Berpikir Strategis dan Kreatif (bagian 1)

Tiap gw ikutan Akber pasti 'diteror' Agus suruh cerita di blog, haha. Yauda deh gw cerita. Emang pengen nulis tentang ini juga sih.

Jadi ceritanya...

Dua kamis berturut-turut, gw ikut kelas Akber Jakarta. Di Kamis pertama, tentang profesi "Strategic Planner" dengan om favorit gw -Om Piring- sebagai gurunya. Di Kamis berikutnya, kelasnya Kang Motulz yang berbagi mengenai kreativitas. Temanya "Creative for Everyone"

Karna kebetulan dua tema ini saling berhubungan dan kedua gurunya berkecimpung di industri kreatif, mungkin bisa gw coba gabung jadi satu. Eh maksudnya satu yang dibagi dua *labil ih.

###

Dalam sesi Om Piring, dia menjelaskan bahwa seorang strategic planner merupakan jembatan dari tiga peran penting dalam industri kreatif. Gampangnya, gw bikin istilah P3K (Penghubung Klien, Kreatif, dan Konsumen).

Fungsi strategic planner ini mirip penerjemah. Jadi, saat dapet brief dari klien, dia menerjemahkan 'bahasa riset' ke dalam bentuk creative brief untuk tim kreatif.

Creative brief ini udah diolah sedemikian rupa dari proses koleksi informasi, riset pemasaran, turlap nanya langsung ke konsumen (kualitatif), analisa makro ekonomi, data penjualan, dll.

Intinya, selain jadi penerjemah, strategic planner tuh juga semacam Google: bank data.

Dia juga harus bisa jadi representasi konsumen. Istilahnya, kalau DPR itu wakil rakyat, strategic planner ini wakil konsumen. Jangan sampe 'lost in translation'. Klien maunya A, tim kreatif bikinnya B, eeeh.. taunya konsumen sebetulnya butuh C.

Kan jadinya Jaka Sembung bawa golok.

###

Sebetulnya, strategi itu sendiri apa sih? Om Piring bilang, ada dua hal:
  1. Memahami masalah
  2. Mencari solusi

Einstein pernah bilang gini:
"If I had an hour to solve a problem, I'd spend 55 minutes thinking about the problem and 5 minutes thinking about solutions"

Om Piring ambil contoh film Dr. House, di mana 7/8 durasi per episodenya diabisin buat uprek-uprek nyari tau penyakit, sisanya baru buat nyembuhin si pasien. Ngga seru juga sih ya kalo baru 15 menit mulai trus udah tau sakit apa dan obatnya apa.

Nah, makanya, proses memahami masalah itu butuh waktu lebih lama ketimbang mencari solusinya. Kenapa? Karna sesungguhnya menjabarkan permasalahan adalah sebagian dari iman solusi. Kira-kira begini:
"A problem well defined is a problem half solved"

Jadi, strategi adalah upaya memahami permasalahan untuk mencari solusi yang paling tepat. Ngga ujug-ujug kasih solusi yang ngga relevan sama masalahnya. Itu sih intinya.

###

Ada dua hal yang menarik sepanjang dua jam kelasnya Om Piring ini.

Pertama, peran strategic planner sebagai pengatur respon yang diinginkan dan tim kreatif sebagai pencipta stimulus.

Dia ambil contoh Megan Fox. Respon yang diinginkan adalah melihat sosok Megan Fox sebagai cewek seksi. Ini tugasnya strategic planner.

Sementara yang 'mancing-mancing' aka bikin stimulus itu tim kreatif. Mereka yang nyari gambar Megan Fox ngemut-emut es batu pake bikini sambil shower-an di pinggir pantai dan bikin cowok-cowok nganga sempurna dan cewek-cewek iri liatnya.

Atau contoh lain: Android mau merebut pasar BB. Masalahnya, pengguna BB itu ibarat warga Jakarta yang benci macet tapi tiap hari tua di jalan. Ya mau gimana lagi? Nyari nafkahnya di situ.

Suka ngga tinggal di Jakarta? Ngga. Pindah ngga? Ngga juga.

Sama kaya BB. Di tahun 2012, orang Indonesia merupakan pengguna BB terbanyak se-Asia Pasifik. Emang beneran suka pake BB? Menurut ngana?! Udah lemot banget, sering nge-hang, batre cepet nge-drop pula. BAH! *banting meja*

Tapi yaaa.. semua kontak BBM ada di situ. Jadi yaudalah, daripada ketinggalan gosip tetangga punya istri simpenan, info berlian diskonan, broadcast kelas dadakan, kehilangan investor milyaran, aku rapopo kak.

Hmm.. berarti udah ketauan kan masalahnya: benci BB tapi butuh BBM.

Jadi yaudah, gini aja: bilang ke mereka, pake Android bukan berarti putus kontak. Yaelah bro, kan ada Whatsapp, Line, KakaoTalk, Google Hangout, dan aplikasi messenger lainnya. Makin banyak alternatif. Bisa buat main Angry Birds pula. Lah kalo BB? Buat nelfon sama BBM doang kan?

Smartphone jejadian itu mah!

Abis itu baru deh si tim kreatif jadi Bang Thoyyib begadang ngga pulang-pulang demi bikin iklan dengan tagline "Saatnya ganti ke smartphone beneran"

Kedua, strategic planner harus jago 'ngulik' kaya wartawan investigasi. Ngga boleh cepet puas. Harus kepo tingkat dewa. Nanya terus kaya Dora. Karna dari situlah insight paling 'kena' bisa didapat.

Misalnya: sebuah riset menyatakan bahwa ibu rumah tangga memakaikan bedak bayi tabur (yang biasanya buat badan) pada sore hari. Udah? Gitu doang mah kurang 'nampol' cyiiin.

Kalau mau ditelusuri, sebenernya ada yang 'ganjil' di sini. Kalau itu bedak buat badan, kenapa muka juga dibedakin? Ada apa gerangan? Jeng jeng jeng jeeeng! Singkat cerita, dari proses blusukan nanya langsung ke ibu-ibu, akhirnya ketemu insight menarik: mencari pengakuan.

Jadi ternyata, ibu-ibu itu kalau sore biasanya suka rumpi sama tetangga sambil bawa anak. Makanya anaknya didandanin biar diomongin tetangga "ih anaknya cakep ye, wangi melati lagi. Siapa sih ibunya? Oh bininya Bang Somad. Pinter ye dese ngurus anak"

SIP LAH! Bungkus, kasih ke tim kreatif. Pikirin deh tuh gimana iklannya.

###

Begitulah kira-kira yang bisa gw bagi tentang kelas Akademi Berbagi yang bener-bener bikin hepi. Ya gimana ngga? Bertaun-taun nge-fans, akhirnya punya kesempatan buat ketemu dan ngobrol bareng si Om ini. Bahkan dapet kartu nama dan bisa foto bareng berdua.

Oh ya! Satu pesan yang semoga akan gw inget selamanya *aamiin:
"Stay humble. Dengan rendah hati, kita ngga ngerasa pinter dan akan terdorong untuk terus belajar" 

Iya Om insya Allah :">


PSS: Post-Starstruck Syndrome

Comments