Posts

Showing posts from September, 2014

'Rasa Bahasa'

Dari beberapa postingan yang lalu, gw suka bertanya-tanya, kalau gaya bahasa gw berubah, apakah 'rasa bahasa' nya pun ikut berubah?
Karena seiring gw yang berkembang, gaya bahasa pun turut berevolusi. Sempet ngerasa kalau di beberapa pemilihan kata, kok agak hmm gimanaaa.. gitu ya? Kurang tepat aja.
Ibarat not miring yang nggak 'matching', bukan not miring yang justru jadi penyedap melodi. Duh, ini efek kelaperan, ngebayangin not miring jadi semacam Masako. 11-12 lah ya, matching dan mecin.
Mungkin karena gw masih belum berhasil menemukan formula yang tepat untuk bikin tulisan semi-formal namun tetep sesuai EYD kali ya? Ini emang anaknya suka nyusahin diri sendiri sih. Padahal nggak ada yang nyuruh juga, cuma penasaran aja.
Sebenernya, 'rasa bahasa' itu sendiri apa sih?
Seperti layaknya semua rasa, rasa yang ini pun susah didefinisikan. Gw kadang suka membayangkan kata-kata itu punya 'roh' sendiri. Dia hidup dalam 'jasad' rangkaian kalimat. Dan…

Transformasi (Flash Fiction Titipan)

Aku mematut diri di depan cermin. Dadaku berdebar kencang sekali, seakan-akan siap meledak kapan saja. Tepatkah keputusanku melepas atribut yang membingkai keimananku selama ini? Akankah Tuhan marah padaku? Apakah ini namanya berselingkuh dengan Tuhan sendiri?

Maafkan aku, ya Tuhan. Tapi gejolak yang tak terdefinisikan ini mendorongku untuk mencobanya. Salahkah aku, Tuhan? Berdosakah aku?

Aku menghela napas dan menyingkirkan semua pikiran-pikiran yang menghantuiku itu.

Kulirik sekilas foto yang terpampang manis di atas meja rias. Sosok aku dan kedua orang tuaku, sedang tersenyum dengan latar belakang Ka'bah. Sekali lagi Tuhan, maafkan aku. Sudah bulat keputusanku.

Aku mau ke gereja.

###

"Sayang, kamu serius?" tanyamu saat kita akhirnya sampai di parkiran. Perjalanan bisu tadi tentu menyiksamu. Maaf ya.

Aku mengangguk mantap, "Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Yuk!" Aku tersenyum dan menatapmu, berusaha meyakinkan bahwa aku lebih dari serius.

"Aku cuma ngga…

'The It Shoes'

Sehabis lari pagi tadi, ada beberapa hal yang terlintas di pikiran. Hmm.. mulai dari mana (dan yang mana) ya? Oke, mari mulai dari cerita tentang lari yang pernah ditulis di sini.

Setelah sekian lama mogok lari dan olahraga, akhirnya semenjak bulan Juli gw mulai rutin lari pagi. Motivasinya cetek: mau medical check-up. Tengsin nanti kalau ketahuan fisik nggak okeh gara-gara jarang olahraga. HAHA.

Gw bikin beberapa 'check point' dalam program lari ini. Sebetulnya tinggal atur aja sih di aplikasi Nike Run, tapi pada prakteknya nggak semudah mencapai target si 'virtual coach' itu.

Tentunya, hal paling sulit adalah BANGUN SUBUH!!! Mana gw kan kalong yang biasa tidur larut, jadi suka 'ngawang' kalau harus bangun subuh. Sebetulnya gw pasti bangun sih, soalnya nyokab selalu kasih jus tiap subuh.

Masalahnya, biasanya habis minum jus gw tidur lagi. Sekarang, gw harus memaksakan diri untuk melek dan beranjak dari kasur yang hangat untuk menembus sejuknya BSD di pagi hari…

Hot and Cold

Today, I discover new finding about myself: I can be veeery emotionally detach over people. I can be so cold like serial killer that even me, is scared of me. I feel so inhumane.

On the other hand, I can care too much about people I love unconditionally. Maybe more than too much that most people fail to understand. Me neither.

Fyuh. I wonder how can people be so 'dispenser-like'? I mean, they can be so cold yet so hot at the same time. So cold that you can froze out, yet so hot that can cause blister.

But still appear fine.

Transnasionalisme

Kemarin, gw menyimak diskusi forum para ilmuwan muda yang diadakan kantor. Dalam diskusi tentang transnasionalisme, salah satu partisipan cerita, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia harus siap kalau misalnya anaknya menikah dengan orang Afrika.

