Tuesday, July 29, 2014

Pelabuhan

0 comments
Della 1: WOW! Gila juga ya 'pasang surut' kita selama 5 tahun ini. Inget ini ngga? Januari 2010. Saat kita mempertanyakan hidup yang lurus-lurus aja? Lesson learned. Be careful of what we wish for ;p

Della 2: HUAHAHAHAHAHAHAHAHANJIR!!!

Della 1: Inget ngga segala drama percintaan, pertemanan, masuk rumah sakit di tengah pengerjaan tugas akhir, kecelakaan, patah kaki, gagal audisi, gagal pentas, gagal ini-itu pokoknya, patah hati, sakit hati, frustrasi, kecewa, kucing kesayangan meninggal, eyang sakit, daaan sebagainya. Masih bisa bilang 'hidup lurus'?

Della 2: Iya, Del, iyaaa.. ampuuun! Tahun 2011 tuh yang paling epic lah. Masa-masa cobaan dateng serencengan kayak duku. Udah ya. Malu nih gw. Labil abis emang drama masa muda. LALALALALALALALA~

Della 1: Sekarang juga masih muda kali! Selamat ya, Kapten, masih terjaga kewarasannya

Della 2: ATUH LAH!!! SISI MANANYA YANG WARAS???!!! Well, at least we've learned our lesson. In hard way. Congratulation, anyway. We survive, we're still alive. HIGH FIVE!!!

Della 1: *TOSSS* Kira-kira 5 tahun ke depan bakal gimana ya?

Della 2: Entahlah. Yang jelas, ketimbang mengarungi samudera, gw lebih pengen pasang jangkar. Ngga lagi mencari gejolak di lautan, tapi mencari pelabuhan

Recap Juli

0 comments
Highlight Juli (personal, lokal):
  • Pengumuman seleksi IM tahap 2
  • Nobar debat capres sambil rapat
  • Ramadhan di rumah baru
  • Eyang tetangga meninggal
  • Mulai rutinitas jogging pagi
  • Bukber non-stop hits
  • Kantor pindah gedung
  • Beli shampoo kuda
  • Dapet boneka Line (Cony)
  • Twitterview Vabyo
  • Main ke Bogor
  • Mbak-mas mudik, mendadak Ijah

Highlight Juli (nasional, global):
  • Pilpres
  • Piala Dunia
  • Gaza
  • MH-17
  • Lebaran


What a fulfilling month :)

Ramadhan emang ajang silaturahmi dengan modus buka bersama yah. Yang tadinya sibuk terus dan mencar ke mana-mana, di momen bukber jadi pada ngumpul lagi. Ah, senangnyaaa!

Ya walaupun selama bukber, udah 3x aja gw dijodoh-jodohin dari lingkaran yang berbeda. Ini apa sih pada kaya bocah SD, zzz. Tau sih becandaan doang, tapi kenapa harus gw mulu dah yang kena?

Gpp deh, tandanya orang-orang pada perhatian sama gw. Hoek cuih. Perhatian tuh ngasih THR gitu kek. Lah ini ngasihnya ceng-cengan. Bully-able banget kayanya gw. Sib nasib. Pasrah wae lah -___-

Anyway, bulan ini adalah bulan puasa pertama di rumah baru. Antara yeay dan yah sih. Yeay karena suasana baru, yah karena ngga pernah teraweh sama sekali di mesjid sekitar sini. Hiks.

Bahkan gw pun ngga Shalat Ied karena emang lagi dapet. Hiks lagi. Padahal momen banget tuh Shalat Ied pertama di lingkungan baru.

Yaudalah ya, semoga tahun depan masih bisa bertemu Ramadhan dan lebaran. Aamiin.

Monday, July 28, 2014

Forgiveness

0 comments
Photo taken at Nabawi, February 2014

Lebaran kali ini alhamdulillah berjalan cukup lancar, setelah 5 tahun pasti ada aja sesuatu yang mengganjal.

Beberapa lebaran belakangan, kata "maaf" jadi kata yang susah diucapkan sekaligus sangat diharapkan. Duh, kalau diingat-ingat, rasanya pengen gali lubang, nyemplung, dan kubur diri. Malu. Lebaynya drama ngalah-ngalahin Ncess Uscita.

