Passion, Follow Me!

"Follow your passion", said everyone

Della 1: Emang passion lo apa?
Della 2: Auk! Passion tuh apa sih?
Della 1: Hmm.. katanya sih sesuatu yang kita sukai dan dikerjakan dengan senang hati, bahkan rela ngga dibayar
Della 2: Kalo gitu, tidur kali ya?
Della 1: Del, plis........

Beberapa tahun yang lalu, gw termasuk penganut mindset "follow your passion". Jujur aja, mindset itu bikin galau. Ya gimana ngga? Salah satu mimpi gw adalah jadi copywriter, makanya gw milih penjurusan iklan. Udah fix banget dari semester awal.

Saat magang jadi copywriter, gw ngerasa udah ada di jalur yang bener. Tapi di tengah, gw kewalahan juga karna semua ide dimentahin, sementara yang diminta harus mateng sempurna. Yuk yak yuk jadi koki sajalah.

Sebetulnya gw blom mau nyerah, tapi ada titik di mana gw mulai lelah dan melakukan pembenaran "syitmen, apa jangan-jangan ini bukan passion gw? Trus selama ini?". Sedihnya, ketika gw mulai berpikir demikian...

I'm lost. Do I really want to be a copywriter? Am I capable for that?

Tapi waktu ngga pernah mau nunggu. Magang jalan, TKA juga harus jalan. Tau-tau, gw udah lulus aja. Tau-tau, gw udah dapet kerja aja. Udah deh tuh, semua berjalan tanpa tau apa sebenernya passion gw. Dari yang galau naujubilah oyasuminabilah jadi yaudalaaah! Fuck passion. HAH!

Pekerjaan pertama gw setelah lulus adalah... Ijah, alias pembantu umum di Toko Kelontong Palu Gada, singkatan dari "aPA LU mau, Gue ADA". Ngga deng!

Selama 1 tahun 4 bulan, gw kerja di konsultan pemasaran. Jobdesc utama gw yaitu bikin planning seputar ide-ide kreatif, nge-design dummy, dan present ke Pak Bos dan klien.

Gw sebenernya bingung kalau ditanya jabatan. Yang tertulis di kontrak sih "researcher", tapi ngga sah banget risetnya, wong ngumpulin datanya aja dari internet. Bahkan metode penelitiannya pake common sense, yang penting nemu ide. Lah piye berani-beraninya nyebut "researcher"?

Akhirnya gw mengajukan usul ke Pak Bos, boleh ngga di kartu nama ditulisnya "creative officer" aja? Dan disetujui Pak Bos yang baik hati. Kece kan? Mayan pencitraan lah ya.

Intinya, selama bekerja, gw mulai melupakan mimpi jadi copywriter. Masih pengen sih, tapi ntar lah. Ini aja blom kelar. Satu-satu.

Sampai akhirnya gw resign dan jadi volunteer kompetisi iklan, gw mulai teringat kembali mimpi tersebut dan mempertanyakan lagi: apa passion gw?

###
"Nothing worth having comes easy", said everyone

Della 1: TUH DEL TUH!!!
Della 2: Yaelah bro. Ngga musti bikin segalanya jadi dipersulit juga keleuuus!
Della 1: Ya sih........

Mengikuti kata hati, intuisi, passion, atau apa pun pastinya ngga mudah. Ya kalo doski belok sementara kita maunya lurus kan jadi masalah.

Gw jadi berpikir, apakah emang hal yang berharga itu beneran susah didapat atau kitanya aja yang nyusahin diri sendiri?

Yaaah.. beda tipis sih ya antara "sesuatu yang berharga itu ngga bisa dimiliki dengan mudah" dan "mempersulit diri sendiri padahal yang berharga ada di depan mata".

Anyway, kmaren gw abis liat path nya Shasha yang nge-share tulisan ini dan ini. Intinya, artikel tersebut nyoba kasih perspektif baru tentang si passion yang pengikutnya banyak itu.

