menarik banget deh emang!

Mbak Dina gw ngga banyak merhatiin sih, jadi ngga bisa cerita banyak. Yang jelas, gw sangat terkesan sama petualangan nomadennya.

Yang terakhir ini nih yang paling berkesan: Mbak Hanny. Jadi, di awal perjalanan, tempat duduk kami diundi, dan gw sebangku sama Mbak Hanny. LUCKY!

Di sepanjang jalan, kami banyak cerita-cerita. Dari mulai ketertarikan dia akan sawah, cerita soal pengalamannya jalan-jalan ke Santorini, India, dll, sampai bisnisnya setelah resign dari Maverick.

Selain itu, dia juga cerita soal pandangannya terhadap isu gender saat dia traveling ke India di mana perkosaan banyak terjadi dan budaya patriarki masih sangat kental.

Saat itu, dia lagi solo travelling, trus ketemulah sama sekumpulan pemuda yang lagi turun ke jalan, menyuarakan kesetaraan gender. "Kok semuanya laki-laki? Perempuannya mana?" tanya Mbak Hanny. Salah satu pemuda ngejelasin "soalnya suara perempuan kurang didengar di sini"

Tapi walaupun begitu, ada daerah yang justru budaya matriarkinya lebih kental. Ya kaya Padang lah kalau di Indonesia.

Trus si pemuda itu bilang, bahaya perempuan keliaran sendirian di situ dan dia menawarkan buat nganterin Mbak Hanny ke tempat tujuan. What a sweet kindness from stranger, yes? Hihi.

Aaakkk.. boleh ngga gw berharap suatu hari bisa jalan-jalan bareng Mbak Hanny (dan Mbak Windy juga) ke Santorini? Bantu aamiin plisss!

Well, omongan adalah doa. Mari berharap saja bisa terkabul suatu saat nanti (sambli usaha nabung juga).

###

Sebenernya gw udah cukup lama pengen nulis tentang ini, tapi mood nya cuma mengendap di draft, blom disusun ulang.

I was overwhelmed with excitement and over-flooding euforia that I didn't know what to write back then. Speechless to the moon and back :'D

Sekarang, gw pengen mengenang lagi momen menyenangkan itu. Mengenang perjalanan bersama para pencerita, sambil membayangkan suatu saat bisa menjadi seperti mereka, para pencerita perjalanan.

Yaudah, aamiin dulu aja.

Ngga foto sama Mbak Dina, huhu

Partner in crime

Wednesday, July 2, 2014

(Bisa Jadi) Tentang Pilpres

0 comments
H-7 pilpres.

Jujur, gw degdegan. Parno. Takut rusuh, ngeliat baik pendukung fanatik Jokowi maupun Prabowo sama-sama 'panasan'. Doh! Macem fansnya Agnes Monica deh. Kalau ada yang kritik idolanya, nyerangnya udah kaya Sparta.

Mana sekarang udah blur mana yang black campaign mana yang negative campaign. Trus ada lagi reversed campaign, di mana oknum JUSTRU menyebar isu negatif tentang capres pilihannya untuk menarik simpati.

Ngga ngerti lagi lah. Rasanya tiap mencerna informasi tuh saringannya banyak banget. Mulai dari mempertanyakan motif tulisan, siapa yang mempublikasikan, sampai kebenaran pesan. Pusing.

Lebih pusing lagi sama debat kusir yang fokusnya nyerang pihak lawan, bukan ngasih informasi. Nyeh! Tapi kalau lagi iseng, gw suka juga sih bacain komen-komen 'drama' buat hiburan, hahaha.

Udah gitu, berhubung pendukung rese nan gengges bertebaran layaknya ketombe, akhirnya malah ada yang berpikir buat golput, padahal tadinya udah mau milih salah satunya. ISSSH!

Kalau gw sih gamau golput. Lebih tepatnya, ogah rugi. 5 tahun sekali milih, masa ngga dimanfaatin dengan maksimal? Blom tentu 5 tahun lagi bisa milih kalau presiden yang kepilih balik lagi ke Orba. Meeen, amit-amit jangan sampe!!!

Akhirnya gw memutuskan ngikutin kata hati aja. Ya ya ya, ngerti kok, buat keputusan penting gini mah harusnya rasional. Gw udah mencoba. Dari mulai ngikutin debat, baca dan nonton buanyaaak link artikel, video, dll, sampai cari info dan diskusi sana-sini buat jadi referensi.

