Mari Lari

Beberapa hari ini, gw lagi rajin lari pagi setelah sekian lama 'lari' dari lari. Terakhir lari yang beneran lari itu waktu latihan buat MBIC 2, bulan Juni 2013.

Walaupun tipe pelari lamban, gw sangat menikmati momen-momen saat lari.

Saat pikiran bergerak seiring langkah yang mengayun. Saat dada sesak, nafas naik-turun, seluruh tubuh panas, betis serasa mau meledak, dan hidung-tenggorokan perih. Pun saat batuk-batuk susah nafas pasca lari, gw tetap menikmati.

Terdengar masokis? Ya, memang.

Tapi ada adiksi tersendiri saat berhasil mencapai tujuan dan 'merayakannya' dengan beberapa teguk air mineral yang menyegarkan. Well, kecuali lagi puasa ya. Pantang minum sebelum maghrib (AUK AH DEL)

Sampai di suatu hari saat latihan MBIC, gw terpaksa harus memilih. Antara ngga lari tapi 'aman' atau lari dengan resiko kaki ngilu karena lagi masa pemulihan pasca operasi copot pen.

Kala itu, gw benci diberi privilege untuk ngga lari sementara yang lain harus lari sesuai jarak dan waktu yang ditentukan. Gw benci 'dibedakan'. Gw benci orang-orang yang iri karena gw boleh ngga lari.

Gw benci tiap kali memaksakan diri, tulang kering kiri rasanya ngga karuan dan jadi ngga maksimal latihan. Gw benci karena masih berpikir "harusnya gw bisa" tapi malah memilih menyerah. Gw benci merasa lemah.

Semenjak itu, gw melakukan 'aksi protes' pada diri sendiri untuk stop lari. Lebih tepatnya: menghukum diri sendiri yang pasrah 'kalah'. Payah ah!

Well, sebetulnya banyak momen di mana gw harus lari-lari, misalnya mengejar kereta atau bis, tapi itu ngga masuk hitungan.

Berkali-kali diajak lari di car free day atau run for ini-itu, gw selalu menolak. Pernah tergoda sih buat daftar lari yang konsepnya seru, tapi ya gitu deeeh. Antara parnoan atau kelewat keras sama hukuman yang dibuat dari dan untuk diri sendiri.

Beberapa hari yang lalu, setelah gw sadar kalau setahun ke depan akan butuh banget stamina yang prima, gw mulai lari lagi, dan itu rasanya........

Entahlah. Senang, puas, terharu, takjub, takut, semua campur aduk.

Udah ngga ngilu, bahkan gw bisa lari pelan sejauh 5 km dengan kecepatan konstan tanpa berhenti sembari menikmati suasana kompleks di pagi hari. Pohonnya rindang dan pemandangannya asri. Udaranya pun sejuuuk banget. BSD rasa Puncak Pass.

Sambil lari, muncul cuplikan memori sarat emosi perihal 'lari sambilan'. Sambil lari sambil mau nangis menahan ngilu sambil sok kuat sambil kesal sama diri sendiri sambil khawatir gimana kalau ini-itu.

Kalau ingat lagi dan membandingkan sama kondisi sekarang, bawaannya pengen senyum dari kuping ke kuping, merasa bersyukur banget. Bodo amat deh orang-orang yang kebetulan papasan mengira gw orang gila nyengar-nyengir ngga jelas.

Gw anaknya sulit membedakan antara gigih berusaha dan keras kepala (aka bebal) sih. Juga bingung kapan harus mencoba lagi dan kapan harus berhenti. Ditambah, susah menerima bahwa menyerah bukan berarti kalah.

Tapi dengan lari, gw belajar untuk terus 'menantang' batas diri sekaligus mengendalikan diri. Saat lari, lawan kita adalah diri sendiri.

Terlalu lunak akan membatasi, tapi terlalu keras akan melukai.

3 comments:

Shanti said...

pas itu juga gw sebel seubun2 sama yang buat gw terlihat sulit nentuin prioritas dan maksain diri. cih.

*panasin aer buat kompres kaki*

Shanti said...

kaki della, bukan kaki gw
*harus diperjelas*

fidella anandhita savitri said...

huahaha, we hated the same person then. tosss! :))

*isiin ember pake air dingin buat keramas tengah malem*

*lanjut mantulin arah kipas angin biar ademmm*

Powered by Blogger.