How I Met IM (part 2)

Januari 2014

Di bulan ini, status gw adalah pengangguran bahagia. Pertama, artikel perdana gw di Ruang Psikologi selesai (walaupun baru dimuat di bulan Februari).

Kedua, alhamdulillah gw lolos seleksi esai IM dan lanjut ke tahap Direct Assessment (DA).

Ketiga, gw punya buanyaaak waktu buat main dan leyeh-leyeh do nothing setelah intens 'menggurita' beberapa bulan sebelumnya.

Februari 2014

Mulai galau kelamaan nganggur dan menunggu kepastian pengumuman DA. Harusnya gw ke Semarang, tapi nggak jadi-jadi mulu karena nungguin ini. Lah piye kan kalau keterima? Masa bentaran doang di sana?

Lagipula, gw sekeluarga mau umroh. Yaudalah, ditunda aja ke Semarangnya (yang ujung-ujungnya niat ke sana beberapa bulan nggak jadi juga).

Maret 2014

PUNCAK KEGALAUAN!!! Udah kering jadi ikan asin gw nungguin pengumuman. Nggak lolos pula. Itu pun taunya di penghujung bulan Maret.

Rasanya kayak harap-harap cemas nunggu ditembak gebetan, eh ternyata relationship status nya udah jadian sama orang lain. Sakitnya tuh di sini *nunjuk ulu hati. Okelah, mari march on!

Oh ya, di bulan ini pun gw mulai sibuk pindahan. Another 'march on' thingy. Deket sih emang, cuma dari Bintaro ke BSD. Tapi tetap aja menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Untung aja gw masih pengangguran, jadi punya banyak waktu buat mengurus ini-itu printilan rumah.

Bener-bener deh, 'timing' nya Allah emang nggak pernah salah. Kitanya aja yang kadang suka menyalahkan keadaan. Mungkin gw belum dikasih rezeki lolos IM karena........

April 2014

........gw mulai kerja di kantor temen gw sebagai sekretaris proyek sains. Jauh banget ya dari bidang ilmu gw? Hahaha. Tapi ya itulah rezeki. Kadang datang di saat yang nggak disangka-sangka.

And it was one of my best moment, to work there.

Jadi gini, setelah gw bantu event dia, yang sempet gw ceritain di 'How I Met IM (part 1)', gw ditawarin kerja di sana. Tapi berhubung gw masih menunggu pengumuman IM, jadi yaaah.. setelah nggak lolos baru deh gw akhirnya kerja di situ.

Di bulan ini, gw ikut seleksi IM lagi. Setelah ragu karena takut nggak siap kalau gagal lagi, gw pikir, fuck off. I'll try one more time.

Agustus 2014

Setelah lolos seleksi esai, lolos DA, lolos medcheck, akhirnya gw resmi jadi Pengajar Muda. Alhamdulillaaah! Untung aja gw nggak cepat menyerah. Coba kalau gw mengurungkan niat daftar IM lagi, mungkin nggak begini ceritanya.

Tapi ya hidup itu emang selalu menawarkan pilihan. Kadang, pilihannya nggak ada yang pengen kita pilih. Tapi kadang, semua pilihannya menggiurkan. Kayak sekarang.

Gw udah terlanjur menikmati menjadi bagian dari proyek besar para ilmuwan terbaik se-Indonesia. Ya yang terbaik mereka sih, tapi somehow gw juga jadi ikutan bangga bisa terlibat di dalamnya. Mana di bulan November ada kunjungan ke Aussie pula. Huweee.. mupeng!

Berhubung gw udah memilih IM, ya gw harus siap akan segala konsekuensinya. Termasuk menelan kemupengan karena ada wacana di tahun depan mereka akan ke Italia.

Yaudalah, tahun depan gw bisa kok traveling ke Eropa sendiri, nggak harus karena tugas dinas. Selalu ada lain kali, Del *aamiin aja dulu. Menghibur diri.

September 2014

Akhir bulan ini gw resign. Hari ini hari terakhir gw ngurus event. Hari-hari sisanya, mungkin akan lebih banyak handover kerjaan ke pengganti gw. Nggak ada habisnya rasa syukur bisa sampai ke titik 'check point' ini.

Emang ya, whatever happens, just keep moving. We'll never know what we'll find in every intersection.

Salah satu orang yang harus gw ucapkan terima kasih adalah Cune. "The Iron Lady" (aka "Wanita Setrikaan" --huahaha nggak enak banget terjemahannya--) inilah yang jadi saksi dan 'menyetrika' segala kegalauan gw, juga yang turut bangga atas gw. I can't thank you more, Ne!

Oh! Dan Dini, si ibu RM --yang sebetulnya maunya jadi ibu RT-- yang nggak pernah gagal bikin gw yakin meskipun gw suka ambil keputusan 'nyeleneh', salah perhitungan, dsb, selalu ada orang yang bilang "kan lo tau sendiri gw yang paling dukung lo". Makasih banyak loh, Din!


Sooo.. this is how I met IM :)

No comments:

Powered by Blogger.