Cuma ya itu tadi, pusing. Makanya gw bismillah aja, feeling over logic. Modal percaya.

Lagipula bukannya dalam penentuan keputusan, ketika logika tersendat, bersandar pada hati bisa jadi tindakan yang tepat?

Bisa jadi, bisa jadi.

Recap Juni

0 comments
Maapin ya anaknya lagi seneng nge-recap. Bulan Juni ini ngga berasa banget asli. Tau-tau udah ganti Juli aja. Tau-tau udah puasa lagi aja. HUAH!

Jadi... highlight Juni:
  • 1 Juni: volunteer 1000 Petualang Cilik di Rumah Perubahan
  • 6-11 Juni: dinas ke Semarang
  • 13-14 Juni: ke Gunung Padang dan Cibodas
  • 15 Juni: hari nyalon sedunia
  • 16 Juni: Direct Assessment Indonesia Mengajar
  • 19-27 Juni: dinas ke Medan
  • 28 Juni: hari main sedunia
  • 29 Juni: puasa pertama
  • (Soon) 4-6 Juli: rapat WEEKEND di Serpong (alhamdulillah deket rumah)

Di sela-selanya nonton X-Men, Malificent, 22 Jump Street, sama Transformers sekalian main bareng orang-orang yang jarang ketemu. Senangnyaaa..

Bulan Mei lalu mabok film Eropa. Bulan Juni ber-Hollywood-ria. Bulan Juli pengen jejepangan deh, tapi males nyari donlotan. Film yang bagus sekarang apa sih? Ngga apdet banget saking udah super lama ngga dorama-an.

Kalau soal bacaan, gw lagi suka baca buku berbahasa Indonesia. Kmaren abis nge-list Reading Challenge di Goodreads dan ada 11 buku yang kelar dibaca dalam 6 bulan. Target 24 buku dalam setahun, dan ternyata masih on track. HOHO. Thanks to perjalanan dinas!

Emang deh ya, waktu paling efektif buat baca tuh ya di perjalanan. Ya mau ngapain lagi kan? Pilihannya kalau ngga baca, mainan HP, ya tidur.

Sebetulnya ada beberapa buku yang lagi dibaca sih, tapi ngga kelar-kelar, haha. Anaknya lama abisnya kalau baca.

Highlight lainnya adalah akhirnya Cilo kembali setelah berbulan-bulan 'honeymoon' di rumah temen nyokab buat dikawinin. Yeay! Ditambah meong baru namanya Dolly, pasangannya si Cilo. Ceritanya gantian. Dulu Cilo yang ke sana, sekarang Doli yang ke sini. Dobel yeay!

Tapi karna perjanjian kucing ngga boleh dilepas di rumah, jadinya mereka masuk garasi. Kasian sih, biasanya bebas berkeliaran :( Jadinya cuma tiap malem doang gw lepas terus main-main bentar terus masukin garasi lagi. Mayan lah mereka menghirup udara rumah, ngga pengap di garasi mulu.

Apalagi ya? Di bulan Juni buanyaaak yang sidang dan ultah. Oh! Dan nikah. Tapi gada yang bisa gw datengin karna wiken penuh terus. Hiks.

Congraduation, happy birthday, and happy wedding!

Patah Hati

0 comments
2 hari yang lalu, pas banget setelah sahur pertama, nyokab dapet telfon yang ngabarin kalau eyang tetangga di Bintaro meninggal dunia. Inalillahi wa inna illaihi rajiun. Saat dapet kabar, gw lagi bersiap-siap tidur lagi sampai gw denger intonasi suara nyokab yang 'beda'.

Roman-romannya ada 'sesuatu' yang buruk. Dan bener aja. Kabar duka. Subuh itu juga nyokab ngajak bokap buat balik ke Bintaro, bantu-bantu proses pemakaman.

Kehidupan pertetanggaan di kompleks mungkin emang ngga sedeket kalau di kampung. Tapi seenggaknya, semua selalu sigap kalau ada yang butuh bantuan. Maklum, udah puluhan tahun bertetangga.

Malemnya, nyokab cerita kronologi kejadiannya. Almarhum eyang tetangga itu meninggal dalam tidur tanpa ada pertanda apa pun. Bahkan katanya, suami alm sempet ngobrol panjang malam sebelumnya.

