Sunday, March 30, 2014

March On

2 comments
Yang ditunggu-tunggu selama 2 bulan 10 hari ini akhirnya nongol juga. Salah satu wishlist umur seperempat abad harus dicoret.

Apa rasanya? Hmm.. bingung sih jawabnya, soalnya yang pertama kali terlintas adalah harus recovery secepetnya. Mau gamau, bisa ngga bisa, HARUS!

Kalau di MB, misalnya jatoh pas display, langsung berdiri. Lupa koreo, tetep lanjut gerak. Semuanya ngga lebih dari 2 beat. Mikirnya simpel: show must go on.

Atau kaya lagi jadi panitia penyelenggara suatu acara. Tau-tau, ada sesuatu yang bikin plan A ngga bisa berjalan lancar. Yaudah, ngga pake mikir yang ngga relevan, langsung beralih ke plan B. Lagi-lagi: show must go on.

Nah makanya, kalau ditanya gimana rasanya, inilah jawabannya:
Ain't nobody got time for dat? Show must go on!

Yang terpenting sekarang bukan soal "rasa", tapi apa yang harus dilakukan abis ini. Yaaah.. sementara waktu harus bisa matiin rasa sampai segala hal beres dulu. Udahlah gausa kelamaan termangu. Ayo susun rencana baru.

Time's up. 'Holiday' is over, Del. Let's march on. Plenty good things await. Congrats anyway for you all :D

###

Btw, lucu ya gimana semesta 'menghibur'. Setelah lalala, ngga lama kemudian dapet kabar Mbaksus melahirkan. Ihiy ponakan Bins! Turut seneng (BANGET). Hihihi :'3

Selamaaat Susi dan Supri. Duo Kom yang semoga selalu bisa KOMpak membesarkan anak.

Saturday, March 29, 2014

Berpikir Strategis dan Kreatif (bagian 2)

2 comments
Sebetulnya ada satu poin penting yang sengaja ngga gw tulis di bagian pertama, yaitu:
"Strategic planning in advertising is not a role. It is a mindset"

Bicara soal mindset, pastinya berurusan dengan proses berpikir. Nah, di sinilah hubungannya dengan Akber yang gw ikuti Kamis kemarin. Bedanya, kalau sebelumnya yang dibahas adalah tentang strategi, sekarang tentang kreativitas.

Awalnya, gw ngga terlalu niat ikutan, soalnya ngga tau pembicaranya dan tempatnya. Tapi pas tau temanya, hmm.. sepertinya menarik. Boleh lah daftar. Ternyata... SEMENARIK ITU LOH!!! Keputusan yang tepat banget impulsif ikutan kelas ini. Thanks Gus infonya!

###

Sharing Kang Motulz dibuka dengan pertanyaan:
"Kreatif itu... bakat atau minat?"

Intermezzo dikit. Lucu deh. Di awal, Kang Motulz keliatan 'gemes'. Kaya pengen numpahin isi kepala, tapi somehow kecepatan melisankan ide ngga sekilat kecepatan cahaya ide tersebut terbersit.

Kaya ngeliat diri sendiri. Saking banyaknya yang pengen disampaikan sampai 'tersesat dalam kalimat'. Trus ada fase melambat sejenak (bahkan tau-tau berenti) buat ngecek, yang dengerin paham ngga? Tapi saat ketemu 'klik' nya, ngalir gitu aja.

Observasi sotoy sih, tapi seru aja merhatiin beginian, hihihi.

Oke. Kembali soal bakat dan minat. Singkat cerita, jawabannya adalah bukan dua-duanya. Ya ya ya, ketebak *isssh, songong luh! Dengerin dulu sih penjelasannya.

Jadi, kata Kang Motulz, kreatif itu kemampuan dasar berpikir. Semua orang pasti bisa jadi kreatif selama diasah. Intinya, perkara mindset, sama kaya strategic planning. Dan cara mengasahnya adalah melalui "pencerapan" panca indera (melihat, mendengar, merasa, dll).

Ya ya ya, bukan barang baru. Well, at least 'mencerap' kosakata baru *yeee.. blom selesai, Neng!

Penjelasan berlanjut pada perbedaan rasa dan logika, yang dicontohkan lewat kegiatan menggambar. Dia kasih contoh-contoh lukisan yang membedakan antara Timur (rasa) dengan Barat (logika). Misalnya, cara orang Eropa dan Cina memandang sebuah perspektif.

Kalau menurut teori perspektif, semakin jauh sebuah objek, semakin kecil gambarnya. Itu tipikal lukisan realis di Eropa. Sementara di Cina, perspektifnya lebih 'simbolik'. Semakin jauh objeknya, semakin ke atas. Ah, ini harus pake contoh visual sih. Susah jelasinnya lewat tulisan.

Liat di sini deh, halaman 8-9.

Di halaman 12, kita bisa liat lukisan India yang logika perspektifnya (secara keseluruhan) emang salah, tapi ada yang menarik di sini. Dalam beberapa detail seperti kotak emas di tengah, lukisan tersebut menggunakan perspektif yang benar, walaupun cuma sebagai ornamen dekoratif.

Oh ya, kalau diperhatikan lagi, lukisannya tampak simetris, walaupun ada variasi seperti orang-orang di sisi kiri dan kanan. Selain itu, detail dekornya berpola, seperti lis emas pada wallpaper di ruangan Raja.

Ternyata, hal ini karna pengaruh seni kaligrafi Arab yang banyak memakai pola dan cenderung simetris. Kalau mau liat letak geografis, Arab itu ada di perbatasan Timur dan Barat, yang berarti lukisan India ini contoh kolaborasi dari rasa dan logika.

