Monday, September 29, 2014

'Rasa Bahasa'

0 comments
Dari beberapa postingan yang lalu, gw suka bertanya-tanya, kalau gaya bahasa gw berubah, apakah 'rasa bahasa' nya pun ikut berubah?

Karena seiring gw yang berkembang, gaya bahasa pun turut berevolusi. Sempet ngerasa kalau di beberapa pemilihan kata, kok agak hmm gimanaaa.. gitu ya? Kurang tepat aja.

Ibarat not miring yang nggak 'matching', bukan not miring yang justru jadi penyedap melodi. Duh, ini efek kelaperan, ngebayangin not miring jadi semacam Masako. 11-12 lah ya, matching dan mecin.

Mungkin karena gw masih belum berhasil menemukan formula yang tepat untuk bikin tulisan semi-formal namun tetep sesuai EYD kali ya? Ini emang anaknya suka nyusahin diri sendiri sih. Padahal nggak ada yang nyuruh juga, cuma penasaran aja.

Sebenernya, 'rasa bahasa' itu sendiri apa sih?

Seperti layaknya semua rasa, rasa yang ini pun susah didefinisikan. Gw kadang suka membayangkan kata-kata itu punya 'roh' sendiri. Dia hidup dalam 'jasad' rangkaian kalimat. Dan bagaimana dia dihidupkan oleh 'Tuhan'-nya (aka sang penulis), di situlah letak si 'rasa bahasa' tadi.

Mungkin 'gaya bahasa' boleh beda. Tapi soal 'rasa bahasa', harusnya sih bisa jadi semacam 'signature' (aka kekhasan. Aka sidik jari. Aka grafologi. Aka apa pun itulah) kan ya?

Lalala. Gw pusing sendiri jadinya. Jadi, daripada makin melantur, mari tutup saja postingan kali ini dengan........

Tidur.

Tuesday, September 23, 2014

Transformasi (Flash Fiction Titipan)

0 comments
Aku mematut diri di depan cermin. Dadaku berdebar kencang sekali, seakan-akan siap meledak kapan saja. Tepatkah keputusanku melepas atribut yang membingkai keimananku selama ini? Akankah Tuhan marah padaku? Apakah ini namanya berselingkuh dengan Tuhan sendiri?

Maafkan aku, ya Tuhan. Tapi gejolak yang tak terdefinisikan ini mendorongku untuk mencobanya. Salahkah aku, Tuhan? Berdosakah aku?

Aku menghela napas dan menyingkirkan semua pikiran-pikiran yang menghantuiku itu.

Kulirik sekilas foto yang terpampang manis di atas meja rias. Sosok aku dan kedua orang tuaku, sedang tersenyum dengan latar belakang Ka'bah. Sekali lagi Tuhan, maafkan aku. Sudah bulat keputusanku.

Aku mau ke gereja.

###

"Sayang, kamu serius?" tanyamu saat kita akhirnya sampai di parkiran. Perjalanan bisu tadi tentu menyiksamu. Maaf ya.

Aku mengangguk mantap, "Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Yuk!" Aku tersenyum dan menatapmu, berusaha meyakinkan bahwa aku lebih dari serius.

"Aku cuma nggak mau kalau kamu ke sini cuma gara-gara aku. Aku nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Aku nggak pernah maksa kamu", ujarmu. Nampak cemas.

Tawaku meledak. "Hahaha, geer deh kamu. Kan aku udah bolak-balik bilang. Aku ke sini karena aku mau, bukan karena kamu atau siapapun. Aku dari tadi diem aja karena aku merasa... hmm apa ya? Antara nggak percaya, takut, kaget, senang, meledak-ledak, dan entahlah. Susah dijelaskan. Rasanya kayak mimpi. Kamu tahu nggak, aku pernah mimpi ini waktu aku masih kecil?"

"Oh ya? Mimpi apa?"

"Panjang ceritanya. Nanti aku ceritain. Sekarang, boleh kita masuk aja?"

Kamu tidak berkata apa-apa lagi, hanya menggenggam erat tanganku yang basah dan berkeringat, serta bergemetar hebat. Aku mengerti kamu pasti mencemaskanku. Dan aku juga mengerti, kamu pasti tidak tahu harus berkata apa lagi padaku, setelah mengiyakan permintaanku yang sulit dipahami akal sehat.

Aku menengadah menatap bangunan megah yang akan kita tuju itu dan mengerjap, masih tidak percaya bahwa bangunan tersebut tidak menghilang dalam hitungan detik dan aku terlempar kembali ke lorong gelap itu, lalu terbangun dengan napas memburu. Bukan, ini bukan mimpi. Ini sungguhan.

