'Rasa Bahasa'

Dari beberapa postingan yang lalu, gw suka bertanya-tanya, kalau gaya bahasa gw berubah, apakah 'rasa bahasa' nya pun ikut berubah?

Karena seiring gw yang berkembang, gaya bahasa pun turut berevolusi. Sempet ngerasa kalau di beberapa pemilihan kata, kok agak hmm gimanaaa.. gitu ya? Kurang tepat aja.

Ibarat not miring yang nggak 'matching', bukan not miring yang justru jadi penyedap melodi. Duh, ini efek kelaperan, ngebayangin not miring jadi semacam Masako. 11-12 lah ya, matching dan mecin.

Mungkin karena gw masih belum berhasil menemukan formula yang tepat untuk bikin tulisan semi-formal namun tetep sesuai EYD kali ya? Ini emang anaknya suka nyusahin diri sendiri sih. Padahal nggak ada yang nyuruh juga, cuma penasaran aja.

Sebenernya, 'rasa bahasa' itu sendiri apa sih?

Seperti layaknya semua rasa, rasa yang ini pun susah didefinisikan. Gw kadang suka membayangkan kata-kata itu punya 'roh' sendiri. Dia hidup dalam 'jasad' rangkaian kalimat. Dan bagaimana dia dihidupkan oleh 'Tuhan'-nya (aka sang penulis), di situlah letak si 'rasa bahasa' tadi.

Mungkin 'gaya bahasa' boleh beda. Tapi soal 'rasa bahasa', harusnya sih bisa jadi semacam 'signature' (aka kekhasan. Aka sidik jari. Aka grafologi. Aka apa pun itulah) kan ya?

Lalala. Gw pusing sendiri jadinya. Jadi, daripada makin melantur, mari tutup saja postingan kali ini dengan........

Tidur.

No comments:

Powered by Blogger.