Tapi kalau mau ambil ekstraknya hikmahnya, ini proses lah ya. Dari sekian kali lebaran yang udah dilewati, gw banyak belajar dan makin paham betapa dahsyatnya kekuatan kata "maaf".

Kalau sekarang sih berasanya super lebay, tapi kala itu, emang segitu cetar-membahana-luar-biasa-ulala nya.

Manusia khilaf. Manusia meminta maaf. Katanya, seseorang mungkin aja memaafkan, tapi belum tentu melupakan. Ngga masalah. Kenapa harus dilupakan?

Never forget is never an issue. Never forgive is. Ain't it burdening, not to forgive others? So, to enlighten our burden, why don't we all make room for forgiveness?

Emang ngomong sih gampang. Tapi pelaksanaannya? Butuh keberanian tingkat dewa untuk mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh meminta maaf. Dan juga, kalau kata Sherina "...hanya yang berjiwa ksatria yang mau memaafkan".

Been there done that.

Lega banget rasanya saat permintaan maaf akhirnya diterima. Begitu pula sebaliknya. Ada rasa lega luar biasa saat bisa ikhlas memaafkan.

Jadi, semoga mulai lebaran kali ini dan seterusnya, kita semua bisa jadi orang-orang pemberani dan berjiwa ksatria.

Because nothing's more peaceful than the act of forgiveness :')

Sunday, July 27, 2014

Harapan yang Menghidupkan

0 comments
Kemarin, Prabowo mengajukan gugatan terhadap keputusan KPU ke MK. Belum kelar juga nih drama copras-capres? Alamak! Ra uwis-uwis.

Tapi hei! Mari kita lihat sisi positifnya:

  1. Scan data C1 oleh KPU
  2. Kawal Pemilu: Situs crowdsourcing dari ratusan relawan yang keroyokan cross-check scan data tadi
  3. Kumpulan C1 yang aneh
  4. Surat Untuk Pak Bowo: Kumpulan surat terbuka dari para seniman dan pekerja kreatif untuk menyemangati Pak Prabowo agar legowo
  5. Polling kabinet usulan rakyat
  6. Kabinet Rakyat: Detail CV + hasil polling (walaupun kandidatnya agak berbeda)
  7. Konser Salam Dua Jari
  8. Daaan.. segala kampanye kreatif macem "Seri Blusukan Jokowi" ala Tintin, "I Stand on the Right Side", "IndONEsia", fanpic Jokowi-Prabowo jabat tangan, tukeran kaos bola, dsb

Gila sih partisipasi rakyat. Meriah banget!

Sebenernya gw ngga dukung-dukung Jokowi amat. Malahan, awalnya gw se-skeptis itu sama dua-duanya. Terpaksa pilih salah satunya karna gamau milih yang satunya lagi. Pokoknya satu yang pasti: gw emoh golput.

Trus yaudah, gw pilih Jokowi sesimpel percaya aja, karena hati gw lebih tenang coblos no. 2 setelah ngikutin keriuhan pesta demokrasi ini.

Tapi setelah Jokowi menang, lihat lagi ke belakang, gw jadi semakin optimis, semoga ngga salah pilih orang. Sosok 'kucing kampung pergi ke Mekkah pulang-pulang jadi presiden' itu bener-bener memberi harapan.

Hangat banget baca surat terbuka untuk Jokowi dari Mbak Ainun @pasarsapi (penggagas gerakan Akademi Berbagi). Sedikit cuplikannya:

Bapak Joko Widodo yang disayangi rakyatnya,

Anda terpilih dan melaju di atas kursi nomer satu republik ini karena keringat banyak orang. Mereka bergerak tanpa bayaran tanpa janji kekuasaan bahkan harus keluar tenaga dan uang. Mereka ikhlas melakukan ini, karena mereka percaya Bapak bisa mengemban amanat rakyat dengan baik dan membawa perubahan bagi negeri ini. Mereka rindu pemimpin yang manusiawi.

Kebayang ngga sih beratnya beban Jokowi sebagai presiden RI? Jadi 'sumbu negeri'. Hiii.. emangnya gampang ngurus negara yang banyak maunya gini? Emangnya gampang jadi pemimpin yang manusiawi di tengah para petinggi yang kelakuannya minta digiles kereta api?