Senandung lagu gospel yang merdu dan penuh puja-puji melantun. Pelan dan sayup, kemudian terdengar semakin jelas. Bulu kudukku berdiri. Ini persis seperti dalam mimpiku. Lorong ini, cahaya itu, suara piano dan paduan suara, kamu, aku, Gabriel........

Aku menghentikan langkah tiba-tiba.

###

Behind the flash fiction:

Di suatu malam, ada seorang teman yang mendadak minta dibuatkan cerita dengan brief: petualangan hati yang tersentuh oleh sesosok makhluk Tuhan bernama pria. Harus ekslusif tapi nggak FTV. 'Menantang' banget emang orang banyak maunya -___-


Ini versi interpretasi bebas gw, mengambil sedikit dari kisah masa lalunya. Sengaja belum gw rampungkan karena sekarang, anaknya terlihat Islami sekali. Semacam takjub ada orang yang bisa bertransformasi sedemikian rupa. Sebegitu cepatnya.

Monday, September 22, 2014

'The It Shoes'

0 comments
Sehabis lari pagi tadi, ada beberapa hal yang terlintas di pikiran. Hmm.. mulai dari mana (dan yang mana) ya? Oke, mari mulai dari cerita tentang lari yang pernah ditulis di sini.

Setelah sekian lama mogok lari dan olahraga, akhirnya semenjak bulan Juli gw mulai rutin lari pagi. Motivasinya cetek: mau medical check-up. Tengsin nanti kalau ketahuan fisik nggak okeh gara-gara jarang olahraga. HAHA.

Gw bikin beberapa 'check point' dalam program lari ini. Sebetulnya tinggal atur aja sih di aplikasi Nike Run, tapi pada prakteknya nggak semudah mencapai target si 'virtual coach' itu.

Tentunya, hal paling sulit adalah BANGUN SUBUH!!! Mana gw kan kalong yang biasa tidur larut, jadi suka 'ngawang' kalau harus bangun subuh. Sebetulnya gw pasti bangun sih, soalnya nyokab selalu kasih jus tiap subuh.

Masalahnya, biasanya habis minum jus gw tidur lagi. Sekarang, gw harus memaksakan diri untuk melek dan beranjak dari kasur yang hangat untuk menembus sejuknya BSD di pagi hari. Gw manfaatkan momen itu dengan mengecek HP tiap nyokab kasih jus biar melek.

Nggak ngefek sama sekali. Melek sih melek, tapi malah bikin makin mager :))

Gw coba sok iye dengan menempel post it "AYO LARI! SEMANGAT!" di tempat yang terjangkau pandangan. Ngaruh kadang-kadang doang.

Yaudah. Gw kasih tambahan di post it "inget medcheck!" dan yang ini ternyata efektif. Memang deh, yang bikin gw 'gerak' ya motivasi internal itu: ogah tengsin. Harga diri adalah senjata nomer wahid lah. HAHA.

Setelah touch down 'check point' medical check-up dan alhamdulillah dinyatakan sehat, gw malas lagi. Even worse, gw merasa burnout. Si program Nike Run itu suka bilang kalau gw over-training. Harusnya cuma 3 kilo, gw lari 10 kilo. Harusnya rest, gw lari 5 kilo.

Ditambah, gw belum punya sepatu lari. Selama ini pakai Skechers Go Walk punya nyokab atau adek gw yang ukurannya kekecilan. Walhasil, kaki gw sering lecet. Nggak nyaman banget. Tapi berhubung adanya cuma itu, yaaa.. hajar weee lah.

Yang penting sudah nggak ngilu lagi, pikir gw.

Terus bokap dengan baik hatinya bilang mau membelikan sepatu lari setelah gw suka mengeluh lecet. YEAY!!! Ada donatur tunggal dari Yayasan Papah Nusantara. Nggak menolak lah!

Akhirnya mulailah proses hunting sepatu lari. Selama Agustus, gw nggak pakai program si Nike Run. Lari ya kalau mood saja. Di otak sudah beda lagi prioritasnya: beli sepatu dulu baru rutin lari lagi.

Agak absurd memang.

Proses huntingnya cukup lama karena gw banyak maunya. Warnanya cabe-cabean lah. Bentuknya heboh lah. Nggak suka modelnya lah. Berat lah. Daaan.. semacamnya.

Giliran ada yang oke, harganya di luar budget. Giliran budget cocok, nggak ada ukurannya. Giliran ketemu, budget cocok, dan masih ada stok ukuran, susah banget pemesannya karena harus beli di US.

OMAIGAT DEL! LO MAU CARI SEPATU APA JODOH SIH? SELEKTIF AMAT!

