#6 Tacky (mid 20-es Series)

Untuk kondisi tertentu, mungkin seseorang bisa seketika berubah jadi norak-senorak-noraknya. Termasuk gw, walaupun umur udah hampir dua lima *TERUS AJA DEL BAHAAAS. Iyalah dibahas. Orang judulnya aja mid 20-es series.

Ya kalau gw sih untungnya ngga sampe jerit-jerit histeris atau pingsan segala. Paling "wah woh wah woh" ngga santai trus nyengir-nyengir ngga jelas trus cerita ke semua orang.

Kalau masa-masa 'kesurupan' nya udah surut, jadi suka malu sendiri dan pengen ngubur diri di lumpur hisap. HAHA :">

Tapi yaudalah ya. Tiap manusia norak pada masanya.

Misalnya pasangan yang baru jadian. Atau rombongan turis yang pertama kali liat Monas. Atau fangirl yang ketemu idolanya. Atau orangtua yang anaknya lagi fase lucu-lucunya. Atau pemenang kuis. Lomba. Sayembara. Apa pun lah namanya.

Ketika itu, rasanya semua momen pengen diabadikan dan disebarluaskan.

I clearly understand that tackiness is an expression of excitement that we all wanna share to the world. It's okay to be occasionally tacky. But don't do it too often. Don't make tackiness becomes behavior. No. Just don't.

Iya, kita punya hak berekspresi. Iya, ini negara demokrasi. Tapi kalau kenorakan terus-terusan 'dieksploitasi' mah bikin iritasi.

Bukan, bukan melarang orang norak untuk berhenti, tapi mengingatkan diri sendiri. Kalau ngga bisa toleransi ya jauhi. Udah, gitu aja sih.

Comments