Tapi itulah yang bikin gw bangga jadi bangsa Indonesia yang kekinian (hazek). Semua orang mau ikut ngurusin. Bukan ngerecokin, tapi bagi-bagi beban. Ringan sama dijinjing, berat bawa sendiri sama dipikul.

Para pendukungnya tersentuh dan tergerak oleh aksi nyata, bukan orasi semata. Semangat gotong royong 'khas' Indonesia muncul lagi. Udah lama yah ngga ngerasa nasionalis kaya gini. Hihihi.

Si Cune pernah bilang, menurut dia, dua-duanya secara persona gada yang meyakinkan, tapi dia menegaskan satu hal, "doa gw cuma satu: semoga gw salah"

Sama. Sejujurnya, gw masih menyisakan ke-skeptis-an gw sebagai antisipasi. Biar ngga kecewa-kecewa amat nanti. Gamau terlalu berekspektasi.

Tapi semoga gw pun salah. Semoga kita, rakyat Indonesia, walaupun sedikiiit aja, selalu bisa menaruh harapan pada Jokowi serta ngga membiarkan presiden kita itu bekerja sendiri. Mengutip Mbak Ainun:
"...Karena harapan lah yang menghidupkan"

Ngga kece amat ya penampakan presiden kita :))

Tentang Bersyukur

0 comments
Lo: "Del, gw iri deh sama hidup lo" (sambil liat-liat gallery iPod Della)
Della: "Haha, apaan deh. Kenapa emangnya?"
Lo: "Punya banyak temen, volunteer ini-itu, jalan-jalan mulu. Kayanya seru aja lo bisa selalu ngelakuin apa yang lo suka"

Si Della ini gemes. Bukan cuma sekali dua kali lo ngomong gini. Dan bukan sekali dua kali juga si Della klarifikasi. Makanya kali-kali, pengen nulis ini.

Lo gatau aja........

Betapa berantakan belakang layarnya orang yang lo iri-in itu. Betapa gelisahnya si Della tiap melangkah, berpisah, dan bertemu orang baru lagi. Betapa kencengnya traffic temen yang datang dan pergi. Yang datang dan ngga pernah pergi? Bisa dihitung pakai jari.

Betapa pada kenyataannya, dia ngga selalu bisa ngelakuin apa yang dia suka. Pun iya, ngga selalu menyenangkan. Pun emang dia sukai dan kegiatannya menyenangkan, banyak yang harus dikorbankan.

Mungkin lo lupa aja........

Betapa banyaknya orang yang iri sama hidup dan karir lo yang gemilang kaya Ika Natassa itu. Betapa beruntungnya lo, punya pasangan yang sayang banget sama lo, lolos kualifikasi bibit bebet bobot, dan sangat ngga neko-neko.

Betapa lo pun dikelilingi banyak temen dan kalau mau ngelakuin apa yang lo suka mah atuh lah. Betapa kesempatan lo buat jalan-jalan sebenernya lebih banyak, secara lo sering merantau ke berbagai tempat.

Terakhir, lo gatau kan, betapa si Della diem-diem iri juga sama lo? Ngga afdol emang kalau udah puas sama hidup sendiri dan ngga pernah iri sama hidup orang lain, haha. Tapi yaaah, kita bersyukur aja, gimana?

Anyway, HAPPY BIRTHDAY! May you have wonderful life you want and always be grateful :D

Wednesday, July 16, 2014

Mari Lari

3 comments
Beberapa hari ini, gw lagi rajin lari pagi setelah sekian lama 'lari' dari lari. Terakhir lari yang beneran lari itu waktu latihan buat MBIC 2, bulan Juni 2013.

Walaupun tipe pelari lamban, gw sangat menikmati momen-momen saat lari.

Saat pikiran bergerak seiring langkah yang mengayun. Saat dada sesak, nafas naik-turun, seluruh tubuh panas, betis serasa mau meledak, dan hidung-tenggorokan perih. Pun saat batuk-batuk susah nafas pasca lari, gw tetap menikmati.

Terdengar masokis? Ya, memang.

Tapi ada adiksi tersendiri saat berhasil mencapai tujuan dan 'merayakannya' dengan beberapa teguk air mineral yang menyegarkan. Well, kecuali lagi puasa ya. Pantang minum sebelum maghrib (AUK AH DEL)

Sampai di suatu hari saat latihan MBIC, gw terpaksa harus memilih. Antara ngga lari tapi 'aman' atau lari dengan resiko kaki ngilu karena lagi masa pemulihan pasca operasi copot pen.