Singkat cerita, sekitar awal September, akhirnya gw menemukan 'the it shoes'. Memang jodoh nggak ke mana ya, soalnya gw sudah mengincar itu sepatu dari lama. Gw jatuh hati pada pandangan pertama, tapi dibikin patah hati pada harga pertama. Hiks.

Beruntungnya, setelah gw ke sana lagi sebulan kemudian, 'the it shoes' yang sesuai dengan ukuran kaki gw stoknya tinggal yang ada di display, jadi DIKASIH DISKON!!! Sip! Bungkus, Gan!

Jadi ingat bahasan tentang Maximizer vs Satisficer (part 1 dan part 2) yang pernah gw tulis. Rasa-rasanya, gw sedang mengaplikasikan itu, dan gw baru sadar tadi saat lari pagi.

Alih-alih terus mencari yang terbaik, gw cukup senang mendapatkan sepatu itu meskipun stok display. Kalau masih ngeyel cari lagi, bisa-bisa gw nggak jadi lari pagi dan keburu masuk camp, terus cupu deh staminanya.

Atas pertimbangan itu, gw pun membawa pulang 'the it shoes' dengan senyum sumringah. Merasa puas.
"Karena kadang, puas itu hadir saat berhenti mencari dan mencoba menikmati"

Friday, September 19, 2014

Hot and Cold

0 comments
Today, I discover new finding about myself: I can be veeery emotionally detach over people. I can be so cold like serial killer that even me, is scared of me. I feel so inhumane.

On the other hand, I can care too much about people I love unconditionally. Maybe more than too much that most people fail to understand. Me neither.

Fyuh. I wonder how can people be so 'dispenser-like'? I mean, they can be so cold yet so hot at the same time. So cold that you can froze out, yet so hot that can cause blister.

But still appear fine.

Monday, September 15, 2014

Transnasionalisme

0 comments
Kemarin, gw menyimak diskusi forum para ilmuwan muda yang diadakan kantor. Dalam diskusi tentang transnasionalisme, salah satu partisipan cerita, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia harus siap kalau misalnya anaknya menikah dengan orang Afrika.

Gw menangkap kekhawatirannya. Ibu X ini mengajarkan anaknya untuk melihat dunia, berarti dia harus siap melepas kalau anaknya suatu hari jadi 'warga dunia' dengan segala keberagamannya, termasuk menikah dengan orang asing.

Ready or not, her kids are now third culture kids.

Terus salah satu partisipan yang menikahi orang asing bilang, nggak susah kok mengurus suami bule, walaupun mereka harus mendidik anaknya dengan 3 bahasa (Indonesia, Inggris, Tamil). Oh ya, fyi, ibu Y ini keturunan India.

"Kayaknya justru lebih susah mengurus suami Indonesia ya?" komentarnya.

Lalu salah satu partisipan lain menanggapi sekaligus bertanya-tanya, "Sebetulnya, mana yang lebih berpotensi terjadi konflik? Seragam atau beragam?"

Mindblowing.

Bleki Kampret

0 comments
Ada orang yang mungkin ditakdirkan berpapasan jalan dengan kita untuk menguji kesabaran. Ada. Orang yang mempersulit birokrasi misalnya (mari kita anggap saja Pak Bleki 1 2 3 dst).

Jadi ceritanya, selama gw bekerja ini sebetulnya gw bermasalah soal status kepegawaian. 2 bulan pertama bekerja udah pening ngurusin ini tetap aja sampai sekarang belum kelar juga.

Dilempar dari Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2 ke Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2, muter aja gitu terus kayak kuda-kudaan Dufan. Lama-lama gw kesal dan bilang kalau gw lebih baik mengundurkan diri kalau nggak ketemu jalan tengahnya.

BLEKI KAMPRET! Tapi yaudalah, Bleki menggonggong khafilah berlalu. Gpp lah gw dirugikan secara nominal, tapi nggak secara mental.

Saat gw cerita ke pemimpin tertinggi di kantor, beliau bilang "tenang aja. Della tahu kan kami semua dukung Della". Ya gw udah diginiin, gimana bisa menolak kan? Akhirnya gw urung mengundurkan diri. Toh gw menyukai apa yang gw kerjakan.

Jadi gw mengafirmasi diri berulang-ulang "uang bukan segalanya. Seenggaknya, gw mendapat lebih dari uang. Rezeki nggak bakal tertukar". Fyuh. Sabar ya, Del.

###

Di bulan ke-4, ada lagi masalah yang membuat gw berurusan dengan Pak Bleki baru, sebut saja Pak Bleki 3. Hadeeeh.. orang-orang macem gini tuh kayak karang gigi deh. Kalau nggak rutin dibersihkan makin susah menghilangkannya.

