Patah Hati

2 hari yang lalu, pas banget setelah sahur pertama, nyokab dapet telfon yang ngabarin kalau eyang tetangga di Bintaro meninggal dunia. Inalillahi wa inna illaihi rajiun. Saat dapet kabar, gw lagi bersiap-siap tidur lagi sampai gw denger intonasi suara nyokab yang 'beda'.

Roman-romannya ada 'sesuatu' yang buruk. Dan bener aja. Kabar duka. Subuh itu juga nyokab ngajak bokap buat balik ke Bintaro, bantu-bantu proses pemakaman.

Kehidupan pertetanggaan di kompleks mungkin emang ngga sedeket kalau di kampung. Tapi seenggaknya, semua selalu sigap kalau ada yang butuh bantuan. Maklum, udah puluhan tahun bertetangga.

Malemnya, nyokab cerita kronologi kejadiannya. Almarhum eyang tetangga itu meninggal dalam tidur tanpa ada pertanda apa pun. Bahkan katanya, suami alm sempet ngobrol panjang malam sebelumnya.

Gw mulai mengenang sosok eyang yang ramah ini. Tiap pagi kalau keluar rumah, gw menyapa eyang yang selalu jalan pagi di depan rumahnya. Senyumnya selalu tulus mengembang.

Selain interaksi singkat tiap pagi, tiap lebaran pasti kami sekeluarga mampir ke sana, disuguhi aneka macem makanan dan cemilan yang enak-enak. Mereka cuma tinggal berdua, jadi selalu menyambut hangat siapa pun yang dateng ke sana, terutama saat lebaran.

Lebaran kali ini, eyang itu udah ngga ada. Tinggal eyang yang satu lagi.

Kebayang, mungkin bagi eyang yang ditinggalkan, itu rasanya kaya lumpuh sebagian. Hampir seumur hidup dihabiskan berdua. Menua bersama. Dan sekarang sendirian. Kesepian.

Ah, mengalami kehilangan memang tak pernah menyenangkan.

Inget eyang buyut gw saat istrinya meninggal bahkan sampai nyoba bunuh diri biar bisa nyusulin almarhum. Inget juga kisah Habibie-Ainun. Inget film Up. Inget cerita ibu-ibu di kantor yang seminggu dua kali ke kuburan suaminya, selama puluhan tahun.

Dan entah, rasanya kaya patah hati. Sesuatu yang menusuk dan mengiris dalam namun tanpa luka yang kelihatan.

###

Tambahan:

Barusan nemu postingan tentang berduka yang hadir di waktu yang tepat:

"Seringkali, yang saya lakukan adalah berduka di kejauhan, untuk mereka yang ditinggalkan. Mereka tak tahu bahwa saya membawa mereka sepanjang jalan, ketika memesan secangkir kopi atau berdoa di malam hari, selagi mengobrol dengan orang-orang yang saya cintai atau berjalan kaki di bawah hangat sinar matahari.
Saya masih tak pernah pandai mengucapkan belasungkawa. Biasanya, saya butuh waktu beberapa minggu atau bahkan bulan, untuk benar-benar kembali menatap atau bercakap dengan mereka yang berduka cita. Di saat itu, terkadang saya masih tak tahu apa yang bisa saya katakan. Saya juga masih tak bisa memberikan pelukan atau menawarkan sesuatu yang dirasa bijaksana"

Ya, tepat.

No comments:

Powered by Blogger.