Berpikir Strategis dan Kreatif (bagian 2)

Sebetulnya ada satu poin penting yang sengaja ngga gw tulis di bagian pertama, yaitu:
"Strategic planning in advertising is not a role. It is a mindset"

Bicara soal mindset, pastinya berurusan dengan proses berpikir. Nah, di sinilah hubungannya dengan Akber yang gw ikuti Kamis kemarin. Bedanya, kalau sebelumnya yang dibahas adalah tentang strategi, sekarang tentang kreativitas.

Awalnya, gw ngga terlalu niat ikutan, soalnya ngga tau pembicaranya dan tempatnya. Tapi pas tau temanya, hmm.. sepertinya menarik. Boleh lah daftar. Ternyata... SEMENARIK ITU LOH!!! Keputusan yang tepat banget impulsif ikutan kelas ini. Thanks Gus infonya!

###

Sharing Kang Motulz dibuka dengan pertanyaan:
"Kreatif itu... bakat atau minat?"

Intermezzo dikit. Lucu deh. Di awal, Kang Motulz keliatan 'gemes'. Kaya pengen numpahin isi kepala, tapi somehow kecepatan melisankan ide ngga sekilat kecepatan cahaya ide tersebut terbersit.

Kaya ngeliat diri sendiri. Saking banyaknya yang pengen disampaikan sampai 'tersesat dalam kalimat'. Trus ada fase melambat sejenak (bahkan tau-tau berenti) buat ngecek, yang dengerin paham ngga? Tapi saat ketemu 'klik' nya, ngalir gitu aja.

Observasi sotoy sih, tapi seru aja merhatiin beginian, hihihi.

Oke. Kembali soal bakat dan minat. Singkat cerita, jawabannya adalah bukan dua-duanya. Ya ya ya, ketebak *isssh, songong luh! Dengerin dulu sih penjelasannya.

Jadi, kata Kang Motulz, kreatif itu kemampuan dasar berpikir. Semua orang pasti bisa jadi kreatif selama diasah. Intinya, perkara mindset, sama kaya strategic planning. Dan cara mengasahnya adalah melalui "pencerapan" panca indera (melihat, mendengar, merasa, dll).

Ya ya ya, bukan barang baru. Well, at least 'mencerap' kosakata baru *yeee.. blom selesai, Neng!

Penjelasan berlanjut pada perbedaan rasa dan logika, yang dicontohkan lewat kegiatan menggambar. Dia kasih contoh-contoh lukisan yang membedakan antara Timur (rasa) dengan Barat (logika). Misalnya, cara orang Eropa dan Cina memandang sebuah perspektif.

Kalau menurut teori perspektif, semakin jauh sebuah objek, semakin kecil gambarnya. Itu tipikal lukisan realis di Eropa. Sementara di Cina, perspektifnya lebih 'simbolik'. Semakin jauh objeknya, semakin ke atas. Ah, ini harus pake contoh visual sih. Susah jelasinnya lewat tulisan.

Liat di sini deh, halaman 8-9.

Di halaman 12, kita bisa liat lukisan India yang logika perspektifnya (secara keseluruhan) emang salah, tapi ada yang menarik di sini. Dalam beberapa detail seperti kotak emas di tengah, lukisan tersebut menggunakan perspektif yang benar, walaupun cuma sebagai ornamen dekoratif.

Oh ya, kalau diperhatikan lagi, lukisannya tampak simetris, walaupun ada variasi seperti orang-orang di sisi kiri dan kanan. Selain itu, detail dekornya berpola, seperti lis emas pada wallpaper di ruangan Raja.

Ternyata, hal ini karna pengaruh seni kaligrafi Arab yang banyak memakai pola dan cenderung simetris. Kalau mau liat letak geografis, Arab itu ada di perbatasan Timur dan Barat, yang berarti lukisan India ini contoh kolaborasi dari rasa dan logika.

Kesimpulannya:
"Kreatif adalah kemampuan yang fleksibel dalam menggunakan logika dan rasa secara bergantian"

Kalau ibarat tombol, orang yang kreatif itu bisa ngatur switch on-off nya si rasa dan logika ini. Bisa juga mencet dua-duanya sekaligus *nahlo, gimana tuh caranya?

Menarik banget yah! Udah deh luntur semua "ya ya ya I knew it already", berganti dengan "IH GW BARU TAUUU!!!"

Sebelum sesi tanya jawab, sesi penjelasan ini ditutup dengan:
"Kreativitas adalah kemampuan komprehensif kita dalam berpikir, bertindak, dan memecahkan masalah. Semua orang mampu melakukannya bukan? Tapi pertanyaannya... maukah?"

Gw sih mau bangeeet!

###

Dari gunungan hal menarik yang didapat selama kelas Akber ini, ada dua hal yang menurut gw paling berkesan dan gada di slideshare, yaitu:

Pertama, ucapan yang 'AHA!' abis:
"Orang yang pandai menjawab belum tentu pandai bertanya. Kenapa? Karna pendidikan kita selama ini berfokus pada menjawab dengan tepat, bukan membuat pertanyaan yang tepat"

Inovasi kreatif, temuan ilmiah, karya seni, ide spektakuler, dll selalu dimulai dengan pertanyaan. Jadi, belajarlah bertanya untuk mencari jawaban, bukan menjawab pertanyaan. Karna itu porsinya Google, Galileo, dan pemirsanya Dora.

Naaah, ini berhubungan dengan cerita berikutnya.

Kedua, cerita Kang Motulz waktu dia pergi ke sebuah pameran. Jadi, dalam pameran itu, semua karya seninya berbentuk kotak. Ada batu yang dipahat menjadi bentuk kotak, kayu kotak, besi kotak, pokoknya semuanya kotak. Kalau bisa, sponsornya Teh Kotak deh!

Hal ini bikin Kang Motulz penasaran. Akhirnya dia nanya ke seniman yang bikin pameran itu.

Kang Motulz: "Mas, yang bikin ya?"
Seniman: "Iya betul"
Kang Motulz: "Mau nanya nih mas. Kenapa kotak semua ya?"
Seniman: "Mungkin saya salah, tapi di dunia ini, yang bentuknya kotak cuma buatan manusia"

GOKIL!!! MINDFUCK ABIS!!!

Si Kang Motulz langsung ngerasa beruntung udah nanya. Semenjak itu, dia jadi merhatiin, apa iya buatan Tuhan gada yang bentuknya kotak? Iya juga ya. Yang bentuknya segitiga ada. Bulet banyak. Kotak? Ah masa sih gada?

###

Dan gw pun pulang dengan membawa banyak pertanyaan. Sekaligus jawaban.

Comments

Anonymous said…
cieee ada foto berduanya. ihiy
Cie salah komen posting cie :))