Sayangnya, para Bleki karang gigi itu tetap dipertahankan karena belum ada pengganti. ISSSH!!! Hobi banget ya pemerintah nahan-nahan tumor negara.

Dalam peraturan dan kebijakan (YANG DIBUAT SENDIRI DAN SEMENA-MENA OLEH PAK BLEKI 3), disebutkan bahwa karyawan yang melakukan perjalanan dinas wajib menyerahkan boarding pass sebagai bukti perjalanan.

Si Della anak slebor ini dengan jeniusnya menghilangkan that precious boarding pass. Maka dari itu, konsekuensinya adalah mengganti biaya transportasi sesuai dengan harga tiket.

YA KELEUUUSSS!!! OGAH BANGET!!! Segala alternatif solusi pun gw tawarkan, tapi ditolak sama si kampret Bleki 3. FUCK!!! Akhirnya ada 1 solusi yang dia pertimbangkan: minta bukti ke pihak maskapai bahwa gw benar-benar melakukan penerbangan, which means........

........gw harus bolak-balik bandara.

ANOTHER FUCK!!! Macem gw nggak punya kerjaan lain aja. Tapi yowes turutin bae lah. Ojo misuh-misuh tho le. Salah sendiri boarding pass nggak disimpan baik-baik. Lesson learned banget lah untuk nggak sleboran.

Setelah segala keribetan bolak-balik bandara itu, akhirnya Pak Bleki 3 menyetujui bahwa gw nggak perlu mengganti biaya transportasi. Ok. Case closed.

###

Umm.. not yet.

Kemarin, kebangsatan Pak Bleki 3 kembali lagi. Untung bukan gw yang berurusan langsung dengan si kampret. Tapi gw sangat nggak terima akan perlakuan dia kepada para undangan forum.

Jadi, dalam peraturan dan kebijakan (YANG SEKALI LAGI GW BILANG, DIBUAT SENDIRI DAN SEMENA-MENA OLEH PAK BLEKI 3), disebutkan bahwa ongkos perjalanan darat para undangan hanya bisa diberikan sejumlah 100.000 rupiah, PP.

Ini orang sinting nggak bisa berhitung atau gimana sih? Gw aja yang rumahnya di Serpong ongkos taksi bisa sampai 200.000 rupiah sekali jalan. Lah apa kabar yang tinggal di kota satelit seperti Bandung, Bogor, Depok, Bekasi, dan sekitar?!

Gw mah bukan soal nominalnya, tapi bentuk apresiasinya. Para undangan itu kan bukan orang sembarangan. Mereka petinggi di kampus masing-masing yang supeeer sibuk.

Mengundang mereka aja susahnya minta ampun. Harus announce dari jauh-jauh hari dan follow-up berulang-ulang. Tapi demi hadir di forum, mereka bela-belain meluangkan waktu 3-4 hari (tergantung jadwal), dari pagi sampai tengah malam, weekend pula! Dan itu statusnya sukarela.

Kami para panitia hanya memastikan bahwa mereka nggak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk menghadiri forum ini. Tapi si Bleki karang gigi kampret sinting itu nggak mau kompromi. Peraturan ya peraturan, walaupun nominalnya nggak masuk akal.

Duit juga punya negara, bukan punya dia. Lagian orang jelas-jelas ada anggarannya dan jelas akan dipergunakan untuk apa, kenapa juga harus dipersulit sih?

Peraturan itu dibuat untuk mempermudah pengaturan, bukan mempersulit. Peraturan itu sifatnya tegas, bukan kaku. Peraturan itu bisa disesuaikan sesuai kebutuhan, bukan dipukul rata. HARUSNYA BEGITU. Coba deh, kalau dia digituin emang rela?

Berdasarkan cerita Mbak P yang berurusan langsung dengan si kampret, dia bilang "saya bisa naik angkot dari Bandung" ANJIR!!! EEK BANGET JAWABANNYA!!!

Astagfirullah allahuakbar subhanallah masyaallah audzubillahiminasyaitonnirojim, ada ya orang kayak gitu. Semoga dia secepatnya dapat balasan yang setimpal deh. Aamiin. Gw berdoa yang terburuk aja buat dia.

Mamam noh naik angkot dari Bandung ke Jakarta. Sekalian aja naik becak genjot sendiri.

Sunday, September 14, 2014

How I Met IM (part 2)

0 comments
Januari 2014

Di bulan ini, status gw adalah pengangguran bahagia. Pertama, artikel perdana gw di Ruang Psikologi selesai (walaupun baru dimuat di bulan Februari).