Kesimpulannya:
"Kreatif adalah kemampuan yang fleksibel dalam menggunakan logika dan rasa secara bergantian"

Kalau ibarat tombol, orang yang kreatif itu bisa ngatur switch on-off nya si rasa dan logika ini. Bisa juga mencet dua-duanya sekaligus *nahlo, gimana tuh caranya?

Menarik banget yah! Udah deh luntur semua "ya ya ya I knew it already", berganti dengan "IH GW BARU TAUUU!!!"

Sebelum sesi tanya jawab, sesi penjelasan ini ditutup dengan:
"Kreativitas adalah kemampuan komprehensif kita dalam berpikir, bertindak, dan memecahkan masalah. Semua orang mampu melakukannya bukan? Tapi pertanyaannya... maukah?"

Gw sih mau bangeeet!

###

Dari gunungan hal menarik yang didapat selama kelas Akber ini, ada dua hal yang menurut gw paling berkesan dan gada di slideshare, yaitu:

Pertama, ucapan yang 'AHA!' abis:
"Orang yang pandai menjawab belum tentu pandai bertanya. Kenapa? Karna pendidikan kita selama ini berfokus pada menjawab dengan tepat, bukan membuat pertanyaan yang tepat"

Inovasi kreatif, temuan ilmiah, karya seni, ide spektakuler, dll selalu dimulai dengan pertanyaan. Jadi, belajarlah bertanya untuk mencari jawaban, bukan menjawab pertanyaan. Karna itu porsinya Google, Galileo, dan pemirsanya Dora.

Naaah, ini berhubungan dengan cerita berikutnya.

Kedua, cerita Kang Motulz waktu dia pergi ke sebuah pameran. Jadi, dalam pameran itu, semua karya seninya berbentuk kotak. Ada batu yang dipahat menjadi bentuk kotak, kayu kotak, besi kotak, pokoknya semuanya kotak. Kalau bisa, sponsornya Teh Kotak deh!

Hal ini bikin Kang Motulz penasaran. Akhirnya dia nanya ke seniman yang bikin pameran itu.

Kang Motulz: "Mas, yang bikin ya?"
Seniman: "Iya betul"
Kang Motulz: "Mau nanya nih mas. Kenapa kotak semua ya?"
Seniman: "Mungkin saya salah, tapi di dunia ini, yang bentuknya kotak cuma buatan manusia"

GOKIL!!! MINDFUCK ABIS!!!

Si Kang Motulz langsung ngerasa beruntung udah nanya. Semenjak itu, dia jadi merhatiin, apa iya buatan Tuhan gada yang bentuknya kotak? Iya juga ya. Yang bentuknya segitiga ada. Bulet banyak. Kotak? Ah masa sih gada?

###

Dan gw pun pulang dengan membawa banyak pertanyaan. Sekaligus jawaban.

Berpikir Strategis dan Kreatif (bagian 1)

0 comments
Tiap gw ikutan Akber pasti 'diteror' Agus suruh cerita di blog, haha. Yauda deh gw cerita. Emang pengen nulis tentang ini juga sih.

Jadi ceritanya...

Dua kamis berturut-turut, gw ikut kelas Akber Jakarta. Di Kamis pertama, tentang profesi "Strategic Planner" dengan om favorit gw -Om Piring- sebagai gurunya. Di Kamis berikutnya, kelasnya Kang Motulz yang berbagi mengenai kreativitas. Temanya "Creative for Everyone"

Karna kebetulan dua tema ini saling berhubungan dan kedua gurunya berkecimpung di industri kreatif, mungkin bisa gw coba gabung jadi satu. Eh maksudnya satu yang dibagi dua *labil ih.

###

Dalam sesi Om Piring, dia menjelaskan bahwa seorang strategic planner merupakan jembatan dari tiga peran penting dalam industri kreatif. Gampangnya, gw bikin istilah P3K (Penghubung Klien, Kreatif, dan Konsumen).

Fungsi strategic planner ini mirip penerjemah. Jadi, saat dapet brief dari klien, dia menerjemahkan 'bahasa riset' ke dalam bentuk creative brief untuk tim kreatif.

Creative brief ini udah diolah sedemikian rupa dari proses koleksi informasi, riset pemasaran, turlap nanya langsung ke konsumen (kualitatif), analisa makro ekonomi, data penjualan, dll.

Intinya, selain jadi penerjemah, strategic planner tuh juga semacam Google: bank data.

Dia juga harus bisa jadi representasi konsumen. Istilahnya, kalau DPR itu wakil rakyat, strategic planner ini wakil konsumen. Jangan sampe 'lost in translation'. Klien maunya A, tim kreatif bikinnya B, eeeh.. taunya konsumen sebetulnya butuh C.

Kan jadinya Jaka Sembung bawa golok.

###

Sebetulnya, strategi itu sendiri apa sih? Om Piring bilang, ada dua hal:
  1. Memahami masalah
  2. Mencari solusi

Einstein pernah bilang gini:
"If I had an hour to solve a problem, I'd spend 55 minutes thinking about the problem and 5 minutes thinking about solutions"

Om Piring ambil contoh film Dr. House, di mana 7/8 durasi per episodenya diabisin buat uprek-uprek nyari tau penyakit, sisanya baru buat nyembuhin si pasien. Ngga seru juga sih ya kalo baru 15 menit mulai trus udah tau sakit apa dan obatnya apa.

Nah, makanya, proses memahami masalah itu butuh waktu lebih lama ketimbang mencari solusinya. Kenapa? Karna sesungguhnya menjabarkan permasalahan adalah sebagian dari iman solusi. Kira-kira begini:
"A problem well defined is a problem half solved"

Jadi, strategi adalah upaya memahami permasalahan untuk mencari solusi yang paling tepat. Ngga ujug-ujug kasih solusi yang ngga relevan sama masalahnya. Itu sih intinya.

