'The It Shoes'

Sehabis lari pagi tadi, ada beberapa hal yang terlintas di pikiran. Hmm.. mulai dari mana (dan yang mana) ya? Oke, mari mulai dari cerita tentang lari yang pernah ditulis di sini.

Setelah sekian lama mogok lari dan olahraga, akhirnya semenjak bulan Juli gw mulai rutin lari pagi. Motivasinya cetek: mau medical check-up. Tengsin nanti kalau ketahuan fisik nggak okeh gara-gara jarang olahraga. HAHA.

Gw bikin beberapa 'check point' dalam program lari ini. Sebetulnya tinggal atur aja sih di aplikasi Nike Run, tapi pada prakteknya nggak semudah mencapai target si 'virtual coach' itu.

Tentunya, hal paling sulit adalah BANGUN SUBUH!!! Mana gw kan kalong yang biasa tidur larut, jadi suka 'ngawang' kalau harus bangun subuh. Sebetulnya gw pasti bangun sih, soalnya nyokab selalu kasih jus tiap subuh.

Masalahnya, biasanya habis minum jus gw tidur lagi. Sekarang, gw harus memaksakan diri untuk melek dan beranjak dari kasur yang hangat untuk menembus sejuknya BSD di pagi hari. Gw manfaatkan momen itu dengan mengecek HP tiap nyokab kasih jus biar melek.

Nggak ngefek sama sekali. Melek sih melek, tapi malah bikin makin mager :))

Gw coba sok iye dengan menempel post it "AYO LARI! SEMANGAT!" di tempat yang terjangkau pandangan. Ngaruh kadang-kadang doang.

Yaudah. Gw kasih tambahan di post it "inget medcheck!" dan yang ini ternyata efektif. Memang deh, yang bikin gw 'gerak' ya motivasi internal itu: ogah tengsin. Harga diri adalah senjata nomer wahid lah. HAHA.

Setelah touch down 'check point' medical check-up dan alhamdulillah dinyatakan sehat, gw malas lagi. Even worse, gw merasa burnout. Si program Nike Run itu suka bilang kalau gw over-training. Harusnya cuma 3 kilo, gw lari 10 kilo. Harusnya rest, gw lari 5 kilo.

Ditambah, gw belum punya sepatu lari. Selama ini pakai Skechers Go Walk punya nyokab atau adek gw yang ukurannya kekecilan. Walhasil, kaki gw sering lecet. Nggak nyaman banget. Tapi berhubung adanya cuma itu, yaaa.. hajar weee lah.

Yang penting sudah nggak ngilu lagi, pikir gw.

Terus bokap dengan baik hatinya bilang mau membelikan sepatu lari setelah gw suka mengeluh lecet. YEAY!!! Ada donatur tunggal dari Yayasan Papah Nusantara. Nggak menolak lah!

Akhirnya mulailah proses hunting sepatu lari. Selama Agustus, gw nggak pakai program si Nike Run. Lari ya kalau mood saja. Di otak sudah beda lagi prioritasnya: beli sepatu dulu baru rutin lari lagi.

Agak absurd memang.

Proses huntingnya cukup lama karena gw banyak maunya. Warnanya cabe-cabean lah. Bentuknya heboh lah. Nggak suka modelnya lah. Berat lah. Daaan.. semacamnya.

Giliran ada yang oke, harganya di luar budget. Giliran budget cocok, nggak ada ukurannya. Giliran ketemu, budget cocok, dan masih ada stok ukuran, susah banget pemesannya karena harus beli di US.

OMAIGAT DEL! LO MAU CARI SEPATU APA JODOH SIH? SELEKTIF AMAT!

Singkat cerita, sekitar awal September, akhirnya gw menemukan 'the it shoes'. Memang jodoh nggak ke mana ya, soalnya gw sudah mengincar itu sepatu dari lama. Gw jatuh hati pada pandangan pertama, tapi dibikin patah hati pada harga pertama. Hiks.

Beruntungnya, setelah gw ke sana lagi sebulan kemudian, 'the it shoes' yang sesuai dengan ukuran kaki gw stoknya tinggal yang ada di display, jadi DIKASIH DISKON!!! Sip! Bungkus, Gan!

Jadi ingat bahasan tentang Maximizer vs Satisficer (part 1 dan part 2) yang pernah gw tulis. Rasa-rasanya, gw sedang mengaplikasikan itu, dan gw baru sadar tadi saat lari pagi.

Alih-alih terus mencari yang terbaik, gw cukup senang mendapatkan sepatu itu meskipun stok display. Kalau masih ngeyel cari lagi, bisa-bisa gw nggak jadi lari pagi dan keburu masuk camp, terus cupu deh staminanya.

Atas pertimbangan itu, gw pun membawa pulang 'the it shoes' dengan senyum sumringah. Merasa puas.
"Karena kadang, puas itu hadir saat berhenti mencari dan mencoba menikmati"

No comments:

Powered by Blogger.