Kedua, alhamdulillah gw lolos seleksi esai IM dan lanjut ke tahap Direct Assessment (DA).

Ketiga, gw punya buanyaaak waktu buat main dan leyeh-leyeh do nothing setelah intens 'menggurita' beberapa bulan sebelumnya.

Februari 2014

Mulai galau kelamaan nganggur dan menunggu kepastian pengumuman DA. Harusnya gw ke Semarang, tapi nggak jadi-jadi mulu karena nungguin ini. Lah piye kan kalau keterima? Masa bentaran doang di sana?

Lagipula, gw sekeluarga mau umroh. Yaudalah, ditunda aja ke Semarangnya (yang ujung-ujungnya niat ke sana beberapa bulan nggak jadi juga).

Maret 2014

PUNCAK KEGALAUAN!!! Udah kering jadi ikan asin gw nungguin pengumuman. Nggak lolos pula. Itu pun taunya di penghujung bulan Maret.

Rasanya kayak harap-harap cemas nunggu ditembak gebetan, eh ternyata relationship status nya udah jadian sama orang lain. Sakitnya tuh di sini *nunjuk ulu hati. Okelah, mari march on!

Oh ya, di bulan ini pun gw mulai sibuk pindahan. Another 'march on' thingy. Deket sih emang, cuma dari Bintaro ke BSD. Tapi tetap aja menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Untung aja gw masih pengangguran, jadi punya banyak waktu buat mengurus ini-itu printilan rumah.

Bener-bener deh, 'timing' nya Allah emang nggak pernah salah. Kitanya aja yang kadang suka menyalahkan keadaan. Mungkin gw belum dikasih rezeki lolos IM karena........

April 2014

........gw mulai kerja di kantor temen gw sebagai sekretaris proyek sains. Jauh banget ya dari bidang ilmu gw? Hahaha. Tapi ya itulah rezeki. Kadang datang di saat yang nggak disangka-sangka.

And it was one of my best moment, to work there.

Jadi gini, setelah gw bantu event dia, yang sempet gw ceritain di 'How I Met IM (part 1)', gw ditawarin kerja di sana. Tapi berhubung gw masih menunggu pengumuman IM, jadi yaaah.. setelah nggak lolos baru deh gw akhirnya kerja di situ.

Di bulan ini, gw ikut seleksi IM lagi. Setelah ragu karena takut nggak siap kalau gagal lagi, gw pikir, fuck off. I'll try one more time.

Agustus 2014

Setelah lolos seleksi esai, lolos DA, lolos medcheck, akhirnya gw resmi jadi Pengajar Muda. Alhamdulillaaah! Untung aja gw nggak cepat menyerah. Coba kalau gw mengurungkan niat daftar IM lagi, mungkin nggak begini ceritanya.

Tapi ya hidup itu emang selalu menawarkan pilihan. Kadang, pilihannya nggak ada yang pengen kita pilih. Tapi kadang, semua pilihannya menggiurkan. Kayak sekarang.

Gw udah terlanjur menikmati menjadi bagian dari proyek besar para ilmuwan terbaik se-Indonesia. Ya yang terbaik mereka sih, tapi somehow gw juga jadi ikutan bangga bisa terlibat di dalamnya. Mana di bulan November ada kunjungan ke Aussie pula. Huweee.. mupeng!

Berhubung gw udah memilih IM, ya gw harus siap akan segala konsekuensinya. Termasuk menelan kemupengan karena ada wacana di tahun depan mereka akan ke Italia.

Yaudalah, tahun depan gw bisa kok traveling ke Eropa sendiri, nggak harus karena tugas dinas. Selalu ada lain kali, Del *aamiin aja dulu. Menghibur diri.

September 2014

Akhir bulan ini gw resign. Hari ini hari terakhir gw ngurus event. Hari-hari sisanya, mungkin akan lebih banyak handover kerjaan ke pengganti gw. Nggak ada habisnya rasa syukur bisa sampai ke titik 'check point' ini.

Emang ya, whatever happens, just keep moving. We'll never know what we'll find in every intersection.

Salah satu orang yang harus gw ucapkan terima kasih adalah Cune. "The Iron Lady" (aka "Wanita Setrikaan" --huahaha nggak enak banget terjemahannya--) inilah yang jadi saksi dan 'menyetrika' segala kegalauan gw, juga yang turut bangga atas gw. I can't thank you more, Ne!

Oh! Dan Dini, si ibu RM --yang sebetulnya maunya jadi ibu RT-- yang nggak pernah gagal bikin gw yakin meskipun gw suka ambil keputusan 'nyeleneh', salah perhitungan, dsb, selalu ada orang yang bilang "kan lo tau sendiri gw yang paling dukung lo". Makasih banyak loh, Din!