Kala itu, gw benci diberi privilege untuk ngga lari sementara yang lain harus lari sesuai jarak dan waktu yang ditentukan. Gw benci 'dibedakan'. Gw benci orang-orang yang iri karena gw boleh ngga lari.

Gw benci tiap kali memaksakan diri, tulang kering kiri rasanya ngga karuan dan jadi ngga maksimal latihan. Gw benci karena masih berpikir "harusnya gw bisa" tapi malah memilih menyerah. Gw benci merasa lemah.

Semenjak itu, gw melakukan 'aksi protes' pada diri sendiri untuk stop lari. Lebih tepatnya: menghukum diri sendiri yang pasrah 'kalah'. Payah ah!

Well, sebetulnya banyak momen di mana gw harus lari-lari, misalnya mengejar kereta atau bis, tapi itu ngga masuk hitungan.

Berkali-kali diajak lari di car free day atau run for ini-itu, gw selalu menolak. Pernah tergoda sih buat daftar lari yang konsepnya seru, tapi ya gitu deeeh. Antara parnoan atau kelewat keras sama hukuman yang dibuat dari dan untuk diri sendiri.

Beberapa hari yang lalu, setelah gw sadar kalau setahun ke depan akan butuh banget stamina yang prima, gw mulai lari lagi, dan itu rasanya........

Entahlah. Senang, puas, terharu, takjub, takut, semua campur aduk.

Udah ngga ngilu, bahkan gw bisa lari pelan sejauh 5 km dengan kecepatan konstan tanpa berhenti sembari menikmati suasana kompleks di pagi hari. Pohonnya rindang dan pemandangannya asri. Udaranya pun sejuuuk banget. BSD rasa Puncak Pass.

Sambil lari, muncul cuplikan memori sarat emosi perihal 'lari sambilan'. Sambil lari sambil mau nangis menahan ngilu sambil sok kuat sambil kesal sama diri sendiri sambil khawatir gimana kalau ini-itu.

Kalau ingat lagi dan membandingkan sama kondisi sekarang, bawaannya pengen senyum dari kuping ke kuping, merasa bersyukur banget. Bodo amat deh orang-orang yang kebetulan papasan mengira gw orang gila nyengar-nyengir ngga jelas.

Gw anaknya sulit membedakan antara gigih berusaha dan keras kepala (aka bebal) sih. Juga bingung kapan harus mencoba lagi dan kapan harus berhenti. Ditambah, susah menerima bahwa menyerah bukan berarti kalah.

Tapi dengan lari, gw belajar untuk terus 'menantang' batas diri sekaligus mengendalikan diri. Saat lari, lawan kita adalah diri sendiri.

Terlalu lunak akan membatasi, tapi terlalu keras akan melukai.

Tuesday, July 15, 2014

How Are You, Guys?

0 comments
Re-watched How I Met Your Mother and found this:
That's how it goes kids. The friends, neighbors, drinking buddies, and partners in crime you love so much when you're young, as the years go by, you just lose touch. You will be shocked kids, when you discover how easy it is in life to part ways with people forever. That's why, when you find someone you want to keep around, you do something about it.

Kinda sad how true it is. People come and go. Even if they come back, sometimes there is that invincible distance. A gap you can't reach. Yes, some people DO grow apart. And you can't help but let them go.

But for whom I want to keep around, I hope I can always make time. While I still have time. Before time fades those bonds and sparks away.

So... how are you, guys?

Tentang Pilpres (Lagi)

0 comments
Pilpres udah kelar. Yeay? No yeay yet!

Pasca pilpres, banyak pro-kontra mengenai isu perhitungan suara, baik quick count maupun real count di tanggal 22 Juli nanti.

Gw sebenarnya udah mulai muak. Berkali-kali gw memberi jeda pada diri sendiri untuk ngga mantengin apa pun yang berhubungan dengan pilpres. Tapi berkali-kali gw balik lagi. Menyimak berita lagi. Muak lagi. Ra uwis-uwis.