###

Ada dua hal yang menarik sepanjang dua jam kelasnya Om Piring ini.

Pertama, peran strategic planner sebagai pengatur respon yang diinginkan dan tim kreatif sebagai pencipta stimulus.

Dia ambil contoh Megan Fox. Respon yang diinginkan adalah melihat sosok Megan Fox sebagai cewek seksi. Ini tugasnya strategic planner.

Sementara yang 'mancing-mancing' aka bikin stimulus itu tim kreatif. Mereka yang nyari gambar Megan Fox ngemut-emut es batu pake bikini sambil shower-an di pinggir pantai dan bikin cowok-cowok nganga sempurna dan cewek-cewek iri liatnya.

Atau contoh lain: Android mau merebut pasar BB. Masalahnya, pengguna BB itu ibarat warga Jakarta yang benci macet tapi tiap hari tua di jalan. Ya mau gimana lagi? Nyari nafkahnya di situ.

Suka ngga tinggal di Jakarta? Ngga. Pindah ngga? Ngga juga.

Sama kaya BB. Di tahun 2012, orang Indonesia merupakan pengguna BB terbanyak se-Asia Pasifik. Emang beneran suka pake BB? Menurut ngana?! Udah lemot banget, sering nge-hang, batre cepet nge-drop pula. BAH! *banting meja*

Tapi yaaa.. semua kontak BBM ada di situ. Jadi yaudalah, daripada ketinggalan gosip tetangga punya istri simpenan, info berlian diskonan, broadcast kelas dadakan, kehilangan investor milyaran, aku rapopo kak.

Hmm.. berarti udah ketauan kan masalahnya: benci BB tapi butuh BBM.

Jadi yaudah, gini aja: bilang ke mereka, pake Android bukan berarti putus kontak. Yaelah bro, kan ada Whatsapp, Line, KakaoTalk, Google Hangout, dan aplikasi messenger lainnya. Makin banyak alternatif. Bisa buat main Angry Birds pula. Lah kalo BB? Buat nelfon sama BBM doang kan?

Smartphone jejadian itu mah!

Abis itu baru deh si tim kreatif jadi Bang Thoyyib begadang ngga pulang-pulang demi bikin iklan dengan tagline "Saatnya ganti ke smartphone beneran"

Kedua, strategic planner harus jago 'ngulik' kaya wartawan investigasi. Ngga boleh cepet puas. Harus kepo tingkat dewa. Nanya terus kaya Dora. Karna dari situlah insight paling 'kena' bisa didapat.

Misalnya: sebuah riset menyatakan bahwa ibu rumah tangga memakaikan bedak bayi tabur (yang biasanya buat badan) pada sore hari. Udah? Gitu doang mah kurang 'nampol' cyiiin.

Kalau mau ditelusuri, sebenernya ada yang 'ganjil' di sini. Kalau itu bedak buat badan, kenapa muka juga dibedakin? Ada apa gerangan? Jeng jeng jeng jeeeng! Singkat cerita, dari proses blusukan nanya langsung ke ibu-ibu, akhirnya ketemu insight menarik: mencari pengakuan.

Jadi ternyata, ibu-ibu itu kalau sore biasanya suka rumpi sama tetangga sambil bawa anak. Makanya anaknya didandanin biar diomongin tetangga "ih anaknya cakep ye, wangi melati lagi. Siapa sih ibunya? Oh bininya Bang Somad. Pinter ye dese ngurus anak"

SIP LAH! Bungkus, kasih ke tim kreatif. Pikirin deh tuh gimana iklannya.

###

Begitulah kira-kira yang bisa gw bagi tentang kelas Akademi Berbagi yang bener-bener bikin hepi. Ya gimana ngga? Bertaun-taun nge-fans, akhirnya punya kesempatan buat ketemu dan ngobrol bareng si Om ini. Bahkan dapet kartu nama dan bisa foto bareng berdua.

Oh ya! Satu pesan yang semoga akan gw inget selamanya *aamiin:
"Stay humble. Dengan rendah hati, kita ngga ngerasa pinter dan akan terdorong untuk terus belajar" 

Iya Om insya Allah :">


PSS: Post-Starstruck Syndrome

Wednesday, March 26, 2014

Passion, Follow Me!

0 comments
"Follow your passion", said everyone

Della 1: Emang passion lo apa?
Della 2: Auk! Passion tuh apa sih?
Della 1: Hmm.. katanya sih sesuatu yang kita sukai dan dikerjakan dengan senang hati, bahkan rela ngga dibayar
Della 2: Kalo gitu, tidur kali ya?
Della 1: Del, plis........

Beberapa tahun yang lalu, gw termasuk penganut mindset "follow your passion". Jujur aja, mindset itu bikin galau. Ya gimana ngga? Salah satu mimpi gw adalah jadi copywriter, makanya gw milih penjurusan iklan. Udah fix banget dari semester awal.

Saat magang jadi copywriter, gw ngerasa udah ada di jalur yang bener. Tapi di tengah, gw kewalahan juga karna semua ide dimentahin, sementara yang diminta harus mateng sempurna. Yuk yak yuk jadi koki sajalah.

Sebetulnya gw blom mau nyerah, tapi ada titik di mana gw mulai lelah dan melakukan pembenaran "syitmen, apa jangan-jangan ini bukan passion gw? Trus selama ini?". Sedihnya, ketika gw mulai berpikir demikian...

I'm lost. Do I really want to be a copywriter? Am I capable for that?

Tapi waktu ngga pernah mau nunggu. Magang jalan, TKA juga harus jalan. Tau-tau, gw udah lulus aja. Tau-tau, gw udah dapet kerja aja. Udah deh tuh, semua berjalan tanpa tau apa sebenernya passion gw. Dari yang galau naujubilah oyasuminabilah jadi yaudalaaah! Fuck passion. HAH!