Sooo.. this is how I met IM :)

How I Met IM (part 1)

0 comments
Atas: tim inti. Ki-ba: Prof Sangkot Marzuki. Ka-ba: Direktur Proyek

Gw habis pulang dari event kantor. Marathon rapat dan ngurus forum diskusi sekitar 50an ilmuwan (yang ada di foto cuma tim inti) selama 4 hari berturut-turut dari pagi sampai tengah malam. Capek? Nggak usah ditanya. Tapi gw sangat menikmati event terakhir sebelum gw resign ini.

Jadi pengen throwback masa-masa semenjak lulus kuliah sampai sekarang.

Juli 2012

Pekerjaan pertama gw adalah creative officer di sebuah perusahaan marketing consultant. Perusahaan ini adalah perusahaan start-up yang baru jalan beberapa bulan. Masih 'hijau' banget. Sistem belum terbentuk. Karyawan cuma 3 orang. Tapi udah gaya banget ngantor di Kuningan.

Iya, Kuningan yang biang macet Jakarta itu loooh!

Sepanjang hidup, gw nggak pernah beraktivitas rutin di pusat kota, jadi syok banget saat ngerasain 5-6 jam PP ngantor. Butuh pembiasaan gila-gilaan di beberapa bulan pertama. Mana habis putus pula, nggak ada tempat berkeluh-kesah (ea ea ea).

Ditambah, proyek-proyek 'Roro Jonggrang' super ngehek dengan deadline nggak masuk akal, nggak sesuai kapabilitas gw, dan nggak ada SDM tambahan. DAAAN.. udah dikerjain pun belum tentu terpakai. Kampretos! Beneran 'dikerjain' gw.

November 2012

Suatu hari, gw disuruh cari ide kampanye sosial, lalu gw inget tentang program Indonesia Mengajar. Gw cari tahu lebih lanjut dan ngobrol sama temen gw yang kebetulan pernah jadi Pengajar Muda.

Singkat cerita, akhirnya muncul ide-ide dan jadilah proposal rancangan kampanye sosial yang lagi-lagi nggak kepake. Aku rapopooo.. *sambil tujes-tujes boneka Voodoo.

Tapi gara-gara mencari tahu tentang IM, gw sempet galau pengen daftar jadi Pengajar Muda tapi belum yakin. Sampai sini, loncat dulu ke cerita selanjutnya.

September 2013

Setelah frustrasi apa yang gw kerjain selama ini selalu sia-sia, gw mulai berpikir untuk resign. Gw nggak ngerasa berkembang.

Well... to be frank, sebetulnya perusahannya yang nggak berkembang. Gw mah ya mau gamau 'mengembang' karena terpaksa ngerjain ini-itu di luar batas kemampuan gw. Blessing in disguise sih sebetulnya. Tapi gw bingung. Nggak ada alasan kuat kenapa gw harus resign.

Walaupun di awal wawancara kerja gw udah bilang ke Pak Bos bahwa gw nggak akan lama di sini (mungkin 1-2 tahun aja), tetep rasanya cupu 'nyerah' gitu aja.

Di saat galau resign-nggak-ya, gw tau-tau dikasih kepercayaan buat handle klien besar. Mari sebut saja klien O. Nggak tanggung-tanggung, dengan 'kanvas kosong' alias bikin proposal kampanye dari nol.

Sinting sih ini Pak Bos berani banget ngasih gw kerjaan yang tanggung jawabnya besar. I could screw up this whole things anytime. He knew that. Asli lah gw insecure gila-gilaan!

Tapi walaupun dengan segala kesintingan itu, gw sangat respek sama Pak Bos. Emang orang pintar, ahli marketing, rendah hati, ramah, dan nggak pernah membatasi ruang gerak gw. Dia membebaskan gw melempar ide apa pun. Bahkan terlalu bebas kadang-kadang :))

Oktober 2013

Gw lihat pendaftaran IM lagi. Galau lagi. Apa gw daftar aja ya? Lalu gw lihat lowongan volunteer Citra Pariwara. Galau juga. Cita-cita gw kan jadi copywriter. Berhubung belum kesampaian, nyicipin ajang Ad Awards nya dulu boleh kali ya?

Lalu bokap menawarkan untuk ke Semarang, bantu-bantu di sebuah UKM yang bergerak di bidang design. Menarik juga kalau bisa ke sana beberapa bulan. Pengen merasakan jadi anak rantau sekaligus belajar design sekaligus menyumbang kontribusi buat UKM itu.