Meskipun hingar-bingar pesta demokrasi ini terlalu bising dengan berita miring yang bikin kuping penging serta kepala pusing, harus gw akui, banyak hal positif yang bisa disaring.

Dari mulai golput yang berkurang drastis, 'koleksi' hasil scan C1 yang ngga wajar, sampai main surat-suratan yang belakangan lagi hits di kalangan seniman dan pekerja kreatif. Surat-surat tersebut ditujukan untuk Pak Prabowo.

Salah satu surat oleh Jenny Jusuf berbunyi:
"Bapak, kami sungguh tak ingin membenci. Kami hanya ingin seorang pemimpin yang bisa kami cintai dan hormati, seseorang untuk dipercayai, yang tak menimbulkan ngeri. Beliau sudah ada di sini. Tolong beri ia kesempatan. Biarkan ia menjalankan tugas sebagai abdi rakyat. Dan sementara ia bekerja, barangkali Bapak bisa duduk beristirahat, meluruskan kaki yang sudah penat"

Terenyuh gw bacanya. Betapa kuatnya pengaruh kata-kata. Mengutip Windy Ariestanty:
"Bagi penulis, kata-kata adalah peluru. Karenanya, jangan umbar peluru untuk hal yang tak perlu"

Semuak-muaknya gw soal copras-capres ini, tetap aja khatam baca semua surat di blog itu. Apalagi ada tulisannya Mbak Windy sama Om Piring, salah dua sosok yang sedikit banyak mempengaruhi pembentukan opini gw.

Rata-rata, surat terbuka itu berisi harapan kepada orang nomor satu di Indonesia yang terpilih dan 'bujukan' kepada capres nomor satu untuk mengakui kekalahan demi kebaikan.

Dalam demokrasi, kekuatan tertinggi ada di tangan rakyat, jadi yaaah.. kemenangan Jokowi dalam perhitungan quick count adalah kemenangan rakyat. Jadi ayolaaah Pak Prabowo, berbesar hatilah.

"Jalan menuju kemenangan dimulai dari kebesaran hati" -Tagline Djarum

Monday, July 14, 2014

In Response to :)

2 comments
Reading this really makes me super flattered. Thank you, Ne :)

I don't know what to say. Well, actually I have too much to say that I don't know which one should be said first. And suddenly it disappears. That's the beginning of what so called 'speechless', yes? Those lost words.

Anyway, sorry for those annoying worries, doubts, and anxieties that I frequently shared to you back then. Kinda amazed you were patient enough not to kill me. Will gladly bother you with another lalala lame 'drunken' midnight-till-dawn talks if you don't mind. HAHA.

Once again, thank you for your sincere supports. Wish you infinite happiness and meaningful life, dear Shanti Nurfianti Andin :)

Saturday, July 5, 2014

The Journey with The Writers

2 comments
Jadi ceritanya... beberapa hari yang lalu gw abis liat foto-foto waktu jalan ke Serang bareng penulis The Journeys 3, trus nyengir-nyengir sendiri.

GILAK! SEHARIAN BARENG WINDY ARIESTANTY, VALIANT BUDI, HANNY KUSUMAWATI, DINA DUA RANSEL, ALFRED PASIFICO, DAN ALEXANDER THIAN SEKALIGUS BOK!

Trus gw ngebayangin suatu saat bisa jalan bareng mereka lagi ke tempat yang lebih jauh dengan waktu yang lebih lama. Ih pasti supeeer seru!

Walaupun gw cupu ngga berani ngajak ngobrol Mbak Windy karna grogi, walaupun nyesel ngga banyak ngobrol sama Vabyo tentang pengalamannya di Arab yang super menarik itu, dan walaupun cuma bisa ngikik liat Alex yang banyak gaya, tapi gw cukup puas seharian banyak mengamati perilaku para penulis itu.

Alex yang mata dan jempolnya selalu tertuju ke HP. Kalau ngga lagi interaksi sama layar mungil itu ya ngobrol berisik. Beneran ternyata sami mawon, baik di dunia maya maupun non-maya. Bawel. Haha.

Mbak Windy, Mbak Hanny, dan Mbak Dina yang selfie terus.

Mbak Windy dan Vabyo yang interaksinya somehow manis. Keliatan dekat. Akrab sebagai sahabat. Hangat. Ngga dibuat-buat.