Gw menangkap kekhawatirannya. Ibu X ini mengajarkan anaknya untuk melihat dunia, berarti dia harus siap melepas kalau anaknya suatu hari jadi 'warga dunia' dengan segala keberagamannya, termasuk menikah dengan orang asing.

Ready or not, her kids are now third culture kids.

Terus salah satu partisipan yang menikahi orang asing bilang, nggak susah kok mengurus suami bule, walaupun mereka harus mendidik anaknya dengan 3 bahasa (Indonesia, Inggris, Tamil). Oh ya, fyi, ibu Y ini keturunan India.
"Kayaknya justru lebih susah mengurus suami Indonesia ya?" komentarnya.
Lalu salah satu partisipan lain menanggapi sekaligus bertanya-tanya, "Sebetulnya, mana yang lebih berpotensi terjadi konflik? Seragam atau beragam?"
Mindb…

Bleki Kampret

Ada orang yang mungkin ditakdirkan berpapasan jalan dengan kita untuk menguji kesabaran. Ada. Orang yang mempersulit birokrasi misalnya (mari kita anggap saja Pak Bleki 1 2 3 dst).

Jadi ceritanya, selama gw bekerja ini sebetulnya gw bermasalah soal status kepegawaian. 2 bulan pertama bekerja udah pening ngurusin ini tetap aja sampai sekarang belum kelar juga.

Dilempar dari Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2 ke Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2, muter aja gitu terus kayak kuda-kudaan Dufan. Lama-lama gw kesal dan bilang kalau gw lebih baik mengundurkan diri kalau nggak ketemu jalan tengahnya.

BLEKI KAMPRET! Tapi yaudalah, Bleki menggonggong khafilah berlalu. Gpp lah gw dirugikan secara nominal, tapi nggak secara mental.

Saat gw cerita ke pemimpin tertinggi di kantor, beliau bilang "tenang aja. Della tahu kan kami semua dukung Della". Ya gw udah diginiin, gimana bisa menolak kan? Akhirnya gw urung mengundurkan diri. Toh gw menyukai apa yang gw kerjakan.

Jadi gw mengafirmasi diri berulang-ula…

How I Met IM (part 2)

Image
Januari 2014

Di bulan ini, status gw adalah pengangguran bahagia. Pertama, artikel perdana gw di Ruang Psikologi selesai (walaupun baru dimuat di bulan Februari).

Kedua, alhamdulillah gw lolos seleksi esai IM dan lanjut ke tahap Direct Assessment (DA).

Ketiga, gw punya buanyaaak waktu buat main dan leyeh-leyeh do nothing setelah intens 'menggurita' beberapa bulan sebelumnya.

Februari 2014

Mulai galau kelamaan nganggur dan menunggu kepastian pengumuman DA. Harusnya gw ke Semarang, tapi nggak jadi-jadi mulu karena nungguin ini. Lah piye kan kalau keterima? Masa bentaran doang di sana?

Lagipula, gw sekeluarga mau umroh. Yaudalah, ditunda aja ke Semarangnya (yang ujung-ujungnya niat ke sana beberapa bulan nggak jadi juga).

Maret 2014

PUNCAK KEGALAUAN!!! Udah kering jadi ikan asin gw nungguin pengumuman. Nggak lolos pula. Itu pun taunya di penghujung bulan Maret.

Rasanya kayak harap-harap cemas nunggu ditembak gebetan, eh ternyata relationship status nya udah jadian sama orang lain. …

How I Met IM (part 1)

Image
Gw habis pulang dari event kantor. Marathon rapat dan ngurus forum diskusi sekitar 50an ilmuwan (yang ada di foto cuma tim inti) selama 4 hari berturut-turut dari pagi sampai tengah malam. Capek? Nggak usah ditanya. Tapi gw sangat menikmati event terakhir sebelum gw resign ini.

Jadi pengen throwback masa-masa semenjak lulus kuliah sampai sekarang.

Juli 2012

Pekerjaan pertama gw adalah creative officer di sebuah perusahaan marketing consultant. Perusahaan ini adalah perusahaan start-up yang baru jalan beberapa bulan. Masih 'hijau' banget. Sistem belum terbentuk. Karyawan cuma 3 orang. Tapi udah gaya banget ngantor di Kuningan.

Iya, Kuningan yang biang macet Jakarta itu loooh!

Sepanjang hidup, gw nggak pernah beraktivitas rutin di pusat kota, jadi syok banget saat ngerasain 5-6 jam PP ngantor. Butuh pembiasaan gila-gilaan di beberapa bulan pertama. Mana habis putus pula, nggak ada tempat berkeluh-kesah (ea ea ea).

Ditambah, proyek-proyek 'Roro Jonggrang' super ngehek den…

At Least I Never Walked

There's no such thing as ideal life. Even when you like what you do, often times, you will feel tired and discover that there are A LOT OF things happened beyond your expectation.