Pekerjaan pertama gw setelah lulus adalah... Ijah, alias pembantu umum di Toko Kelontong Palu Gada, singkatan dari "aPA LU mau, Gue ADA". Ngga deng!

Selama 1 tahun 4 bulan, gw kerja di konsultan pemasaran. Jobdesc utama gw yaitu bikin planning seputar ide-ide kreatif, nge-design dummy, dan present ke Pak Bos dan klien.

Gw sebenernya bingung kalau ditanya jabatan. Yang tertulis di kontrak sih "researcher", tapi ngga sah banget risetnya, wong ngumpulin datanya aja dari internet. Bahkan metode penelitiannya pake common sense, yang penting nemu ide. Lah piye berani-beraninya nyebut "researcher"?

Akhirnya gw mengajukan usul ke Pak Bos, boleh ngga di kartu nama ditulisnya "creative officer" aja? Dan disetujui Pak Bos yang baik hati. Kece kan? Mayan pencitraan lah ya.

Intinya, selama bekerja, gw mulai melupakan mimpi jadi copywriter. Masih pengen sih, tapi ntar lah. Ini aja blom kelar. Satu-satu.

Sampai akhirnya gw resign dan jadi volunteer kompetisi iklan, gw mulai teringat kembali mimpi tersebut dan mempertanyakan lagi: apa passion gw?

###
"Nothing worth having comes easy", said everyone

Della 1: TUH DEL TUH!!!
Della 2: Yaelah bro. Ngga musti bikin segalanya jadi dipersulit juga keleuuus!
Della 1: Ya sih........

Mengikuti kata hati, intuisi, passion, atau apa pun pastinya ngga mudah. Ya kalo doski belok sementara kita maunya lurus kan jadi masalah.

Gw jadi berpikir, apakah emang hal yang berharga itu beneran susah didapat atau kitanya aja yang nyusahin diri sendiri?

Yaaah.. beda tipis sih ya antara "sesuatu yang berharga itu ngga bisa dimiliki dengan mudah" dan "mempersulit diri sendiri padahal yang berharga ada di depan mata".

Anyway, kmaren gw abis liat path nya Shasha yang nge-share tulisan ini dan ini. Intinya, artikel tersebut nyoba kasih perspektif baru tentang si passion yang pengikutnya banyak itu.

Si penulis mencoba mencari padanan kata "passion", dan ketemulah "renjana". Jadi, mulai sekarang nyebutnya "renjana" aja ya. Kalau Rinjani nama gunung soalnya.

Dalam dua artikel tadi, salah dua sumbernya adalah video dan buku Cal Newport berjudul "So Good They Can't Ignore You". Sedikit yang bisa dikutip dari videonya:
"It's not how you get started that matters, but maybe, what matters is what you do once you get going"

Gw pengen ambil analogi sederhana: Jodoh. Katanya, milih jodoh tuh cocok-cocokan, yang salah satu tandanya adalah chemistry. Berpegang pada 'kitab' "katanya" itu, dimulailah proses pencarian soulmate-sampai-mati.

Singkat cerita, seorang Sun Go Kong sang jomblo idealis akhirnya berhasil menemukan 'kitab suci jodoh' dan soulmate sejatinya. Tapi baru bentar udah pisah, katanya ngga cocok. Loh, dulu katanya gada lagi di dunia yang secocok sama dia?

Kalau dikaitkan sama kata-kata si Cal Newport, yang penting bukan chemistry di awal, tapi menciptakan chemistry di perjalanan. Yang penting bukan soal menemukan soulmate, tapi gimana mempertahankan hubungan.

###

Nah, hal yang sama juga berlaku untuk renjana. Mindset "kerja harus sesuai renjana" sama seperti mindset "jodoh harus soulmate". Makanya, saran untuk mengikuti renjana dinilai kurang tepat.

Kenapa? Ya biar ngga bernasib kaya Sun Go Kong. Sampai kiamat pun gatau deh jadinya ketemu apa ngga.

Dalam artikel ini, Newport menyebutkan tiga atribut untuk mencapai kepuasan dalam sebuah pekerjaan, yaitu:

  1. Sense of autonomy: kita merasa punya 'ruang gerak' untuk bekerja dan berkarya
  2. Sense of mastery: kita merasa punya 'modal' keahlian dan terus mengasahnya
  3. Sense of purpose: kita merasa punya 'tujuan' dalam berkontribusi


Seperti semua keahlian, untuk menguasai sesuatu, kita butuh pengulangan. Bukan ulang sampai berhasil, tapi sampai ngga pernah gagal. Dan dalam prosesnya, mungkin banget mentok dan mengalami kebosanan.

Bisa bosen karna ngulang yang itu-itu lagi, bisa juga karna saking susahnya, mau diulang kaya apa juga percuma. Levelnya ketinggian. Di sinilah sense of mastery kita diuji. Mental playboy yang ngga cocok dikit ganti atau mental geek yang coba terus sampai ngga makan ngga mandi?

Sense of mastery berhubungan pula dengan sense of autonomy dan sense of purpose. Gw jadi inget twit Miund. Dia bilang gini:
"...kalo kerjaan beres, karir naik, uang pasti tambah banyak. Hence, tampil keren deh akhirnya"

Kalau dalam menyelesaikan pekerjaan kita selalu berusaha yang terbaik, lama-lama kita akan ahli di bidang yang ditekuni. Kalau udah jadi ahli, akan ada banyak tawaran karena skill kita dibutuhkan. Otomatis, karir naik dan peluang untuk punya 'ruang gerak' jadi lebih banyak.