Vabyo yang seringkali memisah dari rombongan buat sekedar duduk bengong sendirian dan ngerokok. Seolah-olah ada gelembung ngga nampak yang menyelimuti dia yang asik bercengkrama dengan dirinya sendiri.

Kalau ngeliat yang kaya gitu bawaannya pengen nyamperin tapi takut ganggu. Gitu kali ya rasanya kalau ada orang ngeliat gw mojok sendirian? Padahal mah ngga masalah sih. Cuma yaaah.. entah. Gw nya aja mungkin yang anaknya socially awkward. Haha.

Alfred yang pendiam tapi sekalinya ngomong sarat informasi banget. Waktu di tengah puing Kerajaan Surosowan, gw sama Shasha heboh sendiri liat kerbau albino lagi merumput. Maklumin. Anak kota norak.

Trus dia tau-tau nongol dari belakang sambil cerita kalau orang Batak ada tradisi potong kerbau dalam acara-acara adat, dan kalau ada yang pakai kerbau albino, tandanya dia orang kaya. Semacam tolak ukur kesuksesan si empunya acara.

Ya secara 1 ekor bisa sampai puluhan juta. Bayangin ada lebih dari 1 kerbau albino. Bisa buat nyicil rumah sama mobil. Kalau ngga tajir-tajir amat mah mending pakai kerbau item biasa aja.

Dia ngajak ngobrolnya ngga pake basa-basi banget. Kaget banget sumpah! Huahaha. Tapi karna ceritanya menarik, jadi gw dan Shasha sih seneng-seneng aja nyimak. Lagian, kalau diperhatiin, ternyata dia emang suka random nyamperin orang-orang gitu walaupun lebih banyak diem.

Kaya ngikutin dari belakang, ngamatin, trus kalau ada kesempatan, dia ajak ngobrol personal 1-2 orang doang. Ah menarik banget deh emang!

Mbak Dina gw ngga banyak merhatiin sih, jadi ngga bisa cerita banyak. Yang jelas, gw sangat terkesan sama petualangan nomadennya.

Yang terakhir ini nih yang paling berkesan: Mbak Hanny. Jadi, di awal perjalanan, tempat duduk kami diundi, dan gw sebangku sama Mbak Hanny. LUCKY!

Di sepanjang jalan, kami banyak cerita-cerita. Dari mulai ketertarikan dia akan sawah, cerita soal pengalamannya jalan-jalan ke Santorini, India, dll, sampai bisnisnya setelah resign dari Maverick.

Selain itu, dia juga cerita soal pandangannya terhadap isu gender saat dia traveling ke India di mana perkosaan banyak terjadi dan budaya patriarki masih sangat kental.

Saat itu, dia lagi solo travelling, trus ketemulah sama sekumpulan pemuda yang lagi turun ke jalan, menyuarakan kesetaraan gender. "Kok semuanya laki-laki? Perempuannya mana?" tanya Mbak Hanny. Salah satu pemuda ngejelasin "soalnya suara perempuan kurang didengar di sini"

Tapi walaupun begitu, ada daerah yang justru budaya matriarkinya lebih kental. Ya kaya Padang lah kalau di Indonesia.

Trus si pemuda itu bilang, bahaya perempuan keliaran sendirian di situ dan dia menawarkan buat nganterin Mbak Hanny ke tempat tujuan. What a sweet kindness from stranger, yes? Hihi.

Aaakkk.. boleh ngga gw berharap suatu hari bisa jalan-jalan bareng Mbak Hanny (dan Mbak Windy juga) ke Santorini? Bantu aamiin plisss!

Well, omongan adalah doa. Mari berharap saja bisa terkabul suatu saat nanti (sambli usaha nabung juga).

###

Sebenernya gw udah cukup lama pengen nulis tentang ini, tapi mood nya cuma mengendap di draft, blom disusun ulang.

I was overwhelmed with excitement and over-flooding euforia that I didn't know what to write back then. Speechless to the moon and back :'D

Sekarang, gw pengen mengenang lagi momen menyenangkan itu. Mengenang perjalanan bersama para pencerita, sambil membayangkan suatu saat bisa menjadi seperti mereka, para pencerita perjalanan.

Yaudah, aamiin dulu aja.

Ngga foto sama Mbak Dina, huhu

Partner in crime

Wednesday, July 2, 2014

(Bisa Jadi) Tentang Pilpres

0 comments
H-7 pilpres.

