Tentang Pilpres (Lagi)

Pilpres udah kelar. Yeay? No yeay yet!

Pasca pilpres, banyak pro-kontra mengenai isu perhitungan suara, baik quick count maupun real count di tanggal 22 Juli nanti.

Gw sebenarnya udah mulai muak. Berkali-kali gw memberi jeda pada diri sendiri untuk ngga mantengin apa pun yang berhubungan dengan pilpres. Tapi berkali-kali gw balik lagi. Menyimak berita lagi. Muak lagi. Ra uwis-uwis.

Meskipun hingar-bingar pesta demokrasi ini terlalu bising dengan berita miring yang bikin kuping penging serta kepala pusing, harus gw akui, banyak hal positif yang bisa disaring.

Dari mulai golput yang berkurang drastis, 'koleksi' hasil scan C1 yang ngga wajar, sampai main surat-suratan yang belakangan lagi hits di kalangan seniman dan pekerja kreatif. Surat-surat tersebut ditujukan untuk Pak Prabowo.

Salah satu surat oleh Jenny Jusuf berbunyi:
"Bapak, kami sungguh tak ingin membenci. Kami hanya ingin seorang pemimpin yang bisa kami cintai dan hormati, seseorang untuk dipercayai, yang tak menimbulkan ngeri. Beliau sudah ada di sini. Tolong beri ia kesempatan. Biarkan ia menjalankan tugas sebagai abdi rakyat. Dan sementara ia bekerja, barangkali Bapak bisa duduk beristirahat, meluruskan kaki yang sudah penat"

Terenyuh gw bacanya. Betapa kuatnya pengaruh kata-kata. Mengutip Windy Ariestanty:
"Bagi penulis, kata-kata adalah peluru. Karenanya, jangan umbar peluru untuk hal yang tak perlu"

Semuak-muaknya gw soal copras-capres ini, tetap aja khatam baca semua surat di blog itu. Apalagi ada tulisannya Mbak Windy sama Om Piring, salah dua sosok yang sedikit banyak mempengaruhi pembentukan opini gw.

Rata-rata, surat terbuka itu berisi harapan kepada orang nomor satu di Indonesia yang terpilih dan 'bujukan' kepada capres nomor satu untuk mengakui kekalahan demi kebaikan.

Dalam demokrasi, kekuatan tertinggi ada di tangan rakyat, jadi yaaah.. kemenangan Jokowi dalam perhitungan quick count adalah kemenangan rakyat. Jadi ayolaaah Pak Prabowo, berbesar hatilah.

"Jalan menuju kemenangan dimulai dari kebesaran hati" -Tagline Djarum

No comments:

Powered by Blogger.