Lagipula, di bulan Desember kan MBUI ada GPMB. Gw pengen bantu di latihan intensif dan Training Center (TC) akhir.

Iya, anaknya emang banyak maunya.

Dari situ, gw menyadari bahwa udah saatnya gw resign setelah 'check point' si proposal itu kelar di bulan November. Udah cukup banget lah pengalaman kerja di 'Toko Kelontong' dengan motto "Palugada. Apa Lu Mau Gue Ada".

Gw masih punya banyak keinginan yang ngga akan kesampaian kalau gw masih bekerja di situ. Yaudalah, persetan dengan ngerasa cupu 'nyerah' padahal belum sampai 2 tahun kerja. Well, I deserve better anyway.

Alhamdulillah Pak Bos baik sih. Dia paham alasan gw. Emang ya, bener kata quote ini:
"Don't pick a job. Pick a boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn't trust you won't give you opportunity to grow" - William Raduchel
Despite everything, he trusted me THAT MUCH. Lucky me, yes? :')

November 2013

Hidup emang penuh kejutan ya. Tanpa disangka, ternyata gw menikmati banget ngerjain si proposal kampanye klien O ini. Alesannya simpel. Pertama, kali ini beneran terpakai dan dieksekusi, bukan cuma end up di rancangan doang.

THAT FEELING WHEN YOU FINALLY SEE THE REAL RESULT OF WHAT YOU'VE BEEN WORKING ON. AFTER ALL THIS TIME!!! *anaknya lebaynya nggak santai abis.

Kedua, gw pengen meninggalkan 'warisan' yang semoga bermanfaat buat ke depannya. Gw pengen menghasilkan sesuatu yang layak dikenang, nggak gitu aja menghilang tanpa kesan.

Ketiga, ternyata gw menyukai managing people. Duh, guilty pleasure. Tapi emang beneran menyenangkan sih jadi koordinator, penghubung antara klien dan para vendor. Apalagi mereka asik diajak kerjasama.

Dari September sampai November ini, gw bekerja bersama seorang Mbak X yang emang udah pro banget soal bikin creative plan. Saking pro nya, gw sempet ngerasa terintimidasi. HAHA.

Di bulan ini pula gw diminta tolong seorang teman untuk bantu event dia, semacam simposium sains. Siapa sangka, itulah yang jadi awal rezeki gw. Nanti akan gw ceritakan lebih lanjut. Sedikit ceritanya bisa dibaca di sini.

Desember 2013

Gw akhirnya daftar IM. Setelah setahun galau, sebulan nyicil bikin esai, gw bismillah aja. Semua yang gw tulis di situ bener-bener murni pengalaman gw. Jadi masalah keterima atau nggak, seenggaknya, gw udah berusaha menampilkan gw apa adanya. Selesai perkara.

Di bulan ini gw udah resign dan 'merayakan' nya dengan jadi volunteer Citra Pariwara, jadi staf pubdok di TC Akhir MBUI, dan apply buat jadi kontributor penulis di Ruang Psikologi.

Kalo kata Syahrini, rasanya tuh... I FEEL FREEE~

Thursday, September 11, 2014

At Least I Never Walked

0 comments
There's no such thing as ideal life. Even when you like what you do, often times, you will feel tired and discover that there are A LOT OF things happened beyond your expectation.

You may take a deep breath, chill down, and assure yourself "this too shall pass". But although you know everything will be over --and leave you that mixed feeling when it IS finally over--, just keep doing what you're doing and never slow down your pace.

I'd like to associate things with running. As I start to run and set the distance, unless I plan to mix speed between run and walk, I hate to give up the run and decide to walk instead.

Too bad, besides being a sucker at direction, I also suck at calculating distance. I have no idea how far is too far. Literally. I used to think 1 mile equals 10 km, while it's actually 1.6 km. HAHA. So often times, I fail at estimating limits.

But as written on the last page of my favorite book titled "What I Talk About When I Talk About Running" when Murakami said he wanted his gravestone to be carved:
"At least he never walked"
I'd like to be like him. I'd like to run and won't walk until finish line.

Cemburu

0 comments
"Gw kan cemburuan ya sama temen. Kalo lu suka nulis tentang Y gw suka cemburu" -X

Gw ngakak sejadi-jadinya. Apa pula?! PERSISSS banget sama yang pernah dibilang si Y juga. Dengan bahasa yang beda tentunya, tapi intinya sama: cemburu.

Well anyway, don't be. Because you're also special. I still have so much room in my heart for all my beloved ones. I'm just not that kinda person who tell it every day, out loud.

Lalala

0 comments
Kalau lagi lalala banget emang paling enak tuh nulis sebagai ajang katarsis ya. Setelah harusnya udah bisa tidur cepet, tidur tenang, dan tidur senang, malah kebangun tengah malem gini.