Gw mulai mengenang sosok eyang yang ramah ini. Tiap pagi kalau keluar rumah, gw menyapa eyang yang selalu jalan pagi di depan rumahnya. Senyumnya selalu tulus mengembang.

Selain interaksi singkat tiap pagi, tiap lebaran pasti kami sekeluarga mampir ke sana, disuguhi aneka macem makanan dan cemilan yang enak-enak. Mereka cuma tinggal berdua, jadi selalu menyambut hangat siapa pun yang dateng ke sana, terutama saat lebaran.

Lebaran kali ini, eyang itu udah ngga ada. Tinggal eyang yang satu lagi.

Kebayang, mungkin bagi eyang yang ditinggalkan, itu rasanya kaya lumpuh sebagian. Hampir seumur hidup dihabiskan berdua. Menua bersama. Dan sekarang sendirian. Kesepian.

Ah, mengalami kehilangan memang tak pernah menyenangkan.

Inget eyang buyut gw saat istrinya meninggal bahkan sampai nyoba bunuh diri biar bisa nyusulin almarhum. Inget juga kisah Habibie-Ainun. Inget film Up. Inget cerita ibu-ibu di kantor yang seminggu dua kali ke kuburan suaminya, selama puluhan tahun.

Dan entah, rasanya kaya patah hati. Sesuatu yang menusuk dan mengiris dalam namun tanpa luka yang kelihatan.

###

Tambahan:

Barusan nemu postingan tentang berduka yang hadir di waktu yang tepat:

"Seringkali, yang saya lakukan adalah berduka di kejauhan, untuk mereka yang ditinggalkan. Mereka tak tahu bahwa saya membawa mereka sepanjang jalan, ketika memesan secangkir kopi atau berdoa di malam hari, selagi mengobrol dengan orang-orang yang saya cintai atau berjalan kaki di bawah hangat sinar matahari.
Saya masih tak pernah pandai mengucapkan belasungkawa. Biasanya, saya butuh waktu beberapa minggu atau bahkan bulan, untuk benar-benar kembali menatap atau bercakap dengan mereka yang berduka cita. Di saat itu, terkadang saya masih tak tahu apa yang bisa saya katakan. Saya juga masih tak bisa memberikan pelukan atau menawarkan sesuatu yang dirasa bijaksana"

Ya, tepat.

Thursday, June 19, 2014

:D

0 comments
Della 1: Sooo.. how is it, Del?

Della 2: :D

Della 1: What's with that grin?

Della 2: Nothing. Just amazed how reserved yet vibrant I can be, at the same time

Della 1: Hm?

Della 2: You know, that "I'm proud with myself" feeling when you finally can talk with steady tone in chronological order, and though there are some intense emotions in your stories, you still can keep it going on track

Della 1: Sounds like everything went well. Good for you

Della 2: Good for us. Well, we'll see :D :D :D

Della 1: What's with that too many grins?

Della 2: I just........ feel glad I'm not that type of person who can easily give up. At that time, the assessor said something like "approach we're doing is exploring the past behavior to predict the future" and by telling my own experiences, I realized how determined I was when pursuing thing I really wanted. I only stopped when I had to. After all, it was not about getting it but about the journey of getting it. So if it can help predicting my future, then I guess there's nothing to worry about

Della 1: There IS one thing

Della 2: What?

Della 1: To decide what you really want. I know there are so many things you wanna do, but to decide which one you're focusing on? This is the thing or not?

Della 2: HAHA. Exactly what dad always ask. I'm sure we can find out during the seeking process. Worry that later

Della 1: That's what I'm most worried about actually

Della 2: :D

Della 1: And you can still grin after this and that -___-

Della 2: Funny, isn't it? We are the same person. We share the same fear, worry, anxiety, doubt, and other negativities. But we also share the same hope. And you know what makes people feel so alive? Glimpse of hopes. That's what I'm sharing with you. But thanks anyway for sharing your fears. I've made my decision

Della 1: Such a stubborn

Della 2: Dear, hear. I can feel your insecurity is getting more intense as we get older. You, we, worry more than we should be. But hey! Ain't we combat it everyday? And in fact, it's not that bad. Life is not that scary. It just happens

Della 1: Yeah but........