Ketika kita punya wewenang lebih dalam bekerja dan berkarya, kita akan lebih merasa mampu mencapai tujuan. Tampil keren misalnya. Cetek abis ya? Yaudah deh tujuan yang lebih 'dalem': menjadi berguna. Berkontribusi pada dunia. Beuh.

Naaah! Modal ada. Ruang gerak ada. Tujuan ada. Masih mau ngikutin renjana?

Intinya, kerja ngga sesuai renjana ngga berarti hidup jadi ngga bermakna. Renjana adalah akibat, bukan sebab. Kalau tiga atribut tadi udah tercapai, renjana pasti akan mengikuti dengan sendirinya.

Be so good that they can't ignore you and say "passion,  follow me!"

#Notetoself banget lah ini.

Tuesday, March 18, 2014

PMS: Post Moving-Out Syndrome

0 comments
"Ada indah di tiap pindah" - Anonymous
Harusnya sih gitu ya. Tapi kenyataan mah gada indah-indahnya. Prosa boleh berbunga, tapi utang juga. Mamam deh tuh kalimat pujangga.

Anyway, jadi ceritanya, gw pindah rumah. Di otak gw, pindah identik dengan beres-beres. Cuy, dengan segala kerempongan dunia itu, sisi mananya yang indah?!

IYUUUH! Langsung gatel-gatel ngebayanginnya. Semacam alergi beres-beres. Tapi ya gimana? Mau ngehindar kaya apa pun ke mana pun, kalau ngga beres-beres ya ngga bakal beres. Huftness maximum high tension lah kalau kata Jeketek48.

Dari awal bulan sebetulnya udah diingetin kalau akan pindah tanggal 15. Tapi karna gw anaknya hobi nunda, tau-tau udah H min sekian aja. Ohmen! Yaudah deh, mari berkemas kilat. Hoahm magernyaaa.. ngga bisa apa ya semua barang rapi dengan sendirinya?

Berhubung HARUS, gw pun mau gamau menyeret diri untuk mulai memilah dan memilih kenangan. Mana yang bisa disimpan, mana yang harus ditinggal.

Sedikit demi sedikit, barang-barang yang tadinya penuh sesak dan penuh butiran debu itu mulai masuk kotak atau tempat sampah. Lemari mulai lowong lalu akhirnya kosong. Perasaan mulai campur aduk.


Ah, kekosongan itu emang selalu menyisakan kehampaan sekaligus harapan yah.

Mulai deh mellow. Rumah yang selalu jadi tempat pulang selama 20an tahun, sekarang cuma akan jadi seonggok bangunan beda tuan. Rumah yang jadi saksi masa pertumbuhan, sekarang harus jadi saksi bisu perpisahan. Rumah yang........ oke, stop.

Tapi terus gw inget buku "Manusia Setengah Salmon" nya Raditya Dika, di mana dia banyak bicara tentang pindah.

###

"Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah."

###

Hmm.. manusia setengah salmon ya.

Salmon. Hewan anti mainstream yang selalu berenang upstream. Selalu berpindah. Ngga takut berubah. Sementara manusia sebaliknya. Seringkali terjebak dalam zona nyaman. Zona aman. Ikut arus. Mencari kepastian.

Jadi inget kata-katanya Cune "ada dua golongan ekstrim: yang menolak perubahan dan yang penting berubah. Semoga kita bukan salah satu dari keduanya" (kemudian aamiin massal)

Dari situ, gw mulai berpikir. Mungkin, keindahan sebuah perpindahan terletak pada proses migrasi para manusia setengah salmon. Golongan yang berani pindah, siap berubah tapi ngga asal berubah, dan yang terpenting: ngga menoleh dan berbalik arah.

Karna move out itu pasti, move on itu pilihan.

Wednesday, March 12, 2014

Trust Issue (part 2)

0 comments
(sambungan)

Sampai mana tadi? OH! Sampai pertimbangan gw untuk menaikkan 'pangkat' beberapa temen deket gw menjadi sahabat.

Well, I haven't decided yet, but I DO consider some names. I won't write all their names down, but I'll share one of them.

Namanya Dini. Temen SMA yang super genggesss. Anaknya kepo berlebih. Kalah deh wartawan infotainment. Kalo udah penasaran, bakal dikejar sampai ke ujung dunia. Anaknya juga paling ngga bisa ngga 'deket' sama orang (aka cowo), walaupun ngga semuanya 'jadi'.

Bukan genit sih, cuma ya emang dia gampang deket aja sama orang. Cantik juga, jadi yaudah, rezekinya dia. Tapi biarpun Dini "tiap tikungan ada abang sayang", anaknya sebetulnya setia. Salut sih.

Doski juga anaknya suka dengan semena-mena ngejadiin gw 'konsultan'. Apa-apa nanya "menurut lo gimana?" Ya bukan menurut guweee.. menurut lo lah Din! Zzz. GENGGES ABIS KAN KAN KAAAN???

Duh, ini kalo anaknya baca ngamuk ngga ya? Huahaha. Bodo ah!

Sebetulnya, selain karna 'trauma', alesan gw masih mengosongkan posisi sahabat itu karna gw selalu berpikir bahwa temen itu datang dan pergi silih berganti. Rata-rata menghilang dengan perlahan tapi pasti.

Jadi, yaudalah. Mungkin pertemanan emang punya masa kadaluwarsa. Ngapain berharap ada yang masih mau nemenin seumur hidup?

Iya, sedalem itu arti sahabat buat gw. "Teman hidup" kalo kata judul lagunya Tulus. Bahkan, buat gw, posisi pasangan itu ada di bawah sahabat, walaupun harusnya sih masuk irisan. Ngok. Ini ribet amat ya.