Fyuh. Padahal nggak lagi PMS, nggak lagi kenapa-napa, tapi bawaannya cemas aja. Kenapa sih? Udah gila banget rasanya pengen lari.

Inget dulu pernah lari sekitar jam 3 pagi di sekitaran Kukel-Kutek-Pusgiwa UI sendirian. Nggak peduli gelap, setan, maupun 'setan' dalam bentuk manusia (aka pelaku kriminal yang berniat jahat). Anak sinting emang. Untungnya aman-aman aja.

Isssh.. paling ngeselin deh uring-uringan sendiri yang nggak jelas asal muasal dan sebab akibatnya. Nggak penting abis. Buang-buang emosi aja.

Lalala, dalam berbagai definisi.

Sunday, September 7, 2014

Recap Agustus

0 comments
Gw pernah menyebutnya: Agustusugus. Bulan yang manis, mirip permen Sugus yang punya bermacam varian rasa.

25 highlights of the month:
  1. Hunting sepatu lari
  2. Kejadian yang bikin spaneng (AH SUDAHLAH)
  3. Ultah Qopul
  4. Rapat weekend bulanan
  5. Dolly melahirkan. Anaknya 3, mati 1
  6. Pengajuan resign per Setember
  7. Medical check-up Indonesia Mengajar
  8. Main sama geng angkatan 34 MBUI (Diah, Shasha, Velo, Tegar)
  9. Eyang kena stroke (lagi), lumpuh sebagian :(
  10. Main sama Octa
  11. Ultah Mardayah
  12. Ke GOE (demo ekskul SMA)
  13. TC buat persiapan OKK (gw nggak dateng sih)
  14. Nonton Musikal Sekolahan saat 17an sama Shasha (dan beberapa anak MBUI lain)
  15. Ada yang baru jadian (PRIKITIUW)
  16. Misi ngumpulin 10 cap Goethe demi notes: done
  17. OKK (gw nggak dateng sih)
  18. Main sama geng magang Lowe (Astrid dan Marcell)
  19. Ke Jember Fashion Carnaval sama Velo
  20. Tandatangan kontrak Indonesia Mengajar
  21. Wisuda (gw nggak dateng sih)
  22. Nonton Mocca sama Cune (dan Pipit, harusnya)
  23. Main ke Bintaro sama Dini dan Yuni
  24. Meet-up sama Vika, Inay, Intan buat bikin final itinerary Singapore
  25. On-off mbak-less days. Mendadak Ijah
Dan gw masih menyebutnya: Agustusugus.

Thursday, September 4, 2014

Fine

3 comments
Beberapa pekan yang lalu, seorang teman bercerita mengenai ketakutannya dan ke-nggak yakin-annya kepada diri sendiri. GLEK! Gw menahan napas dan menelan ludah, menyadari kenyataan bahwa seseorang bisa berubah.

Iya, gw tahu itu biasa. Tiap orang pasti berubah. Tapi nggak munafik, walau bagaimana pun berusaha menerima, kadang tetap ada setitik keinginan diam-diam "plis jangan berubah".

Dia yang gw kenal dulu, selalu optimis apa pun yang terjadi. Sampai pelan-pelan, gw mulai merasakan dia berubah jadi sosok yang peragu, yang bolak-balik gw tepis "Del ah gausah sotoy".

Mungkin karena tuntutan dan tekanan lingkungan. Entah. Bukan hak gw udah menghakimi. Tugas gw sebagai seorang teman hanya meyakinkan dia untuk kembali yakin pada dirinya sendiri.

"You. Are. Fine. No such thing as pattern if we can learn our lesson. Just go ahead. You worry too much", I said.

Mungkin terlalu angkuh kalau gw bilang gw cukup mengenal dia. Gada yang benar-benar mengenal manusia lainnya. Terlalu rumit.

Tapi seenggaknya, gw bisa bilang gw mengikuti perkembangannya. Gimana caranya menyikapi sesuatu. Gimana dia menimbang sebuah keputusan. Gimana pola pikirnya. Dan 'pola' lainnya.

Makanya, gw super bahagia saat tahu dia akhirnya menemukan seseorang yang diam-diam gw acc dalam pikiran. Beberapa hari yang lalu, kami bertemu, dan gw sangat lega. Mereka cocok.

Entah gimana, feeling gw mengatakan kalau gw bisa percaya orang itu bisa meyakinkan dia kalau dia baik-baik aja. Well, bukan cuma meyakinkan, tapi juga membuktikan.

And yes, she looks fine. And glowing :)