Della 2: Can I tell you something? At that time, when I was presenting myself, someone asked me "if you really like what you're doing now, why you do this?" I was a bit surprised given that question. I replied "Because I'm ashamed. Of not doing things for the sake of others. All of my life, I was selfish. I still am. I pursue everything for myself. So now is the time to pursue things for those needed" And I put that :D again to end the 7 minutes session

Della 1: So?

Della 2: Well, I've been thinking a lot about this. All I can imagine is Della 30 years from now, regretting everything she didn't do in the past, including this. I just don't want it to happen. At least I must try my best. At least there is something I wanna do for others. That's it. Suddenly all the doubts and fears are gone

Della 1: They're still there. Here. With me

Della 2: Geez, why it's so hard to convince you?! Well, it's me also actually. Been doing this a whole time but still feel weird having a monologue conversation like this

Della 1: I just hate that feeling of disappointment. I know we can always recover ourself sooner or later. But still, I just hate failure, no matter if we're expecting it or not

Della 2: No one is expecting failure anyway -___- Well, if it's really happening, just move on. Gitu aja kok repot tho ndok

Della 1: Easier said than done

Della 2: Whatever. I just feel so sure about it, no regret, no doubt, and nothing to lose. We can always agree to disagree anyway

Della 1: Well, if there's something I have to be glad about, it's your slight of optimism. And yeah, you're right. At least we still have hopes

Della 2: That's my girl!

Della 1: :D

Credit: here

Sunday, June 15, 2014

Bertanya

0 comments
"Learning is not how to answer questions, but to ask questions"

Selalu pengen ketawa kalau inget kata-kata itu, lupa siapa yang ngucapin.

Dua bulan terakhir ini gw sangat menikmati momen-momen menyimak sekumpulan ilmuwan ngariungan untuk merumuskan pertanyaan besar dan mendasar.

Susah. Membuat pertanyaan yang tepat itu minta ampun susahnya ternyata. Lebih susah dari menjawab pertanyaan dengan tepat.

Kalau udah ada pertanyaannya kan kita 'tinggal' nyari jawabannya. Lah kalau pertanyaannya aja gada? Apa yang mau dijawab?

Selama ini kita disuguhi berbagai macam soal yang harus kita jawab. Pernah ngga dibalik, disuguhi berbagai macam jawaban yang harus kita tanya?

Tantangan berikutnya, menjawab kembali pertanyaan yang tadi ditanyakan. Kalau bisa dengan mudah dijawab, berarti pertanyaannya belum tepat.

Susah? Emang. Tapi dari situlah kita belajar. Dari mana? Dari bertanya.

Rahasia

0 comments
"Don't let them in. Don't let them see" -Elsa (Frozen, 2013)

Semua orang punya rahasia. Sesuatu yang ngga pengen orang lain tau. Siapa pun tanpa terkecuali. Entah masa lalu, bagian tubuh tertentu, atau sesimpel malu.

Tapi lucunya, saat ada orang lain yang tau entah gimana ceritanya dan cuma bereaksi "terus? Apa yang perlu dirahasiain? Kenapa harus malu?" rasanya jadi pengen nyanyi...

LET IT GOOO~ LET IT GOOO~ CAN'T HOLD IT BACK ANYMOREEE~

Mungkin, seseorang menyimpan rahasia bukan karna takut ketauan, melainkan takut akan penolakan.

Friday, June 6, 2014

Come What May

0 comments
Tengah malem kebangun, bingung mau ngapain, bosen sama sosmed, yaudah nge-blog aja deh.

Nulis apa ya? Paling gampang sih bikin recap. Jadi inget salah satu tips di buku Creative Writing nya A.S. Laksana di mana dia bilang bahwa dalam menulis, tulis jelek dan cepet dulu aja, ntar kan bisa dibenerin lagi.

Tapi katanya juga, kalau sambil nulis ya nulis aja, jangan sambil ngedit juga. Haha, ini gw banget lah! Gatelan buat ngedit tulisan sendiri, ujung-ujungnya tulis-apus-tulis-apus trus ngga kelar-kelar.