Ya intinya, gw masih ragu, apa bener ada orang yang bisa dipercaya sebagai sahabat? Orang-orang yang selamanya ngga akan gw 'lepas' dan 'ngelepas' gw gitu aja. Eleuh eleuuuh. Lebay pisan neng. Biarin ah. Kali-kali.

Lanjut soal Dini. Kenapa Dini?

Pertama, kami udah jadi temen deket selama 1 dekade. Gw pernah baca di manaaa.. gitu. Kalo masih awet temenan sampai 7 tahun, berarti akan awet temenan selamanya. Gw aamiin aja deh.

Kedua, kalo tadi alasannya terukur, sekarang lebih abstrak: karna fluktuasi pertemanan kami stabil. Ngga neko-neko banget temenan sama Dini tuh, walaupun........

Gw cuek, dia sporadis.
Gw males, dia rajin.
Gw ngga sensitif, dia super peka.
Gw santai, dia rempong.
Gw socially awkward, dia 'nempelan'.
Gw 'dingin', dia unyu.
Gw individualis, dia kolektivis.
Gw paling ngga bisa ngungkapin hal yang 'lalala banget', dia ekspresif.

Meskipun segitu bertolak belakangnya, sejauh ini sih ngga pernah ada masalah yang berarti. One of the most effortless LDF (Long Distance Friendship) I ever had. Iyuh, apa banget.

Ketiga, karna Dini sering banget nyebut gw sebagai sahabatnya, sementara gw masih takut mengakui. Haha, alesannya cetek ya.

Ini gw beruntung banget sih. Gw yang secuek dan sedingin ini buat usaha ngebangun pertemanan, dikasih temen macem Dini yang 'nrimo'. Sabar banget doski ngadepin gw yang males ngontek duluan dan susah diajak ketemuan karna berbagai alesan. MB misalnya.

Alih-alih protes, dia justru selalu nge-support gw ngembe. Di saat anak non-MB lain cuma bisa bilang "ngembe mulu lo Del" si Dini bahkan pernah bilang "Del, gw abis nonton video MB lo. Ngerti sekarang kenapa lo betah banget ngembe. Good luck ya!"

COBA DEEEH GIMANA NGGA BIKIN SPEECHLESS :'''''''')

Udah gitu, gw kan anaknya ngga terlalu nganggep ultah itu sesuatu yang 'wah'. Inget sih inget, tapi kadang lupa juga. Dan buat gw, ngga perlu lah sampe harus nelfon tengah malem atau kasih surprise dsb. Doa aja sebetulnya udah cukup.

Tapi si Dini, dari dulu selalu konsisten jadi orang pertama yang ngucapin ultah via telfon dan ngga pernah protes kalo gw cuma kirim teks pas dia ultah.

Mana gw kalo sama Dini kan suka ketus. Sebel abisnya ditanyain pendapat yang sebetulnya dia bisa mikir sendiri. Udah gitu suka memperumit masalah yang sebetulnya simpel. Bikin pusing dirinya sendiri.

Walaupun gw udah afal mati sama kehidupan rempong nya, tetep aja sering ngga abis pikir sama jalan pikirannya. Udah ngga keitung omongan 'sadis' yang gw rasa cuma Dini yang bisa nerima tanpa sakit hati dan malah respon "omongan lo nampar gw banget"

Err.. ini sih sebetulnya biar anaknya kapok. Tapi ngga kapok-kapok tuh, heran juga -___-

Well, I'm actually very careful at picking words, because I know I'll feel bad and guilty if people get hurt because of me. Yeah I know, it's a very selfish reason. But with Dini, I can be worry-free about everything, including my choice of words.

Salah satu momen yang bikin lega karna dia tau banget gw gimana adalah saat dia putus. Gw bingung harus ngomong apa waktu itu, nemenin aja sambil elus punggung dan dengerin dia cerita.

Abisnya kan gw sebetulnya seneng dia putus, tapi sedih ngeliat si Dini galau mulu. Gawat juga kaaan kalo gw ngomong trus jatohnya 'pedes'. Walaupun gw tau Dini mungkin udah terbiasa, tapi yaaa.. liat sikon lah. Jadi mending diem, walaupun mati-matian banget nahan buat bilang "I told ya"

Eh si Dini komennya "tumben lo Del ngelus punggung gw. Tau banget gw lagi sedih. Thanks ya"

That "yokatta" moment when........ people can 'read' your awkwardness in doing unusual act and fully understand your inability to say any comforting words.

In sum, the main reason is: because no matter how badass I am, she never leaves me. Proven since 10 years ago. Btw, may I say "I told ya" now? Because you DO deserve better.

Semoga kali ini Allah lupa ngasih tanggal kadaluwarsa :)

Foto 4 tahun yang lalu. Ceritanya mau ikutan lomba 17an. Ngga deng!

Trust Issue (part 1)

0 comments
Alkisah, gw pernah nge-post tentang berbagi. Untuk beberapa hal, gw susaaah banget berbagi. Cuma buat orang-orang tertentu aja. Itu pun ngga semua hal bisa gw bagi. Sebetulnya gw tau banget kenapa, tapi masih bingung kenapa bisa segitunya.

Lalu beberapa hari yang lalu, saat lagi beres-beres rak buku, gw menemukan 'barang bukti' berupa curhatan gw sendiri yang bikin "oooh pantes". Antara lega dan sedih sih. Lega karna akhirnya paham, sedih karna cuma gara-gara hal sepele, dampaknya bisa sedahsyat itu.

Tapi yaaah.. kadang kita susah ngebedain hal-hal yang emang sepele sama hal-hal yang keliatannya sepele. Iya ngga sih? Gw gitu soalnya.

Jadi begini ceritanya...

