Bleki Kampret

Ada orang yang mungkin ditakdirkan berpapasan jalan dengan kita untuk menguji kesabaran. Ada. Orang yang mempersulit birokrasi misalnya (mari kita anggap saja Pak Bleki 1 2 3 dst).

Jadi ceritanya, selama gw bekerja ini sebetulnya gw bermasalah soal status kepegawaian. 2 bulan pertama bekerja udah pening ngurusin ini tetap aja sampai sekarang belum kelar juga.

Dilempar dari Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2 ke Pak Bleki 1 ke Pak Bleki 2, muter aja gitu terus kayak kuda-kudaan Dufan. Lama-lama gw kesal dan bilang kalau gw lebih baik mengundurkan diri kalau nggak ketemu jalan tengahnya.

BLEKI KAMPRET! Tapi yaudalah, Bleki menggonggong khafilah berlalu. Gpp lah gw dirugikan secara nominal, tapi nggak secara mental.

Saat gw cerita ke pemimpin tertinggi di kantor, beliau bilang "tenang aja. Della tahu kan kami semua dukung Della". Ya gw udah diginiin, gimana bisa menolak kan? Akhirnya gw urung mengundurkan diri. Toh gw menyukai apa yang gw kerjakan.

Jadi gw mengafirmasi diri berulang-ulang "uang bukan segalanya. Seenggaknya, gw mendapat lebih dari uang. Rezeki nggak bakal tertukar". Fyuh. Sabar ya, Del.

###

Di bulan ke-4, ada lagi masalah yang membuat gw berurusan dengan Pak Bleki baru, sebut saja Pak Bleki 3. Hadeeeh.. orang-orang macem gini tuh kayak karang gigi deh. Kalau nggak rutin dibersihkan makin susah menghilangkannya.

Sayangnya, para Bleki karang gigi itu tetap dipertahankan karena belum ada pengganti. ISSSH!!! Hobi banget ya pemerintah nahan-nahan tumor negara.

Dalam peraturan dan kebijakan (YANG DIBUAT SENDIRI DAN SEMENA-MENA OLEH PAK BLEKI 3), disebutkan bahwa karyawan yang melakukan perjalanan dinas wajib menyerahkan boarding pass sebagai bukti perjalanan.

Si Della anak slebor ini dengan jeniusnya menghilangkan that precious boarding pass. Maka dari itu, konsekuensinya adalah mengganti biaya transportasi sesuai dengan harga tiket.

YA KELEUUUSSS!!! OGAH BANGET!!! Segala alternatif solusi pun gw tawarkan, tapi ditolak sama si kampret Bleki 3. FUCK!!! Akhirnya ada 1 solusi yang dia pertimbangkan: minta bukti ke pihak maskapai bahwa gw benar-benar melakukan penerbangan, which means........

........gw harus bolak-balik bandara.

ANOTHER FUCK!!! Macem gw nggak punya kerjaan lain aja. Tapi yowes turutin bae lah. Ojo misuh-misuh tho le. Salah sendiri boarding pass nggak disimpan baik-baik. Lesson learned banget lah untuk nggak sleboran.

Setelah segala keribetan bolak-balik bandara itu, akhirnya Pak Bleki 3 menyetujui bahwa gw nggak perlu mengganti biaya transportasi. Ok. Case closed.

###

Umm.. not yet.

Kemarin, kebangsatan Pak Bleki 3 kembali lagi. Untung bukan gw yang berurusan langsung dengan si kampret. Tapi gw sangat nggak terima akan perlakuan dia kepada para undangan forum.

Jadi, dalam peraturan dan kebijakan (YANG SEKALI LAGI GW BILANG, DIBUAT SENDIRI DAN SEMENA-MENA OLEH PAK BLEKI 3), disebutkan bahwa ongkos perjalanan darat para undangan hanya bisa diberikan sejumlah 100.000 rupiah, PP.

Ini orang sinting nggak bisa berhitung atau gimana sih? Gw aja yang rumahnya di Serpong ongkos taksi bisa sampai 200.000 rupiah sekali jalan. Lah apa kabar yang tinggal di kota satelit seperti Bandung, Bogor, Depok, Bekasi, dan sekitar?!

Gw mah bukan soal nominalnya, tapi bentuk apresiasinya. Para undangan itu kan bukan orang sembarangan. Mereka petinggi di kampus masing-masing yang supeeer sibuk.

Mengundang mereka aja susahnya minta ampun. Harus announce dari jauh-jauh hari dan follow-up berulang-ulang. Tapi demi hadir di forum, mereka bela-belain meluangkan waktu 3-4 hari (tergantung jadwal), dari pagi sampai tengah malam, weekend pula! Dan itu statusnya sukarela.

Kami para panitia hanya memastikan bahwa mereka nggak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk menghadiri forum ini. Tapi si Bleki karang gigi kampret sinting itu nggak mau kompromi. Peraturan ya peraturan, walaupun nominalnya nggak masuk akal.

Duit juga punya negara, bukan punya dia. Lagian orang jelas-jelas ada anggarannya dan jelas akan dipergunakan untuk apa, kenapa juga harus dipersulit sih?

Peraturan itu dibuat untuk mempermudah pengaturan, bukan mempersulit. Peraturan itu sifatnya tegas, bukan kaku. Peraturan itu bisa disesuaikan sesuai kebutuhan, bukan dipukul rata. HARUSNYA BEGITU. Coba deh, kalau dia digituin emang rela?

Berdasarkan cerita Mbak P yang berurusan langsung dengan si kampret, dia bilang "saya bisa naik angkot dari Bandung" ANJIR!!! EEK BANGET JAWABANNYA!!!

Astagfirullah allahuakbar subhanallah masyaallah audzubillahiminasyaitonnirojim, ada ya orang kayak gitu. Semoga dia secepatnya dapat balasan yang setimpal deh. Aamiin. Gw berdoa yang terburuk aja buat dia.

Mamam noh naik angkot dari Bandung ke Jakarta. Sekalian aja naik becak genjot sendiri.

Comments