Hmm.. let's see. Highlight selama Mei (nyerempet pertengahan Juni):
  • Volunteer Europe On Screen: Jakarta
  • Volunter 1000 Petualang Cilik: Rumah Perubahan, (hampir) Bekasi
  • Tugas dinas pertama: CIFOR, Bogor
  • Mendadak jalan-jalan dinas: Medan-Samosir
  • (Soon) Tugas dinas kedua: Semarang
  • (Soon) Tamasya: Situs Gunung Padang, Cianjur
  • (Soon) Direct Assesment Indonesia Mengajar: Jakarta

Highlight-nya banyakan tentang kerjaan banget Del? Ya gitu deh. Gw sih super menikmati, terutama selama jadi volunteer EOS. Selama 10 hari di bulan Mei, tiap pulang kantor pasti ngusahain main ke salah satu venue EOS. Seringnya sih ke Erasmus.

Kebetulan gw cuma dapet jaga di hari Jumat-Minggu doang, jadi hari Senin-Kamis bisa nonton 1 film. Mayan lah. Eh tapi hari Kamis gw absen deng, soalnya ke Akber bareng Cune.

Selain film-filmnya yang emang pilihan, yang paling bikin gw menikmati adalah temen-temennya. Chemistry antar volunteer tuh udah kerasa dari awal briefing. Entah sugesti atau gimana ya, tapi gw ngerasanya gitu. Lagian gpp juga sih kalau sugesti.

Waktu hari terakhir jaga, untuk pertama kalinya gw naik kereta terakhir banget-bangetan dari Stasiun Tanah Abang jam setengah 12 malem. Dan itu injury time, 15 menit dari Epicentrum sampai duduk ngos-ngosan di kereta. PAS BANGET masuk, pintu kereta ditutup.

Mak jaaang sensasinya! Kalau telat sekian detik aja gatau deh pulang naik apa. Bokek banget kalau harus terpaksa naik taksi. Ini demi banget bela-belain pulang mepet biar tetep bisa ikut kumpul-kumpul di hari terakhir.

Trus seru gitu, se-gerbong cuma gw sendiri (plus mas-mas penjaga tentunya). Eh apa lebih dari satu gerbong ya jangan-jangan? Soalnya sepi buangeeet, mayan bikin deg-deg-seeerrr.. ngebayangin gimana kalau itu kereta hantu dan masnya tau-tau terbang. Hiii..

Setelah EOS selesai, ternyata ada lagi acara kumpul-kumpul. UHUY! Dan gw bikin puding matcha. Mungkin buat orang lain ini cemen banget, tapi buat gw yang paling males nyentuh dapur, sampai gw inisiatif masak tuh artinya yaaa.. segitunya.

Makasih temen-temen volunteer EOS 2014 :)

Tapi dunia itu ngga selamanya seneng-seneng doang. Ada kabar duka: Chimoy meninggal di tanggal 14 Mei, dikasih tau Andini. Tapi ternyata katanya udah meninggalnya dari 12 Mei malem, Andini nya juga baru tau dari satpam. Bahkan Chimoy meninggal sendirian tanpa ada yang tau :'(

Ah gamau bahas ah, sedih, huhuhu. Chimoy nya udah nyusulin Chiput ke surga, harusnya gw gausa sedih-sedihan kan :')

Kalau tadi kabar duka, sekarang kabar gembira: Ririn, temen surat-suratan gw, dilamar bulan Mei ini. Hihi, seneng banget dengernya. Sayang gw ngga bisa hadir, padahal pasti seru tuh kalau bisa dateng ke NTB-nyerempet-Lombok. Okelah, next time!

OH IYA! Bahkan hampir kelupaan kalau gw ulang tahun di bulan Mei ini. Dibikinin video beginian sama manusia-manusia yang lagi Kampoeng Jazz-an:


Walaupun ada embel-embel "meme anjing pudel" dan Uswah rese nyebut-nyebut umur berbanding terbalik sama berat badan, tapi makasiiih :))

Di akhir bulan ini ada Mubes MBUI bagian dua, tapi dua-duanya ngga bisa dateng. Emang 'ngga diizinin' sama Semesta kayanya. Bentrok lalilulelo mulu tiap mau dateng Mubes.

Begitulah Mei-ku yang seru berakhir. Hari ini gw ke Semarang, tapi sampai sekarang blom juga packing. Piye iki rasanya malas betuuul. Ngga bisa ya simsalabim koper rapi sendiri?

Yaudalah ya, come what may.