Si penulis mencoba mencari padanan kata "passion", dan ketemulah "renjana". Jadi, mulai sekarang nyebutnya "renjana" aja ya. Kalau Rinjani nama gunung soalnya.

Dalam dua artikel tadi, salah dua sumbernya adalah video dan buku Cal Newport berjudul "So Good They Can't Ignore You". Sedikit yang bisa dikutip dari videonya:
"It's not how you get started that matters, but maybe, what matters is what you do once you get going"

Gw pengen ambil analogi sederhana: Jodoh. Katanya, milih jodoh tuh cocok-cocokan, yang salah satu tandanya adalah chemistry. Berpegang pada 'kitab' "katanya" itu, dimulailah proses pencarian soulmate-sampai-mati.

Singkat cerita, seorang Sun Go Kong sang jomblo idealis akhirnya berhasil menemukan 'kitab suci jodoh' dan soulmate sejatinya. Tapi baru bentar udah pisah, katanya ngga cocok. Loh, dulu katanya gada lagi di dunia yang secocok sama dia?

Kalau dikaitkan sama kata-kata si Cal Newport, yang penting bukan chemistry di awal, tapi menciptakan chemistry di perjalanan. Yang penting bukan soal menemukan soulmate, tapi gimana mempertahankan hubungan.

###

Nah, hal yang sama juga berlaku untuk renjana. Mindset "kerja harus sesuai renjana" sama seperti mindset "jodoh harus soulmate". Makanya, saran untuk mengikuti renjana dinilai kurang tepat.

Kenapa? Ya biar ngga bernasib kaya Sun Go Kong. Sampai kiamat pun gatau deh jadinya ketemu apa ngga.

Dalam artikel ini, Newport menyebutkan tiga atribut untuk mencapai kepuasan dalam sebuah pekerjaan, yaitu:

  1. Sense of autonomy: kita merasa punya 'ruang gerak' untuk bekerja dan berkarya
  2. Sense of mastery: kita merasa punya 'modal' keahlian dan terus mengasahnya
  3. Sense of purpose: kita merasa punya 'tujuan' dalam berkontribusi


Seperti semua keahlian, untuk menguasai sesuatu, kita butuh pengulangan. Bukan ulang sampai berhasil, tapi sampai ngga pernah gagal. Dan dalam prosesnya, mungkin banget mentok dan mengalami kebosanan.

Bisa bosen karna ngulang yang itu-itu lagi, bisa juga karna saking susahnya, mau diulang kaya apa juga percuma. Levelnya ketinggian. Di sinilah sense of mastery kita diuji. Mental playboy yang ngga cocok dikit ganti atau mental geek yang coba terus sampai ngga makan ngga mandi?

Sense of mastery berhubungan pula dengan sense of autonomy dan sense of purpose. Gw jadi inget twit Miund. Dia bilang gini:
"...kalo kerjaan beres, karir naik, uang pasti tambah banyak. Hence, tampil keren deh akhirnya"

Kalau dalam menyelesaikan pekerjaan kita selalu berusaha yang terbaik, lama-lama kita akan ahli di bidang yang ditekuni. Kalau udah jadi ahli, akan ada banyak tawaran karena skill kita dibutuhkan. Otomatis, karir naik dan peluang untuk punya 'ruang gerak' jadi lebih banyak.

Ketika kita punya wewenang lebih dalam bekerja dan berkarya, kita akan lebih merasa mampu mencapai tujuan. Tampil keren misalnya. Cetek abis ya? Yaudah deh tujuan yang lebih 'dalem': menjadi berguna. Berkontribusi pada dunia. Beuh.

Naaah! Modal ada. Ruang gerak ada. Tujuan ada. Masih mau ngikutin renjana?

Intinya, kerja ngga sesuai renjana ngga berarti hidup jadi ngga bermakna. Renjana adalah akibat, bukan sebab. Kalau tiga atribut tadi udah tercapai, renjana pasti akan mengikuti dengan sendirinya.

Be so good that they can't ignore you and say "passion,  follow me!"

#Notetoself banget lah ini.

Comments