Jujur, gw degdegan. Parno. Takut rusuh, ngeliat baik pendukung fanatik Jokowi maupun Prabowo sama-sama 'panasan'. Doh! Macem fansnya Agnes Monica deh. Kalau ada yang kritik idolanya, nyerangnya udah kaya Sparta.

Mana sekarang udah blur mana yang black campaign mana yang negative campaign. Trus ada lagi reversed campaign, di mana oknum JUSTRU menyebar isu negatif tentang capres pilihannya untuk menarik simpati.

Ngga ngerti lagi lah. Rasanya tiap mencerna informasi tuh saringannya banyak banget. Mulai dari mempertanyakan motif tulisan, siapa yang mempublikasikan, sampai kebenaran pesan. Pusing.

Lebih pusing lagi sama debat kusir yang fokusnya nyerang pihak lawan, bukan ngasih informasi. Nyeh! Tapi kalau lagi iseng, gw suka juga sih bacain komen-komen 'drama' buat hiburan, hahaha.

Udah gitu, berhubung pendukung rese nan gengges bertebaran layaknya ketombe, akhirnya malah ada yang berpikir buat golput, padahal tadinya udah mau milih salah satunya. ISSSH!

Kalau gw sih gamau golput. Lebih tepatnya, ogah rugi. 5 tahun sekali milih, masa ngga dimanfaatin dengan maksimal? Blom tentu 5 tahun lagi bisa milih kalau presiden yang kepilih balik lagi ke Orba. Meeen, amit-amit jangan sampe!!!

Akhirnya gw memutuskan ngikutin kata hati aja. Ya ya ya, ngerti kok, buat keputusan penting gini mah harusnya rasional. Gw udah mencoba. Dari mulai ngikutin debat, baca dan nonton buanyaaak link artikel, video, dll, sampai cari info dan diskusi sana-sini buat jadi referensi.

Cuma ya itu tadi, pusing. Makanya gw bismillah aja, feeling over logic. Modal percaya.

Lagipula bukannya dalam penentuan keputusan, ketika logika tersendat, bersandar pada hati bisa jadi tindakan yang tepat?

Bisa jadi, bisa jadi.

Recap Juni

0 comments
Maapin ya anaknya lagi seneng nge-recap. Bulan Juni ini ngga berasa banget asli. Tau-tau udah ganti Juli aja. Tau-tau udah puasa lagi aja. HUAH!

Jadi... highlight Juni:
  • 1 Juni: volunteer 1000 Petualang Cilik di Rumah Perubahan
  • 6-11 Juni: dinas ke Semarang
  • 13-14 Juni: ke Gunung Padang dan Cibodas
  • 15 Juni: hari nyalon sedunia
  • 16 Juni: Direct Assessment Indonesia Mengajar
  • 19-27 Juni: dinas ke Medan
  • 28 Juni: hari main sedunia
  • 29 Juni: puasa pertama
  • (Soon) 4-6 Juli: rapat WEEKEND di Serpong (alhamdulillah deket rumah)

Di sela-selanya nonton X-Men, Malificent, 22 Jump Street, sama Transformers sekalian main bareng orang-orang yang jarang ketemu. Senangnyaaa..

Bulan Mei lalu mabok film Eropa. Bulan Juni ber-Hollywood-ria. Bulan Juli pengen jejepangan deh, tapi males nyari donlotan. Film yang bagus sekarang apa sih? Ngga apdet banget saking udah super lama ngga dorama-an.

Kalau soal bacaan, gw lagi suka baca buku berbahasa Indonesia. Kmaren abis nge-list Reading Challenge di Goodreads dan ada 11 buku yang kelar dibaca dalam 6 bulan. Target 24 buku dalam setahun, dan ternyata masih on track. HOHO. Thanks to perjalanan dinas!

Emang deh ya, waktu paling efektif buat baca tuh ya di perjalanan. Ya mau ngapain lagi kan? Pilihannya kalau ngga baca, mainan HP, ya tidur.

Sebetulnya ada beberapa buku yang lagi dibaca sih, tapi ngga kelar-kelar, haha. Anaknya lama abisnya kalau baca.