You may take a deep breath, chill down, and assure yourself "this too shall pass". But although you know everything will be over --and leave you that mixed feeling when it IS finally over--, just keep doing what you're doing and never slow down your pace.

I'd like to associate things with running. As I start to run and set the distance, unless I plan to mix speed between run and walk, I hate to give up the run and decide to walk instead.

Too bad, besides being a sucker at direction, I also suck at calculating distance. I have no idea how far is too far. Literally. I used to think 1 mile equals 10 km, while it's actually 1.6 km. HAHA. So often times, I fail at estimating limits.

But as written on the last page of my favorite book titled "What I Talk About When I Talk About Runni…

Cemburu

"Gw kan cemburuan ya sama temen. Kalo lu suka nulis tentang Y gw suka cemburu" -X
Gw ngakak sejadi-jadinya. Apa pula?! PERSISSS banget sama yang pernah dibilang si Y juga. Dengan bahasa yang beda tentunya, tapi intinya sama: cemburu.

Well anyway, don't be. Because you're also special. I still have so much room in my heart for all my beloved ones. I'm just not that kinda person who tell it every day, out loud.

Lalala

Kalau lagi lalala banget emang paling enak tuh nulis sebagai ajang katarsis ya. Setelah harusnya udah bisa tidur cepet, tidur tenang, dan tidur senang, malah kebangun tengah malem gini.

Fyuh. Padahal nggak lagi PMS, nggak lagi kenapa-napa, tapi bawaannya cemas aja. Kenapa sih? Udah gila banget rasanya pengen lari.

Inget dulu pernah lari sekitar jam 3 pagi di sekitaran Kukel-Kutek-Pusgiwa UI sendirian. Nggak peduli gelap, setan, maupun 'setan' dalam bentuk manusia (aka pelaku kriminal yang berniat jahat). Anak sinting emang. Untungnya aman-aman aja.

Isssh.. paling ngeselin deh uring-uringan sendiri yang nggak jelas asal muasal dan sebab akibatnya. Nggak penting abis. Buang-buang emosi aja.

Lalala, dalam berbagai definisi.

Recap Agustus

Gw pernah menyebutnya: Agustusugus. Bulan yang manis, mirip permen Sugus yang punya bermacam varian rasa.

25 highlights of the month:
Hunting sepatu lariKejadian yang bikin spaneng (AH SUDAHLAH)Ultah QopulRapat weekend bulananDolly melahirkan. Anaknya 3, mati 1Pengajuan resign per SetemberMedical check-up Indonesia MengajarMain sama geng angkatan 34 MBUI (Diah, Shasha, Velo, Tegar)Eyang kena stroke (lagi), lumpuh sebagian :(Main sama OctaUltah MardayahKe GOE (demo ekskul SMA)TC buat persiapan OKK (gw nggak dateng sih)Nonton Musikal Sekolahan saat 17an sama Shasha (dan beberapa anak MBUI lain)Ada yang baru jadian (PRIKITIUW)Misi ngumpulin 10 cap Goethe demi notes: doneOKK (gw nggak dateng sih)Main sama geng magang Lowe (Astrid dan Marcell)Ke Jember Fashion Carnaval sama VeloTandatangan kontrak Indonesia MengajarWisuda (gw nggak dateng sih)Nonton Mocca sama Cune (dan Pipit, harusnya)Main ke Bintaro sama Dini dan YuniMeet-up sama Vika, Inay, Intan buat bikin final itinerary SingaporeOn-of…

Fine

Beberapa pekan yang lalu, seorang teman bercerita mengenai ketakutannya dan ke-nggak yakin-annya kepada diri sendiri. GLEK! Gw menahan napas dan menelan ludah, menyadari kenyataan bahwa seseorang bisa berubah.

Iya, gw tahu itu biasa. Tiap orang pasti berubah. Tapi nggak munafik, walau bagaimana pun berusaha menerima, kadang tetap ada setitik keinginan diam-diam "plis jangan berubah".

Dia yang gw kenal dulu, selalu optimis apa pun yang terjadi. Sampai pelan-pelan, gw mulai merasakan dia berubah jadi sosok yang peragu, yang bolak-balik gw tepis "Del ah gausah sotoy".

Mungkin karena tuntutan dan tekanan lingkungan. Entah. Bukan hak gw udah menghakimi. Tugas gw sebagai seorang teman hanya meyakinkan dia untuk kembali yakin pada dirinya sendiri.

"You. Are. Fine. No such thing as pattern if we can learn our lesson. Just go ahead. You worry too much", I said.

Mungkin terlalu angkuh kalau gw bilang gw cukup mengenal dia. Gada yang benar-benar mengenal manusia lai…