Dulu tuh zaman SD, gw punya 2 orang sahabat. Kami akrab banget. Ke mana-mana bareng dan tiap pulang sekolah digilir siapa main ke rumah siapa. Saat itu, kami bikin kesepakatan non-verbal untuk saling berbagi apa pun, termasuk rahasia paling pribadi. Istilahnya, "tiada rahasia di antara kita".

Gw ceritain cowo pertama yang gw taksir (anggep aja namanya X) dan gw share juga kode rahasia yang dengan susah payah gw ciptakan sendiri, yang gw tulis di buku curhat kami bertiga. Segitu spesialnya mereka di mata gw. Segitu percayanya gw sama mereka.

Sampai suatu ketika, tau-tau gw dimusuhin. Kabar gw naksir si X tersebar ke mana-mana. Kode rahasia gw pun juga. Dan entah gimana, gw mendadak jadi sering dikerjain. Pensil gw dipatahin lah, buku gw dicoret-coret lah, dll.

Gw syok banget, tapi ngga nangis, ngga juga ngelawan balik. Diem aja. Tapi, wali kelas gw ngeh dan minta diceritain apa gw ada masalah. Saat itu gw malah sebel dan mikirnya "mau tau aja sih urusan orang". Ada guru yang ikut campur justru nambah-nambahin masalah soalnya.

Ngga cukup sampai di situ, gw pun jadi ngga punya temen. Karna sahabat gw cuma mereka berdua dan temen gw ya temen mereka juga, jadinya saat mereka musuhin gw, otomatis gw ngga punya temen lagi.

Satu-satunya yang mau temenan sama gw cuma Y, seorang artis pendatang baru yang juga dimusuhin temen-temennya karna dia syuting mulu, jadi jarang masuk sekolah. Emang deh, zaman SD tuh penuh drama, mean girls di mana-mana -___-

Lalu di suatu masa saat gw ultah, tau-tau mereka minta maaf ke gw. Oke lah gw maafin walaupun masih sakit hati banget. Tapi abis itu gw dikerjain lagi. Yaaah.. biasa sih. Diceplokin telor, diguyur air, 'dibedakin' pake tepung, dll. Wajar lah, kan lagi ultah.

Kalo ngga pake dimusuhin, rahasia dibocorin, dll mungkin gw akan mewajarkan jadi 'korban ultah'. Tapi ini makin bertumpuk aja sakit hatinya dikerjain kaya gitu. Apalagi abis itu gw ditinggal gitu aja, sementara gw masih ada les. Parah banget sih itu.

Gw ngga pernah konfrontasi langsung, dan entah gimana, hubungan pertemanan kami kembali baik-baik aja. Tapi sejak saat itu, gw jadi 'trauma' buat percaya lagi sama orang lain.

Gw pun jadi takut buat naksir lagi sama cowo karna khawatir 'digituin' lagi sama sahabat sendiri. Bahkan gw udah gamau lagi make istilah "sahabat".

Sampai sekarang pun, gw masih mikir seribu juta milyar kali buat memberi gelar "sahabat" pada seseorang atau beberapa orang, setinggi apa pun proximity level nya. Ya setinggi-tingginya, paling gw sebut "temen deket". Ngga pernah sampai jadi sahabat.

Dalam degree of friendship versi gw, level tertinggi adalah sahabat. Kedua adalah temen deket. Ketiga adalah 'entahlah-apa-namanya'. Keempat adalah temen biasa. Kelima adalah kenalan.

Saat ini, kedua mantan sahabat gw itu masuk ke dalam level temen biasa. Sekarang sih beneran emang udah biasa banget, walaupun dampak ke gw perihal 'trust issue' sama sekali ngga biasa.

Tapi makin ke sini gw makin sadar bahwa lingkaran kedua gw mengecil namun menebal. Gw pun mulai berpikir untuk menaikkan 'pangkat' beberapa orang temen deket gw. Mungkin emang udah waktunya untuk........

........percaya.

Fuuuh! This will be very risky. I really don't wanna get hurt no more. This 'trust issue' thing really consumes half of my ages.

(bersambung)

Monday, March 10, 2014

Wishlist

0 comments
Aaak.. bulan Mei nanti gw menginjak umur 25. Seperempat abad loh! Check point hidup banget. Bisa ditunda ngga sampe gw siap dulu? PLIS!

Btw, ini siapa sih yang optimis buta kalo lifespan manusia nyampe seabad?

Eniweeei, gw kan jarang ya ngerayain ultah. Dapet ucapan aja udah sukur (segitu rendahnya ekspektasi, haha). Tapi buat kali ini, pengen banget 3 hal ini:
  • Surat panjang tulis tangan balesan dari siapa pun yang pernah gw kasih surat (EHEM #kode sana-sini)
  • Ultah di camp PM 8. Fyuuuh, nulis ini aja deg-degan. Blom tentu keterima juga soalnya. Dan udah pasrah banget sebetulnya. Cuma yaaa.. ngarep boleh laaah! --> Universe has a better plan for me maybe
  • Ngelengkapin buku dan komik serial yang bolong-bolong nomernya. Ini pada ilang-ilangan ke mana ya? Huuuft. Dulu aja dicuekin. Giliran disusun, nyesel sendiri kenapa ngga dijaga baik-baik 'harta karun' nya

Trus mendadak lagi mood buat introspeksi diri, padahal 25-nya masih lama, hahaha. Yaudalah, ntar aja pas hari-H nya. Sekarang? Harap-harap cemas nungguin wishlist yang kedua bisa kesampean apa ngga. Beneran judulnya latian sabar banget lah ini :))

Tambahan:
Oh iya! Semalem ada yang ngabarin abis di-"yes"-in. Entahlah itu artinya apa, yang jelas kabar gembira. Wihiii.. nambah deh bonus satu wishlist: semoga pas gw ultah, lagi proses 'siap-siap' katering Italiano Mamamia Lezato.