Highlight lainnya adalah akhirnya Cilo kembali setelah berbulan-bulan 'honeymoon' di rumah temen nyokab buat dikawinin. Yeay! Ditambah meong baru namanya Dolly, pasangannya si Cilo. Ceritanya gantian. Dulu Cilo yang ke sana, sekarang Doli yang ke sini. Dobel yeay!

Tapi karna perjanjian kucing ngga boleh dilepas di rumah, jadinya mereka masuk garasi. Kasian sih, biasanya bebas berkeliaran :( Jadinya cuma tiap malem doang gw lepas terus main-main bentar terus masukin garasi lagi. Mayan lah mereka menghirup udara rumah, ngga pengap di garasi mulu.

Apalagi ya? Di bulan Juni buanyaaak yang sidang dan ultah. Oh! Dan nikah. Tapi gada yang bisa gw datengin karna wiken penuh terus. Hiks.

Congraduation, happy birthday, and happy wedding!

Patah Hati

0 comments
2 hari yang lalu, pas banget setelah sahur pertama, nyokab dapet telfon yang ngabarin kalau eyang tetangga di Bintaro meninggal dunia. Inalillahi wa inna illaihi rajiun. Saat dapet kabar, gw lagi bersiap-siap tidur lagi sampai gw denger intonasi suara nyokab yang 'beda'.

Roman-romannya ada 'sesuatu' yang buruk. Dan bener aja. Kabar duka. Subuh itu juga nyokab ngajak bokap buat balik ke Bintaro, bantu-bantu proses pemakaman.

Kehidupan pertetanggaan di kompleks mungkin emang ngga sedeket kalau di kampung. Tapi seenggaknya, semua selalu sigap kalau ada yang butuh bantuan. Maklum, udah puluhan tahun bertetangga.

Malemnya, nyokab cerita kronologi kejadiannya. Almarhum eyang tetangga itu meninggal dalam tidur tanpa ada pertanda apa pun. Bahkan katanya, suami alm sempet ngobrol panjang malam sebelumnya.

Gw mulai mengenang sosok eyang yang ramah ini. Tiap pagi kalau keluar rumah, gw menyapa eyang yang selalu jalan pagi di depan rumahnya. Senyumnya selalu tulus mengembang.

Selain interaksi singkat tiap pagi, tiap lebaran pasti kami sekeluarga mampir ke sana, disuguhi aneka macem makanan dan cemilan yang enak-enak. Mereka cuma tinggal berdua, jadi selalu menyambut hangat siapa pun yang dateng ke sana, terutama saat lebaran.

Lebaran kali ini, eyang itu udah ngga ada. Tinggal eyang yang satu lagi.

Kebayang, mungkin bagi eyang yang ditinggalkan, itu rasanya kaya lumpuh sebagian. Hampir seumur hidup dihabiskan berdua. Menua bersama. Dan sekarang sendirian. Kesepian.

Ah, mengalami kehilangan memang tak pernah menyenangkan.

Inget eyang buyut gw saat istrinya meninggal bahkan sampai nyoba bunuh diri biar bisa nyusulin almarhum. Inget juga kisah Habibie-Ainun. Inget film Up. Inget cerita ibu-ibu di kantor yang seminggu dua kali ke kuburan suaminya, selama puluhan tahun.

Dan entah, rasanya kaya patah hati. Sesuatu yang menusuk dan mengiris dalam namun tanpa luka yang kelihatan.

###

Tambahan:

Barusan nemu postingan tentang berduka yang hadir di waktu yang tepat:

"Seringkali, yang saya lakukan adalah berduka di kejauhan, untuk mereka yang ditinggalkan. Mereka tak tahu bahwa saya membawa mereka sepanjang jalan, ketika memesan secangkir kopi atau berdoa di malam hari, selagi mengobrol dengan orang-orang yang saya cintai atau berjalan kaki di bawah hangat sinar matahari.
Saya masih tak pernah pandai mengucapkan belasungkawa. Biasanya, saya butuh waktu beberapa minggu atau bahkan bulan, untuk benar-benar kembali menatap atau bercakap dengan mereka yang berduka cita. Di saat itu, terkadang saya masih tak tahu apa yang bisa saya katakan. Saya juga masih tak bisa memberikan pelukan atau menawarkan sesuatu yang dirasa bijaksana"

Ya, tepat.