"Masih nyariin spoiler hidup ngga nih jadinya?"
"Hahaha, ngga"

Hihi :3

Keren Itu Apa Sih?

0 comments
Jadi ceritanya...

Saat lagi scrolling timeline Twitter, gw liat Twitbung (Twit Bersambung) nya @miund yang membahas tentang pekerjaan, lebih tepatnya mengenai freelance. Meskipun keliatannya keren karna bisa jadi bos untuk diri sendiri dan bebas ngatur jam kerja, jadi freelance itu ngga selamanya menyenangkan.

Penghasilan ngga tetap, hasil kacrut karna kurang pengalaman, dan segala pasang-surut rintis usaha. Yang udah berpengalaman aja mungkin banget bergejolak, apalagi buat para starter. Jarang yang baru lulus langsung bisa sukses jadi freelancer.

Kata kuncinya: sabar. Bangun koneksi, pertajam skill, timba pengalaman, dll. Kalo misalnya udah freelance trus ternyata harus kembali jadi karyawan, ya gausa gengsi. Realistis aja lah, kerja ya buat cari uang.

Di zaman sekarang di mana kata "passion" jadi tren, semua orang berlomba-lomba bekerja atas nama "passion" itu. Iya ngerti, yang nge-tren emang terlihat keren. Tapi, bukan berarti hidup jadi kurang bermakna kalo pekerjaan ngga sesuai passion.

Ngomong-ngomong soal keren, sebetulnya, definisi keren itu apa sih? Keren menurut siapa? Apa indikatornya?

Jadi cerita selanjutnya...

Gara-gara Twitbung itu, gw tertohok dan teringat sebuah obrolan sama nyokab. Eh btw, itu Twitbung ngga persis kaya gitu bunyinya, interpretasi gw aja. Lampiran lengkapnya menyusul.

Lanjut.

Nah, waktu ngobrol itu, nyokab cerita kalo anak tetangga yang seumuran gw sekarang udah jadi konsultan dan lanjut kuliah S2. Gw tadinya "oh" doang, tapi seiring dengan cerita lanjutan "hebat ya dia udah mulai kerja dari kuliah, udah ngga tergantung orang tua, lanjut kuliah lagi, blablabla" gw mulai sensi.

Hmmmmmmmm.. maksudnya apa nih? Nyindir terselubung? Apa ngajak perang? *gosok pedang asah parang ngemil nasi Padang

Walaupun sambil mengernyit, gw berusaha positif. Barangkali emang dia sehebat itu. Tapi apa iya? Amacacih? Ciyus? Miapah? Egepe #lawas. Yaaah.. pengennya sih jadi dinoraurus, tapi boleh kali ya bertanya lebih lanjut. Dia jadi konsultan sendirian? Apa partner-an? Kalo partner-an, seberpengalaman apa partner-nya? Modalnya dari mana?

Nyokab ngga menjawab. Okeh, menjawab, tapi ngga tuntas dan jawabannya ngga bikin gw puas: modal dari orangtuanya. Ngga jelasin apakah dia sendirian atau partner-an. Soalnya, kalo partner nya berpengalaman ya wajar banget berarti. Ada backup-an.

Gini. Contoh paling gampang aja deh: gw pernah kerja di marketing consultant. Bos besar gw dari dulu cita-citanya mau bikin usaha, dan baru kesampean sekarang. Subhanallah banget lah kalo ngomongin pengalaman: puluhan tahun. Jam terbangnya udah tinggi. Mau main solo juga monggo.

Jadi, beliau itu 'ngelepas' jabatannya sebagai VP marketing sebuah perusahaan besar buat ngerintis usaha marketing consultant ini. Tuh! Udah mapan, udah 'aman', baru deh beliau bisa mewujudkan mimpinya itu.

Dulu tuh gw mau gabung karna alasan ini. Gw pikir, bakal seru banget nih kayanya jadi salah satu 'tokoh sejarah' yang berkontribusi dari awal. Yearite, idealis. Biasa laaah.. penyakit anak muda, hahaha.

Tapi yah, terjangkit idealis obatnya adalah realistis. Bercermin dari Pak Bos, gw menyadari bahwa tantangan jadi konsultan, freelance, enterpreneur, atau apa lah sebutannya itu gede banget. Jadi, marilah kita bermimpi tinggi, tapi selalu ingat: kenyataan menanti.

"Punya modal" bukan sekedar "punya duit", apalagi cuma "punya mimpi".

Dan untuk memperjelas semuanya, argumen gw ke nyokab adalah si anak tetangga yang seumuran gw itu masih terlalu muda untuk jadi konsultan. Itungan paling gampang banget adalah perkara jam terbang. Let say, dia lulus 2011. Berarti pengalaman kerja sebagai freshgrad baru 3 tahun.

Oke, tadi katanya dia udah kerja dari kuliah, yang mana kurang lebih 4 tahun. Berarti paling lama, pengalaman kerjanya adalah 7 tahun. Tetep aja judulnya "baru 7 tahun". Ya tapi gw mikir juga sih, di dunia ini gada yang ngga mungkin.

So, well.. let's call it my jealousy and insecurity then ;p

Gw sebetulnya bukan iri karna dia terlihat keren (berdasarkan cerita nyokab), tapi iri karna dia dibangga-banggain sama nyokab. Haha, sedih ya. Trofi kebanggaan nyokab gw ada di tangan "anak orang lain". Yaudalah ya tapinya. Jadiin motivasi aja.

Jadi, keren itu apa sih? Menurut gw simpel: bisa jadi kebanggaan nyokab. Entah dengan cara apa pun, lewat jalan apa pun. Walaupun mungkin hampir mustahil.

Someday, I'll be cool mom who can always be........ patient.

###

Lampiran: